
Keesokan harinya, Zen beserta adiknya mulai meninggalkan kota Himgah dan mulai beranjak dari kota itu menuju Ibukota kerajaan Raven menggunakan seekor kuda yang dijinakkan oleh Zen sebelumnya.
Kuda berwarna putih Zen tidak sengaja temukan saat dia ingin berburu Kerbau Lembut yang membuatnya mencari tahu cara menjinakkan kuda liar dari dalam smartphonenya untuk menjinakkannya. Dengan pengetahuan yang dia dapatkan, saat ini dirinya sudah mengendarai seekor kuda berwarna putih dan melanjutkan perjalanannya.
“Ayo cepat melaju Kesi” kata Yui yang bersemangat menunggangi kuda putih milik Kakaknya.
Kesi, begitulah nama dari Kuda yang dijinakkan oleh Zen. Dengan mempelajari cara menungganginya lalu memasangkan perlengkapan untuk menungganginya, Kesi saat ini menjadi kuda yang akan selalu Zen gunakan untuk bertransportasi kemanapun.
“Berapa lama kita sampai di Ibukota Kak?” tanya Yui kepada Kakaknya yang duduk dibelakangnya.
“Sekitar dua hari” balas Zen.
Sebenarnya Zen ingin sekali langsung menuju Great Dungeon, namun surat yang dititipkan oleh Lucas yang merupakan petualang Rank S yang menyelamatkan dirinya, membuatnya harus memeriksa permintaan dari pria tersebut.
Zen yang saat itu pingsan tidak mengetahui bahwa Lucas beserta istrinya sangat ingin meminta sesuatu kepadanya. Namun karena dirinya tak kunjung siuman, akhirnya mereka memutuskan untuk kembali dan menitipkannya sepucuk surat pada Alice untuk dirinya.
“Ya... mungkin jika aku membantu mereka, aku akan mendapatkan sebuah bantuan dimasa depan” gumam Zen.
Selain alasan prihatin dengan kondisi putrinya, Zen juga ingin membuat hubungannya dengan salah satu orang yang mempunyai Rank S di Guild petualang menjadi sangat baik. Karena mungkin dimasa depan mereka bisa membantunya menghadapi beberapa krisis.
Dan begitulah perjalanan Zen dan Adiknya berlanjut menuju kearah Ibukota dengan beristirahat sejenak disepanjang jalan, hingga tidak terasa dua hari telah berlalu.
Seorang pria berumur 40 tahunan, saat ini dengan sabar menunggu kedatangan seseorang di pintu masuk Ibukota kerajaan Raven, Vermillion. Sudah sedari pagi dia berada disini, tetapi orang yang dia tunggu belum saja muncul.
“Semoga saja dia bisa menyembuhkan putriku” begitulah gumaman yang selalu dia lakukan, agar membuat dirinya tetap bersemangat menunggu seseorang yang dinantikan olehnya.
Lima tahun yang lalu, Istrinya berhasil melahirkan seorang putri yang sangat manis dan membuat dirinya sangat bahagia. Kebahagiaan mereka terus tumbuh, hingga sebuah kabar membuat mereka mulai bersedih.
__ADS_1
“Dead Mana”
Begitulah nama penyakit yang dialami putrinya, yang merupakan reaksi imun tubuh yang menganggap Mana sebagai penyakit dan mulai membasminya dari dalam tubuh pemiliknya.
Karena pengaliran mana sebenarnya menggunakan aliran khusus menuju seluruh tubuh yang terdapat pada sela – sela pembuluh darah manusia. Orang yang mempunyai penyakit ini, membuat imun tubuhnya menyerang semua aliran tersebut dan dipastikan tidak sengaja menghancurkan beberapa pembuluh darah saat mereka melakukannya.
Hal inilah yang membuat penyakit ini sangat berbahaya, apalagi penyembuhannya hanya bisa dilakukan oleh orang dengan pengguna elemen cahaya, yang skillnya sangat dikhususkan untuk perubahan struktur tubuh manusia.
“Tenanglah tuan Lucas, Guild Petualang sudah mengkonfirmasi pria yang anda tunggu sudah keluar dari kota Himgah dua hari yang lalu, dan dipastikan dirinya akan sampai disini sebentar lagi” kata seorang penjaga gerbang pintu masuk Ibukota yang menemani pria bernama Lucas itu.
Memang, informasi perjalanan Zen bisa diakses oleh siapapun yang memiliki koneksi dengan Guild Petualang, dikarenakan saat seorang petualang singgah disebuah kota maupun desa yang terdapat kantor Guild Petualang, mereka diharuskan melaporkan diri mereka di sana.
Hal ini juga yang membuat pria bernama Lucas mengetahui keberadaan Zen hingga dia mengetahui kemana dia akan pergi. Tetapi Hari semakin terik dan antrian beberapa orang mulai ramai, tapi keberadaan Zen masih belum terlihat.
“Apakah dia mengalami sesuatu diperjalanan?” gumam Lucas yang masih setia menunggu kedatangan Zen.
Tetapi seorang di atas benteng yang bisa melihat dari kejauhan, melihat seorang pria berlengan satu sedang berdiri di samping kuda berwarna putih yang ditumpangi seorang gadis kecil, yang saat ini sedang mengantri untuk memasuki wilayah Ibukota.
“Tuan Lucas, bukankah anda menunggu seorang yang berambut putih dan berlengan satu?” tanya pria yang melihat keberadaan orang yang sesuai dengan ciri – ciri yang diberikan oleh Lucas.
“Ya.. memang ada apa?” tanya Lucas kemudian.
“Aku melihatnya sedang mengantri disa-” tetapi sebelum perkataannya selesai, pria yang dia ajak bicara tadi langsung melesat dengan cepat kearah dimana prajurit penjaga pintu tadi menunjuk.
Disisi lain, Zen saat ini sedang memegang tali kudanya dan menggiringnya berjalan perlahan demi perlahan, untuk mengikuti antrian yang sedang dia hadapi saat ini. Adiknya Yui masih duduk dengan nyaman di atas kuda yang ditarik oleh Zen dan menunggu dengan setia antrian itu berakhir.
Namun saat asik menunggu antrian mereka, seorang pria langsung muncul didepan mereka secara tiba – tiba. Tentu saja Zen langsung waspada, karena kecepatan pria itu tidak bisa dideteksi olehnya.
__ADS_1
“Tuan Zen?” kata pria yang baru saja tiba didepan Zen itu.
“I-Iya saya sendiri” balas Zen yang cukup terkejut dengan kemunculan pria tersebut.
“Ah.. Maafkan saya. Saya Lucas, orang yang menitipkan surat kepada anda sebelumnya” kata pria itu memperkenalkan dirinya, karena melihat Zen yang sedikit waspada saat melihat keberadaannya.
“Ah Tuan Lucas, maafkan saya karena tidak mengenali anda sebelumnya” kata Zen sambil menunduk sedikit.
Pria yang ditunggu oleh Lucas akhirnya tiba ditempat ini dan membuatnya sangat senang. Karena kedatangan Zen untuk memeriksa kondisi dari putrinya dan mungkin bisa menyembuhkan dirinya.
“Mari ikut saya Tuan Zen, kita bisa langsung memasuki Ibukota jika anda bersama saya” balasnya.
“Baiklah tuan, tetapi anda bisa memanggil saya Zen saja” balas Zen yang masih belum terbiasa dipanggil dengan nada yang sangat hormat.
“Baiklah. Kalau begitu anda bisa memanggil saya dengan sebutan paman kalau begitu” balas Lucas yang mencoba untuk bersikap seakrab mungkin dengan Zen.
Zen yang saat ini sedang membimbing kuda yang ditunggangi oleh Yui mulai keluar dari barisan yang ingin memasuki Ibukota dan mengikuti jejak pria bernama Lucas itu dan menuju pintu masuk dari tempat yang akan dia tuju.
Dengan langkah yang mantab, akhirnya Zen berhasil memasuki area Ibukota Kerajaan Raven yang bisa dibilang kota ini sangatlah megah, karena bangunan – bangunannya sangat besar dan indah.
Semakin mereka memasuki wilayah Ibukota, semakin terlihat bangunan yang berada di Kota itu berkembang. Karena semakin dalam mereka masuk, semakin indah bentuk bangunan yang sedang mereka lewati.
“Disini blok kediaman kami Zen” kata Lucas yang saat ini sudah mulai sedikit akrab dengan Zen, karena mereka sedari tadi mulai mengobrol dengan ringan.
“Hoooo....” Kata Zen yang membulatkan bibirnya setelah melihat berbagai macam mansion yang megah.
“Wah... jika Yui tinggal disini, pasti Yui akan sangat capek berkeliling” balas Yui yang ikut terkesima dengan pandangan berbagai rumah yang berada diarea tempatnya berada.
__ADS_1
Zen yang masih memegang tali kudanya, akhirnya tiba disebuah Mansion yang lumayan besar dan bisa terlihat dari sana seorang wanita seumuran dengan pria yang menjemputnya dan seorang gadis kecil sedang duduk disebuah kursi roda.
“Apakah dia pangerannya Ibu?”