Kehidupan Aneh Yang Kujalani

Kehidupan Aneh Yang Kujalani
Kabar


__ADS_3

Kabar seseorang yang menghilang dan saat ini muncul disebuah kerajaan, menjadi berita yang sangat besar. Berita pria itu bahkan sampai dibeberapa Kerajaan, bahkan beberapa kerajaan mulai bernafas lega dengan dirinya yang sudah ditemukan.


Bahkan ada sebuah berita yang lebih besar lagi, Yaitu pria tersebut berhasil membangkitkan elemen cahayanya dan berhasil mengalahkan salah satu kelompok sesat di kerajaan tempatnya berada, yaitu kelompok penyembah Jia Shin.


“Lalu, bagaimana dengan orang yang kita kirimkan untuk menjemputnya?” kata seorang Raja dari Kerajaan Enex kepada bawahannya.


“Mereka saat ini baru sampai di Ibukota dari kerajaan Illyan Yang Mulia, dan mungkin akan sampai sekitar 2 bulan lagi untuk sampai Kerajaan Raven” kata bawahannya.


“Baiklah, dan pastikan kalian membawa Pangeran Zen kembali menuju kerajaan ini” kata Rara Maeloch kepada bawahannya itu.


Memang berita Zen menyebar dengan cepat, karena berita kelompok Jia Shin yang dibantai didapatkan dari laporan Guild Petualang yang mendata perkara itu saat kelompok Bennard dan Kelompok party tingkat S yang dipimpin Lucas melaporkan kejadian yang terjadi di desa Pina kepada pihak Guild Petualang.


Dengan detail yang diceritakan mereka, termasuk apa saja yang diperbuat oleh Zen, membuat apa yang dia lakukan itu mulai tersebar luas, hingga sampai pada kerajaan Enex.


.


.


Disisi lain, seorang pria berlengan satu saat ini sedang membaca sebuah surat kabar yang dibacanya dan hanya menghela nafasnya saja, karena berita tentang dirinya menjadi headline disurat kabar tersebut.


“Pangeran Tanpa Cahaya Sudah Mendapatkan Cahayanya”


Begitulah judul headline dari berita yang sedang dibacanya. Memang surat kabar yang dibacanya itu, sudah diterbitkan dua bulan yang lalu, namun pria itu tidak sengaja menemukan surat kabar bekas yang sedang dibacanya saat memasuki sebuah kedai makanan.


“Hahh... semoga saja berita ini sudah dilupakan oleh semua orang” kata pria berlengan satu itu yang merupakan Zen.


Perjalanan Zen dari desa Pina menuju kota tempat dirinya berada saat ini, memakan waktu selama seminggu. Saat ini dirinya memang sudah berada disebuah kedai makanan, setelah berhasil memasuki kota ini dengan aman.


“Ini makanan anda tuan..” kata seorang pelayan yang mendatangi meja Zen dan Yui yang membawakan pesanan mereka.


Yui tanpa pikir panjang langsung memakan sebuah hidangan yang berupa hidangan mie dan memakannya dengan lahap, sedangkan Zen saat ini hanya memperhatikan pelayan itu, dan sedang melihat reaksinya saat dirinya sedang melayaninya.

__ADS_1


“Untunglah, sepertinya berita tentang diriku sudah mulai meredup” kata Zen, karena pelayan itu sepertinya tidak mengenalinya, karena memang Zen sudah menyembunyikan penampilannya terutama rambut putihnya yang khas, dengan memakai sebuah penutup kepala.


Memang selain berita tentang kemampuan Zen, berita itu juga menjelaskan tentang ciri – ciri fisiknya yang seperti pria tampan berlengan satu dan mempunyai rambut putih khas. Walaupun Zen bisa bernafas lega karena beberapa orang tidak mengenalnya, tetapi dirinya masih tetap menyembunyikan keberadaannya, karena dirinya tidak mau menjadi bahan perhatian.


“Sudahlah, lebih baik mengisi perutku dulu” kata Zen yang mulai menyantap makanannya bersama Yui, yang saat ini tanpa sepengetahuan Zen, dirinya sudah memesan kembali sebuah hidangan.


Beberapa saat kemudian, akhirnya mereka berdua sudah keluar dari kedai makanan itu, dan saat ini Zen kembali memperhatikan seluruh area kota tempatnya berada saat ini, yang dimana Zen bisa merasakan kesan kota klasik saat dirinya berada ditempat ini.


Memang peradaban di dunia ini seperti abad pertengahan pada dua dunia yang pernah Zen tinggali dulu, tetapi teknologi sudah terlihat di dunia ini, terlebih lagi seperti Gem yang sering digunakan untuk berbagai hal.


Walaupun kemajuan teknologi sudah sampai di Desa Pina, tetapi perbedaan kemajuan pembangunan di kota ini sangat berbeda dengan Desa Pina dan membuat Zen bisa dengan mudah membedakan peradaban ditempat ini dengan desa yang pernah dia tinggali sebelumnya.


“Kita sekarang kemana Kak?” tanya Yui yang mulai meraih tangan Kakaknya dan menggenggamnya.


“Kita mencari penginapan terlebih dahulu” kata Zen yang akhirnya memutuskan untuk menelusuri kota tersebut dan mencari tempat untuk mereka bermalam di sana.


Pemandangan bangunan klasik terus terlihat, dimana Zen menyempatkan dirinya untuk memandanginya sejenak pemandangan beberapa bangunan kota tersebut. Hingga akhirnya dia menemukan sebuah penginapan yang tidak terlalu besar, atas rekomendasi beberapa penduduk kota ini.


“Selamat datang tuan, selamat datang di penginapan Kejora. Apakah anda ingin menyewa sebuah kamar?” tanya seorang wanita dewasa yang berada dibalik meja penerimaan tamu dari penginapan ini.


“Harganya 12 koin perunggu tuan, itu sudah termasuk sarapan pagi” balas wanita itu kemudian.


Memang Zen tidak ingin menghambur – hamburkan uangnya dan memilih untuk tinggal disebuah penginapan sederhana. Walaupun dia mempunyai banyak uang, tetapi menurutnya akan lebih baik menyimpannya dan tetap merendah untuk saat ini.


Setelah membayar, Zen akhirnya menuju kamar yang disewanya. Yui tentu saja langsung menaiki tempat tidurnya dan mulai melompat – lompat di atas kasurnya untuk bersenang – senang setelah mereka berdua berhasil masuk kedalam kamar yang mereka sewa.


Sedangkan disisi lain, Zen saat ini sedang memperhatikan area luar penginapan ini melalui jendela pada kamarnya, yang dimana kamarnya saat ini berada dilantai dua dan mencoba memperhatikan keadaan kota dari balik jendela tempat dirinya berada.


“Sepertinya ada yang mengawasiku” gumam Zen karena bisa melihat beberapa pergerakan yang mencoba untuk mengawasi dirinya.


Walaupun dia diawasi, tetapi Zen masih menyikapi kejadian tersebut dengan tenang, karena dirinya tidak merasakan niat jahat dari orang yang mengawasinya itu. Terlebih lagi, saat dia memasuki penginapan ini, orang yang mengikutinya itu langsung pergi.

__ADS_1


“Tetapi aku harus waspada” gumam Zen yang mulai membaringkan tubuhnya di atas sebuah tempat tidur.


Setelah beristirahat sejenak, Zen memutuskan untuk mengajak Yui untuk mengelilingi kota ini sambil mencari tempat untuk mereka makan malam, karena hari sudah mulai sore. Tentu saja mendengar kata makan, Yui dengan bersemangat mengiyakan ajakan dari Kakaknya itu.


Hari semakin menggelap, Light Gem dibeberapa kediaman dan beberapa tempat mulai dinyalakan. Yui yang tangannya dipenuhi dengan makanan saat ini sudah duduk disebuah taman bersama Zen dan sedang menikmati suasana kota tersebut.


“Apakah kamu tidak akan kekenyangan saat kita makan malam nanti Yui?” tanya Zen kepada adiknya.


“Tenang saja Kak, aku akan memakan semuanya jadi Kakak pastikan mencarikan kedai makanan yang enak” balas Yui.


Zen hanya menggelengkan kepalanya setelah dirinya mendengar perkataan adiknya itu, yang seakan tidak pernah puas jika menyangkut tentang makanan. Tetapi yang membuat Zen tidak habis pikir, adiknya itu sering makan dengan jumlah yang sangat besar, tetapi kondisi tubuhnya tetap ideal dan tidak menggemuk sedikitpun.


“Beberapa wanita dimasa depan pasti iri denganmu” kata Zen kemudian.


“Tentu saja mereka iri kepada Yui. Yang pasti karena Yui sangat cantik dan imut, apalagi mempunyai Kakak yang menyayangi Yui dan mendengarkan semua permintaan Yui” balasnya sambil tersenyum senang.


“Bukan itu yang Kakak maksud” kata Zen sambil mencubit pipi Yui yang mengembung karena memakan makanannya itu.


Walaupun hanya berdua, Zen cukup senang dengan keadaan ini. Tidak ada orang yang membulinya, lalu mempunyai beberapa orang yang dia anggap teman dan keluarga, membuatnya sangat bersyukur dengan kehidupan baru yang sedang dia jalani saat ini.


Walaupun dirinya tidak memiliki sebuah lengan, tetapi Zen hanya menganggap apa yang dia alami ini merupakan bayaran yang dia terima untuk menjalani kehidupan yang seperti ini, dan dia sangat senang untuk menukarkannya.


“Tetapi, Yui pastikan beberapa pria juga pasti sangat iri dengan Kakak” kata Yui kemudian.


“kenapa mereka iri dengan Kakak?” tanya Zen sambil memperhatikan Yui yang saat ini sedang berbincang dengannya


“Karena Kakak tampan, kuat, lalu mempunyai adik yang cantik dan juga mempunyai pacar yang cantik” balasnya.


“Pacar?” tanya Zen kemudian yang merasa dirinya tidak mempunyai seorang pacar.


“Bukankah Kakak Alice merupakan pacar Kakak?” tanya Yui yang mulai menyuapkan kembali sepotong daging kedalam mulutnya sambil menatap Kakaknya itu.

__ADS_1


“Kakak dan Kakakmu Alice hanya berteman” balas Zen sambil tersenyum kepada adiknya itu.


“Benarkah, lalu mengapa dia mencium Kakak saat itu?”


__ADS_2