Kehidupan Aneh Yang Kujalani

Kehidupan Aneh Yang Kujalani
Menuju Great Dungeon


__ADS_3

Setelah mengetahui Kakaknya akan meninggalkannya, tentu Yui tidak bersemangat lagi untuk memakan makanan yang berada didepannya. Tetapi sebuah sentuhan lembut di kepalanya membuatnya mulai menatap orang yang melakukan itu kepadanya.


“Maafkan Kakak oke... Kakak pastikan jika Kakak sudah sangat kuat, Kakak akan selalu bersama Yui” kata Zen yang mencoba menghibur adiknya itu.


Yui tentu saja mengerti mengapa Kakaknya ingin menjadi kuat, tetapi tetap saja sangat berat rasanya jika harus berpisah dengan orang yang sudah sangat dekat dengannya. Tetapi karena ini merupakan keputusan Kakaknya, jadi dirinya harus menerimanya.


“Baiklah... tetapi pastikan Kakak jangan berlama – lama meninggalkan Yui” balas Yui.


“Tenanglah, lagipula kamu belum mempunyai teman sebaya denganmu bukan. Jadi Kileni pasti akan sangat cocok untuk menjadi teman sebayamu yang pertama” balas Zen yang masih mencoba menghibur Adiknya itu.


Yui sampai saat ini tidak pernah mempunyai kenalan dengan umur yang menyerupai dirinya, jadi alasan ini juga yang membuat Zen yakin menitipkan dirinya dikediaman Lucas agar dia bisa bersosialisasi dengan orang sebayanya, walaupun Zen mengetahui Yui masih lebih muda setahun dari Kileni.


“Benar kata Kakakmu. Putri Bibi juga tidak mempunyai teman sebaya, jadi pasti dia sangat senang jika kamu ingin bermain dengannya” balas Lenneth.


Yui akhirnya mulai menerima bahwa dirinya akan tinggal ditempat ini sementara. Lagipula benar apa kata Kakaknya, yang dimana Kakaknya harus menjadi kuat untuk melindungi dirinya dan dia tidak mau dirinya akan menyebabkan impian Kakaknya itu terhalang olehnya.


“Baiklah... Yui pasti akan menjadi anak baik dan menunggu Kakak untuk kembali menjemput Yui” balas Yui yang mencoba menyembunyikan perasaan sedihnya, karena memang dirinya tidak mau terlihat seperti seorang adik yang menghalangi mimpi dari Kakaknya.


Dan begitulah salah satu rencana Zen akhirnya terlaksana, dimana dia menemukan sebuah tempat yang dapat menjaga adiknya dari marah bahaya, karena dia bisa tenang jika Adiknya dilindungi oleh seorang yang kuat dan mempunyai reputasi untuk melindunginya.


Mendengar semua orang setuju, Zen tentu saja tidak ingin membuang waktunya dan ingin langsung bergegas menuju Great Dungeon dan mungkin akan kembali dua minggu kemudian untuk menyembuhkan Kileni.


“Apakah kamu yakin tidak ingin aku temani menuju Great Dungeon Zen?” tanya Lucas kemudian.


“Tidak perlu Paman. Menurutku keberadaan Paman ditempat ini lebih penting, karena Paman harus menunggu bahan yang aku butuhkan untuk menyembuhkan putri Paman dan bisa menjaga Putri Paman beserta adikku ditempat ini" balas Zen.


Zen dan Lucas memang saat ini sudah beranjak menuju kandang kuda milik Lucas dan bersiap mengeluarkan kuda putihnya dan meninggalkan tempat ini menuju Great Dungeon, karena Zen tidak ingin menunda lagi perjalanannya dan memilih meninggalkan tempat ini lebih cepat.

__ADS_1


“Pakailah Kudaku, karena kudamu sepertinya belum terlatih untuk melakukan perjalanan jarak jauh dengan cepat” kata Lucas yang menghalangi tindakan Zen yang bersiap mengeluarkan kuda putihnya.


“Tidak apa – apa Paman, aku sudah terbiasa untuk menggunakannya” balas Zen.


“Kudaku bisa membawamu menuju Great Dungeon tanpa beristirahat dan bahkan dia bisa berlari selama 12 jam tanpa henti dan beristirahat” balas Lucas.


Kuda milik Lucas merupakan kuda khusus yang dilatih dengan berat untuk digunakan dengan tujuan peperangan. Jadi kuda miliknya sudah dilatih dan memiliki stamina yang sangat tinggi, dan dapat melakukan perjalanan jarak jauh tanpa beristirahat.


“Ada hal seperti itu di dunia ini?” gumam Zen didalam hatinya.


Zen tidak tahu pelatihan apa yang dijalani kuda – kuda di dunia ini hingga menjadi seperti itu. Karena sepengetahuannya, kuda pada dunia asalnya walaupun mempunyai stamina yang tinggi, mereka tetap saja tidak seperti kuda yang dilatih di dunia ini yang mempunyai kemampuan seperti apa yang dikatakan oleh Lucas kepadanya.


“Pakailah, agar dirimu mudah bolak balik dari sana untuk kembali kesini” balas Lucas yang memaksa Zen menggunakan kudanya.


Dengan kemampuan kuda milik Lucas yang bisa dikatakan sangat hebat, tentu saja Zen menerima saran dari Lucas untuk menggunakan kuda miliknya yang akan Zen gunakan menuju Great Dungeon, karena dia bisa menempuh delapan jam perjalanan saja menuju Great Dungeon dan dirinya tidak perlu beristirahat.


Lucas mulai mengeluarkan sebuah kuda berwarna abu – abu miliknya dan menyerahkan tali pengikatnya kepada Zen. Zen yang menerima itu perlahan mulai mengelus terlebih dahulu kuda yang diberikan kepadanya agar mereka bisa sedikit akrab sebelum Zen menungganginya.


“Baiklah, mari kita berangkat” kata Zen.


Zen mulai menggiring kuda milik Lucas dan saat ini Lucas sudah menggiring kuda putih milik Zen yang bernama Kesi, yang akan dirinya gunakan untuk mengantarkan Zen menuju gerbang pintu masuk Ibukota untuk melepaskan perjalanannya menuju great dungeon.


“Ingatlah, saat sampai di Great Dungeon, carilah penginapan Full Moon dimana salah satu anggota kelompokku merupakan pemilik penginapan itu lalu titipkanlah kudaku padanya. Sehingga saat kamu ingin kembali menuju Ibukota kudaku akan siap sepenuhnya saat dirimu akan menungganginya kembali” ucap Lucas.


“Baiklah Paman” kata Zen yang menerima saran dari Lucas.


Setelah dirinya sampai pada gerbang kediaman Lucas. Yui yang sudah berlinang air mata hanya menatap Kakaknya dengan sedih. Zen lalu meminta tolong Lucas memegang tali kudanya sejenak dan mulai berjongkok dan berhadapan dengan Yui.

__ADS_1


“Kakak akan berangkat oke, jadilah gadis cantik yang baik dan tunggulah Kakak disini” balas Zen sambil mengelus kepala dari Adiknya itu.


“K-Kakak juga berhati – hati oke. Dan Yui p-pokoknya tidak akan memaafkan Kakak jika terjadi sesuatu kepada Kakak. J-Jadi kembalilah dengan selamat dan jemput Yui disini o-oke” kata Yui yang sudah mulai menangis karena masih tidak rela melihat kepergian Kakaknya itu.


Zen hanya mengangguk mendengar permintaan dari adiknya, lalu dirinya mulai mengecup ringan kening dari Yui dan Yui mulai membalasnya dengan mencium pipi Kakaknya dan mereka mulai saling berpelukan. Setelah berpelukan sejenak akhirnya Zen yang sudah melepaskan pelukan dari Yui, mulai menaiki kudanya lalu mulai meninggalkan kediaman yang akan ditinggali oleh adiknya dan beranjak bersama Lucas yang akan membimbingnya meninggalkan area ini.


“Kakakmu pasti akan menjemputmu... jadi hentikan tangisanmu agar Kakakmu tidak berat meninggalkanmu disini” kata Lenneth yang mulai mengusap kepala dari Yui, yang dimana mereka saat ini sedang menatap Zen yang mulai melambaikan tangannya kepada mereka.


“Ya... Bibi benar. Yui harus senang agar Kakak tidak mengkhawatirkan Yui” balas Yui yang mulai mengusap air matanya menggunakan tangan mungilnya dan akhirnya sudah melihat kuda yang ditumpangi oleh Zen sudah membawanya pergi.


Lenneth hanya tersenyum saja mendengar hal itu, dan mulai menggenggam tangan mungil dari Yui dan menyaksikan bersama Zen yang sudah menghilang dari pandangan mereka.


Atas bimbingan dari Lucas yang membawa kuda putih milik Zen, akhirnya mereka dengan cepat tiba di pintu masuk dan keluar wilayah Ibukota. Sebelum Zen beranjak, Lucas selalu memberikan beberapa saran untuknya agar dia dapat berpetualang dengan aman.


“Aku akan menjaga adikmu dengan aman, dan akan diriku latih kudamu agar menjadi seperti kudaku kelak” Kata Lucas.


“Terimakasih Paman. Dan juga, jika Paman sudah mendapatkan bahan untuk menyembuhkan putrimu, langsung saja beritahu aku melalui communication gem agar aku langsung kembali kesini” balas Zen.


“Baiklah. Dan ingatlah, Great Dungeon sangat berbahaya jadi berhati – hatilah saat kamu memasukinya” kata Lucas memberikan nasehat terakhirnya sebelum Zen akan beranjak dari sana.


Zen hanya mengangguk saja mendengar saran dari Lucas dan mulai melajukan kudanya meninggalkan tempat itu dan menjauh dari wilayah Ibukota dengan menggunakan kuda milik Lucas. Tentu saja Lucas hanya melihat kepergian Zen, hingga akhirnya keberadaannya sudah menghilang dari pandangannya.


“Semoga kamu akan baik – baik saja Zen” Gumam Lucas yang langsung kembali menuju kediamannya.


Zen melaju dengan cepat menggunakan kuda yang dipinjamkan oleh Lucas kepadanya. Dengan kecepatan yang melebihi kuda yang dimilikinya, perjalanannya itu terus berlanjut tanpa henti dengan tujuan sebuah tempat untuk membuatnya menjadi kuat.


“Great Dungeon, aku datang...”

__ADS_1


__ADS_2