Kehidupan Aneh Yang Kujalani

Kehidupan Aneh Yang Kujalani
Memahami


__ADS_3

Seorang pria saat ini sedang terlentang di atas tanah, dimana tempat dirinya sedang berlatih tadi. Sekujur tubuhnya saat ini sedang dipenuhi dengan uap, menandakan bahwa skill yang sedang dia aktifkan sedang bekerja. Tetapi tidak jauh darinya, seorang wanita sedang menatapnya dengan tatapan khawatir saat melihatnya.


“K-Kamu tidak apa – apa Zen?” tanya Alice, yang melihat keadaan Zen yang cukup parah.


“Aku bilang untuk melukaiku Alice, bukan untuk membuatku cacat” kata Zen yang masih terlentang dan menahan rasa sakit yang masih dia rasakan.


Memang saat Alice mendengar untuk membuat beberapa luka pada tubuh Zen, dia tidak tahu harus mengukur kekuatannya seperti apa, karena dia tidak pernah berlatih untuk melukai seseorang dengan ringan, jika menggunakan skill esnya.


Alice dilatih oleh keluarganya untuk menggunakan skill esnya untuk membunuh atau mencederai lawannya dengan berat, bukan untuk melukai seseorang dengan ringan. Jadi Alice masih bingung mengatur kekuatannya untuk permintaan Zen itu.


“Habisnya, aku tidak tahu harus membuatmu terluka seperti apa” kata Alice kemudian.


Perlahan luka yang diberikan oleh Alice mulai menghilang dari rubuh Zen, tetapi Zen bisa merasakan beberapa tulang rusuknya masih membutuhkan waktu untuk menyatu kembali, setelah beberapa dari tulangnya itu patah.


“Ya... sudahlah. Yang terpenting aku sudah bisa menggunakan skillku, dan bisa meningkatkannya” kata Zen yang menunggu skillnya itu bekerja.


Hari terus berganti, hingga menjadi bulan yang terganti, membuat Zen dan Alice sudah melakukan ini selama dua bulan lamanya. Zen terus mengasah skillnya itu, hingga saat ini skill regenerasinya sudah ditahap tingkat S.


Bukan itu saja, saat ini tingkat penguasaan skill Healnya juga tingkat S, yang dimana dia bisa menyembuhkan kawannya yang terluka dengan sangat amat cepat. Lalu untuk skill Mana Absorb, Zen juga sudah mencapai tingkat E dimana dia bisa menyerap mana dengan sempurna dari telapak tangannya.


“Sepertinya aku akan meninggalkan desa ini besok” kata Zen yang saat ini sedang beristirahat dibawah pohon bersama Alice setelah latihannya.


“Tidak bisakah kamu menundanya selama sebulan lagi?” tanya Alice.


Memang hubungan mereka berdua semakin dekat, yang dimana Alice sudah terbiasa hidup bersama Zen dan Yui dikediamannya ini. Sebenarnya Zen ingin kembali menuju penginapan tempatnya menginap sebelumnya.


Tetapi Alice menolak idenya itu, dan menyuruhnya untuk tinggal saja dikediamannya ini. Cukup aneh memang, mengapa seorang wanita apalagi seorang putri bangsawan tingkat tinggi, berani mengajak pria untuk tinggal bersama dengannya.


Tapi entah mengapa, Alice merasa nyaman saat dirinya bersama Zen dan Yui dan tidak ingin mereka meninggalkannya. Tetapi sepertinya, Alice tidak bisa menahan kepergian Zen saat ini, karena Zen yang sudah memutuskan kepergiannya jauh – jauh hari.


“Aku harus meningkatkan kekuatanku, dan Dungeon merupakan jawabannya. Jadi karena skill yang kuinginkan sudah mencapai target, tidak ada alasanku untuk menetap ditempat ini lebih lama” balas Zen.

__ADS_1


“Lalu bagaimana denganku, apakah aku tidak cukup menjadi alasanmu tinggal ditempat ini lebih lama” begitulah perkataan Alice didalam benaknya.


Bohong jika kedekatannya dengan Zen di desa ini tidak menimbulkan perasaan suka kepadanya. Tapi apa daya, sebagai putri salah satu bangsawan sekelas Duke, dia sudah di tunangkan dengan orang lain, yang menguntungkan kedudukan keluarganya di kerajaan Raven.


“Tapi setidaknya kamu bisa menunda kepergianmu selama sebulan, agar kita bisa pergi bersama menuju Ibukota” kata Alice yang mencoba menahan Zen untuk tidak meninggalkannya.


“Aku sebenarnya juga ingin menetap disini lebih lama, tetapi aku harus singgah di kota Pavel terlebih dahulu” kata Zen.


Rencana Zen sangat sederhana, yaitu dia akan mendaftarkan dirinya pada Guild Petualang di kota Pavel, tempat asal dari party yang dipimpin oleh Bennard, dan menjalani beberapa misi di kota itu untuk meningkatkan level petualangnya.


Setelah mencapai peringkat C, barulah dia pergi menuju Ibukota Kerajaan Raven, untuk memasuki Great Dungeon yang ada di sana, yang dimana peraturan memasuki sebuah Great Dungeon harus petualang dengan peringkat C.


“Bukankah aku berkata akan memberitahu Ayahku agar memberikan surat rekomendasi untuk memasuki dungeon tersebut?” kata Alice, yang sebenarnya mengetahui mengapa Zen ingin pergi menuju kota Pavel.


“Apa kamu lupa mengapa tanganku putus dan berada disini saat ini Alice?” tanya Zen.


Zen saat ini tidak ingin berurusan dengan namanya bangsawan untuk saat ini. Walaupun dari perkataan Alice bahwa keluarganya tidak seperti itu, tetapi Zen memutuskan untuk menggunakan kekuatannya sendiri mulai sekarang untuk menuju puncak.


“Bukankah kita akan bertemu lagi di kota Pavel. Lagipula aku akan menunggumu di sana dan akan berangkat dari sana menuju Ibukota bersamamu” kata Zen sambil tersenyum meyakinkan Alice. Melihat Zen tersenyum hangat kepadanya, Alice terpaksa mengangguk untuk menjawab perkataan Zen itu.


Mengapa Alice sangat bersikeras menahan Zen selama sebulan lagi, karena masa magangnya di desa ini tersisa sebulan lagi. Dia menginginkan agar Zen ikut bersamanya saat dia kembali nanti, tetapi sepertinya keputusan pria itu sudah bulat untuk meninggalkan tempat ini.


“Tapi berjanjilah untuk menungguku di sana” kata Alice dan dibalas anggukan oleh Zen.


.


.


Keesokan harinya, Yui yang sudah menggenggam tangan Zen saat ini singgah di penginapan tempat mereka menginap dulu. Bibi penginapan itu menyambut mereka dengan ramah, sebelum Zen mengutarakan maksud kedatangannya ditempat ini.


Bibi yang menangani penginapan ini sangat sedih mendengar mereka berdua akan pergi, tetapi tidak ada sesuatu yang bisa membuatnya menahan mereka disini, dan akhirnya dia hanya mendoakan keselamatan mereka saja.

__ADS_1


“Yui sedih... tetapi Yui juga ingin bersama Kakak” kata Yui yang saat ini sudah keluar dari penginapan itu dan berjalan menuju pintu masuk desa ini bersama Kakaknya.


Penginapan Pina Jingga sudah diperbaiki sepenuhnya. Dengan bantuan beberapa penduduk dan dana yang diberikan oleh Zen, akhirnya penginapan itu sudah bisa untuk digunakan lagi dalam menerima pelanggan. Jadi Zen sudah tidak berutang apapun kepada siapapun di desa ini.


“Nanti, jika Kakak menguasai sepenuhnya skill teleportasi, Kakak akan membawamu ketempat ini lagi” kata Zen.


Yui hanya mengangguk saja, tetapi raut wajah sedihnya tidak menghilang dari wajahnya yang imut itu. Tetapi keputusan mereka sudah bulat. Zen yang memutuskan untuk melindungi adiknya, terpaksa harus menjadi kuat dengan cepat untuk melindunginya.


Zen dan Yui akhirnya menjauh dari penginapan itu, hingga tidak terasa langkah kaki mereka mulai mendekat kearah pintu masuk desa ini. Tetapi sesuatu membuat mereka tersenyum, saat seorang wanita berambut biru muda sedang menunggu mereka di sana.


“Kak Alice!” teriak Yui sambil melambaikan tangannya dan mulai berjalan mendekat kearah Alice.


“Ini, aku membuatkan bekal untuk kalian” kata Alice saat memberikan sebuah bekal buatannya, saat Zen dan Yui sudah berada didekatnya.


“Ho.. apakah kamu yakin ini tidak gosong?” tanya Zen.


“Apakah menurutmu tehnik memasak milikku tidak bisa berkembang?” tanya Alice kemudian dengan wajah cemberut mendengar perkataan Zen itu.


Memang Alice meminta Zen mengajarkan dirinya memasak, karena selama Zen tinggal dikediamannya, Zen selalu memasakkan sesuatu untuknya dan dia memutuskan untuk mempelajarinya sendiri agar dia bisa memasakannya untuk Zen maupun dirinya sendiri.


“Terima kasih kalau begitu...” kata Zen menerima bekal yang dibuat oleh Alice.


“Akan kupastikan memakan makanan buatanmu Kak” kata Yui.


Alice langung mensejajarkan wajahnya dengan Yui dan memeluk erat anak perempuan itu. Setelah puas memeluknya, Alice lalu bangkit dan menatap Zen yang berada dihadapannya.


“Aku mempunyai satu hadiah lagi untukmu” kata Alice.


Tetapi sebelum Zen bertanya hadiah apa yang akan diberikan oleh Alice, sebuah kecupan langsung mengarah menuju pipinya. Zen sangat terkejut dengan tindakan Alice itu, namun Alice yang melakukan tindakan tersebut langsung melarikan diri dan menghilang dari pandangan kaka beradik itu saat ini.


Zen hanya menatap kepergian Alice yang sudah menghilang itu sambil tersenyum. Tentu dirinya mengetahui perasan Alice kepadanya, namun sepertinya Zen harus menjadi sangat kuat terlebih dahulu agar orang – orang yang kelak akan berada disisinya bisa hidup tenang bersamanya.

__ADS_1


“Tunggulah aku... Alice”


__ADS_2