
Alice tidak kuasa melihat Zen yang sedang disiksa oleh pria yang menyerang mereka tadi. Dia berusaha memberontak, tetapi tubuhnya sepenuhnya terikat dan mulutnya sudah ditutup oleh kain, agar dia tidak bisa bersuara.
Penyiksaan yang dia lihat semakin menjadi, dimana bisa terlihat Zen yang kondisinya sudah sangat memprihatinkan. Dia tidak bisa apa – apa, dan hanya berteriak tetapi suaranya hanya terdengar seperti gumaman saja, karena mulutnya sudah disumbat oleh kain.
Disebelahnya, Sif masih tak sadarkan diri dan Ari hanya berdiam diri saja karena tubuhnya sepenuhnya lemas, karena tenaganya sudah habis dalam pertarungan sebelumnya. Dikejauhan juga terlihat dua anggota party dari mereka berdua, terlihat sangat memprihatinkan.
“Mengapa menjadi seperti ini?” gumam Alice didalam benaknya.
Ini bukanlah sesuatu yang dia cari saat mencoba menjadi seorang pengajar. Dia sangat suka mengajar, bahkan cita – citanya sedari kecil untuk mengajarkan sesuatu yang bermanfaat kepada semua orang.
Walaupun dia berasal dari keluarga bangsawan yang ternama di kerajaan Raven, tetapi dia tidak ingin mengikuti karir keluarganya dalam bidang politik kerajaan, karena ingin mencoba hidup yang bebas dan ingin meraih cita – citanya.
Tetapi, langkah pertamanya untuk menggapai cita – citanya harus mengalami kejadian seperti ini. Dia datang ke desa ini dengan penuh ambisi, tetapi saat ini yang dia lihat hanya kekejaman yang nyata.
“Tolong hentikan semua ini” gumam Alice yang saat ini mulai menangis, karena tidak kuasa menahan rasa frustasinya karena tidak bisa melakukan apa – apa.
Tetapi setelah mengatakan itu, dia kembali melihat kearah Zen dan langsung membuatnya terkejut, karena saat ini pria yang sedang dia tatap sudah berdiri dan seluruh tubuhnya mulai mengeluarkan beberapa uap, lalu terlihat seluruh tubuhnya mulai sembuh dari luka – luka yang dialaminya.
Setelah itu, Zen langsung menyerang pria yang menyiksanya dan membuat musuhnya terpental. Tetapi sebelum Zen melanjutkan menyerang musuhnya itu, Zen menyempatkan diri untuk menatap Alice yang sedang terikat saat ini.
Zen mengatakan sesuatu kepadanya, tetapi karena jarak mereka jauh, tentu saja suaranya tidak terdengar oleh Alice. Namun Alice paham dengan apa yang dikatakan Zen, karena membaca gerakan mulutnya dan membalasnya dengan mengangguk.
Disisi lain, setelah Zen memberikan sebuah pesan kepada Alice, Zen mulai mengambil mana potion dari dalam penyimpanannya dan meneguk habis isinya, untuk memulihkan mananya yang sudah terkuras habis.
“Baiklah, mari kita menguji coba siapa yang lebih dominan. Keabadianmu atau Regenerasiku” kata Zen.
__ADS_1
Selain healing, skill yang paling kuat untuk membantu pertarungan pada pemilik elemen cahaya adalah skill Regeneration. Masalahnya, untuk mempelajari skill ini Zen harus mengalami penyiksaan dan membuat luka seluruh tubuhnya.
Awalnya dia ingin meminta Alice untuk membantunya, tetapi kesempatan itu ternyata datang lebih cepat. Zen yang sedang bertarung tadi, sengaja tidak menggunakan jubah yang dibuatkan khusus oleh Ibu dari Yui, dan menggunakan jubah biasa yang dia beli pada sebuah toko baju di desa ini.
“Sayangnya, skill ini sangat menguras mana” kata Zen yang meneguk sebotol mana potion lagi.
Zen harus secara konstan mengalirkan mananya menuju sel – sel tubuhnya untuk meregenerasi luka pada tubuhnya, dan menyebabkan mananya cepat terkuras habis.
“Baiklah, mari mulai ronde kedua” kata Zen yang merobek bajunya yang sudah tidak berbentuk.
Zen lalu mengeluarkan jubah hitam yang dibuatkan khusus oleh Ibu dari Yui, dan otomatis langsung terpakai pada tubuhnya, saat dia mengeluarkan jubah itu dari dalam penyimpanannya.
Dengan pedang berwarna hitam pada genggamannya, Zen mulai melesat dengan cepat menuju musuh yang dia serang tadi. Tentu saja pria kurus itu dengan cepat bangkit dan langsung melesat kearah tempat Zen berada.
Level yang dimiliki pria yang sedang dilawan Zen itu sebenarnya terpaut jauh dari level yang dimiliki Zen, namun entah mengapa Zen bisa mengimbanginya.
Sebuah benturan pedang mulai terdengar, dimana pedang dari Zen terhalang oleh sebuah pedang dari musuhnya. Mereka berdua sempat saling menatap sejenak, sebelum Zen mengambil langkah selanjutnya dalam pertarungan tersebut.
Dengan mengaktifkan skill anginnya, Zen langsung menginjak angin dan melompat lalu mencoba untuk menyerang kearah belakang pria itu, melewati bagian atasnya. Pria itu langsung memutarkan tubuhnya dan mencoba menahan kembali serangan dari Zen.
Tetapi saat Zen mendarat ditanah, dia langsung menggunakan skill dari elemen tanahnya dan mengurung kaki dari musuhnya dengan skill itu. Melihat kakinya sudah terjebak, pria itu mulai kehilangan konsentrasi dan Zen berhasil melepaskan halangan pedangnya dan kembali menyerang pria yang berada didepannya.
Sebuah tebasan cepat yang dipadukan dengan elemen petir dan cahaya, langsung menebas dengan cepat lengan dari lawannya yang sedang menggenggam sebuah pedang. Dengan tangannya sudah terlepas, Zen langsung membakarnya untuk menghanguskannya, agar tidak bisa digunakan lagi oleh musuhnya.
“Apa yang kamu lakukan!” teriak musuhnya itu dengan kemarahan yang semakin menjadi dari dalam dirinya.
__ADS_1
“Bukankah tidak seimbang melawanku dengan kedua tanganmu yang masih utuh?” balas Zen sambil tersenyum.
Zen sebenarnya bisa saja langsung membunuh pria didepannya, tetapi dia ingin membalaskan dendamnya karena rasa sakit yang dia terima sebelumnya, saat pria itu menyiksanya tadi.
Tetapi sesuatu yang aneh terjadi, pria yang dia lawan itu tiba – tiba saja mengeluarkan aura aneh, dan matanya mulai memerah. Setelah itu, otot – otot pada tubuhnya mulai membesar dan tubuhnya mulai berubah menjadi sangat berotot.
Ditempat lain, bawahan pria itu yang melihat pemimpinnya mulai berubah bentuk tubuhnya mulai gelisah, dan memutuskan untuk meninggalkan tempat itu secepat mungkin, sebelum keadaan semakin parah.
“Sial, mengapa dia mengaktifkan mode beserknya itu” kata pria tersebut yang akan beranjak dari sana, namun dia sempat melirik ketiga wanita yang sedang diikat dan terbaring di tanah.
“Sepertinya dewi keberuntungan memihak padaku. Aku akan menikmati kalian bertiga malam ini” kata pria itu dan ingin membawa serta ketiga wanita yang sudah terikat itu untuk lari bersamanya.
Tetapi saat akan membopong ketiga wanita yang sedang terbaring dibawahnya, dia mendengar suara beberapa langkah kaki mendekatinya. Dia mulai melirik asal suara langkah kaki yang mendekatinya itu, dan melihat lima orang dan salah satu dari mereka sedang tersenyum kearahnya.
Sebelum dia menanyakan siapa mereka, kepalanya sudah terpisah dari tubuhnya dimana matanya saat ini sedang berkedip kebingungan, yang mempertanyakan mengapa bisa kepalanya terlepas dari tubuhnya. Namun sebelum dia sempat bereaksi, kepala dan tubuhnya sudah hancur berkeping – keping.
“Karl dan Meso, bantulah pria yang sedang menghadapi pria sesat yang sedang mengamuk itu” kata seorang pria yang memimpin keempat orang dibelakangnya.
“Baik kapten” kata mereka berdua dan melesat dengan cepat kearah Zen.
“Sayang, bisakah kamu menyembuhkan mereka” kata pria itu kembali, kepada seorang wanita yang berada disebelahnya.
“Baiklah suamiku” kata wanita itu dan mulai melepaskan ikatan dari Alice, Sif dan Ari dan mulai menyembuhkan luka – luka mereka.
“Mira, bawalah kedua pria itu kesini untuk disembuhkan” dan dibalas anggukan oleh wanita bernama Mira dan melesat kearah Bennard dan Lexi.
__ADS_1
Mira dengan cepat melesat kembali dan membawa dua orang pria pada masing – masing bahunya, dan meletakkannya tepat disebelah ketiga gadis yang sedang dirawat oleh seorang wanita.
“Baiklah, mari kita memeriksa kondisi desa ini Mira”