
Zen kembali memuntahkan seteguk darah, karena serangan dari pria yang berubah menjadi semacam monster didepannya kembali menyerangnya. Dengan memfokuskan dirinya dalam meregenerasi lukanya, Zen berusaha untuk bertahan.
“Sial... mengapa dia menjadi sangat kuat” kata Zen yang kembali menerima sebuah serangan.
Serangan cepat terus mengarah kearahnya dan membuat Zen kembali tersungkur. Pria itu lalu menduduki bagian perut dari Zen, dan mulai memukul kepalanya dengan kuat menggunakan tangannya yang tersisa, dan tidak membiarkan Zen untuk membalas.
“Ini buruk” gumam Zen yang bisa terlihat beberapa lebam hampir memenuhi seluruh wajahnya.
Namun saat Zen bersiap menerima pukulan dari musuhnya yang akan datang kearahnya, tangan dari pria yang mendudukinya itu mulai terputus dan terjatuh tepat disebelah tubuh terkapar dari Zen.
“GRAAAAAAAAAA”
Teriak pria yang sedang menyerang Zen, namun sebuah pedang mulai menembus tubuh musuh yang berada diatasnya, yang dimana ujung pedang itu akhirnya menembus hingga dada dari pria yang duduk di atas tubuh Zen. Teriakan pria itu terus keluar, tetapi seseorang menggunakan sebuah dager langsung memutuskan kepalanya.
Tentu saja, pria yang sedang mengamuk itu masih berteriak walaupun kepalanya sudah terlepas. Namun suaranya mulai berhenti, setelah kedua pria yang membantu Zen saat ini mulai menghancurkan tubuh pria yang dilawannya itu.
“Akhirnya berakhir” kata Zen yang mulai terbaring ditempat dirinya terkapar.
Zen sedikit menyesal tentang keputusannya sebelumnya yang tidak langsung membunuh pria yang dilawannya tadi, dan menyebabkan dirinya dalam bahaya. Untung saja muncul beberapa orang yang menyelamatkannya.
“Hm... bukankah ciri – cirimu sama seperti pangeran yang beritanya masih hangat?” kata pria yang memegang sebuah pedang dan memasukannya kedalam sarung yang berada dipunggungnya.
“Ya... dan juga barier yang mengelilingi desa ini juga dari elemen cahaya bukan..Berarti memang pria ini merupakan pangeran tersebut” kata kawannya.
Zen tidak menjawab perkataan mereka namun langsung menatap dua orang pria yang umurnya lebih tua darinya, karena penampilan mereka memang terlihat lebih dewasa, jika dibandingkan dengan Zen yang masih seperti seorang remaja.
“Terimakasih Tuan telah menyelamatkanku” kata Zen yang mulai bangkit dan membungkuk kepada dua orang didepannya.
.
.
Ditempat lain, Alice yang sudah terlepas dari ikatannya mulai menoleh kearah wanita dewasa yang menolongnya tadi, karena dia sangat mengenal siapa wanita tersebut.
“Nyonya Lenneth?” kata Alice.
__ADS_1
“Ho... sungguh sebuah kehormatan bahwa seorang putri dari seorang Duke kerajaan Raven mengenaliku.” Kata wanita itu yang mulai mengeluarkan skill elemen airnya dan membantu menyembuhkan luka dari Sif.
“Tentu saja saya mengetahui anda Nyonya, bukankah party petualang anda merupakan party tingkat S” kata Alice.
“Benarkah kami seterkenal itu?” tanya wanita yang dipanggil Lenneth itu sambil tersenyum kepada Alice.
Tetapi sebelum Alice menjawab, dia mulai teringat sesuatu dan mulai menoleh kearah tempat Zen berada sebelumnya, yang sedang bertarung dengan pemimpin pasukan yang ingin menghancurkan desa ini.
“Tenanglah, kekasihmu akan baik – baik saja” kata Lenneth yang melihat kegelisahan dari Alice yang sedang dirawatnya.
“Aku hanya mengkhawatirkannya saja, dan juga kami bukan sepasang kekasih” balas Alice yang mulai lega setelah melihat dua orang saat ini sedang membantu Zen.
“Benarkah? Sayang sekali kalau begitu, karena kamu menyia – nyiakan pria setampan dirinya” kata Lenneth kemudian.
Tetapi sebelum perdebatan itu berlanjut, seorang pria dewasa dan seorang wanita kembali ketempat ini, setelah melihat kondisi dari desa yang baru saja terkena bencana akibat perbuatan beberapa orang sesat.
“Keadaan Desa baik – baik saja, tetapi sepertinya semua penduduk Desa ini sedang pingsan karena sihir terkutuk yang dirapalkan kepada mereka” kata pria yang baru saja tiba itu.
“Hmmm begitu ya.. Aku sudah menyembuhkan mereka semua, dan tinggal menunggu beberapa dari mereka siuman saja” kata Lenneth yang melaporkan situasinya, setelah merawat luka dari party petualang yang sedang terkapar.
“Lalu, pria elemen cahaya itu?” tanya pria itu kembali.
Ketiga pria yang sedang mereka bicarakan itu, akhirnya mulai mendekat kearah kelompok yang menjadi bala bantuan dari penyerangan yang dialami desa ini. Alice juga sudah mulai bangkit dan berdiri sejajar dengan beberapa orang yang berdiri disana.
Zen dan kedua orang yang bersamanya akhirnya tiba dihadapan mereka, namun tindakan Zen selanjutnya membuat terkejut seluruh orang yang berada disana. Zen seakan memeluk tubuh dari Alice yang dimana mereka sudah jatuh dan saling menindih, dimana saat ini Zen kembali berada diatas tubuh Alice.
“Hm... masa muda yang indah” kata Lenneth.
“Apakah kamu mengingat masa muda kita sayang?” tanya pria yang berada disebelah Lenneth, setelah dia berkata seperti itu.
“Apa yang kamu lakukan Zen, kita tidak sedekat itu” teriak Alice yang mengira Zen ingin memeluknya, namun pria yang saat ini jatuh ditubuhnya tidak bergeming sama sekali.
“Zen?” kata Alice yang meraih bahu dari Zen dan menjauhkannya dari tubuhnya dan melihat Zen seakan tak sadarkan diri.
“Zen!” teriaknya, karena Zen sepertinya pingsan.
__ADS_1
“Baringkan dia” kata Lenneth kepada Alice, dan membuatnya langsung membaringkan tubuh Zen disebelahnya.
Lenneth dengan teliti memeriksa tubuh dari Zen, dan mencari tahu apa yang sedang terjadi kepada pria itu dan menyebabkan dirinya tidak sadarkan diri.
“Sepertinya dia mengalami kelelahan akut, karena dia memaksakan batas tubuhnya” kata Lenneth yang sudah memeriksa kondisi dari Zen.
“Apakah dia akan baik – baik saja?” tanya Alice yang mulai cemas.
“Tenanglah, kekasihmu hanya kelelahan saja dan mungkin akan terlelap selama beberapa hari kedepan” kata Lenneth dan membuat Alice mulai bernafas lega, namun perkataan Lenneth kembali membuat Alice menatapnya.
“Maafkan aku nyonya Lenneth, tetapi aku bukanlah kekasihnya” balas Alice yang mulai meluruskan kesalahpahaman diantara mereka.
.
.
Yui saat ini masih menunggu dengan sabar kembalinya Kakaknya ditempat ini. Suara ledakan terus terdengar, tetapi Yui tetap tenang dan berharap Kakaknya akan baik – baik saja menjalani pertempurannya.
“Suara ledakan sudah menghilang Nona Yui, dan juga lingkaran sihir tadi juga sudah menghilang” kata bibi pemilik penginapan yang bersamanya saat ini.
“Ya... semoga Kakak baik – baik saja” gumam Yui.
Memang sebelum Zen bertempur, dia bertanya kepada pemilik penginapan tempatnya menginap, apakah dia memiliki sebuah ruangan tersembunyi, dan dijawab iya olehnya. Zen lalu membawa Yui kesana dan membuat sebuah barier untuk melindungi dirinya dan meminta bibi pemilik penginapan ini menjaganya.
Dengan barier yang dibuat oleh Zen, tentu saja mereka tidak merasakan efek apapun saat sebuah ritual dimulai, dan hanya duduk dengan tenang ditempat itu dan menunggu Zen kembali untuk mereka.
Tetapi sesuatu membuat Yui risau saat ini, setelah melihat kondisi barier Kakaknya yang dibuatkan khusus untuk melindunginya seakan mulai menghilang sedikit demi sedikit.
“Kakak!” teriaknya panik, dan mulai keluar dari ruangan itu.
Yui tanpa menghiraukan bibi pemilik penginapan ini yang memanggilnya, langsung berlari kearah bagian luar dari penginapan ini. Dia ingin menemukan keberadaan Kakaknya, namun dia bingung harus kemana.
“Tenanglah Nona Yui, Tuan Zen pasti akan baik – baik saja” kata bibi pemilik penginapan ini yang mengejar Yui sampai keluar.
Tetapi saat Yui masih mencari keberadaan Kakaknya, beberapa bayangan orang mulai muncul dan Yui bisa melihat Kakaknya yang sedang tidak sadarkan diri, dan langsung bergegas kearahnya yang saat ini sedang digendong oleh seorang pria.
__ADS_1
Aura kegelapan aneh mulai keluar dari Yui, dan membuat beberapa orang disana waspada karena aura yang dikeluarkan gadis itu lumayan menakutkan walaupun aura yang dikeluarkannya masihlah cukup lemah.
“Siapa yang melakukan ini?!”