
Saat ini seorang pria berlengan satu dengan kekuatannya yang sangat besar bisa mengalahkan beberapa monster yang sebenarnya tidak sebanding dengannya dengan mudah. Monster – Monster yang diserangnya mulai tergeletak tak bernyawa, namun tidak membuat pria itu menyurutkan serangan yang dia lakukan di wilayah tempatnya berada.
Namun saat mayat – mayat itu tergeletak, seorang gadis saat ini dengan tekun mulai memanen beberapa bagian monster yang cukup berharga jika dijual dan mengambil core dari Monster yang sudah tak bernyawa itu.
“Oke selesai, sekarang selanjutnya” gumam gadis kecil itu yang menggunakan sebuah dager untuk membantunya mengambil semua bagian tubuh monster yang bisa diuangkan jika mereka menjualnya.
Tina memang sudah sepakat untuk berkerja bersama Zen, namun memang Zen belum mendaftarkan keberadaannya secara resmi, karena memang cukup merepotkan bila mereka harus kembali menuju safe zone saat ini.
Disisi lain, Zen yang sebenarnya tidak memerlukan seorang porter, cukup terbantu dengan keberadaan Tina karena memang dirinya berkerja dengan sangat tekun dan cepat. Jadi walaupun tubuhnya kecil, tetapi Tina bisa melakukan tugasnya dengan sangat baik.
“Dan ini yang terakhir” gumam Zen yang mulai menebas dengan cepat sebuah monster terakhir yang berada di wilayah ini.
Melihat monster yang dia kalahkan sudah tergeletak, akhirnya Zen mulai membantu tugas Tina yang saat ini masih dengan teliti melakukan tugasnya.
“Hahh... aku sangat iri dengan kemampuan Tuan” ucap Tina yang melihat Zen bisa dengan mudah memanen item monster dengan kekuatan aneh yang dimilikinya.
Memang Tina sudah melihat kemampuan Zen yang bisa memisahkan apapun hanya menggunakan sentuhan. Entah bagaimana Zen melakukannya, tetapi menurutnya kekuatan itu sangatlah hebat.
Tina sempat bertanya untuk diajari kemampuan tersebut, namun karena memang skill penyimpanan Zen merupakan salah satu fitur yang berasal dari smartphone miliknya, jadi Zen tidak bisa mengajari kemampuannya itu kepada siapapun.
“Sudahlah, ayo bergegas karena masih ada tempat yang harus kita tuju” gumam Zen yang mulai membantu Tina dengan tugasnya.
Sebenarnya Tina menolak tuannya itu untuk membantunya, karena memang inilah tugasnya. Namun karena Zen ingin buru – buru untuk bisa menaiki lantai selanjutnya, jadi dirinya harus cepat dan membuat Tina terpaksa harus menerima bantuan dari Zen.
Memang bisa dibilang hasil kerja Tina sangat bagus karena dirinya sudah terbiasa melakukannya dan membuat kerjanya sangat efisien. Jadi walaupun Zen membantunya, tetapi Tina masih mempunyai peran besar dalam kerja sama yang dilakukan antara mereka berdua.
__ADS_1
“Kalau begitu, mari kita lanjutkan” balas Zen yang mulai berangkat dari sana bersama Tina untuk menuju tempat selanjutnya.
.
.
Hari sudah semakin malam, dimana Zen dan Tina saat ini memutuskan untuk kembali menuju safe zone untuk beristirahat. Setelah sampai, memang bisa dilihat tempat itu sama sekali tidak cocok untuk seorang gadis kecil seumuran dengan Tina.
Memang sangat jarang seorang porter dibawah umur akan melakukan petualang yang membutuhkan bermalam didalam dungeon. Jadi ini pertama kalinya Tina akan menginap pada sebuah safe zone dari Great Dungeon yang dimasukinya.
“Ikuti aku saja oke, dan jangan menghiraukan apapun” ucap Zen kepada Tina yang dengan setia mengikuti langkah dari Zen yang memimpin perjalanan mereka.
Memang diperjalanan saat memasuki area safe zone, orang mabuk, wanita yang menawarkan jasanya dan sebagainya saat ini memenuhi wilayah ini. Bagi seorang petualang, kegiatan ditempat ini sangat biasa termasuk Zen yang sudah berada ditempat yang seperti ini selama seminggu.
Namun Zen masih bisa menghindari apapun yang menurutnya tidak penting untuk dia urusi dan hanya datang menuju safe zone untuk melaporkan statusnya pada perwakilan Guild Petualang pada setiap lantai dan mencari tempat untuk menginap saja.
“Tentu saja tidak. Dan juga panggil aku Kakak saja oke. Cukup tidak menyenangkan dipanggil oleh seorang yang aku anggap dekat dengan sebutan Tuan” ucap Zen.
“Maafkan aku Tu- ah maksudku Kakak. Aku sudah terbiasa memanggil orang yang menyewa jasa porterku untuk dipanggil seperti itu” ucap Tina.
Memang hubungan Tina dan Zen semakin dekat setelah mereka berburu selama seharian sedari tadi. Zen mulai menyuruh Tina memanggilnya Kakak, karena memang cukup tidak nyaman jika Tina terus memanggilnya dengan sebutan Tuan.
“Yap.. dan akhirnya kita sudah sampai” ucap Zen setelah menemukan sebuah papan nama dari sebuah penginapan.
“Kalau begitu, kita akan berpisah disini Kak. Aku akan mencari tempat untuk bermalam untukku sendiri” ucap Tina yang ingin berpisah dengan Zen.
__ADS_1
“Hahh.. apa maksudmu. Memangnya kamu mau menginap dimana?” tanya Zen yang cukup bingung dengan perkataan dari Tina.
“Hm... mungkin aku akan meminta izin untuk tidur di gudang dari penginapan ini” balas Tina yang membuat Zen mengerutkan keningnya setelah mendengar jawabannya itu.
“Cih... siapa yang membiarkanmu tidur di sana. Kamu tidak usah khawatir, karena aku akan menyewakan dirimu sebuah kamar untuk tempatmu bermalam” balas Zen yang sudah menarik tangan dari Tina dan mengajaknya masuk kedalam penginapan yang mereka datangi itu.
“T-Tapi Kak, aku tidak mempunyai uang” ucap Tina yang menolak ide dari Zen.
Zen tidak menghiraukan perkataan dari Tina dan mulai menyeretnya memasuki gedung penginapan yang ada ditempat ini. Setelah disambut oleh resepsionis tempat itu dan mengutarakan maksud kedatangannya, akhirnya Zen diberikan dua buah kunci kamar oleh wanita resepsionis itu setelah Zen memberikan dirinya beberapa koin perunggu.
“Ayo... aku sudah memesan kamar untuk kita beristirahat” ucap Zen kepada Tina.
Tina hanya membulatkan matanya karena terkejut dengan tindakan Zen. Pria itu sangat baik kepadanya, bahkan saat ini dirinya menyewakan sebuah kamar untuk dirinya memakai uang milik Zen sendiri.
“K-Kakak tidak akan memotong upahku bukan?” tanya Tina yang takut bahwa uang pendapatan yang susah payah dia dapatkan tadi akan dipotong oleh Zen nanti.
“Tenanglah. Untuk urusan makan dan penginapan untukmu, aku sendiri yang akan membayarnya menggunakan uangku” ucap Zen.
Memang, walaupun Zen menganggap Tina seperti adiknya sendiri, dirinya tetap menyewakan dua buah kamar untuk dirinya dan Tina, agar gadis kecil itu nyaman dan bisa beristirahat dengan baik dan bisa melanjutkan perburuan mereka besok.
“T-Tapi Kak.. ak-”
“Sudahlah, ayo masuk kedalam kamarmu dan bersihkan dirimu dan kita akan makan malam bersama” ucap Zen yang memotong perkataan Tina yang akan menolak pemberiannya itu.
Tina terpaksa mengikuti saja langkah Zen. Karena memang Zen langsung beranjak dari sana dan membuat Tina tidak sempat menolak perkataannya tadi, dan terpaksa mengikuti langkahnya saja untuk menuju kamar yang sudah disewakan untuknya.
__ADS_1
Memang letak kamar mereka bersebelahan dan Zen saat ini sudah bersiap masuk kedalam kamarnya setelah membuka kunci pintu kamarnya. Namun sebelum masuk, Zen menengok kearah Tina yang saat ini masih menatap pintu kamarnya.
“Cepat masuk dan bersihkan dirimu. Satu jam lagi aku akan menjemputmu untuk mengajakmu makan malam”