
Zen saat ini sedang berjalan menuju area bos lantai berada. Karena letaknya terdapat dilantai 10 dan tidak mempunyai sebuah safe zone di sana, jadi Zen saat ini mulai beranjak dari penginapannya yang terletak pada safe zone lantai 9.
“Apakah Kakak yakin ingin memasuki ruangan bos sendirian Kak?” tanya Tina yang sebenarnya tidak menyetujui keputusan Kakaknya untuk masuk kedalam sebuah ruangan bos lantai sendirian.
“Tenanglah, Kakak akan baik-baik saja” balas Zen yang saat ini sudah memimpin perjalanan mereka berdua menaiki sebuah tangga yang akan mengantarkan mereka menuju lantai 10.
Saat menanjak satu persatu tangga yang dinaikinya, Zen cukup terkejut dengan banyaknya orang yang sudah berada didepan pintu masuk dari ruangan bos lantai, saat dirinya sudah menginjak anak tangga terakhir yang dia tanjak.
Ternyata orang-orang tersebut merupakan para petualang yang sudah mendengar kabar tentang Zen yang ingin melawan bos lantai sendirian. Yang dimana saat ini mereka semua mencoba untuk memastikan apakah kabar yang mereka dengan itu benar atau tidak.
“Cukup ramai disini Kak” ucap Tina yang dimana mereka saat ini sudah berjalan melewati kerumunan petualang yang berada di sana.
“Ya.. mungkin kabar tentang diriku sudah tersebar dengan luas” ucap Zen kemudian.
Beberapa petualang memang hanya penasaran dengan bagaimana Zen akan melawan sebuah bos lantai sendirian. Namun ada diantara mereka hanya datang untuk melihat kearogansian pria tersebut, karena memang cukup bodoh menurut mereka jika ada yang berani masuk kedalam ruangan bos lantai sendirian.
“Yo... Zen. Maafkan aku, karena memang informasi tentang bos lantai harus dibuka secara umum, jadi tempat ini sangat ramai” ucap Cris yang saat ini sudah menunggu Zen didepan pintu ruangan bos lantai berada.
“Ya... tidak apa-apa. Pokoknya jagalah adikku disini oke” ucap Zen yang sudah mulai pemanasan dan bersiap memasuki ruangan bos didepannya.
“Baiklah, kalau begitu berhati-hatilah” ucap Cris yang mulai membuka pintu ruangan bos lantai yang akan dimasuki oleh Zen.
Pria berlengan satu itu mulai melangkah memasuki ruangan yang sangat gelap, ketika Cris sudah membukakan pintu masuk dari ruangan bos didepannya. Setelah memastikan Zen masuk, pintu yang besar itu mulai tertutup secara otomatis dan hanya membuat tempat itu mulai sunyi setelah Zen sudah menghilang dari pandangan mereka semua yang berada di sana.
“Berhati-hatilah Kak” ucap Tina yang berharap tidak terjadi sesuatu yang buruk terhadap Kakaknya.
__ADS_1
Disisi lain, Zen masih melangkah semakin dalam memasuki tempat yang sangat gelap, yang merupakan ruangan bos lantai yang dimasukinya. Namun saat dirinya sudah berjalan cukup jauh, beberapa Light Gem mulai menyala dan menerangi seluruh ruangan tersebut.
Diujung pandangan dari Zen setelah ruangan itu mulai terang, Zen bisa melihat seekor monster yang cukup besar berbentuk kadal, dengan kepala seperti buaya sedang duduk di atas singgasananya. Dengan sebuah tombak dan tameng yang terdapat disebelah singgasananya, saat ini monster itu sedang menatap Zen dengan tatapan yang tajam.
“Yap... mari kita mulai” ucap Zen yang sudah mengeluarkan pedang hitamnya dan sudah bersiap untuk bertarung.
Zen berjalan menuju pusat dari ruangan tersebut, yang dimana saat ini dirinya sudah sampai ditengahnya. Kadal yang akan dilawannya juga sudah bangkit dari singgasananya dan sudah mengambil tameng dan tombaknya lalu mulai berjalan dengan santai menuju kearah Zen.
“Gra... Gra... Gra... Gra....” begitulah suara yang dikeluarkan oleh monster tersebut sambil memukul-mukul dadanya, setelah mereka berdua saling menatap. Hingga akhirnya monster tersebut sudah menghilang dari tempatnya berada.
Zen sudah masuk kedalam mode tempurnya dan saat ini dirinya cukup terkejut melihat kecepatan Monster yang dilawannya sudah bergerak. Setelah monster itu mengeluarkan suara aneh, pergerakannya langsung mendekat kearah Zen dan membuat Zen harus menghindari serangan yang sangat cepat mendatangi dirinya.
“Cih... kekuatannya sangat berbeda dengan mini bos yang pernah aku lawan” ucap Zen mencoba untuk mencari keberadaan monster yang sedang dilawannya.
Untung saja skill persepsi Zen sudah berada ditingkat A dan sudah mendekati tingkat S. Jadi saat ini Zen bisa merasakan serangan yang akan datang kepadanya, walaupun dirinya saat ini belum bisa melihat dengan jelas pergerakan monster yang dilawannya karena gerakannya sangat cepat.
Zen langsung bangkit setelah berguling, lalu menatap monster yang ukurannya dua kali lebih besar dari dirinya itu. Zen lalu mulai menggunakan kekuatan petir miliknya yang dia munculkan pada kedua kakinya dan langsung melesat dengan cepat kearah monster yang dilawannya.
Serangan pertama Zen berhasil menggores paha dari monster yang dilawannya, karena memang kadal laknat itu sudah melihat serangannya dan menghindar. Tentu kadal itu membalas Zen dengan menusukan tombaknya dan menyerempet tepat kearah perut bagian samping dari Zen.
“Cih... percuma saja” ucap Zen yang dimana Zen mulai menggunakan kakinya untuk menendang tameng yang digunakan kadal tersebut, untuk melindunginya dari serangan yang diberikan oleh Zen.
Bekas luka yang diterima Zen perlahan mulai mengeluarkan uap dan lukanya tiba-tiba saja menghilang. Namun Zen tidak menghiraukan semua itu dan fokus menyerang kadal yang sedikit kehilangan keseimbangannya setelah Zen menendang tamengnya.
Dengan tebasan kedua, saat ini pedangnya bisa memberikan luka yang cukup dalam pada dada dari monster tersebut. Karena memang saat monster itu kehilangan keseimbangannya, Zen bisa melihat sedikit cela pertahanan dari monster kadal itu yang terbuka dan langsung menyerang tepat kearah area yang tidak ada perlindungan itu.
__ADS_1
“GRAAAAAAAA”
Teriak Monster itu dan mulai mengembalikan keseimbangannya dan mulai menggunakan kecepatannya untuk menendang kearah Zen. Zen tentu menunjukan bilah pedangnya yang sangat tajam itu untuk menghalau serangan yang datang kearahnya.
Dan tentu saja, karena mungkin Monster itu tidak mempunyai otak dan melawannya hanya menggunakan insting. Saat ini kakinya yang bersiap menendang Zen, malah terpotong dengan mulus saat kakinya itu menyambar bilah tajam dari pedang yang digunakan oleh Zen.
“Ini kesempatanku” ucap Zen yang langsung melesat kearah Monster yang sedang berteriak kesakitan itu, karena memang dirinya sudah berjongkok karena ketidak seimbangan kakinya, yang salah satunya sudah terputus dan tidak mampu untuk menopang tubuhnya sendiri.
Zen lalu memutari monster kadal tersebut, dan saat dirinya sampai pada bagian belakang monster kadal yang dilawannya, Zen dengan cepat langsung menebaskan pedangnya dan mengarahkannya tepat di pangkal tengkuk lehernya dengan niat untuk memutuskan kepalanya.
“Selamat tinggal Kadal” ucap Zen kemudian setelah pedangnya sudah membentang dengan mulus melewati leher monster yang dilawannya, yang dimana kepalanya yang seperti kepala buaya itu mulai jatuh tergeletak di tanah.
“Hahh... selesai juga.” Ucap Zen yang langsung berbaring disebelah mayat monster yang baru saja dia kalahkan itu
.
.
Disebuah konter pada gedung Guild Petualang, saat ini seorang wanita dengan sabar melihat sebuah informasi dari seorang petualang pada artefak yang dimiliki oleh Guild Petualang yang sedang dilihatnya.
Dalam artefak itu memang tidak menunjukan sebuah penglihatan secara langsung tentang sebuah kejadian yang sedang terjadi. Tetapi dalam artefak itu bisa terlihat sebuah data secara langsung, jika memang ada sesuatu yang berubah dari data petualang yang sedang dia lihat itu.
“Ho... dia berhasil lagi” gumam wanita itu setelah melihat data yang sedang dilihatnya itu mulai berubah, yang dimana saat ini seorang petualang berhasil mengalahkan sebuah bos lantai hanya seorang diri.
Sejujurnya dirinya tidak menyangka kekuatan pria itu akan meningkat secepat ini, bahkan saat ini dirinya berhasil mengalahkan seorang bos lantai yang biasanya dikalahkan oleh minimal 30 orang petualang tingkat rendah untuk melawannya.
__ADS_1
“Memang dirinya kuat, tetapi tetap saja aku belum bisa memberikan keputusan tentang menjadi tunangannya”