Kehidupan Aneh Yang Kujalani

Kehidupan Aneh Yang Kujalani
Pertemuan Pertama


__ADS_3

Saat ini Zen berada disebuah ruangan yang dipenuhi dengan buku, dimana Zen saat ini sedang duduk dan menatap sekeliling interior pada ruangan tempatnya berada itu dengan seksama. Dia saat ini sedang duduk di atas sebuah sofa dari ruangan tersebut dan sedang menunggu seseorang yang mengundang dirinya ketempat ini sedang membuatkan dirinya minuman.


“Kukira seorang Guild Master akan mempunyai asisten” gumam Zen, karena menyadari Guild Master yang dia temui membuatkannya sendiri minuman untuk tamunya.


Memang hari ini merupakan hari baru dimana Zen disuruh untuk bertemu dengan sang Guild Master oleh Meli kemarin. Zen sama sekali tidak tahu mengapa dirinya dipanggil, namun tetap saja dirinya memutuskan untuk menghadiri panggilan tersebut.


“Ah... maafkan aku membuatmu menunggu” kata seorang pria yang berusia sekitar 50 tahunan yang sudah membawakan Zen secangkir teh.


“Terima kasih Guild Master Ray” balas Zen dengan sopan, sambil menerima teh yang sudah dibuatkan oleh pria tersebut.


“Panggil aku paman saja, cukup aneh bagiku jika dipanggil dengan Guild Master” kata pria tersebut yang langsung duduk dihadapan dari Zen.


Saat ini mereka duduk disebuah sofa didalam ruangan dari Guild Master kota ini, yang dimana mereka sekarang duduk saling berhadapan dan hanya terpisah oleh sebuah meja kecil saja didepan Zen.


“Lalu, ada keperluan apa seorang Guild Master memanggil diriku ketempat ini?” tanya Zen secara langsung.


“Sudah kubilang, jangan panggil aku Guild Master. Dan untuk menjawab pertanyaanmu, beberapa orang utusan kerajaan Enex meminta pertemuan denganmu” balas pria tersebut menjawab pertanyaan dari Zen.


“Kerajaan Enex? Ada keperluan apa mereka mencariku paman?” tanya Zen kemudian.


Mendengar Zen sudah tidak memanggilnya dengan emblem Guild Master, membuat pria yang berada didepannya sedikit senang dan mulai menanggapi Zen dengan serius saat ini.


“Aku tidak tahu, tetapi mungkin kamu sudah menebak maksud kedatangan mereka bukan?” tanya pria yang dipanggil Paman oleh Zen itu.


“Hmm... mungkin” gumam Zen sambil mengangguk membenarkan perkataan pria didepannya.


Akhirnya perbincangan ringan mereka berakhir, setelah sebuah ketukan pintu mulai terdengar. Setelah dipersilahkan masuk, seorang wanita saat ini sedang membimbing dua orang pria yang mengenakan pakaian seorang prajurit dengan lambang kerajaan Enex pada jubahnya untuk masuk keruangan ini.


“Silahkan duduk tuan” ucap Guild Master yang berada di ruangan ini dan mempersilahkan dua orang yang baru saja masuk itu untuk mengambil tempat duduk mereka.

__ADS_1


Mereka berdua saat ini duduk dihadapan Zen, setelah Guild Master sudah berpindah tempat duduknya yang sekarang berada disebelah Zen. Dua pria tersebut akhirnya mulai duduk dan mulai membicarakan maksud kedatangan mereka ditempat ini.


“Salam Pangeran Zen, Guild Master. Kami datang ketempat ini atas perintah dari Yang Mulia Raja Kerajaan Enex, Raja Maeloch Enex untuk menyampaikan permintaan maaf yang mendalam kepada pangeran Zen atas kejadian yang anda alami di kerajaan kami” kata salah satu dari mereka.


Zen tidak langsung menjawab, tetapi masih mencerna dengan saksama perkataan mereka, hingga sang Guild Master yang duduk disebelahnya mulai menatapnya dan memberikan kode untuk menjawab perkataan pria yang berada didepannya.


“Baiklah... pertama aku bukanlah Pangeran, jadi berhenti memanggilku dengan sebutan pangeran. Kedua untuk permintaan maaf untuk saat ini aku masih mempertimbangkannya, karena kalian tahu sendiri aku mengalami banyak sekali hal yang menghilang dari diriku sejak kejadian itu” kata Zen.


Sebenarnya Zen hanya kehilangan sebuah lengan, tidak dengan jiwa yang meninggali tubuhnya dahulu yang mengalami banyak hal atas kejadian itu mulai dari statusnya, orang yang dicintainya, kepercayaannya dan sebagainya menghilang dari dirinya.


“Kami tahu pangeran, tetapi tetap saja kami harus menyampaikan secara langsung permintaan maaf kami kepada Anda” kata pria didepannya.


Sekarang Zen memahami perasaan Guild Master jika gelarnya terus disebut karena dirinya merasa sangat muak dipanggil seperti itu, dan terlebih lagi Zen tidak ingin kembali mengenakan gelar yang sudah dicabut darinya itu karena menurutnya itu bukanlah miliknya.


“Ya... ya.. sampaikan saja pada Rajamu, bahwa aku akan mempertimbangkannya” balas Zen.


“Lalu pangeran, maksud kedatangan kami kesini juga untuk menjemput anda kembali menuju Kerajaan Enex” balas pria itu kembali.


“Untuk permintaanmu itu, maaf aku tidak bisa melakukannya” balas Zen yang menolak permintaan mereka dengan tegas.


Ya, Zen saat ini memutuskan untuk menjadi kuat dengan caranya sendiri tanpa ikut campur pihak manapun. Jadi jika dia disuruh kembali, Zen pasti langsung akan menolaknya karena dia sudah mempunyai rencana untuk dirinya sendiri.


“Benarkah, padahal Raja kami siap memberikan anda kompensasi yang besar dan memulihkan status anda menjadi tunangan tuan Putri Aghni, walaupun sekarang merupakan tunangan dari pahlawan kerajaan Enex yaitu tuan Richard” balas pria yang berada didepannya.


“Tunggu... maksudmu Aghni... ah tidak Putri Aghni menjadi tunangan dari Richard?” tanya Zen.


“Ya... begitulah pangeran, tetapi Yang Mulia Maeloch berjanji jika anda kembali, dia akan menunangkan Putri Aghni dengan anda kembali” kata pria itu kembali.


Zen mulai sedikit menyipitkan matanya sedikit, karena apa yang baru saja dia dengar mulai semakin aneh. Bukan karena Zen yang penasaran dengan rupa dari Putri Aghni dan dia sangat kecewa bahwa dirinya bertunangan dengan pria lain.

__ADS_1


Tetapi pertunangan dirinya dengan sang pahlawan sangatlah aneh menurut Zen. Tetapi Zen saat ini hanya menyimpan saja pemikirannya dan terus mendengarkan perkataan pria yang berada didepannya saat ini.


“Sebenarnya, Raja Maeloch bersikeras untuk memaksa anda kembali menuju kerajaan Enex, tetapi permaisuri Eclana menyuruh kami untuk tidak memaksa kehendak anda” kata pria itu sekali lagi.


Ya, dari cerita Kakeknya dulu, Permaisuri Eclana dan Putri Anne adik dari Aghni, merupakan orang yang baik kepadanya. Bahkan saat dia tertimpa sebuah kasus, mereka merupakan orang pertama yang membela dirinya, walaupun apa yang mereka lakukan itu sia – sia.


“Ya.. untunglah kalian memiliki permaisuri yang bijaksana” kata Zen kemudian seakan perkataannya itu mempunyai sebuah makna tersembunyi dari balik kalimat yang dia lontarkan.


“Dan ini merupakan surat dari beliau serta dari Putri Aghni dan Putri Anne” kata pria itu dan menyerahkan tiga buah surat kepada Zen.


Zen dengan senang hati menerimanya, dan mulai memasukan pada kantongnya dan memutuskan untuk membacanya nanti. Para prajurit itu masihlah menanyakan apakah Zen bersedia kembali dengannya, namun Zen kembali menolak mereka dengan halus.


Hingga akhirnya mereka berpamitan kepadanya dan meninggalkan ruangan itu, dan menyisakan Zen beserta sang Guild Manager di ruangan tersebut.


“Hahh.... mengapa mereka terus memanggilku dengan sebutan pangeran, padahal status pangeran milikku sudah dicabut” kata Zen.


“Benar bukan, rasanya tidak enak jika dipanggil dengan gelar daripada panggilan yang akrab” kata Guild Master disebelahnya.


Mendengar itu, Zen hanya mengangguk dan mulai meminum sisa teh yang tersisa pada cangkirnya, dan akan pergi dari sana karena memang dirinya sudah tidak memiliki urusan ditempat ini.


“Kalau begitu, aku akan kembali mengambil sebuah misi Paman” kata Zen yang ingin berpamitan dengan pria yang berada disebelahnya.


“Tunggu anak muda, bisakah kamu membagi apa yang sedang kamu pikirkan tadi kepadaku?” tanya Guild Master yang saat ini menahan kepergian dari Zen.


Ya, maksud perkataan Zen yang mengatakan bahwa untunglah kerajaan Enex mempunyai permaisuri yang bijaksana bisa ditangkap oleh Sang Guild Petualang, dan tentu saja dirinya tidak melewatkan kesempatan untuk mencari tahu apa yang dimaksud oleh Zen yang sebenarnya dengan mengatakan perkataan seperti itu.


“Membagi?” kata Zen.


“Instingku mengatakan bahwa dirimu mempunyai sesuatu yang sangat penting yang mungkin akan berguna bagi Guild Petualang” balas pria itu kemudian.

__ADS_1


“Hmm.... mungkin. Tetapi instingku mengatakan bahwa aku harus menyimpannya sendiri” balas Zen sambil tersenyum kepada pria itu, dan akan beranjak dari sana.


“Tetapi, jika kamu memberitahukanku, mungkin aku akan membantumu dan membuat pihak Kerajaan Heilight tidak berurusan denganmu lagi”


__ADS_2