
Zen saat ini sudah berada disebuah tempat, yang dimana saat ini dirinya memutuskan untuk menunggu saja beberapa monster untuk muncul kembali. Dirinya bisa saja pergi menuju wilayah yang memiliki beberapa monster yang tinggal di sana, namun Zen memutuskan untuk beristirahat sejenak ditempat ini.
Setelah membuat sebuah bara api, Zen lalu mengeluarkan sebuah panci yang sudah dipenuhi dengan berbagai daging didalamnya. Setelah menaruh berbagai jenis sayuran dan menuangkan air untuk merebusnya lalu memberikannya beberapa bumbu, Zen lalu meletakan panci tersebut di atas bara api yang sudah dibuatnya.
“Sekarang hanya tinggal menunggu saja” gumam Zen yang langsung menatap gadis kecil yang dia selamatkan tadi dan duduk tidak jauh dari dirinya.
Gadis bertelinga anjing itu masih merasa canggung berada didekat Zen, karena memang pria itu entah mengapa sangat baik kepadanya, tidak seperti beberapa petualang yang sering menyewa jasanya sebagai porter.
“Kamu sudah berapa lama menjadi porter Tina?” tanya Zen yang mulai membuka percakapan antara mereka.
Tentu mendengar pertanyaan Zen, Tina yang sebelumnya hanya melamun dan memikirkan tentang apa yang sedang dia alami langsung terkejut.
“A-Aku sudah hampir satu tahun melakukannya Tuan” balas Tina dengan suara khas dari seorang gadis kecil.
“Hm... benarkah. Lalu kenapa kamu bisa berada didalam dungeon sendirian, bukankah petualang yang menyewa jasamu wajib melindungi dirimu?” ucap Zen kemudian.
Memang party yang menyewa seorang porter harus wajib melindunginya dari apapun, bahkan jika terbukti bahwa sang porter terluka dan mengalami kematian, sang penyewa jasa mereka akan mendapatkan sebuah hukuman yang sangat berat dari Guild Petualang.
Namun anehnya, tidak mungkin Tina memasuki dungeon sendirian karena dirinya tidak mempunyai izin memasukinya kalau tidak disewa oleh seseorang. Tetapi saat Zen menemukan dirinya tadi, memang dirinya sedang sendirian.
“I-ini karena kebodohanku Tuan” balas Tina yang sebenarnya sangat menyesali keputusannya tadi.
Untuk menyewa seorang porter dengan cara yang legal, para petualang wajib menyerahkan uang muka pembayaran mereka kepada porter yang mereka sewa kepada Guild Petualang. Peraturan ini dibuat oleh Guild petualang untuk mencegah pembayaran yang tidak adil bagi para porter.
Namun, beberapa pihak masih saja melakukan transaksi tanpa melalui Guild Petualang seperti yang dialami oleh Tina. Tina memang sangat membutuhkan uang, dan untuk bersaing dengan para porter yang lain, dirinya harus melakukan apapun agar jasanya bisa disewa oleh seseorang.
Termasuk bekerja tanpa jaminan yang tadi dirinya lakukan dan menyebabkan dirinya ditinggalkan sendirian didalam Dungeon. Memang jika para porter tidak melakukan cara yang legal, maka status mereka tidak akan diketahui oleh Guild petualang dan keberadaan mereka pasti tidak terdata.
“Cih... dasar manusia biadab” gumam Zen yang setelah mendengar penjelasan dari Tina.
Tentu saja petualang itu hanya memanfaatkan ketidakdewasaan berfikir dari Tina, dan mengimi – imingi dirinya dengan bayaran yang bagus, sehingga Tina tidak memikirkan resiko yang dirinya terima saat menjalani jalur yang ilegal tersebut.
Walaupun tindakan mereka sangat ditentang oleh pihak Guild Petualang, tetapi pihak Guild juga tidak bisa melakukan apa – apa karena memang sangat sulit mengawasi ribuan petualang dan porter yang berada didalam naungan mereka.
“Apakah ini pertama kalinya kamu melakukan pekerjaan porter secara ilegal?” tanya Zen kembali.
Tina tentu saja menggelengkan kepalanya karena memang ini bukan pertama kalinya dirinya melakukan seperti ini. Memang perlakuan yang dirinya terima saat menjadi porter ilegal cukup membuatnya tersiksa.
__ADS_1
Terlebih lagi yang dia alami hari ini, yang merupakan sesuatu yang terburuk yang pernah dia terima. Tina kerap menerima pelecehan, penyiksaan bahkan bayaran yang kurang. Namun karena dirinya membutuhkan uang, terpaksa dirinya hanya menerima keadaan tersebut.
“Jika kamu mengalami hal seperti itu berulang, kenapa kamu masih melakukannya?” tanya Zen yang bingung dengan jalan pikiran dari gadis tersebut.
“Karena jika aku menggunakan cara legal, pesaingku cukuplah banyak. Terlebih lagi, petualang yang benar – benar peringkat tinggi hanya akan menyewa orang – orang yang menurut mereka mampu melakukan tugas mereka dengan baik, tidak seperti diriku yang terlihat sangat lemah ini” balas Tina.
Memang party petualang tingkat tinggi akan menghabiskan waktu mereka didalam dungeon dengan waktu yang lama. Tentu saja jika mereka melakukan pemburuan selama itu, barang yang mereka hasilkan akan sangat banyak, jadi mereka akan menyewa porter yang benar – benar mampu bekerja bersama dengan mereka.
“Dan juga, porter yang sudah terkenal mempunyai banyak sekali store gem yang akan membantu mereka dalam membawa barang dari pelanggannya. Sedangkan diriku hanya menggunakan tas lusuh ini untuk mengangkat semua barang bawaan pelangganku” lanjut Tina yang saat ini menatap tasnya yang sudah rusak tak berbentuk itu.
“Hahh... berat juga ternyata menjadi seorang porter” gumam Zen yang merasa prihatin dengan keadaan Tina.
Setelah mendengar kisah Tina itu, Zen mulai memeriksa masakannya yang sudah cukup lama dia masak. Setelah membuka tutup panci yang sedang berada di atas bara api buatannya, Zen mulai melihat bahwa masakannya mulai mendidih dan Zen lalu mencoba mencicipi masakan yang dirinya masak tersebut.
“Hm... kurang beberapa bahan” gumam Zen yang kembali mencari beberapa bumbu dan memasukannya kedalam masakannya dan kembali menutup panci yang berisi masakannya itu untuk memasaknya lebih lama lagi.
“ulurkan tanganmu” ucap Zen kepada Tina.
Tina cukup bingung dengan perintah dari Zen, namun dirinya hanya mengikutinya saja. Sebuah store gem mulai Zen keluarkan dari kantong celananya dan menuangkan sejumlah air menuju tangan mungil dari Tina.
Zen lalu membantu Tina membersihkan tangannya dengan memberikan sebuah sabun untuk digunakan oleh gadis tersebut. Tina cukup terkejut memang bahwa Zen memberikannya sebuah sabun yang menurutnya sangat mahal namun Zen memaksanya untuk menggunakannya, walaupun Tina sempat menolak menggunakan sabun yang mahal tersebut.
“Ini ambilah mangkok dan sendokmu sendiri” ucap Zen yang menyerahkan sebuah mangkok dan sendok kepada Tina yang sudah selesai mengeringkan tangannya yang sudah dibersihkan.
“A-Apakah tuan akan memberikan diriku makan?” tanya Tina yang masih bingung dengan perlakuan yang diterimanya itu.
“Tentu saja. Memangnya aku akan membiarkan diriku makan sendirian ditempat ini padahal dirimu juga berada disini” ucap Zen yang sudah mengangkat panci yang berisi masakannya dari bara api yang dibuatnya.
“Sini dekatkan mangkokmu kepadaku” balas Zen yang menyuruh tina mendekatkan mangkok yang di peganggnya lalu mulai mengisinya dengan beberapa potong daging dan kuah kaldu hasil rebusannya tersebut.
“Makanlah selagi hangat” ucap Zen yang sudah menuangkan potongan terakhir dari makanan yang sudah disendokan kepada mangkok dari Tina yang sudah berisi banyak sekali potongan daging dan sayuran didalamnya.
Tina masih terpana dengan apa yang dilakukan Zen dan hanya menatap diam makanan yang diberikannya, karena dirinya tidak merasa pantas untuk memakan makanan yang cukup mewah itu.
Namun setelah Zen menyendokkan makanan miliknya sendiri dan menaruh pada mangkok miliknya, Zen lalu menatap kearah Tina yang masih menatap dengan lekat makanannya dan tidak menyentuhnya.
“Makanlah, jangan sungkan” ucap Zen yang sudah menyuapkan sepotong daging kedalam mulutnya dan memakannya dengan lahap karena memang dirinya sudah sangat lapar.
__ADS_1
“T-Tapi...” ucapnya yang masih ragu dengan menyantap makanan yang terlihat sangat enak tersebut.
“Cobalah, pasti kamu akan menyukainya” ucap Zen yang terus mendorong agar Tina memakan makanannya.
Tina terpaksa mulai menggunakan sendoknya dan mengambil sepotong daging yang bisa terlihat mengeluarkan uap dari potongan tersebut setelah dirinya menyendoknya. Perlahan Tina mulai memasukannya kedalam mulutnya dan sangat terkejut dengan rasanya.
Bisa dibilang, ini makanan hangat dan terenak yang pertama kali pernah dimakan oleh Tina semenjak kematian orang tuanya. Karena selama ini Tina hanya membeli beberapa makanan kering sebagai makanannya.
“Bagaimana, enak bukan?” ucap Zen dan mendapatkan anggukan semangat dari Tina yang mulai memakan makannya dengan lahap.
Entah makanan apa yang sedang dilahap oleh Tina, karena daging yang dimakannya serasa lumer didalam mulutnya. Baru pertama kali dirinya memakan makanan terutama daging yang jarang dia makan dengan tekstur yang sangat lembut seperti yang dia rasakan itu.
Cukup bahagia memang melihat seseorang memakan makanan yang dimasak olehnya dimakan dengan sangat lahap oleh seseorang. Tentu saja, pemandangan itu juga membuat Zen mulai mengingat adiknya yang sangat imut, karena dirinya selalu makan dengan sangat lahap saat Zen memasakkan sesuatu untuknya.
Mereka mulai makan dengan kesunyian, karena memang Tina memakan makanannya sangat lahap dan menikmati makanan yang diberikan oleh Zen. Hingga akhirnya tidak terasa makanannya sudah habis setelah dia meneguk habis kuah dari makanan yang dia santap itu.
“Sini, dekatkanlah mangkokmu lagi” ucap Zen yang melihat bahwa isi mangkok dari Tina sudah habis dan berniat menambahkannya.
“Tidak apa – apa tuan, aku sudah kenyang” balas Tina berbohong, karena sebenarnya dirinya ingin sekali menambah tetapi merasa sangat tidak enak.
“Sudah dekatkanlah” ucap Zen yang memaksa dan menggunakan satu tangannya sudah menyendokan sebuah sup untuk Tina dan hanya menunggunya mendekatkan mangkoknya kearahnya.
Mendengar bahwa Zen memaksanya, akhirnya Tina kembali mendekatkan mangkoknya dan Zen kembali mengisinya dengan makanan yang sudah dirinya masak. Mangkok Tina kembali penuh dan akhirnya Zen menyuruhnya kembali menyantapnya.
“T-Terima kasih Tuan” ucap Tina yang sebenarnya masih sangat bingung dengan perilaku yang sangat berbeda yang sering dirinya terima.
Tina tidak menyangka bahwa ada seseorang yang sangat baik kepadanya. Karena selama ini dirinya selalu diperlakukan seperti hewan yang harus melakukan tugasnya dengan baik. Bahkan saat dirinya mengikuti orang yang menyewanya, mereka sama sekali tidak pernah memberikan dirinya makan seperti yang dilakukan oleh Zen saat ini.
“Lalu, apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?” tanya Zen kepada gadis yang masih melahap makananya dengan lahap itu.
“Mungkin akan menjadi porter lagi, karena memang aku harus bertahan hidup” ucap Tina.
Memang bisa dikatakan sangat susah mencari pekerjaan yang bisa dilakukan oleh gadis seusianya, kecuali seorang porter. Namun dipastikan Tina akan kembali menjadi porter ilegal karena hanya petualang rendahan yang akan menyewa jasanya.
Tetapi ada satu yang membuat Zen sangat bingung, bagaimana mereka bisa masuk secara bebas jika memang tindakan mereka adalah ilegal. Karena memang di setiap pintu masuk dungeon memiliki penjaga dan orang yang ingin masuk kedalamnya harus melaporkan dirinya terlebih dahulu.
“Kalau begitu, bagaimana kalau aku menyewa jasamu?”
__ADS_1