Kehidupan Aneh Yang Kujalani

Kehidupan Aneh Yang Kujalani
Pertarungan


__ADS_3

Keadaan Desa Pina mulai ricuh, saat mendengar suara ledakan besar yang berasal dari sebuah wilayah didesa mereka. Warga yang panik, perlahan ingin melarikan diri, namun mereka melihat sebuah barier hitam menutupi seluruh area desa mereka.


Keadaan disana semakin ricuh, tetapi seseorang pria saat ini mulai menenangkan penduduk yang saat ini masih mencari tempat perlindungan, karena ketakutan dengan apa yang sedang terjadi.


“Tetaplah dirumah kalian masing - masing. Saat ini para petualang yang datang kedesa ini sedang mengepung para penculik yang menculik gadis – gadis desa kita” kata pria itu yang merupakan kepala desa.


“Benarkah demikian kepala desa?” tanya salah satu pemuda.


“Benar, jadi jauhi penginapan Pina Jingga dan berdiam dirilah dirumah kalian masing – masing, dan jangan lupa mengunci pintu rumah kalian” kata kepala desa itu.


Semua orang yang mendengar perkataan kepala desa akhirnya mulai tenang, walaupun beberapa dari mereka masihlah takut dengan keadaan ini. Namun dengan perkataan kepala desa yang menenangkan mereka, akhirnya mereka mulai kembali kekediaman mereka masing – masing.


“Ya.. masuklah dan menjadi persembahan untuk Dewa Jia Shin” gumam kepala desa yang menatap penduduknya mulai kembali kekediaman mereka masing – masing.


Disisi lain, sebuah barier tak kasat mata mulai melindungi beberapa orang dari serangan yang diberikan oleh orang – orang berjubah hitam. Serangan itu seakan terus memborbardir orang dibalik barier itu tanpa hentinya.


“Barierku akan hancur sebentar lagi” kata Ari yang sudah melihat beberapa retakan dari barier ciptaannya.


“Lexi, apakah kamu bisa menyusup dan menyerang mereka dari belakang?” tanya Bennard kepada rekannya yang sangat pendiam itu.


“Aku akan berusaha, tetapi dipastikan akan susah” jawab Lexi.


“Berusahalah” kata Bennard lalu kembali melihat situasi pertarungan yang sedang terjadi.


“Cih... coba saja kita merekrut seorang asassin sebelum kesini” kata Sif kemudian.


Memang, mereka datang ketempat ini dengan kelompok yang tidak lengkap, karena salah satu anggota party mereka yang merupakan seorang asassin mengundurkan diri, karena dia menikah dengan kekasihnya.


“Dan tuan Zen, bisakah kamu membantu kami” kata Bennard yang berharap Zen membantunya karena kekuatannya amat sangat dibutuhkan untuk membantu mereka.


“Beri aku waktu beberapa menit” kata Zen yang saat ini sedang melihat smartphone miliknya


[Cara mengalahkannya:


Menyegel berkah dari dewa Jia Shin


Membunuh mereka sebanyak pengorbanan yang mereka lakukan

__ADS_1


Menggunakan skill penghancur kepada mereka]


“Hanya ini?” kata Zen yang membaca cara mengalahkan para pengikut sesat yang sedang dilawannya itu.


“Cih... aku belum belajar apapun tentang skill segel menyegel” kata Zen yang kebingungan bagaimana cara mengalahkan musuh yang tidak bisa mati itu.


Walaupun Zen mendapatkan pengetahuan tentang segel kehidupan berkat membebaskan Yui sebelumnya, tetapi dia hanya mempelajari cara untuk melepaskan segel itu, dan tidak mempelajari cara menyegelnya.


Selama ini, dia hanya memfokuskan dirinya untuk meningkatkan beberapa skill penyerangan dan skill penyembuhan, dan tidak disangka saat ini yang paling dibutuhkan saat berhadapan dengan para orang – orang sesat dihadapannya adalah skill penyegelan.


“Ada apa Zen?” tanya Alice saat melihat ekspresi Zen yang seperti memikirkan sesuatu, sambil bersiap untuk bertarung melawan musuh didepannya.


“Ah... aku hanya memikirkan sesuatu saja” kata Zen yang sudah mengeluarkan pedangnya dan bersiap untuk ikut bertarung.


“Tenanglah, aku merupakan seorang Double Stats” kata Alice percaya diri dan bersiap untuk bertarung.


Mendengar perkataan Alice itu, party petualang akhirnya mendapatkan sedikit angin segar. Siapa yang tidak mengetahui tentang kekuatan seorang yang memiliki Double Stats, dan saat ini mereka akan dibantu olehnya.


“Double Stats?” kata Zen bingung, yang tidak mengerti perkataan dari Alice.


“Apakah sebutan untuk seseorang yang memiliki Double Stats dikerajaan Heilight berbeda?” tanya Alice kepada Sif yang berada disampingnya dan hanya dibalas dengan menaikan kedua bahunya menandakan dia tidak tahu.


“Kudengar pangeran Kerajaan Heilight juga memilik Double Stats, dan bahkan salah satu dari putri kerajaan Heilight mempunyai Triple Stats” kata Sif kemudian.


“Putri Ivana bukan? Yang memiliki Triple Stats” Balas Alice dan menerima anggukan oleh Sif.


“Apa yang sedang mereka bicarakan? Apakah ini tentang sebuah skill?” gumam Zen yang tidak mengerti dengan alur percakapan mereka sama sekali.


Memang, Zen sama sekali tidak mendapatkan ingatan apapun tentang kehidupan yang dijalani tubuhnya ini dahulu. Jadi dia saat ini memang hanya mengetahui asal – usul tubuhnya ini dari cerita Kakeknya saja.


“Cih.... seharusnya ceritakanlah asal – usul tubuh ini dengan lengkap Kakek bodoh” Gumam Zen, karena memang apa yang diceritakan Kakeknya hanya sebatas penderitaan dari pemilik tubuh ini.


“Baiklah, anda tipe bertarung jenis apa nona Alice?” tanya Bennard.


“Aku merupakan Fighter Mage” kata Alice yang mengeluarkan pedangnya dari dalam Inventory Gemnya.


Pedang berbentuk Rapier dengan bilah pedang yang tipis dan ringan yang berguna untuk meningkatkan kecepatan penggunanya, akhirnya bertengger mulus dipinggulnya sebelum Alice mengeluarkan pedangnya dari dalam sarungnya.

__ADS_1


“Baiklah, aku akan membuka cela, lalu Lexi, Nona Alice dan Tuan Zen akan menyerang mereka secara langsung, dengan bantuan dari Sif dan Ari yang menggunakan serangan jarak jauh” kata Bennard.


“Baiklah Kapten / Baiklah” jawab mereka serentak.


“Bersiaplah” teriak Bennard yang sudah mempersiapkan tamengnya.


Ari juga sudah menghentikan memasok mananya untuk barier yang dia gunakan. Dengan itu, perlahan retakan pada bariernya semakin besar dan akan pecah kapan saja dari serangan yang diterimanya saat ini.


Melihat itu, Bennard sudah berdiri dan bersiap menghadang serangan yang menyerang mereka saat barier itu hancur. Perlahan tapi pasti, akhirnya barier yang diciptakan Ari mulai pecah dan hancur berkeping – keping lalu menghilang sepenuhnya.


Bennard yang melihat barier Ari sudah menghilang, langsung menghadang serangan yang datang dan mengeluarkan skill pelindung untuk membantunya melindungi dirinya. Melihat itu, para penyerang yang menyerang mereka akhirnya mulai memfokuskan serangan mereka kearah Bennard.


“Sekarang!” teriak Bennard, yang melihat semua serangan musuh mengarah kearahnya.


Lexi langsung melesat kearah kiri setelah mendengar perkataan Bennard, dan Zen bersama Alice langsung melesat kearah kanan dan akan memulai serangan mereka dari sana.


Melihat pergerakan, beberapa penyerang yang menyerang Bennard mulai memisahkan diri mereka dan mulai menghadang orang yang akan menyerang mereka dari dua arah. Zen yang melihat beberapa orang menghadangnya, bersiap untuk mengeluarkan skillnya untuk melawan mereka.


Namun tiba – tiba saja, dia merasakan hawa dingin disekitarnya. Lalu dia mulai menengok asal dari hawa tersebut dan melihat Alice sedang mengeluarkan uap dingin dari dalam mulutnya, walaupun keadaan disekitar tidaklah dingin.


Dengan cepat Alice melesat kearah beberapa orang yang mencoba menghadang dirinya dan mengayunkan rapiernya, dan meninggalkan Zen yang masih menatapnya saat dirinya sudah melesat kearah musuh yang mereka coba lawan.


“Es?” gumam Zen setelah melihat tangan kanan dari Alice mulai membeku sedikit demi sedikit.


Dengan mengayunkan tangannya, sebuah bongkahan Es yang besar mulai muncul dan langsung membekukan beberapa orang yang menghadang dirinya dan Zen.


Zen hanya membeku melihat serangan itu, hingga Alice sudah kembali dan berada disebelah Zen, setelah menghancurkan bongkahan es yang sudah mengurung lawannya menjadi hancur berkeping - keping menggunakan rapiernya.


“Bagaimana?” tanya Alice yang mulai menyombongkan dirinya.


“Kenapa kamu bisa tertangkap jika kamu mempunyai kekuatan seperti itu?” kata Zen kemudian, karena memang Alice datang ketempat ini karena diculik oleh pria berjubah sebelumnya.


“Aku hanya lengah oke... hanya lengah” balas Alice membela diri.


Sebenarnya Alice juga tidak tahu, mengapa dia bisa dengan mudah dikalahkan oleh pria yang menculiknya tadi. Namun dia hanya menganggap dirinya lengah dan dengan mudah dikalahkan oleh pria yang menculiknya itu.


“Bersiaplah, Musuh sepertinya akan datang kembali”

__ADS_1


__ADS_2