
Seorang pria yang saat ini sedang bersama adiknya mulai mengelilingi tempat baru yang dimana mereka baru saja tiba ditempat ini, setelah perjalanan mereka yang sangat amat panjang.
Butuh waktu sekitar tiga minggu untuk mereka tiba ditempat ini, tetapi perjalanan mereka berjalan dengan mulus tanpa ada salah satu penghalang yang mereka temui.
“Yang itu Kak...” tunjuk seorang gadis kecil setelah melihat sebuah stan makanan didekatnya.
“Baiklah - baiklah” balas Kakaknya yang dengan sabar memegang semua makanan yang diinginkan oleh adik kecilnya yang imut itu.
Pria berlengan satu dan seorang gadis berambut emas akhirnya membeli sepotong makanan yang dijual distan itu dan mulai mencari tempat duduk untuk mereka menyantap makanan yang mereka beli, walaupun hanya sang adik yang memakan makanannya dengan lahap.
“Apakah Yui masih belum bisa menghubungi Alice?” tanya pria berlengan satu itu yang merupakan Zen.
Mendengar itu, adiknya Yui mulai murung karena selama seminggu terakhir dirinya tidak bisa menghubungi salah satu orang yang dekat dengannya dan membuatnya sedikit sedih.
“Apakah karena kita tidak memberitahukan keberangkatan kita sehingga Kak Alice mulai marah kepada Yui?” tanya Yui kepada Zen dengan nada bersedih.
“Dia hanya marah kepada Kakak, dan mungkin itu alasannya tidak mau berkomunikasi denganmu. Jadi dipastikan dirinya tidak akan marah kepadamu” kata Zen yang mencoba menenangkan adiknya itu.
“T-Tapi Yui sangat merindukan Kak Alice” balasnya.
Selama mereka berada di desa Pina, memang Alice merupakan orang yang paling dekat bersama mereka, khusunya Yui. Yui sering bermain, jalan – jalan dan bahkan sering tidur berdua bersama Alice.
Jadi kedekatan mereka bisa dikatakan sangat amat dekat, dan membuat Yui sedikit sedih saat dia tidak bisa berkomunikasi dengan orang yang sudah dia anggap sebagai Kakaknya tersebut.
“Bagaimana jika Kakak menghubunginya?” tanya Zen kemudian.
.
.
Ditempat lain, seorang wanita dengan rambut biru mudanya saat ini sedang duduk pada sebuah bangku taman disebuah area pada kota Pavel, yang merupakan persinggahan pertamanya sebelum melanjutkan perjalanannya menuju Ibukota.
Dari wajahnya bisa terlihat bahwa dirinya masih merasa kecewa dengan apa yang sedang terjadi, karena seorang pria yang harusnya menunggunya ditempat ini dan akan kembali bersamanya menuju Ibukota, tidak menepati janjinya itu.
Namun saat asik merenung, sebuah Gem yang dia simpan pada kantongnya mulai bergetar, menandakan bahwa seseorang sedang menghubunginya saat ini.
“Hah...” wanita itu mulai menghela nafasnya, karena dia mengira bahwa seorang gadis kecil yang dirinya coba hindari sedang menghubunginya.
__ADS_1
Tetapi saat dia mengambil communication Gem miliknya, dirinya amat terkejut dengan sebuah tanda dari communication gem miliknya, karena orang yang menghubunginya ternyata bukan orang yang dia pikirkan.
“Iya Ayah” jawabnya.
“Apakah kamu sudah sampai di kota Pavel Putriku?” tanya seorang pria yang suaranya keluar dari communication gem milik wanita tersebut.
“Aku sedang singgah disini untuk beristirahat sehari dan mungkin melanjutkan perjalananku keesokan harinya Ayah” balas wanita berambut biru muda tersebut.
“Baiklah... ingat untuk selalu berjaga diri, dan pastikan beristirahat yang cukup” balas pria yang dipanggil Ayah oleh wanita tersebut.
“Iya Ayah..” jawab wanita tersebut sambil tersenyum.
“Ah iya... Ayah lupa. Kilane sudah resmi menjadi seorang dewan di Akademi Kerajaan Raven, jadi dipastikan kamu akan sering bertemu dengannya” balas Ayahnya.
Mendengar sebuah nama dari Ayahnya, membuat wanita itu mulai menunduk sedih. Pria itu merupakan pria yang akan di tunangkan kepadanya oleh keluarganya. Walaupun perilakunya sangat baik dan santun, tetapi ada sebuah perasaan tidak menyenangkan saat wanita yang sedang berbicara dengan Ayahnya itu berdekatan dengannya.
“Syukurlah kalau begitu Ayah..” balas wanita itu dengan terpaksa, untuk membuat orang tuanya sedikit senang.
Wanita itu mulai mengobrol ringan dengan Ayahnya, hingga akhirnya apa yang mereka perbincangkan itu berakhir dan sang wanita mulai bersandar pada bangku tempat dia duduk dan menatap langit yang mulai berubah menjadi jingga.
“Apa yang harus aku lakukan Zen...” kata wanita itu sambil memikirkan seseorang yang sangat dicintainya.
.
.
“Dia juga tidak menerima sinyal communication gem Kakak” balas Zen.
Cara kerja comunnication Gem sangat sederhana, yaitu mereka menuangkan mana untuk mengirimkan sebuah sinyal unik kepada gem penerima sinyal mereka, dan akhirnya mereka bisa saling berhubungan satu sama lainnya.
“Hahh... padahal Yui ingin sekali berbicara dengan Kak Alice” jawab Yui yang sedikit bersedih.
“Tenanglah, sebentar lagi dia pasti menghubungi dirimu, lagipula siapa yang tidak merindukan seorang gadis cantik yang imut ini” kata Zen sambil mencubit sedikit pipi dari Yui.
“Semoga saja... lalu apakah kita akan lama tinggal di kota ini Kak?” tanya Yui.
“Tidak.. kita akan melanjutkan perjalanan kita menuju Ibukota besok” balas Zen.
__ADS_1
Zen dan Yui saat ini sedang berada di kota Himgah, karena mereka harus melewati kota ini sebelum menuju kearah Ibukota kerajaan Raven. Memang Zen bisa saja langsung menuju ke Great Dungeon dari kota ini.
Namun dia masih memiliki sebuah janji kepada seseorang untuk membantu putrinya yang saat ini sedang mengalami sebuah penyakit langkah dan membuat Zen harus pergi menuju Ibukota terlebih dahulu untuk memeriksanya.
“Lalu kamu masih ingin mencari tempat makan atau beristirahat?” tanya Zen kemudian kepada adiknya itu.
.
.
Ditempat lain, disebuah tempat pada Ibukota Kerajaan Raven, Vermillion. Saat ini seorang wanita sedang mengelus rambut putrinya yang baru berusia 5 tahun dan sedang terbaring lemas di atas kasurnya.
“Ma... aku haus” kata anak perempuan tersebut.
“Tunggu.. biar Mama ambilkan air untukmu” balas wanita yang berada disampingnya.
Dengan telaten wanita yang merupakan Ibu dari gadis kecil yang terlihat kurus itu, memberikan segelas air minum kepada putrinya dengan perlahan, yang langsung dia suapkan pada mulutnya karena kondisi putrinya yang sangat lemah.
“Terimakasih Ma” balas gadis kecil itu, setelah puas menghilangkan dahaganya.
Ibu dari gadis kecil itu hanya tersenyum dan kembali mengelus kepala putrinya, hingga sebuah suara pintu kamar putrinya itu mulai terbuka dan menunjukan sesosok seorang pria yang bisa terlihat senyum terukir diwajahnya.
“Sepertinya kamu sangat senang hari ini suamiku, setelah melihat senyum yang terukir di wajahmu itu” kata sang wanita yang menyambut suaminya yang masuk kedalam kamar putrinya.
Sang suami tidak menjawab, namun mendekat kearah istrinya dan mengecup ringan keningnya dan diikuti dengan mencium putrinya yang sedang berbaring di atas kasur.
“Sang Pangeran Tanpa Cahaya sudah berada di kota Himgah, dan akan menuju ke Ibukota dari sana” balas pria yang baru saja datang keruangan ini.
Mendengar perkataan suaminya, tentu saja membuat sang istri senang. Karena pria yang baru saja disebutkan oleh suaminya itu merupakan seseorang yang kemungkinan besar bisa menyembuhkan penyakit yang dialami putrinya.
“Pangeran?” namun suara lemah mulai terucap dari bibir sang gadis kecil yang mendengar percakapan orang tuanya.
“Ya... pangeran yang selama ini Ibu ceritakan mungkin akan datang dan menyembuhkan dirimu” kata sang Ibu kepada putrinya itu.
Mendengar dirinya bisa sembuh, tentu saja membuat gadis kecil itu sangat bahagia. Dia sudah tersiksa dengan kondisinya selama ini, terlebih lagi dia sangat bersedih melihat raut wajah Ayah beserta Ibunya saat melihat kondisinya.
Memang mereka menyembunyikan dengan baik perasaan mereka, tetapi gadis kecil itu bisa merasakan kesedihan yang mendalam dari kedua orang tuanya. Jadi dipastikan jika dirinya sembuh, maka Ayah dan Ibunya akan sangat bahagia dan tidak menunjukan raut wajah kepura – puraan mereka lagi.
__ADS_1
“Pangeran ya... semoga dirinya cepat datang”