Kehidupan Aneh Yang Kujalani

Kehidupan Aneh Yang Kujalani
Menuju Keberadaban


__ADS_3

Seorang anak perempuan berumur 4 tahun, saat ini sedang duduk dan melihat pertempuran yang sedang dilakukan oleh Kakaknya. Ditempat dirinya duduk, dedaunan – daunan kering juga mulai jatuh dari pohon - pohon diatasnya, karena monster yang dilawan Kakaknya terpental kesalah satu pohon disekitarnya.


Dengan goncangan berbagai pohon yang tertabrak oleh beberapa tubuh monster, akhirnya tempat itu seakan mengalami sebuah musim yang baru yaitu musim gugur, dimana dedauanan kering seakan mulai gugur dari atas pohon disekitar anak kecil itu berada.


“Cepatlah Kak, Yui sudah lapar!” teriak anak perempuan tersebut kepada Kakaknya yang masih asik melawan segerombolan monster liar.


Pria yang dipanggil Kakaknya itu, hanya tersenyum saja setelah mendengar teriakan adiknya, dan kembali membantai para monster yang mendatangi dirinya, tetapi sebisa mungkin dirinya mempercepat pembantaian itu, karena dia tidak ingin adiknya terus menunggu apalagi dirinya sedang lapar.


Memang, sudah hampir dua minggu Kakak beradik tersebut berjalan menelusuri area terlarang ini, untuk pergi kearah tujuan mereka yaitu sebuah desa yang berada tepat diluar area terlarang pada kerajaan Raven.


Mengapa Zen memutuskan untuk pergi menuju kerajaan itu, walaupun akan lebih dekat jika dia ingin pergi menuju kerajaan Illyan yang berada diutara, maupun kerajaan Vilan diselatan dari area ini. Hal tersebut dikarenakan kerajaan Raven memiliki Great Dungeon.


Walaupun Zen cukup puas meningkatkan levelnya ditempat ini, tetapi dia juga ingin menemui peradaban pada dunia ini, terutama dia tidak mau adiknya Yui tidak mengetahui apapun tentang dunia tempatnya tinggal, karena sudah terkurung selama ratusan tahun lamanya.


Dan juga, beberapa monster yang berada disini sangatlah kuat dan mereka bisa muncul dimana - mana, tidak seperti Great Dungeon dimana kekuatan monster ditentukan oleh lantai, jadi cukup berbahaya juga untuk terus berada ditempat ini, untuk melawan monster dengan kekuatan yang acak.


"Yang terakhir!” gumam Zen lalu menggunakan skill petirnya dan menyambar monster terakhir yang dilawannya, untuk mengakhiri pertempuran tersebut.


“Yay... akhirnya Kakak selesai!” teriak Yui bersemangat dan langsung beranjak dari tempatnya duduk dan berlari kearah Kakaknya.


Memang jika mereka hanya berjalan seperti biasa, mereka bisa sampai ketempat tujuan mereka dalam waktu 1 bulan saja. Namun mereka sekarang berada diarea terlarang, dimana tempat ini dipenuhi dengan monster. Jadi perjalanan mereka harus sering memutar untuk menghindari beberapa monster berbahaya.


“Jadi Yui mau makan siang dengan apa?” kata Zen sambil ikut berjalan kearah Yui, setelah memanen semua bahan yang berguna dari berbagai monster yang sudah dia kalahkan.


“Daging pedas seperti kemarin Kak” jawab Yui bersemangat.


Zen hanya tersenyum saja mendengar perkataan adiknya itu, lalu mengeluarkan sebuah daging beruang berukuran besar dan menyiapkan panggangannya. Memang diperjalanan mereka, Zen berhasil mendapatkan beberapa bumbu liar, untuk menyempurnakan masakannya saat dirinya berpetualang bersama adiknya ditempat berbahaya ini.


Dan begitulah Zen memanggang makanannya yang sedang dia masak itu, dan membumbuinya dengan bumbu liar yang dia temukan, lalu menyajikannya kepada adiknya yang sudah bersiap untuk menyantap makanan yang dibuat Kakaknya.


“Mungkin sekitar 3 minggu lagi kita sampai ketujuan” gumam Zen yang saat ini sudah menghidangkan makanannya dan mulai menyantapnya.


“Pastikan Kakak mencukur rambut, jenggot, jambang dan kumis Kakak saat sampai di desa itu oke. Yui sama sekali belum melihat wajah asli Kakak hingga saat ini” kata Yui yang saat ini kembali memasukan potongan besar daging kedalam mulutnya.

__ADS_1


“Iya, setelah kita sampai didesa, Kakak pastikan tempat pertama yang kita tuju adalah tempat pangkas rambut” jawab Zen, walaupun dia tidak yakin bahwa tempat seperti itu ada didunia ini.


Dan begitulah tiga minggu kemudian berlalu. Diperjalanan mereka, Zen maupun Yui merasa menikmati perjalanan itu karena mereka selalu bersama, walaupun perjalanan mereka sering dihadang oleh beberapa monster maupun hewan liar yang ingin menyerang mereka.


Zen merasa senang dengan sifat kekanakan dari Yui, sedangkan Yui sangat nyaman jika bersama Kakaknya itu, dan membuat perjalanan mereka seakan tidak terasa, hingga Zen saat ini membantai monster terakhirnya, sebelum mereka keluar dari area terlarang ini.


“Level 26, tidak buruk” gumam Zen setelah melihat status levelnya saat ini.


“Apakah masih jauh Kak?” tanya Yui yang kemudian berlari kearahnya, setelah melihat semua monster berhasil dikalahkan oleh Kakaknya.


“Hm... mungkin sekitar 5 kilometer lagi” jawab Zen sambil menunjukan map pada smartphone miliknya kepada Yui.


Yui sudah mulai akrab dengan artefak dari Kakaknya itu, bahkan dia sering meminjamnya untuk sekedar bermain sebuah game ular didalamnya, setelah Kakaknya mengajari menggunakan smarphone kepadanya beberapa minggu yang lalu.


“Jadi kita bisa melihat desa setelah 5 kilometer itu bukan?” tanya Yui bersemangat, karena dia sudah tidak sabar untuk memasuki sebuah desa.


“Yap” jawab Zen singkat sambil tersenyum


Perkataan Zen itu membuat Yui bersemangat dan mulai menarik tangan Kakaknya itu dan berjalan dengan cepat kearah tujuan mereka.


.


.


“Apakah masih belum datang?” tanya salah satu prajurit yang menjaga didepan pintu masuk dari desa tersebut, yang seakan sedang menunggu sesuatu.


“Belum Kapten, tetapi sepertinya mereka akan datang sebentar lagi” jawab prajurit yang sedang ditanya oleh kaptennya itu.


Namun dari kejauhan, mereka melihat seorang pria dewasa dan seorang anak kecil sedang berjalan mendekat kepintu masuk desa mereka sambil bergandengan tangan. Kedua orang itu seakan bersemangat menuju tempat ini, karena anak kecil itu mulai melompat – lompat saat melihat kearah pintu masuk dari desa yang sedang dijaga oleh beberapa prajurit penjaga yang berada disana.


“Cepatlah Kak, Yui ingin melihat sebuah desa” kata Yui yang masih menarik tangan Kakaknya, untuk membuatnya berjalan lebih cepat mendekati desa yang sudah mereka lihat tersebut.


“Tenanglah, Desa itu tidak akan lari Yui.” Jawab Zen yang mencoba menenangkan kegembiraan adiknya itu.

__ADS_1


Setelah Yui memaksa Kakaknya untuk berjalan lebih cepat, akhirnya mereka berdua sampai juga didepan pintu masuk dari desa ini, dan langsung dihampiri oleh para prajurit yang menjaga pintu masuk desa ini.


“Selamat datang didesa Pina tuan, kalau boleh tahu ada keperluan apa anda berkunjung ketempat ini?” kata seorang penjaga kepada Zen, saat mereka tiba dipintu masuk desa tersebut.


“Ah... aku bersama adikku berniat untuk menetap sementara ditempat ini, bisakah kami melakukannya?” tanya Zen dengan ramah.


“Maafkan kami tuan, tetapi bisakah anda menunjukan identitas anda terlebih dahulu?” balas penjaga itu.


Zen yang mendapatkan pertanyaan itu, memang sudah mengantisipasinya dengan mengatakan kebohongan tentang hilangnya identitas dirinya, karena barang – barangnya terbawa oleh kuda yang ditungganginya, yang lari karena bertemu monster diperjalanan mereka.


“Maafkan saya Tuan, tetapi karena ada sesuatu yang terjadi baru – baru ini didesa kami, jadi kami tidak bisa mengijinkan sembarang orang memasukinya, termasuk anda yang tidak mebawa identitas diri anda tuan” kata penjaga itu dengan sopan.


“Tetapi, saya benar – benar kehilangan identitas diri dan tidak mempunyai mahsut jahat memasuki desa ini, Pak penjaga” kata Zen yang tidak mengira alasannya itu tidak diterima oleh penjaga tersebut.


“Maafkan saya tuan, tetapi ini merupakan peraturan didesa kami saat ini” balas penjaga tersebut.


“Apakah kita tidak bisa memasuki desa ini Kak?” tanya Yui yang mulai terlihat sedih, setelah mendengar percakapan dari prajurit yang menjaga pintu masuk desa yang ingin dimasukinya dengan Kakaknya barusan.


Sebenarnya penjaga itu juga merasa iba melihat mereka, termasuk si anak kecil yang terlihat mulai bersedih. Tetapi karena tuntutan pekerjaannya dan dia harus menjalankan perintah yang diterimanya, mau tidak mau dia harus tegas.


“Kamu kenapa adik kecil, mengapa kamu menangis?” kata seorang wanita yang tiba – tiba saja mendekat kearah mereka dan membuat Zen hanya memperhatikan wanita tersebut, yang saat ini sedang menenangkan adiknya yang terlihat bersedih.


Dibelakang wanita itu, empat orang juga menghampiri tempat ini, yang dimana mereka terlihat seperti seorang kesatria, yang dimana salah satu dari mereka menggunakan Full Armor pada tubuhnya dan yang lainnya menggunakan semacam pakaian tempur ringan.


“Maafkan saya tuan, ada keperluan apa tuan dan nona sekalian mendatangi desa kami?” tanya penjaga yang sedari tadi berbicara kepada Zen dan tidak menyadari ada beberapa orang juga yang akan menuju ketempat ini.


“Kami merupakan Petualang dari Guild Petualang yang ditugaskan untuk menyelidiki beberapa penculikan yang terjadi pada desa ini” balas salah satu pria yang menggunakan Full armor ditubuhnya.


“Bisakah saya melihat bukti identitas anda sekalian?” tanya prajurit itu dengan pertanyaan yang sama, kepada semua orang asing yang akan memasuki desa yang sedang dijaganya.


Empat orang itu mulai menunjukan identitas mereka, yang dimana mereka terdiri dari dua orang pria dan dua orang wanita, dan berhasil membuktikan bahwa mereka berempat memang merupakan seorang Petualang.


“Lalu bagaimana dengan anda, nona?” kata penjaga itu, setelah mengkonfirmasi identitas empat orang lainnya dan bertanya kepada wanita yang sedang menenangkan Yui saat ini.

__ADS_1


“Ah, aku bukan petualang, tetapi seorang guru magang yang ditugaskan didesa ini”


__ADS_2