
[Lantai 42]
Begitulah tulisan yang muncul saat beberapa orang mulai tiba pada sebuah tempat saat menggunakan lingkaran teleportasi. Kelompok yang baru tiba itu, saat ini langsung keluar dari lingkaran sihir yang membawa mereka setelah pemimpin mereka sudah mengambil langkahnya terlebih dahulu.
“Kamu masihlah sangat baik kepada beberapa orang Pangeran” kata seorang pria yang berada disebelahnya saat mereka keluar dari lingkaran sihir yang mengantar mereka ketempat ini.
“Apa salahnya membantu seseorang” balas pria yang dipanggil pangeran tersebut membalas pria yang berada disebelahnya.
“Tetapi pria yang kamu bantu tadi terlihat sangat familiar” kata seorang wanita yang mulai mengikuti percakapan itu.
“Ah... dia merupakan mantan pangeran Heillight” balas pria yang dipanggil pangeran itu kembali.
“Benarkah?!” kata semua anggota party dari pria yang dipanggil pangeran itu yang cukup terkejut mendengar perkataan dirinya.
“Ya... walaupun nama yang tertera dikartu petualang miliknya berbeda. Tetapi nama depan dan ciri – cirinya yang khas tidak bisa menyembunyikan bahwa dirinya merupakan Sang Pangeran Tanpa Cahaya” balas sang Pangeran itu kembali.
“Ah... pantas saja wajahnya tampan. Bahkan aku hampir menggodanya jika si Gilvani tidak mengajaknya mengobrol tadi” balas seorang wanita.
“Bukankah kamu sudah mempunyai tunangan? Mengapa kamu ingin sekali menggoda orang lain?” tanya seorang pria yang menjawab perkataan wanita tersebut.
“Cih... kalau kalian tidak memberitahukan tunanganku, dia tidak akan tahu” balas wanita itu kembali dan membuat semua orang yang berada disekitarnya hanya menggelengkan kepalanya mendengar perkataan wanita tersebut.
“Baiklah, kali ini kita akan memulai berburu disini” Kata pria yang bernama Gilvani yang memulai memimpin rekan – rekannya memasuki tempat itu semakin dalam.
.
.
Seekor monster serigala mulai menghadang laju dari Zen. Walaupun dirinya hanya seekor, tetapi beberapa kawanannya mulai mendekati Zen dari berbagai arah, yang dimana saat ini Zen mulai mengeluarkan pedang hitam miliknya.
__ADS_1
“Lihatlah, dirinya memasuki Dungeon sendiri dan langsung diserang oleh segerombolan monster serigala darah” kata seseorang dari kejauhan yang melihat tempat Zen berada.
“Ya... satu lagi seorang petualang yang arogan akan mati” balas pria yang menimpali percakapan temannya tadi.
“Setidaknya barang – barang miliknya terlihat bagus. Jadi biarkan dirinya mati lalu kita jarah seluruh perlengkapannya” balas pria itu kembali sambil tersenyum jahat memperhatikan pertarungan Zen yang akan dimulai.
Namun niat jahat mereka itu tidak akan terlaksana, karena Zen dari kejauhan sudah menghabisi para monster yang mendekatinya dengan tebasan yang cepat. Hal ini membuat mereka sangat terkejut, karena dari informasi yang mereka dapat, Zen baru pertama kali memasuki Dungeon ini.
Apalagi Zen saat ini mulai memasukan kembali pedangnya kedalam penyimpanannya dan menghampiri beberapa monster yang berhasil dia kalahkan sebelumnya dan tidak menghiraukan beberapa pihak yang sedang menyaksikannya itu.
“Hm.. saat ini masihlah mudah” gumam Zen yang mendekati sebuah mayat dari monster serigala yang berhasil dia kalahkan.
Berbeda dengan monster yang berada di dunia ini. Monster didalam dungeon memiliki sebuah core didalam tubuhnya. Jika seseorang mengambil core dari dalam tubuhnya, maka secara otomatis monster yang dikalahkan itu akan langsung lenyap.
“Pertama ambil semua kulit yang bisa aku jual, baru mengambil corenya” balas Zen.
Tentu para petualang bisa memanen hasil buruan mereka jika mereka bisa mengalahkan monster yang mereka lawan didalam Dungeon. Terlebih lagi para monster yang mereka kalahkan hanya akan lenyap jika core mereka diambil dari tubuh monster tersebut.
“Hm... jadi ini yang namanya core monster” kata Zen yang sedang menggenggam sebuah bola dengan beberapa utas cahaya berada didalam bola tersebut.
Core dari monster yang berada di Dungeon sangatlah berharga di dunia ini, karena core itu akan dijadikan peralatan sihir seperti beberapa gem yang sering digunakan oleh seluruh penduduk di dunia ini. Maka dari itu, Guild Petualang dengan senang hati membeli semua core monster dari tangan petualang yang memasuki Great Dungeon.
“Baiklah mari kita lanjutkan perjalanan kita” balas Zen.
Monster dilantai pertama ini masihlah terbilang lemah, karena Zen bisa melawan mereka dengan mudah. Masalahnya, letak mereka tidaklah saling berdekatan dan susah untuk ditemukan. Hal ini dikarenakan lantai 1 dungeon ini sangatlah luas.
Dan juga, saat Zen berhasil melihat seekor monster, beberapa party mencoba melawannya, jadi Zen tidak mempunyai kesempatan untuk membasmi para monster yang dia temui secara langsung.
“Baru 67 ya... jadi tinggal membunuh 33 monster lagi aku bisa menaiki lantai dua” gumam Zen.
__ADS_1
Akhirnya hari sudah mulai siang, walaupun sebenarnya sangat susah untuk menentukan waktu jika para petualang masuk kedalamnya. Karena memang beberapa bagian dungeon memiiki tingkat waktu yang aneh. Seperti beberapa tempat terus bernuansa malam dan selebihnya bernuansa siang, pagi atau sore.
Jadi para petualang sebisa mungkin terus mengawasi jam yang mereka bawa, agar mereka tidak sering melewatkan waktu jika berada didalam sebuah Dungeon.
“Mari makan siang terlebih dahulu” gumam Zen, setelah memutuskan untuk beristirahat ditempatnya sekarang karena memang hari diluar dungeon sudah tepat tengah hari dan dirinya sudah mulai lapar.
Mira sempat memberikannya sebuah bekal tadi pagi saat dirinya berangkat dan Zen dengan senang hati menerimanya. Bekal yang diterima Zen berupa satu set makan siang yang lengkap dengan beberapa sayuran dan daging dan membuat Zen cukup puas dengan bekal yang dibawanya itu.
Zen dengan senang hati melahap makanannya, namun dipikirannya saat ini dirinya mengingat tentang Yui. Selama ini Adiknya itu akan menemaninya makan dan membuatnya sangat senang melihatnya makan dengan lahap. Namun saat ini, dia tidak bisa melihat adegan itu kembali.
“Ya... aku harus menjadi kuat dengan cepat, agar aku bisa bersama dengan Yui dan mungkin beberapa orang yang kucintai dimasa depan” gumam Zen.
Masa beristirahat akhirnya telah usai dan Zen terus mencari para monster untuk membantai mereka. Walaupun monster disini tidak menambahkan statusnya secara signifikan, tetapi dia tetap melaju untuk menaklukan lantai ini secepat mungkin dan bisa membawanya menuju lantai selanjutnya.
Hari sudah mulai sore, saat ini Zen sudah berada disebuah tangga yang akan membuatnya naik kelantai berikutnya. Sebuah data pada kartu petualang Zen juga sudah berubah menjadi [Skadi: 1] yang menandakan dia bisa akhirnya bisa menaiki lantai selanjutnya.
“Selamat datang dilantai dua, apakah anda membutuhkan sebuah potion” begitulah seseorang yang menyambutnya setelah dia berada diujung tangga yang dinaikinya.
Zen tidak menyangka, bahwa ada pedagang ditempat ini yang sedang menjajakan dagangannya. Namun Bukan itu saja yang membuatnya terkejut, tetapi sangat banyak orang berada ditempat dirinya berada.
Hampir semua lantai dari sebuah Great Dungeon memiliki sebuah safe zone, yang dimana monster tidak akan ada diarea tersebut. Biasanya area itu akan ditempati oleh beberapa orang untuk beristirahat dan beberapa dari mereka akan menjual sesuatu di sana.
Tetapi yang membuat Zen terkejut. Ternyata selain berguna untuk tempat perlindungan, Safe Zone tempatnya berada juga sudah disulap seperti sebuah kota kecil dan didalamnya terdapat sebuah penginapan, restoran, toko, bahkan rumah bordil juga ada di sana.
“Jadi ini yang dikatakan Lucas, bahwa aku bisa berdiam didalam Dungeon tanpa khawatir dengan kekurangan sesuatu” gumam Zen setelah mengigat perkataan Lucas sebelumnya.
Lantai satu memang tidak memiliki area seperti kota kecil ini, tetapi mulai dari lantai dua hingga seterusnya kecuali pada lantai yang terdapat mini bos, bos lantai maupun lantai tingkat tinggi, akan ada tempat seperti ini di setiap lantainya.
“Hm... kehidupan fantasi yang nyata” ucap Zen sambil memperhatikan keadaan safe Zone pada lantai dua ini.
__ADS_1
Zen hanya singgah pada sebuah stand yang menjual makanan dan beberapa bumbu untuk membeli beberapa keperluannya. Lalu dirinya melanjutkan perjalanannya untuk membantai para monster yang berada dilantai ini dan meninggalkan hiruk pikuk dari tempat ini.
“Sekarang aku harus membunuh 150 monster untuk melanjutkan perjalananku kelantai selanjutnya ya”