Kehidupan Aneh Yang Kujalani

Kehidupan Aneh Yang Kujalani
Wilayah Great Dungeon


__ADS_3

Zen yang sudah menempuh perjalanan selama delapan jam nonstop akhirnya tiba disebuah kota, dimana pusat dari kota ini terdapat sebuah bangunan tower yang menjulang sampai keatas langit dan sangat besar.


Walaupun dia tiba di kota ini pada waktu matahari sudah terbenam dan bisa dikatakan sudah larut. Tetapi lampu – lampu penerangan kota ini menunjukan semua sisi bagian kota, termasuk para penduduk kota ini yang masih berlalu lalang.


Tetapi rasa penasaran Zen yang ingin melihat kota itu pertama kali terhalang dengan kelelahan yang dia alami, karena perjalanan jauh yang dia tempuh tanpa beristirahat sekalipun membuatnya sangat amat kelelahan. Dan hal ini juga yang membuat Zen menghiraukan pemandangan dari kota tersebut dan lebih memilih menggiring kuda yang ditungganginya untuk mencari sebuah penginapan.


“Full Moon... Full Moon” gumam Zen yang menyebutkan nama penginapan yang dicarinya, namun sampai saat ini belum berhasil ditemukan olehnya.


Suasana gelap dengan penerangan beberapa Light Gem menemani Zen untuk melewati beberapa tempat saat dia sedang asik mencari penginapan yang ditujunya. Berbeda dengan kota biasa yang lain, kota yang bersisi Great Dungeon didalamnya sangatlah berbeda dari kota pada umumnya.


Zen sempat melewati beberapa tempat, yang dimana beberapa wanita mencoba menawarkan jasanya secara terang-terangan untuk memuaskan birahi dirinya, tetapi Zen hanya melewati mereka saja. Bukan itu saja, banyak sekali orang mabuk yang berlalu lalang di kota ini dan bahkan ada beberapa keributan yang terjadi dibeberapa tempat yang Zen lewati.


“Hah... kota yang keras” gumam Zen.


Perjalanan Zen akhirnya berakhir, setelah apa yang dia cari akhirnya berhasil dirinya temukan. Sesaat sebelum memasuki sebuah penginapan yang cukup mewah tersebut, dia mulai menitipkan kudanya kepada pihak penginapan tersebut dan mulai memasuki penginapan mewah yang berada dihadapannya.


“Selamat datang di penginapan Full Moon, apakah anda ingin menginap disini?” tanya seorang wanita dengan telinga kucingnya menyapa Zen.


“Ah... halo aku ingin menginap disini” balas Zen.


“Baiklah, harga permalamnya 1 koin perak dan tambahan 50 perunggu jika anda ingin mendapatkan sarapan pagi” balas sang resepsionis kepada Zen.


Walaupun dirinya tidak kekurangan uang, tetapi harga 1 perak permalam cukup mahal menurut Zen, karena selama ini dia tinggal di penginapan yang harganya tidak sampai 10 perunggu untuk menyewa sebuah kamar untuk semalam.


“Baiklah” balas Zen yang mengeluarkan dua buah koin perak dari dalam penyimpanannya, karena dia juga harus membayar harga untuk penitipan kudanya yang sebanyak 50 koin perunggu.


Setelah membayar, tentu saja Zen langsung menuju kamarnya dan langsung beristirahat, karena dia sudah sangat kelelahan atas perjalanannya. Dengan langsung membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, Zen langsung terlelap tanpa memperdulikan fasilitas yang dimiliki oleh kamar yang disewanya.


Pagi hari cerah akhirnya tiba. Zen yang masih terlelap akhirnya mulai terbangun dan melihat sekeliling tempatnya menginap tadi malam. Sambil menguap, akhirnya Zen menyadari kamar yang disewanya termasuk lumayan bagus.

__ADS_1


“Hahh... pagi hari tanpa ditemani Yui, membuatku sedikit merasa kekurangan sesuatu” gumam Zen yang sudah merindukan adiknya itu.


Karena keseringan mereka tidur berdua, jadi rasa kehilangan membuat Zen sedikit sedih. Namun dia mulai beranjak dari tempat tidurnya dan ingin mencuci mukanya sebelum turun dan sarapan, sebelum dirinya melaporkan keberadaannya kepada Guild Petualang.


Suasana ramai mulai memenuhi area restoran dari penginapan ini. Dengan beberapa orang yang sedang sarapan menggunakan perlengkapan tempur mereka, membuat Zen akhirnya menyadari bahwa kota ini sepertinya dikhususkan untuk para petualang.


“Ini sarapan anda tuan” kata seorang gadis dengan telinga anjingnya mulai memberikan sarapan kepada Zen.


“Terima kasih” balas Zen sambil tersenyum dan memberikannya beberapa koin perunggu kepada gadis bertelinga anjing tersebut untuk uang tipnya.


Zen mulai melahap sepotong daging, sosis dan telur yang disediakan untuknya, namun tiba - tiba saja seseorang wanita bertelinga kelinci langsung duduk dihadapannya, saat Zen masih menikmati santapannya itu.


“Mengapa kamu tidak mengabari kedatanganmu kepadaku?” tanya wanita yang perawakannya seperti wanita berumur 30 tahunan yang baru saja duduk dihadapan Zen.


“A-Aku?” tanya Zen kemudian yang sangat bingung mengapa wanita didepannya mengajaknya mengobrol.


“Ah... anda pasti nona Mira bukan?” tanya Zen kemudian yang menyadari bahwa wanita didepannya merupakan salah satu anggota party dari Lucas yang dirinya suruh untuk mencarinya saat tiba di kota ini.


“Benar, namaku Mira Tioa” balas wanita itu.


Mira Tioa saat ini berumur 35 tahun dan merupakan yang termuda dari anggota party milik Lucas. Dia memutuskan pensiun dari pekerjaannya yang merupakan seorang petualang karena semua anggota kelompoknya sudah pensiun, terlebih lagi dia juga akan menikah.


“Maafkan aku Nona... tapi aku sangat kelelahan tadi malam” balas Zen dan mendapatkan anggukan dari Mira yang paham dengan kondisinya tadi malam.


“Panggil aku Mira saja. Walaupun umur kita cukup jauh, tetapi aku tidak senang jika dianggap seperti seorang senior” balas Mira kemudian.


Zen hanya mengangguk saja dan memulai percakapan sederhananya bersama Mira. Mira sendiri sedari kemarin menunggu kedatangan Zen, tetapi tidak kunjung tiba dan memutuskan untuk beristirahat. Pagi harinya saat dia ingin mengecek kuda milikinya, dia tidak sengaja melihat seekor kuda yang sangat dia kenali.


Jadi begitulah dirinya mengetahui bahwa Zen sudah tiba ditempat ini tanpa sepengetahuannya, dan langsung mencari keberadaanya yang ternyata sudah bermalam pada penginapan miliknya ini.

__ADS_1


“Ini aku kembalikan uang sewa kamarmu” kata Mira yang sudah menyerahkan kembali dua koin perak yang Zen bayarkan kemarin untuk dirinya menginap ditempat ini.


“Mengapa anda mengembalikannya?” tanya Zen yang bingung.


“Kamu orang yang akan menyembuhkan keponakanku, tentu saja aku ingin membalas budiku” balas Mira.


Mira sangat dekat dengan Lenneth bahkan menganggapnya sebagai Kakaknya sendiri. Jadi saat Lenneth melahirkan putrinya, tentu saja dia akan langsung menganggap putrinya sebagai keponakannya.


Bahkan saat Kileni sakit dahulu, Mira turut membantu mencari informasi apapun untuk membantu kesembuhan Kileni, walaupun hasilnya cukup mengecewakan baginya.


“Paman Lucas sudah membayarnya dengan menjaga adikku, jadi anda tidak perlu melakukan apapun untuk membalas diriku” balas Zen yang menolak pengembalian pembayaran yang sudah dibayarkan olehnya kemarin untuk menyewa kamarnya.


“Ambilah. Lagipula Lucas dan Lenneth sudah banyak membantuku dimasa lalu” Balas Mira yang terus memaksa Zen untuk mengambil uangnya kembali.


Dengan keras kepala bahwa Zen tidak harus membayar saat dia menginap ditempat ini, membuat Zen dengan terpaksa menerima saja uang yang dikembalikan oleh Mira dan mulai melanjutkan sarapannya.


“Dari kabar yang aku terima dari Lucas, kamu ingin memasuki Great Dungeon bukan?” ucap Mira yang sudah mengubah topik pembicaraan mereka.


“Ya... aku memutuskan untuk menjadi kuat. Jadi aku memilih memasuki Great Dungeon” balas Zen sambil mengangguk menjawab pertanyaan Mira.


Mira mulai menghela nafasnya, karena dia sering bertemu dengan seseorang yang seperti Zen, yang sangat bersemangat memasuki Great Dungeon dengan tujuan meningkatkan levelnya bahkan mencari uang yang banyak di dalammnya tetapi mereka malah meregang nyawa saat memasukinya.


“Berhati – hatilah. Karena kamu orang yang bisa menyembuhkan keponakanku. Jadi jangan sampai kamu mati didalam dan meninggalkan harapan palsu kepada keponakanku itu” Kata Mira.


Zen hanya mengangguk saja mendengar perkataan dari Mira dan menganggap perkataan dari Mira sebagai sebuah kalimat penyemangat agar dirinya lebih berhati – hati saat memasuki tempat yang cukup berbahaya itu.


“Ingatlah, jangan serakah dan menganggap dirimu kuat. Karena kamu merasa bisa mengalahkan beberapa monster berlevel rendah pada tingkat bawah, membuatmu memutuskan untuk menaiki beberapa lantai dengan cepat tanpa melalui proses yang sebenarnya” kata Mira Kemudian.


“Aku mengerti Mira, lagipula aku masih mempunyai orang yang kucintai sedang menungguku pulang”

__ADS_1


__ADS_2