Kehidupan Aneh Yang Kujalani

Kehidupan Aneh Yang Kujalani
Mencari Tahu


__ADS_3

Zen saat ini sudah kembali kekamar yang disewanya dipenginapan ini bersama adiknya Yui. Setelah memasukinya, Zen langsung bertanya dengan serius tentang apa yang dirasakan Yui tadi malam.


“Aku hanya merasakan keberadaan seseorang saja Kak.” Balas Yui menjawab pertanyaan Kakaknya.


Yui memiliki sebuah presepsi yang unik, dimana dia bisa merasakan sesuatu seperti skill presepsi milik Zen, namun kemampuannya itu seakan seperti skill pasive yang sangat berguna untuk merasakan berbagai hal seperti monster, musuh dan sebagainya.


Entah benar atau tidak perasaan Yui itu, Zen harus tetap waspada. Karena jika benar apa yang dikatakan Yui, pasti orang tersebut akan menyelidikinya sebentar lagi, akibat perbuatannya yang membuat barier tadi malam.


“Hah... apakah aku pergi saja membawa Yui dari sini?” gumam Zen.


Zen sangat ingin menolong, tetapi juga dia merasa belum cukup kuat untuk membantu menyelesaikan permasalahan ini. Dia tahu pasti, dalang yang melakukan hal ini pastilah sangat kuat, jadi dia tidak ingin mengambil resiko melawannya.


“Ah... tunggu bukankah aku baru saja menyebarkan identitasku?” gumam Zen yang langsung tertunduk lesu, setelah menyadari sesuatu.


Walaupun dia dikenal tidak memiliki elemen cahaya, tetapi jika musuh yang memeriksanya tadi malam bisa merasakan elemen cahaya, pasti kecurigaan mereka akan langsung mengarah kearah Zen.


“Sial... sepertinya keadaan semakin memburuk” gumam Zen, melihat keadaannya saat ini.


“Kakak kenapa?” tanya Yui yang melihat Kakaknya itu seakan sedang tertunduk lesu.


“Ah Kakak hanya memikirkan sesu-” Namun sebelum Zen menyelesaikan perkataannya, sebuah ketukan terdengar dari balik pintu kamar penginapannya.


“Tetaplah berada disini Yui, dan tunggulah Kakak oke” kata Zen dengan raut wajah serius, yang melarang adiknya mengikutinya untuk menyambut orang yang sedang mengetuk kamar mereka.


Yui yang melihat keseriusan wajah Kakaknya, langsung mengangguk dan mengikuti perkataan Kakaknya itu. Melihat Adiknya sudah paham dengan perintahnya, Zen dengan perlahan berjalan menuju pintu kamarnya dengan perlahan.


“Siapa?” kata Zen dari balik pintu kamarnya.


“Ah... Maafkan aku tuan Zen, tetapi kepala desa ingin bertemu dengan anda” jawab suara wanita yang merupakan bibi pemilik penginapan ini.


Mendengar itu, Zen perlahan membuka pintu kamarnya dan melihat seorang wanita yang dikenalnya dan seorang pria dewasa yang saat ini sedang menatapnya penuh selidik, namun sesaat kemudian dia langsung tersenyum hangat kepada Zen.


Melihat itu, Zen mulai keluar dari kamarnya dan mulai menutup pintu kamarnya, lalu mulai berdiri berhadapan dengan bibi pemilik penginapan ini, yang sedang berdiri berdampingan dengan pria yang ingin menemuinya itu.

__ADS_1


“Maafkan aku, tetapi ada perlu apa kepala desa mencariku?” tanya Zen.


“Maafkan aku tuan, perkenalkan namaku Pavet, kepala desa dari Desa Pina ini” kata pria itu sambil membungkuk sedikit setelah memperkenalkan dirinya.


“Lalu, ada perlu apa anda mencariku Pak Kepala Desa?” tanya Zen.


“Ah... mahsut kedatanganku kemari untuk menyelidiki kasus penculikan yang terjadi didesa ini” balasnya.


“Lalu apa hubungannya denganku? Apakah anda secara langsung mencurigai diriku melakukannya?” tanya Zen kemudian.


Memang Zen merasa ada sesuatu yang aneh dari pria didepannya ini. Entah mengapa perasaannya mulai tidak nyaman, namun dia berusaha untuk setenang mungkin dan mencari tahu apa tujuan sebenarnya pria didepannya itu mendatangi dirinya saat ini.


“Maafkan aku tuan Zen, tetapi kabar terakhir yang kami miliki, bahwa penculikan tadi malam tejadi disekitar tempat ini” jawab pria yang berada didepannya yang masih menggunakan nada yang ramah.


Mendengar perkataannya itu, membuat Zen akhirnya paham maksud tujuan pria yang datang bertemunya saat ini. Perkataannya yang omong kosong itu, semakin menjelaskan maksud kedatangannya ketempat ini yang sebenarnya dan membuat Zen mulai mengerti dengan situasi yang sedang terjadi saat ini.


“Hmm... memang kabar dimasyarakat cepat menyebar” kata Zen yang mencoba mengikuti alur pembicaraan pria yang berada didepannya.


“Benar tuan, maka dari itu saya datang untuk menyelidikinya” balas Kepala desa itu.


“Ya... demi melindungi warga desa ini, aku harus menyelesaikan permasalahan ini secepat mungkin” kata pria itu kembali.


“Hmmm... menyelidiki seorang penculik yang menculik beberapa warga desamu sendirian, aku tidak tahu anda bodoh apa pemberani kepala desa. Tetapi jika itu saya, saya akan meminta orang menemani saya” kata Zen kemudian.


“Mengapa demikian Tuan?” tanya kepala desa itu, yang sedikit tersinggung dengan perkataan Zen yang menyebutnya bodoh.


“Ya pasti karena penculik itu sangat kuat bukan. Kalau mereka lemah, pasti anda dan para petualang yang menyelidiki kasus ini sudah menemukannya, atau....” kata Zen yang sengaja menggantung perkataannya.


“Atau?” kata kepala desa itu yang penasaran dengan kelanjutan perkataan Zen itu.


“Atau anda memang mengetahui siapa penculik tersebut, makanya anda sangat berani menyelidiki kasus ini sendiri” kata Zen.


Pernyataan Zen ini, akhirnya membuat Kepala desa itu melebarkan matanya karena terkejut, karena tuduhan Zen itu langsung dilontarkan kepadanya.

__ADS_1


“Apa mahsut anda tuan Zen? Apakah anda menuduh saya menculik semua gadis yang hilang didesa ini?” balas kepala desa itu dengan suara yang sedikit meninggi.


“Aku tidak bilang anda menculiknya, Aku hanya berkata mungkin anda mengetahui penculik yang menculik mereka” balas Zen sambil tersenyum kepada pria yang gelagatnya sudah mulai panik.


Dengan ini, sudah dipastikan siapa pria yang datang kekamar Zen saat ini. Perkataannya tentang menyelidiki tempat ini karena mendengar kabar yang beredar merupakan alasan yang bagus, tetapi tidak untuk Zen.


Warga Desa tahu tentang berita penculikan yang terjadi tadi malam, tetapi mereka tidak tahu bahwa penculikan itu dikabarkan terjadi disekitar penginapan ini, karena sebelum Zen kembali kepenginapan yang disewanya, dia tidak mendengar kabar seperti itu dari siapapun.


Zen sendiri mendengar kabar tersebut dari para petualang yang menyelidikinya tadi. Dan jika memang saat dia kembali kepenginapan ini, lalu kabar itu mulai menyebar, mengapa lalu lalang disekitar penginapan ini masihlah berjalan seperti biasa.


Jika memang ada penculikan disekitar area ini, bukankah ada beberapa penduduk yang seakan menjauhi tempat ini, atau beberapa dari mereka mungkin saja mencoba mencari tahu. Tetapi penduduk yang lewat tempat ini seakan beraktivitas seperti biasa.


Dan juga, jika dia mendapatkan kabar dari para petualang, bukankah para petualang sudah menyelidiki tempat ini, lalu mengapa dia melakukannya lagi. Terlebih lagi sangat berani mendatangi tempat ini sendirian.


“Lalu... apa yang anda ingin tanyakan kalau begitu?” tanya Zen.


Pria yang merupakan Kepala Desa mulai bungkam sebentar atas pertanyaan yang dilontarkan oleh Zen, karena dia tahu jika dia semakin berbicara dengan pria didepannya, maka semua kedoknya akan terbongkar. Terlebih lagi sang pemilik penginapan ini sedang menatapnya curiga.


“Anda salah paham Tuan, lagipula tujuan saya selain menyelidiki tempat ini, untuk bertemu dengan sang pengeran Kerajaan Heilight yang beritanya ada dimana - mana” kata pria itu mencoba mengalihkan pembicaraan.


“Hmm... kabar memang cepat sekali menyebar. Padahal aku baru memberitahukannya kepada para petualang yang menyelidiki kasus penculikan, Nona Alice dan Bibi pemilik penginapan ini” kata Zen.


“Ya.. saya mengetahuinya dari para petualang saat saya bertemu dengan mereka dijalan” kata kepala desa tersebut.


“Hm... berarti anda sudah mengatahui saya sudah diperiksa bukan?” Balas Zen.


“Y-Ya... maka dari itu, saya hanya ingin memastikan kabar tersebut. Jadi karena saya sudah melakukannya, saya akan pamit dan tidak ingin mengganggu waktu anda lagi tuan Zen” kata kepala desa tersebut yang seakan ingin buru - buru meninggalkan tempat tersebut.


“Baiklah...” balas Zen dan melihat kepala desa itu mulai meninggalkan tempat itu.


Ditempat Zen berdiri saat ini, hanya menyisakan dirinya dan pemilik penginapan ini yang mendengar percakapan antara Zen dan kepala desa itu, yang saat ini keberadaannya sudah menghilang dari pandangan mereka berdua.


“D-Dia bukan pelakunya bukan?” tanya Bibi pemilik pemilik penginapan ini dan langsung menatap Zen untuk meminta penjelasan.

__ADS_1


“Apakah aku bisa meminta sesuatu padamu bibi?” tanya Zen yang tidak menjawab pertanyaan dari pemilik penginapan didepannya.


“A-Anda ingin meminta apa Tuan?”


__ADS_2