
Aneh, sungguh aneh. Itulah yang saat ini dirasakan oleh Zen, setelah mendengar cerita dari anak perempuan yang saat ini sedang duduk dihadapannya, setelah anak perempuan itu selesai menceritakan tentang masa lalu yang dialaminya tadi.
Bukan tanpa alasan Zen merasakan keanehan dari ceritanya. Menurutnya, mengapa orang tua anak perempuan yang berada dihadapannya ini, dengan kekeh mencoba untuk menyegel dirinya saat itu, dan tidak mencoba untuk berusaha menyelamatkannya saja.
“Hm... sungguh aneh” gumam Zen.
Tetapi untuk menyelidiki tentang apa yang membuatnya penasaran, Zen mulai mengambil smartphone miliknya dan mencoba untuk menscan anak perempuan yang tadi dia selamatkan itu.
[?????]
[Umur: 4]
[Level: 1]
[Ras: Vampire]
[Ketuk untuk informasi lebih lanjut]
“Hm... umurnya ternyata tidak berubah walaupun dirinya sudah terkurung selama seratus tahun lebih” gumam Zen setelah membaca data dasar dari anak perempuan dihadapannya, lalu mulai mengetuk untuk melihat infromasi lebih detail miliknya.
[Skill:
Teleportation (Terkunci)
[Skill langka dengan kemampuan berpindah tempat dengan cepat. Dimana didalam sejarah, hanya seseorang saja yang mempunyai skill ini]
[Ketuk untuk membuka atau mempelajari skill ini]
The True Darkness (Pasive)
[Sebuah skill langka yang dimiliki oleh pengguna elemen kegelapan, untuk mencegah dirinya mendapatkan efek samping dari hukum elemen yang terdapat didunia ini.]
“Hm... apakah karena skill The True Darkness miliknya?” gumam Zen setelah membaca kegunaan skill pasive milik anak kecil tersebut. Tetapi entah mengapa, Zen merasakan bahwa bukan inilah yang menjadi penyebab utama dari apa yang sedang dia pikirkan tadi.
Dari cerita yang Zen dengarkan tadi, dipastikan anak perempuan yang dia selamatkan, mempunyai hal spesial yang membuat orang tuanya menyegelnya. Karena menurut Zen, tidak mungkin mereka asal mengurung anak kandung mereka sendiri, hanya karena alasan ingin menyelamatkan hidupnya saja.
“Ck... Biarlah, biarkan waktu yang menjawab. Terlebih lagi sepertinya aku bisa mempelajari skill teleportasi” gumam Zen yang melihat bahwa dia bisa membuka kekangan skill pada anak perempuan didepannya dan mempelajarinya untuk dirinya sendiri.
Disisi lain, anak perempuan yang duduk didepan Zen sedikit mulai takut, karena sebelumnya Zen mengeluarkan benda aneh dan menunjukan kepadanya. Lalu tiba – tiba saja, Zen mulai diam dan tidak berbicara lagi kepadanya.
__ADS_1
“K-Kakak tidak akan meninggalkanku bukan, setelah mendengar kisahku?” tanya anak perempuan itu, karena Zen sedari tadi mendiaminya dan hanya fokus kepada benda aneh yang sedang dipegangnya itu.
Mendengar perkataan anak perempuan didepannya, Zen akhirnya mulai merasa bersalah karena terlalu fokus pada smartphone miliknya. Zen lalu mulai memasukan smartphonenya kedalam inventorinya dan mulai kembali menatap anak perempuan dihadapannya.
“Bagaimana jika Kakak memberikanmu nama terlebih dahulu. Karena sangat susah memanggilmu, yang tidak mempunyai sebuah nama” kata Zen.
Mendengar itu, anak perempuan didepan Zen tampak mulai senang, karena sedari kecil dirinya ingin sekali mempunyai sebuah nama yang indah seperti Kakaknya. Tetapi karena ramalan yang diterima keluarganya, mereka tidak berani memberikan dirinya sebuah nama agar masa depannya tidak berubah.
“Hm... bagaimana dengan Yui?” kata Zen yang menyebutkan sebuah nama yang menurutnya cocok untuk anak perempuan yang berada didepannya.
“Yui?” kata anak perempuan itu kembali.
“Iya.. nama yang cocok untuk seorang gadis yang imut sepertimu. Apakah kamu tidak menyukainya?” tanya Zen kembali dan langsung memperhatikan ekspresi dari anak perempuan didepannya, apakah dia menyukai nama yang Zen berikan atau tidak.
“Y.U.I... Yui ya... Aku sangat menyukai nama ini Kak” kata Yui dengan bersemangat dengan nama yang diberikan kepadanya.
“Benarkah... kalau begitu namamu mulai sekarang adalah Yui” kata Zen yang melihat anak perempuan yang dia beri nama Yui sangat gembira saat mendapatkan sebuah nama untuknya.
“Lalu, nama keluarga Kakak apa?” tanya Yui kemudian.
“Nama keluarga Kakak? Untuk apa?” tanya Zen yang bingung mengapa dirinya ditanyai nama keluarga miliknya.
“Untuk melengkapi namaku” balas Yui sambil tersenyum manis.
“Bukankah kamu mempunyai nama keluarga dari orang tuamu?” tanya Zen.
“Hm-Hm.. aku ingin menjadi keluarga Kakak” balas Yui sambil mengelengkan kepalanya.
Mendengar itu, Zen sebenarnya tidak mempermasalahkan Yui menggunakan nama keluarga miliknya. Tetapi dia mulai ingat bahwa namanya saat ini masih memakai nama keluarganya dari kerajaan Heilight, yang merupakan asal dari tubuhnya ini.
“Hm... nama keluarga ya..." gumam Zen sambil mengaruk rerambutan yang ada pada wajahnya "Kebetulan Kakak tidak memilikinya. Jadi, bagaimana jika kita membuatnya” kata Zen yang memutuskan untuk tidak menggunakan nama keluarganya yang lama.
“Benarkah? Lalu Yui akan memikirkannya” kata Yui yang mulai bersemangat dan langsung mulai membuat gestur sedang memikirkan sesuatu.
“Bagaimana dengan Leonardo?” usul Yui.
“Leonardo? Hmm... sepertinya tidak terlalu keren” balas Zen yang langsung menolak ide dari Yui.
“Hm... lalu bagaimana dengan Gelani?” kata Yui kemudian dan perkataannya itu kembali mendapatkan penolakan dari Zen.
__ADS_1
Mereka berdua terus berdebat tentang nama keluarga yang akan mereka gunakan, walaupun hanya Yui saja yang menyebutkan berbagai nama aneh yang menurutnya keren kepada Zen dan tentu saja semua idenya itu ditolak oleh Zen.
“Gwillyn?” kata Yui selanjutnya.
“Ho... lumayan terdengar keren” kata Zen yang pada akhirnya menanggapi dengan positif nama yang disebutkan oleh Yui.
“Benarkah? nama itu Yui pernah baca dalam sebuah buku cerita tentang legenda seorang pelindung yang gagah berani, dan mempunyai nama Gwillyn” kata Yui yang bersemangat setelah usulnya akhirnya disambut dengan positif oleh Zen.
Memang Zen sedikit terkejut dengan tingkat kepintaran yang dimiliki oleh Yui. Walaupun Yui menunjukan sifat seorang yang berumur 4 tahun, tetapi kadang – kadang dia akan menunjukan sifat yang lebih dewasa dari umurnya itu.
“Hm... Pelindung ya..." Gumam Zen sambil membuat gestur seolah sedang berfikir, karena dia sedang menimbang apakah dirinya akan menggunakan nama itu untuk menjadi nama keluarganya. "Baiklah, bagaimana jika kita menggunakan nama itu menjadi nama keluarga kita?” Putus Zen.
“Benarkah... lalu namaku akan menjadi Yui Gwillyn, lalu Kakak akan menjadi.....” kata Yui yang menggantung, karena dia belum mengetahui nama orang yang menyelamatkan dirinya itu.
“Zen Gwillyn” kata Zen sambil tersenyum.
Dengan terbentuknya sebuah nama keluarga baru, akhirnya Zen dan Yui mulai tersenyum, seakan puas dengan apa yang mereka lakukan tadi. Yui dengan senang mengulang namanya yang menurutnya keren itu berkali – kali dalam benaknya.
Zen juga sangat senang melihat ekspresi Yui yang sangat bahagia itu, dan akhirnya dia memutuskan sesuatu bahwa dia akan melindungi Yui dan akan menganggap Gadis kecil didepannya itu sebagai adik perempuannya.
Masing – masing dari mereka masih terjebak didalam dunia mereka sendiri, hingga suara perut dari Yui langsung mengintrupsi lamunan kedua orang beda usia itu, yang menandakan bahwa Yui saat ini sedang lapar.
“I-Itu bukan suara perut Yui” kata Yui yang menyadari bahwa suara perutnya terdengar lumayan keras.
“Benarkah? lalu apakah itu suara perut Kakak?” Goda Zen kepada Yui.
“I-Iya.. itu pasti suara perut Kakak” kata Yui yang menahan malunya dan mencoba menyembunyikan fakta bahwa perutnya berbunyi.
“Lalu Yui tidak ingin memakan sesuatu?” tanya Zen kemudian.
“Yui ingin makan!” Balas Yui yang akhirnya mulai bersemangat mendengar kata makan, dan tidak menghiraukan fakta bahwa dirinya sedang malu sebelumnya.
“Lalu kita akan makannn..... tunggu bukankah Yui seorang Vampire? Apakah Yui harus menghisap darah untuk makan?” tanya Zen yang masih bingung dengan makanan apa yang harus dimakan oleh Yui.
“Hm-Hm” gelengnya.
“Menghisap darah hanya untuk meningkatkan kapasitas mana dan jangka hidup dari seorang Vampire, bukan untuk memenuhi kebutuhan makanannya” Balas Yui menjelaskan.
Mendengar itu, Zen hanya mengangguk saja karena pada awalnya dia mengira Yui harus menghisap darah untuk memuaskan rasa laparnya. Zen langsung mengeluarkan beberapa daging dan ikan dari dalam penyimpananya dan membuat api lalu memanggang makanan yang dia keluarkan tadi.
__ADS_1
Yui terlihat dengan sabar menunggu hasil dari apa yang sedang dipanggang oleh Zen. Dan setelah melihat masakannya sudah matang, Zen yang hendak memberikan makanannya kepada Yui, melihat Yui langsung menyambar makanan yang dia panggang itu dan mulai memakannya dengan lahap.
“Sepertinya aku harus memanggang lagi”