Kehidupan Aneh Yang Kujalani

Kehidupan Aneh Yang Kujalani
Kasus Penculikan


__ADS_3

Disebuah tempat yang gelap, saat ini beberapa orang sedang berkumpul setelah menyelesaikan sebuh ritual ditempat tersebut. Diruangan itu juga, bisa terlihat seorang gadis yang sudah tidak bernyawa dan kondisi mayatnya yang mengering sedang berbaring pada sebuah altar.


“Ini persembahanku yang ke 12” gumam seseorang yang sangat senang dengan hasil ritual yang dilakukannya.


“Ingat janjimu tuan, kalau tidak ingin kami melepas berkahmu itu” kata seseorang disana setelah membantu pria yang baru saja menjalani ritualnya ditempat tersebut.


“Tenang saja, aku menyediakan apapun yang kalian inginkan” balas pria itu kembali dengan gesture yang sangat sopan dan patuh kepada orang – orang yang berada disana.


“Ah iya, tadi malam saat aku mencoba menculik target, aku merasakan sebuah kekuatan aneh pada sebuah ruangan dipenginapan tempat kita menculik korban persembahan ini” kata salah satu orang yang berada disana.


“Kamu sudah mengeceknya?” balas pria yang berada disebelahnya, menyauti perkataan pria yang berbicara tadi.


“Iya, tapi anehnya aku seperti merasakan elemen cahaya dari tempat itu” balasnya.


Mendengar itu, beberapa orang yang berada disana mulai menertawakan orang yang berbicara itu. Bukan tanpa alasan mereka menertawai dirinya, karena mereka menganggap pria itu sedang membual.


“Ada 5 orang saja yang mempunyai elemen cahaya didunia ini, dan dia sekarang berada didesa Pina?” kata seorang pria yang masih tersenyum mengejek kepada pria yang dikira membual itu.


“Apa mungkin kamu bertemu dengannya dimimpimu kawan?” celetuk seseorang lagi.


“Mungkinkah kamu mengantuk tadi malam?” balas seseorang lagi.


Memang, perkataan pria yang mengutarakan bahwa dirinya merasakan elemen cahaya sangatlah lucu bagi mereka yang berada disana. Karena para pengguna elemen cahaya hanya berada dikerajaan Heilight, dan tidak mungkin mereka berkeliaran sembarangan.


“Sudah kubilang, sepertinya. Aku tidak bilang bahwa aku merasakan elemen cahayanya langsung.” balas orang yang sedang dicemooh itu.


Mendengar itu, semua orang yang berada disana terus saja menggoda pria itu, hingga akhirnya pemimpin mereka menyuruh mereka semua untuk tenang saat ini, karena keadaan ditempat itu sudah mulai sangat berisik.


Seorang pria berjubah dengan jubah bergambar sebuah tengkorak dengan kalajengking mengelilinginya yang terdapat pada bagian dada sebelah kiri dan punggung jubahnya, langsung menjadi perhatian semua orang yang berada disana dan membuat tempat itu mulai sunyi.


Dengan jubah yang dikenakannya untuk menutup seluruh tubuhnya termasuk wajahnya, saat ini dirinya mulai menatap pria yang menjalani ritual yang dia lakukan tadi dengan tatapan yang menyeramkan.


“Periksalah, walaupun itu bukan pengguna elemen cahaya, tetapi bawahanku merasakan sesuatu yang membuatnya tidak nyaman” kata pria berjubah itu dengan nada yang sangat dingin.


“B-Baik tuan utusan” balas pria yang melakukan ritual tadi sambil membungkuk, karena aura yang dikeluarkan oleh pria berjubah itu sangat menyeramkan.


“Dan juga, tahap akhir dari ritualku akan dimulai. Jadi pastikan lanjutkan rencana kita sesuai rencana dan langsung singkirkan beberapa hama yang mengganggu, yang berada didesamu secepat mungkin” kata pria yang dipanggil sang utusan tersebut.

__ADS_1


“Baiklah tuan, aku akan melakukan semua perintahmu” balas orang yang masih menunduk itu.


“Bagus, lanjutkan pekerjaanmu dan aku akan terus memberikanmu hadiah, termasuk menguatkan berkah Dewa Jia Shin kepadamu” kata pria yang disebut utusan itu, lalu mulai bersandar kembali pada tempat duduknya.


“Terima kasih Tuan Utusan”


.


Disisi lain, Empat anggota party petualang yang ditemani beberapa pegawai yang berada dikantor kepala desa, saat ini sedang menatap Record Gem yang menampilkan video keadaan beberapa jalan didesa ini saat terjadi penculikan tadi malam.


“Dia terlihat gelisah” kata seorang wanita yang melihat sebuah rekaman video yang sedang dia tonton itu.


“Sepertinya korban sedang diancam, lagipula bukankah kepala desa sudah melarang semua aktivitas pada malam hari didesa ini ditiadakan” balas teman separtynya.


Saat ini mereka sedang menyaksikan hasil pantauan Recorder Gem yang ditempatkan dibeberapa sudut kota. Bisa dilihat gadis itu terus melirik arah belakang setelah berjalan menuju kesebuah tempat, tetapi mereka tidak melihat apapun pada bagian yang sedang dilirik oleh gadis tersebut.


Bahkan bisa dilihat raut wajah ketakutannya saat gadis itu sedang berjalan. Tetapi naasnya, mereka tidak bisa mengetahui arah mana yang dilalui gadis itu, karena dia pergi kearah tempat dimana Recorder Gem yang menjadi pemantau keadaan desa ini sedang rusak dan tidak bisa merekam beberapa tempat didesa tersebut.


“Sial... kalau seperti ini, kita tidak bisa mendapatkan sesuatu” balas seseorang dengan full armornya yang merupakan Bennard.


“Baiklah” balas anggota partynya yang lain.


Beberapa saat kemudian, keempat orang itu sudah berada dipenginapan tempat mereka menginap untuk menyelidiki kasus hilangnya seseorang tadi malam. Tetapi mereka tidak datang sendiri, karena seorang wanita juga mengikuti mereka ketempat ini, yang merupakan Alice.


Alice memang memutuskan untuk membantu pihak party petualang, setelah tugas mengajarnya sudah selesai dan tidak sengaja bertemu dengan mereka dijalan. Karena dia akan tinggal didesa ini untuk beberapa waktu, jadi dia setidaknya ingin membantu permasalahan desa ini.


“Benarkah tidak ada yang aneh tadi malam Bibi?” tanya Bennard kepada pemilik penginapan ini.


“Tidak ada tuan” balas sang pemilik penginapan yang sedang diatanyai oleh Bennard.


“Lalu bisakah kami mengetahui jumlah tamu yang menginap ditempat ini?” balas Sif.


“Yang menginap dipenginapan ini hanya anda berempat bersama pria berjenggot dengan adiknya saja” balas Bibi penginapan tersebut.


“Lalu apakah bibi tahu mereka pergi kemana saat ini?” tanya Bennard kembali.


“Aku tidak tahu pasti. Tetapi sebelum pria itu pergi, dirinya sempat menanyakan tempat pangkas rambut yang terdapat pada desa ini” balasnya.

__ADS_1


“Pangkas rambut?” gumam mereka semua yang berada disana serempak.


Tetapi sebelum mereka bertanya lebih lanjut, seorang pria tampan berambut putih pendek mulai memasuki penginapan ini. Dengan tangannya yang dipenuhi oleh makanan, dia sedang berjalan dengan santai bersama seorang anak kecil yang bersamanya.


“Kwakak!” teriak gadis kecil itu dan mulai berlari kearah Alice, dengan kedua tangannya sedang memegang berbagai macam makanan dan mulutnya dipenuhi dengan makanan yang sedang dia makan.


“Yui?” kata Alice yang melihat anak kecil yang menghampirinya.


Melihat Yui mendatanginya, Alice kembali menatap pria tampan yang datang berama Yui, karena dia bingung siapa sebenarnya pria itu, dan mengapa dia bersama Yui dan bukan orang yang bersamanya kemarin.


“Halo...” sapa pria itu dan mulai membungkuk kepada para party petualang, Alice dan bibi pemilik penginapan ini.


Ari dan Sif tentu saja mulai terpikat dengan kedatangan pria tersebut, karena bisa melihat pria yang tampan dan saat ini sedang menyapa mereka. Dengan senyum manis mereka, mereka mulai membalas sapaan Zen saat ini.


“Kakak?” Namun, Yui kembali bersuara setelah dia menelan makanannya, karena panggilannya tidak digubris oleh Alice, yang saat ini sedang menatap penuh selidik Kakaknya.


“Ah... maafkan aku Yui” kata Alice yang menyadari Yui sudah berada didekatnya, dan mulai menepuk pelan kepalanya.


“Mana Kakakmu yang bersamamu kemarin Yui?” tanya Alice kemudian.


Yui hanya mulai memiringkan kepalanya sedikit, karena merasa aneh dengan perkataan Alice itu. Lalu dengan genggaman tangannya yang dipenuhi dengan berbagai makanan, dia mulai mengarahkan tangannya yang mungil kesebuah arah.


Tentu saja Alice sangat terkejut, karena perubahan dari orang yang sedang ditunjuk oleh Yui itu sangat drastis. Bahkan bisa dikatakan penampilannya bagai langit dan bumi jika dibandingkan dengan penampilannya kemarin.


“T-Tuan Zen?” kata Alice mencoba mengkonfirmasi.


“Ah... iya ada apa Nona Alice?” balas Zen sambil tersenyum.


“Tuan Zen?!” namun keempat anggota party petualang yang berada ditempat itu, juga ikut terkejut saat Alice memanggil nama dari Zen.


Melihat mereka semua terkejut, Zen hanya menatap mereka bergantian, hingga dia menyadari bahwa perubahan dirinya itu ternyata sangat amat berdampak, karena mereka yang melihatnya saat ini sempat tidak mengenalinya.


"Bukankah mereka akan mudah mengenaliku karena aku tidak mempunyai tangan kanan?" gumam Zen karena merasa aneh bahwa dia tidak dikenali hanya karena penampilan barunya.


Alice tidak menyangka, bahwa pria yang sempat membuatnya risih karena penampilannya kemarin, saat ini berubah menjadi sangat tampan. Tetapi saat dia menatap Zen, dia mulai menyadari sesuatu.


“Tunggu.. rambut putih, mata biru dan berlengan satu, bukankah.....”

__ADS_1


__ADS_2