
Lima orang mabuk saat ini sudah berdiri dan mengelilingi meja tempat Zen dan Tina sedang makan. Dengan keadaan mabuknya, mereka mulai berbicara tidak jelas dan membuat Zen cukup kesal dibuatnya.
Tina gadis kecil yang dilihat oleh mereka juga mulai gemetar ketakutan, karena memang kelima orang tersebut merupakan orang yang meninggalkan dirinya sendirian tadi didalam dungeon. Dan Saat ini mereka tidak sengaja melihat Tina berada disini dan mereka mulai mendatangi dirinya.
“Hahaha... apakah kamu menyembunyikan pendapatan kami, sehingga kamu bisa makan disini Tina?” kata salah satu mereka.
“Sepertinya begitu kawan, mari kita periksa dan ambil semua uang milik kita yang ada padanya” ucap orang disebelahnya.
Memang saat ini mereka menjadi bahan tontonan, namun semua petualang yang sedang makan malam di sana hanya diam saja memperhatikan kejadian tersebut, karena mereka sangat mengenal siapa yang duduk dihadapan gadis yang sedang dibully tersebut.
Kabar tentang seorang berlengan satu berambut putih yang berpetualang sendiri memang sedang hangat. Bahkan beritanya tentang membunuh seorang mini bos seorang diri sudah terdengar karena memang informasi tersebut bisa diakses dengan bebas melalui Guild Petualang dan sudah tersebar dengan luas.
“A-Aku tidak menggunakan u-uang kalian” balas Tina dengan nada ketakutannya, melihat beberapa orang itu akan meraih dirinya.
Namun sebelum seorang meraih tubuh Tina, orang tersebut sudah terpental setelah kilatan petir mulai menghilang dari dekat tempat Tina berada. Tina cukup terkejut dengan apa yang terjadi, namun saat ini pandangannya sudah menuju Zen yang sudah menurunkan tangannya setelah menggunakan kekuatan petir miliknya untuk membuat pria yang akan menyentuh Tina itu terpental.
“Aku boleh menghabisi mereka bukan?” tanya Zen kemudian yang saat ini pandangannya sedang menuju kearah seseorang.
Tentu orang yang ditanya oleh Zen itu cukup terkejut karena Zen berhasil mengenalinya. Namun karena dirinya ditanya seperti itu, pria itu hanya mengangguk saja kepada Zen sebagai jawaban atas pertanyaan yang diberikan kepadanya.
“Baiklah” ucap Zen yang sudah mulai bangkit dari tempat duduknya dan mengeluarkan senjatanya.
“Tetapi anda tidak boleh membunuh mereka Tuan Zen, karena anda akan mendapatkan pelanggaran keras jika melakukannya” balas pria yang ditatap oleh Zen tadi.
__ADS_1
Zen hanya mengangguk saja menjawab perkataan dari pria tersebut, yang dirinya merupakan seseorang dari Guild Petualang yang ditugaskan untuk mengawasi Zen. Zen tidak tahu siapa yang menyuruhnya, namun karena dirinya tidak mempunyai niat buruk kepadanya, jadi Zen membiarkan saja dirinya diikuti olehnya.
“Tenanglah, aku bukan seorang yang asal membunuh orang” ucap Zen yang sudah menggenggam pedang hitamnya yang dimana Zen dengan sengaja tidak mengeluarkan bilah pedangnya dari dalam sarungnya.
“Apakah kamu berfikir kami ta-” namun sebelum pria itu berbicara, sebuah ujung pedang yang masih terbungkus oleh sarungnya sudah mendarat dengan sangat keras pada wajahnya.
Tentu pria itu menjadi orang kedua yang terpental. Namun Zen tidak mengendurkan kewaspadaannya karena ketiga pria yang masih berdiri disisi mejanya mulai mengeluarkan senjata mereka.
“Cih... dasar sampah” ucap Zen kemudian yang sudah memunculkan berbagai kilatan petir pada tubuhnya dan saat ini sudah berada dibelakang dari salah satu pria yang akan menyerangnya.
Bagi petualang yang memiliki level rendah, kecepatan Zen itu terlihat sangatlah cepat. Makanya saat ini semua orang yang berada di sana cukup terkejut dengan skill yang dikeluarkan oleh Zen karena dirinya saat ini sudah berpindah tempat dengan sangat cepat.
Zen sendiri saat ini langsung menghentakkan pedangnya tepat kearah Ulu hati dan membuat pria itu langsung tersungkur dan memuntahkan semua minuman keras yang sudah dia minum tadi. Zen tidak berhenti sampai disitu, dirinya mulai mengangkat kembali gagang pedangnya dan langsung menyodok bagian dibawah perut dari pria yang ada disebelahnya.
“Hm... tidak kusangka akan semudah ini” ucap Zen yang langsung melihat dua orang yang masih tersungkur kesakitan atas perbuatan yang dilakukan oleh dirinya tergeletak dilantai.
Karena dirinya terus mendengar suara yang berisik yang berasa dari dua orang tersebut, Zen akhirnya mulai menendang kedua pria itu agar terpental mengikuti ketiga kawannya dan akhirnya suara kesakitan itu mulai terhenti.
“Mereka tidak akan mengganggumu lagi Tina, jadi jangan khawatir” kata Zen sebelum kembali menuju tempat duduknya sambil menepuk ringan kepala dari Tina yang saat ini sangat terkejut dengan perbuatan dari Zen.
Zen sebenarnya sangat malas untuk bertarung dengan mereka. Namun karena dirinya melihat kelima orang itu dalam kondisi yang mabuk, Zen terpaksa melawan mereka karena dipastikan mereka tidak akan mendengarkan apapun perkataan dari Zen.
“T-Terima kasih Kak” ucap Tina yang entah mengapa mulai merasa sebuah kehangatan didalam hatinya atas perlakuan yang dilakukan oleh Zen kepadanya.
__ADS_1
Seperti menemukan sosok untuk tempatnya berlindung, itulah apa yang dirasakan oleh Tina sekarang. Apalagi, Zen dengan senang hati menganggapnya sebagai adiknya. Jadi hal tersebut entah mengapa membuat Tina mulai merasa terharu.
“Kenapa kamu menangis?” ucap Zen yang sudah duduk ditempat duduknya kembali dan memperhatikan setetes air mata mulai turun dari mata milik Tina.
“Ah... bukan apa-apa Kak” ucap Tina dengan cepat sambil tangan mungilnya mencoba untuk menghilangkan tetesan air mata yang saat ini mengalir pada pipinya.
“Apakah kamu yakin?” ucap Zen kemudian, namun saat ini dibalas dengan anggukan dan senyuman yang manis dari Tina.
Semua petualang yang melihat pertarungan Zen tadi akhirnya mulai melanjutkan kegiatan mereka untuk memakan makanan mereka. Memang kejadian seperti ini sudah terbiasa mereka lihat, namun untuk saat ini mereka sebisa mungkin tidak mencari masalah dengan Zen.
Namun ada satu orang yang tidak memperdulikan semua itu. Malahan saat ini dirinya sudah membawa kursinya dan duduk tepat disebuah sisi yang kosong dari meja yang sedang diduduki oleh Zen.
“Bagaimana anda bisa mengetahui bahwa aku mengikuti anda Tuan Zen?” tanya pria itu kepada Zen.
Pria yang datang menuju meja milik Zen merupakan pria yang berasal dari Guild Petualang dan ditanyai oleh Zen sebelumnya, untuk menanyakan apakah dirinya bisa menghabisi lima orang yang mengganggunya tadi.
“Hm... aku hanya tahu saja” balas Zen kemudian.
Zen tidak mempermasalahkan pria itu seakan ingin dekat dengannya, karena memang Zen tidak merasakan sebuah aura negatif dari dirinya dan terlihat pria itu cukup menyenangkan jika diajak mengobrol saat ini.
“Hahh... sepertinya misiku sudah gagal sedari awal kalau begitu” ucap pria itu sekali lagi.
Zen yang mendengar itu hanya tersenyum saja melihat pria tersebut yang saat ini terlihat sudah mulai tidak bersemangat, karena ternyata selama ini tugas yang dia lakukan sangat cepat diketahui oleh pria yang harusnya dia ikuti.
__ADS_1
“Kamu dari Guild Petualang bukan, kalau begitu bisakah kamu membantuku?”