
Yui sangat bahagia, setelah akhirnya dia bisa memasuki desa ini. Dengan tangannya menggenggam tangan wanita yang membantunya masuk tadi, dia terlihat sangat bahagia setelah melihat berbagai hal yang baru, setelah beberapa bulan sebelumnya dia hanya melihat pepohonan dan monster.
“Adikmu sangat imut tuan” kata wanita yang menggenggam tangan Yui itu kepada Zen, yang berada tidak jauh dari mereka berdua saat ini.
Memang wanita itu sedang berjalan menggandeng Yui dan mengikuti prajurit penjaga pintu masuk desa ini yang mengantarkan dirinya beserta party petualang dibelakangnya, untuk menuju kekantor kepala desa untuk melapor tentang kedatangan mereka didesa ini.
“Jangan panggil aku tuan, nona. Namaku Zen Gwillyn. Anda bisa memanggilku Zen.” kata Zen memperkenalkan diri.
“Ah.. iya... Namaku Yui Gwillyn Kak, lalu nama Kakak yang cantik siapa?” tanya Yui kemudian, karena memang mereka belum memperkenalkan diri mereka secara langsung.
“Alice Friza, kalian bisa memanggilku Alice” balasnya sambil tersenyum.
Alice Friza, seorang wanita cantik berambut biru muda dan tingginya hampir menyerupai Zen, memang membantu Zen dan Yui memasuki Desa ini, setelah prajurit penjaga pintu masuk Desa ini tidak memperbolehkan mereka untuk memasuki Desa ini sebelumnya
Dia berasal dari Ibukota kerajaan Raven, dimana dia singgah disebuah kota bernama Pavel, dan menyewa party petualang untuk mengantarkannya menuju Desa Pina, karena dirinya harus menyelesaikan masa magangnya didesa ini.
Dia merupakan guru muda yang berlatih di Ibukota. Dan sebelum dirinya lulus, dia harus menjalani magang ditempat yang ditentukan oleh pihak kerajaan, sebelum dirinya ditempatkan pada akademi terbesar dikerajaan Raven.
Alice awalnya hanya melihat seorang gadis kecil yang tampak bersedih saat memasuki desa tempatnya akan memulai magangnya. Setelah dia menenangkan gadis itu, dia menyadari bahwa dia dan Kakaknya ingin masuk kedalam desa ini, tetapi mereka kehilangan identitas.
Dirinya sebenarnya sedikit waspada kepada Zen karena perawakannya yang terlihat sangat berantakan, walaupun jubah yang dia kenakan sangatlah berkualitas tinggi. Tetapi melihat kesopanan pemuda itu dan adiknya yang sangat imut, akhirnya dia menghilangkan prasangkanya itu.
“Sepertinya pemagang guru sangat dihormati ditempat ini nona Alice, sehingga anda bisa membujuk para penjaga pintu untuk membiarkan kami masuk” kata Zen yang mencoba memulai percakapan terhadap gadis cantik itu.
“Mungkin karena penduduk desa sangat berharap agar anak – anaknya bisa mendapatkan pendidikan yang baik tentang membaca, menulis maupun sihir, agar bisa mengubah kehidupan mereka. Jadi mereka sangat senang melihat beberapa guru datang kedesa mereka” balas Alice.
Memang selain bertugas mengajar ditempat ini, beberapa pengajar mempunyai misi khusus untuk mencari anak – anak berbakat, untuk bisa dipantau oleh Kerajaan Raven, agar mereka bisa mengembangkan kemampuan mereka lebih baik dan dimasa depan mungkin akan menjadi seorang prajurit khusus dari Karajaan.
“Maaf nona Alice dan para petualang sekalian, tetapi kantor kepala desa sudah dekat” kata seorang penjaga pintu yang saat ini mengatarkan para petualang dan Alice menuju ketempat kepala desa berada.
__ADS_1
“Sepertinya kita akan berpisah saat ini Adik cantik, karena Kakak ada urusan sedikit” kata Alice sambil menepuk ringan kepala dari Yui.
“Baiklah, tetapi Kakak harus mengajak Yui bermain lagi oke” kata Yui.
“Tentu saja adik cantik” balas Alice yang mulai melepaskan genggamannya dari Yui dan akan beranjak dari sana.
Dan begitulah akhirnya mereka berpisah, dimana Alice mulai membungkuk pamit kearah Zen, karena dia akan berpisah dengan Zen maupun Yui sebelum beranjak dari sana, diikuti oleh para party petualang untuk menuju ketempat kepala desa berada.
“Jadi Yui, mau mengelilingi desa ini?” tanya Zen setelah melihat kelompok tersebut sudah hilang dari pandangannya.
“Mau!” jawabnya bersemangat.
Dengan perasaan bahagia, Zen akhirnya mengambil tangan Yui dan mulai menelusuri Desa Pina, karena memang Zen ingin sekali melihat peradaban pertama pada dunia ini, dan mencari informasi tentangnya.
Disisi lain, para petualang dan Alice saat ini sedang melanjutkan langkahnya, untuk mengikuti penjaga pintu gerbang yang mengantarkan mereka menuju kekantor kepala desa, setelah mereka berpisah dengan pasangan Kakak beradik tadi.
“Tenang saja, mereka pasti bukan orang jahat. Apalagi dengan pakaian mewah yang mereka gunakan. Terlebih lagi, jika mereka merupakan ancaman, party yang datang bersamaku ini merupakan party Rank B, jadi untuk melawan seseorang berlengan satu, akan sangat mudah” balas Alice.
Perkataan Alice itu juga mendapatkan anggukan dari party petualang yang terdiri dari dua orang pria dan wanita, karena mereka juga merasakan bahwa Zen bukan merupakan orang yang berbahaya.
Setelah mengobrol sedikit, akhirnya mereka tiba dikantor kepala desa, dimana mereka semua saat ini sudah duduk didalam sebuah ruangan, yang dimana kepala desa dari desa ini mulai menyambut mereka.
“Selamat datang nona Alice dan party petualang, maafkan karena ruangan ini sangatlah sederhana, jadi silahkan duduk” kata kepala desa itu dengan ramah.
“Terima kasih kepala desa, perkenalkan kami merupakan party petualang yang bernama Half Hand, yang merupakan petualang Rank B. Nama saya Bennard, kebetulan saya yang memimpin party ini.” balas pria full armor bernama Bennard memperkenalkan dirinya beserta kelompoknya.
“Terima kasih Tuan Benard karena sudah datang kedesa kami” kata kepala desa tersebut.
Memang, party ini terdiri dari seorang Tanker, Swordman, Archer dan Mage. Mereka mendapatkan tugas untuk mencari tahu tentang penculikan beberapa gadis yang terjadi didesa Pina ini. Tetapi saat mereka akan berangkat, mereka mendapatkan sebuah misi tambahan yaitu mengantarkan seorang guru magang yang kebetulan menuju desa ini.
__ADS_1
“Jadi bisakah anda jelaskan tentang detail kasus penculikan yang sedang terjadi ditempat ini Kepala Desa?” tanya Benard kepada kepala desa yang berada hadapannya.
“Ya.. kasus pertama terjadi sebulan yang lalu, dimana seorang gadis desa yang hendak pulang kerumahnya setelah bekerja pada sebuah penginapan menghilang. Lalu kasus ini mulai berlangsung dan membuat beberapa gadis ikut menghilang beberapa hari kemudian selama sebulan ini.” kata kepada Desa itu menjelaskan.
“Sudah berapa banyak gadis desa yang menghilang?” tanya Benard kembali.
“Sembilan, selama sebulan ini” jawab kepala desa.
“Lalu bagaimana dengan Recorder Gem yang berada didesa ini?” tanya salah satu wanita yang membawa sebuah panah pada punggungnya.
“Semuanya sepertinya dihancurkan oleh penculik itu sebelum menculik korban pertamanya, sehingga kami tidak mempunyai bukti apapun, karena kami harus meminta kembali Recorder Gem dari ibukota, untuk menggantikan recorder gem milik desa yang rusak” balas kepala desa tersebut.
“Berapa banyak yang sudah dirusak oleh penculik itu?” tanya Benard kembali.
“Sebanyak 17, tetapi kami masih mempunyai 13 lagi yang berfungsi dengan baik. Tapi sayangnya, kami tidak mendapatkan apapun dari sisa Recorder Gem yang masih berfungsi tersebut” jawab kepala desa.
“Apakah kami bisa melihat data dari sisa Recorder Gem itu?” tanya Bennard kembali.
“Tentu saja tuan” kata kepala desa itu, dan mulai memanggil bawahannya untuk membawa Record Gem, yang berisi data dari Recorder Gem.
“Sif dan Ari periksalah dengan teliti Record Gem itu” kata Bennard yang menyuruh dua orang wanita didalam partynya untuk memeriksannya.
Disisi lain, Alice dengan tenang mendengarkan permasalahan ini. Karena dia merupakan guru magang didesa ini, tentu saja dia harus tahu semua permasalahan ditempat ini, untuk mempermudah dirinya beradaptasi ditempat dirinya sedang melangsungkan magang.
“Anda juga harus berhati – hati nona Alice, karena para penculik itu menculik gadis seumuran dengan anda” kata kepala Desa itu kepada Alice yang masih duduk dengan tenang ditempatnya.
Alice hanya mengangguk saja mendengar perkataan sang kepala desa. Walaupaun dia merupakan seorang guru magang, tetapi kekuatannya sangatlah kuat. Apalagi dia merupakan seorang Double Stats dengan level 37. Jadi, dengan kekuatan itu dia masih bisa tenang, jika ada yang berani mencari masalah dengannya.
“Aku akan berhati - hati”
__ADS_1