Kehidupan Aneh Yang Kujalani

Kehidupan Aneh Yang Kujalani
Mencoba Menyelesaikan


__ADS_3

Beberapa orang mulai mendatangi sebuah penginapan dua lantai, dimana orang – orang tersebut merupakan para petualang yang menginap di penginapan itu. Mereka perlahan memasuki tempat itu, setelah mereka selesai menyelidiki sebuah kasus selama seharian yang terjadi desa ini.


Namun yang mereka tidak ketahui, seseorang pada lantai dua yang berada di penginapan yang mereka tuju, melihat dengan jelas kedatangan mereka. Bisa terlihat sebuah tirai yang sedikit terbuka dari sebuah kamar, yang dimana seorang berlengan satu sedang mengawasi gerak gerik mereka.


“Hm... jadi akan terjadi pembantaian ya...” gumam pria itu yang merupakan Zen saat sedang asik memperhatikan kedatangan para petualang yang baru saja datang tersebut.


Zen saat ini sedang waspada, karena konfrontasinya dengan kepala desa yang dia anggap sebagai dalang kejadian ini tadi pagi, mungkin membuat mereka akan bergerak menyerangnya karena keberadaannya yang mungkin akan mengancam bagi mereka.


“Tapi sepertinya bukan aku saja yang mereka incar” gumam Zen setelah melihat beberapa sosok orang yang ternyata sedang mengikuti para petualang itu dan sedang mengendap – endap mengikuti mereka.


Dengan menggunakan skill persepsinya, Zen mulai memeriksa keadaan para petualang dan menemukan mereka mulai memasuki kamar mereka masing - masing. Memang skill persepsinya masihlah rendah, namun cukup untuk merasakan seluruh bangunan dari penginapan ini.


“Mereka bergerak” gumam Zen, setelah melihat beberapa bayangan juga mulai mendekati area penginapan itu.


Tetapi sebelum Zen bereaksi, sebuah ledakan dari sebuah skill api mengarah tepat menuju kamarnya. Melihat hal itu, Zen masihlah tetap diam dan membiarkan serangan itu datang kearahnya.


“KABOOOMMM......” Dan suara ledakan besar mulai terdengar.


Tiga buah serangan langsung mengarah kearah beberapa tempat dari penginapan ini, dimana salah satu serangannya mengarah kearah kamar dimana Zen berada saat ini.


Tetapi sebelum asap dari serangan itu mereda, sebuah barier yang besar bewarna hitam mulai mengurung seluruh desa ini, dan mengisolasinya dari dunia luar.


Dengan serangan itu berakhir, 4 orang petualang yang dimana kamar mereka juga terkena serangan ledakan itu langsung keluar dari kamar mereka yang hancur, dan mulai berdiri tepat dihalaman dari penginapan tempat mereka menginap.


“Untung saja aku masih sempat membuat barier” kata Ari yang merupakan seorang Mage diparty itu.


“Ya... dan juga aku sempat merasakan keberadaan mana dan langsung mengeluarkan perisaiku” kata Bennard yang menggunakan seluruh armornya dan seluruh perlengkapan tempurnya seperti sebuah pedang dan perisai.


Mereka berempat masih berdiri bersebelahan dan menantikan orang yang menyerang mereka untuk muncul. Namun tidak lama kemudian, mereka melihat seorang dengan menggendong seorang wanita mulai muncul didepan mereka.


“Nona Alice?!” teriak mereka serempak, karena orang yang sedang dibawa oleh pria berjubah itu merupakan Alice yang sedang diikat.


“MmMmmmm  Mmmmmm” begitulah suara Alice yang keluar dari mulutnya yang sudah disumpal dengan sebuah kain.

__ADS_1


“Aku ingin kedua wanita itu untuk ritualku” kata pria berjubah itu sambil menunjuk kearah Ari dan Sif.


“Cih... sudah kuduga mereka merupakan kelompok penyembah Jia Shin” kata Bennard melihat pria yang menggunakan sebuah jubah yang khas dari pengikut Jia Shin, yaitu jubah hitam yang menutup seluruh tubuh mereka dan mempunyai logo tengkorak dengan kalajengking mengelilinginya, terletak di bagian dada sebelah kiri dari jubahnya.


“Hahahaha... senang bisa dikenali oleh beberapa orang” kata pria tersebut setelah mendengar identitas mereka diketahui.


Tetapi setelah dia tertawa, beberapa orang mulai muncul dan memakai jubah yang sama seperti dirinya, dan mulai mengepung para party petualang dari arah depan.


“Bentuk formasi!” teriak Bennard kepada kelompoknya setelah melihat mereka sudah dikepung oleh musuh.


Ari dan Sif mulai berdiri dibelakang Bennard, dan salah satu anggota mereka yang membawa pedang dan memakai light armor mulai berada paling belakang dan menjaga area belakang mereka.


“Lexi, tetap awasi sekitar” kata Bennard kepada seorang pria satu partynya yang sangat pendiam itu.


Pria bernama Lexi itu tidak menjawab perkataan dari Bennard, namun dirinya dengan sigap berada dibelakang kelompoknya dan menuruti perintah ketuanya. Namun saat sedang memantau situasi disekitarnya, pandangannya mengarah kesebuah kamar dilantai dua, dimana serangan yang tersisa dari serangan yang menyerang partynya mengarah.


Perlahan asap yang menutupi kamar yang hancur itu mulai menghilang, dan memunculkan seorang pria yang masih berdiri dengan tenang menatap kearah para petualang dan penyerang tempat ini.


“Ho... ternyata anda masih selamat. Memang, sang pemilik elemen cahaya tidak boleh diremeh-” namun perkataan pria tersebut terpotong, setelah serangan cepat mengarah kearahnya.


Serangan itu sangatlah cepat, hingga memaksa pria yang sedang membopong Alice langsung melepaskannya dan mengeluarkan senjatanya untuk menangkis serangan yang menuju kearahnya.


“Cih... aku lengah” kata pria tersebut yang berhasil menahan serangan yang datang kearahnya.


Didepannya, seorang pria yang sebelumnya berada dilantai dua, saat ini pedangnya sedang saling bertemu dengan pedang pria tersebut, yang dimana bisa terlihat pria itu hanya tersenyum kepadanya saat ini.


“Sekarang!” teriak Zen yang mulai menunduk dan membiarkan sebuah anak panah dengan cepat mengarah menuju tepat dari kepala pria berjubah itu.


Atas serangan tersebut, pria itu mulai tersungkur karena serangan tersebut berhasil mengenai tepat di kepalanya. Zen yang melihat itu, mulai memasukan pedangnya kedalam penyimpanannya dan meraih Alice dan membawanya menuju kearah party petualang yang berada belakangnya.


“Tembakan yang bagus” kata Zen setelah dia tiba ditempat party tersebut.


“Ini belum berakhir, mereka merupakan kelompok terlarang yang mempelajari sihir tabu” kata Bennard kepada Zen.

__ADS_1


“Apa maksudmu?” tanya Zen kemudian yang masih bingung dengan perkataan dari Bennard.


“Lihatlah sendiri” kata Bennard sambil menunjuk kearah orang yang ditembak oleh panah dari sif.


Zen lalu kembali memandang kearah dimana orang yang berhasil dia bunuh tadi berada. Anehnya, para anak buahnya seakan bersikap biasa saja, dan tidak bereaksi atas apa yang sedang terjadi kepada orang yang memimpin mereka itu.


Namun beberapa saat kemudian, pria yang terkena panah itu mulai bangkit dan berdiri seperti semula, seakan tidak terjadi sesuatu kepadanya walaupun panah itu masih menancap tepat pada kepalanya.


Pria itu mulai membuka jubahnya dan bisa terlihat seorang pria yang sangat kurus, yang dimana dagingnya seperti tidak berada pada tubuhnya dan hanya tersisa tulang dan kulit saja, dan bisa terlihat panah yang ditembak oleh Sif tadi menancap tepat dimatanya.


Pria itu mulai meraih panah yang menancap dimatanya dan mencabutnya. Bisa terlihat bola matanya juga ikut terbawa saat dia mencabut panah itu, tetapi dia masih bersikap biasa saja.


“Berikan aku bola mata” kata pria itu enteng.


Mendengar perkataannya, bawahannya mulai membawa sebuah kotak dimana pria yang kehilangan mata itu mulai mengambil sesuatu dari dalamnya dan mulai memasangkannya di matanya saat itu juga.


“Apa – apaan itu” kata Zen yang sedikit tercengang dengan kejadian yang baru saja dia lihat itu.


“Mereka dari kelompok Jia Shin, dimana anggotanya terkenal menggunakan sebuah ritual yang membuat mereka tidak bisa mati” kata Bennard.


“Ada ritual seperti itu?” tanya Zen yang sedikit panik setelah mendengar sebuah fakta yang baru saja dia dengar.


“Ya... kami pernah ditugaskan kesebuah desa dimana menyelidiki kasus penculikan. Namun sampai disana, desa itu sepenuhnya sudah hancur dan dimana penduduknya telah mati dengan kondisi tubuh mengering” kata Bennard.


“Dan pelakunya adalah penganut ajaran sesat mereka?” tanya Zen dan dibalas anggukan para party petualang ditempat itu.


“Cih... seharusnya aku melihat lebih detail data mereka” gumam Zen.


Memang, Zen sudah memindai mereka menggunakan smartphone miliknya, tetapi dia hanya melihat level yang mereka miliki, dan cukup percaya diri untuk melawan mereka dengan membantu party petualang yang bersamanya.


Zen tidak sempat memeriksa keseluruhan skill mereka, karena banyaknya orang yang harus dia scan dan mengakibatkan dia masuk kedalam sebuah skema yang berbahaya saat ini. Memang saat ini dia masihlah seorang yang ceroboh, walaupun dia sedari tadi sudah berhati – hati.


“Sial, sepertinya aku masuk kekandang macan”

__ADS_1


__ADS_2