
Bunga Salju atau yang sering disebut oleh penduduk di dunia ini sebagai bunga mana, merupakan bunga yang menyimpan mana pada seluruh bagian bunganya, dan sangat berguna untuk mengobati kelainan tentang mana dari seseorang.
Dengan khasiat yang seperti itu, tentu saja harganya sangat mahal, karena bunga ini cukup langkah jika dicari. Dan terbukti, seorang pria yang sudah kembali dari Guild Perdagangan saat ini sudah berdiri dihadapan seorang pria yang memintanya mencari tanaman tersebut kepadanya.
“Jadi mereka akan menyediakan bunga tersebut 2 minggu lagi ya” gumam Zen yang mendengar perkataan dari Lucas yang baru saja kembali dari Guild Perdagangan.
Lucas bahkan sudah bertanya lokasi bunga itu muncul untuk memetiknya sendiri, namun dia urungkan niatnya itu setelah mengetahui tempat tumbuhnya bunga salju sangatlah jauh, dan memutuskan untuk menunggu Guild Perdagangan memilikinya saja.
“Kalau begitu, biar kucoba untuk meringankan kondisi putri Paman agar dia bisa nyaman dalam beraktivitas selama dua minggu kedepan” balas Zen.
“Tetapi tidak bisakah kamu untuk menyembuhkan putriku saja dan dua minggu kemudian kita membuat aliran mana yang baru?” tanya Lenneth kepada Zen.
“Bukan aliran mana yang menjadi permasalahan Putrimu Bibi, tetapi imun tubuhnya. Jika aku menghilangkan aliran mananya saat ini dan aku membuatnya yang baru dua minggu kemudian, maka imun tubuhnya akan tetap menyerang mana miliknya yang baru.” Balas Zen.
Mendengar perkataan Zen akhirnya Lenneth mulai paham, karena jika mereka tidak menyelesaikan permasalahan imun tubuh putrinya, maka dia tetap saja tidak bisa menggunakan mana sampai kapanpun.
“Ah... maafkan aku Zen. Aku terlalu berharap agar putriku secepatnya sembuh” balas Lenneth.
“Aku mengerti Bibi.” Balas Zen yang sangat paham dengan perilaku dari Lenneth, karena dirinya juga akan berperilaku sepertinya jika orang yang sangat dia sayangi mengalami hal yang sama.
Zen akhirnya mulai mendekat kearah Kileni dan bersiap untuk mengurangi intensi dari penyakitnya. Melihat itu Kileni hanya diam saja saat Zen mulai mendekatinya, namun dia mulai gugup saat Zen mulai menaruh telapak tangannya pada bagian perutnya.
“Jika kamu mengantuk, tidurlah oke” kata Zen dan dibalas anggukan oleh Kileni.
Zen lalu menggunakan kemampuan mana absorb yang dimilikinya untuk menyerap semua mana pada tubuh Kileni. Kileni yang merasakan mananya terkuras habis, tentu saja langsung kelelahan dan mulai mengantuk. Dan seperti perkataan Zen sebelumnya, Kileni langsung menyerahkan dirinya untuk masuk kedalam alam mimpi karena memang matanya langsung memberat saat seluruh mananya sudah diambil oleh Zen.
Melihat mana dalam tubuh Kileni sudah habis, Zen lalu mengubah struktur pusat aliran mana dari Kileni, agar tempat tersebut tidak memproduksi mana secara masif, namun hanya memproduksi sebagian kecil mana saja, agar penyerangan imun tubuh dari Kileni bisa berkurang pada jaringan jalur mananya.
Setelah apa yang Zen lakukan selesai, Zen lalu menatap Kileni yang sudah tertidur dengan nyaman sambil tersenyum dan membuat Zen sedikit bahagia melihatnya karena apa yang dia lakukan berhasil.
“Aku sudah mengubah beberapa struktur aliran mananya yang bertahan selama sebulan. Jadi jika Paman belum mendapatkan Bunga Salju selama sebulan itu, cepat hubungi aku dan aku akan merapalkan elemen cahayaku kembali.” kata Zen dan dibalas anggukan oleh Lucas dan Lenneth.
__ADS_1
“Baiklah, biarkan dia beristirahat saat ini, karena memang aku menguras habis mananya” balas Zen yang menyuruh seluruh orang yang berada di ruangan ini untuk meninggalkan Kileni sendiri agar dirinya dapat beristirahat.
Lenneth hanya mengangguk mendengar perkataan Zen, karena memang ini pertama kalinya dia melihat putrinya bisa tidur dengan nyaman bahkan sambil tersenyum. Selama ini putrinya hanya merengek kesakitan pada tengah malam saat sedang terlelap dan membuatnya sangat sedih melihatnya.
Dengan Zen yang akan beranjak dari sana, Lenneth dan Lucas menyempatkan diri untuk menatap sejenak putri mereka, dan mulai meninggalkan ruangan itu dan membiarkan putri mereka beristirahat.
“Terimakasih banyak Zen” kata Lenneth kepada Zen sambil membimbing mereka menuju ruang tamu kediaman ini.
“Ucapkanlah nanti saat putrimu sembuh Bibi” balas Zen yang mulai duduk disebuah kursi, yang membuat Lenneth dan Lucas hanya tersenyum saja.
“Ah... aku lupa menyuguhkan sebuah minuman” kata Lenneth lalu mulai beranjak dari tempat duduknya dan mulai menuju dapur dari kediamannya.
“Apakah kamu akan tinggal di Ibukota selama dua minggu ini Zen, jika seperti itu aku akan menyuruh beberapa pelayan untuk menyiapkan sebuah kamar untukmu dan untuk adikmu pada kediamanku ini” kata Lucas.
Memang Zen tidak menyangka bahwa untuk menyembuhkan putri dari Lucas membutuhkan waktu yang cukup lama karena selain pengobatannya kelak akan memakan waktu, bahan untuk membantu menyembuhkannya juga akan tiba dua minggu lagi.
Jadi Zen saat ini sangat bingung harus melakukan apa, karena niat awalnya menuju Ibukota hanya untuk menyembuhkan putri dari Lucas dan akan langsung beranjak menuju Great Dungeon.
“Kamu bisa tiba di dungeon dalam waktu delapan jam menggunakan kuda tanpa beristirahat” balas Lucas.
“Berarti sekitar 1 hari jika aku menyempatkan beristirahat bukan?” tanya Zen kemudian.
“Ya.. bisa dikatakan seperti itu” balas Lucas sambil mengangguk.
Mendengar itu, Zen akhirnya mulai memikirkan rencana apa yang harus dia lakukan kedepannya. Zen masih berfikir tetapi Lenneth beserta beberapa pelayan di rumah ini mulai membawa sebuah teko teh dan beberapa makanan ringan untuk dirinya.
Yui yang melihat makanan tentu saja matanya mulai berbinar dan mulai tersenyum saja saat melihat sebuah potongan kue sudah disajikan dan ditaruh didepan dirinya.
Yui tentu saja ingin langsung melahapnya, namun dia mulai menengok kearah Kakaknya untuk meminta persetujuannya untuk memakan makanan yang berada didepannya.
“Makanlah, Bibi dan orang rumah ini sudah membuatkannya khusus untukmu” kata Zen yang melihat adiknya meminta persetujuan untuk memakan makanannya.
__ADS_1
Mendapat lampu hijau dari Kakaknya, Yui mulai berterimakasih kepada Lenneth dan beberapa pelayan yang membawa makanan dan minuman tadi, lalu mulai memakan sebuah kue yang berada didepannya dengan lahap.
“Ini teh milikmu Zen” kata Lenneth yang sudah menuangkan secangkir teh kepada Zen.
“Terima kasih Bibi” balas Zen dan mulai meminum isi cangkir yang baru saja disajikan untuknya.
“Adikmu sepertinya sangat suka makan Zen” kata Lenneth yang memperhatikan tingkah laku Yui yang sudah menghabiskan potongan Kuenya, lalu diberikan sepotong kue lagi oleh Lenneth saat ini.
“Ya... begitulah dirinya” balas Zen sambil tersenyum.
“Lalu bagaimana Zen, apakah aku harus membersihkan kamarmu sekarang agar kamu bisa beristirahat?” tanya Lucas kemudian.
“Untuk itu, bisakah aku meminta sesuatu kepada kalian berdua?” tanya Zen.
“Tentu saja, katakanlah apa yang kamu inginkan” balas Lucas.
“Aku ingin menitipkan adikku disini, selama diriku pergi menuju Great Dungeon.” Kata Zen.
Perkataan Zen tentu saja membuat Yui yang sedang asik melahap potongan kue ketiganya, langsung menghentikan aktivitasnya dan mulai menengok kearah Kakaknya dan menatapnya dengan tatapan terkejut.
“A-Apakah Kakak akan meninggalkan Yui?” kata Yui yang sudah terlihat beberapa butiran air mata mulai terkumpul pada kelopak matanya.
“Ah... maafkan Kakak, Kakak tidak bermaksud untuk meninggalkanmu, tetapi Kakak ingin kamu berada disini selama Kakak pergi menuju Great Dungeon.” Balas Zen.
“T-tetapi bukankah Kakak bisa membawa Yui bersama Kakak?” tanya Yui yang berharap Kakaknya tidak meninggalkannya.
“Gadis cantik, Kakakmu ingin memasuki Dungeon yang dimana mungkin membutuhkan waktu berhari – hari didalamnya. Jadi karena dia tidak bisa membawamu masuk kedalam, dia harus menitipkan dirimu kepada seseorang” Balas Lenneth.
“Ya... saat ini Kakak hanya mengenal Paman dan Bibi yang berada di depanmu saja, jadi jika Kakak membawamu bersama Kakak, Kakak akan meninggalkanmu di penginapan selama berhari – hari karena Kakak tidak mengenal siapapun untuk dimintai tolong untuk menjagamu” balas Zen.
Yui sedikit paham dengan perkataan Kakaknya, tetapi dia masih merasa berat jika Kakaknya meninggalkannya bahkan hingga berhari – hari. Tetapi karena dia tahu mengapa Kakaknya harus pergi menuju Great Dungeon dia mulai menerimanya saja.
__ADS_1
“Baiklah Kak....”