
Zen saat ini masih berdiri dan tidak terpengaruh atas apa yang sedang terjadi ditempat dia berpijak, tetapi tidak dengan beberapa orang yang berada disekitarnya. Mereka mulai menggeliat kesakitan, karena sesuatu mulai menghisap daya hidup mereka sedikit demi sedikit.
“Sial apa yang harus aku lakukan?” gumam Zen yang panik melihat kejadian tersebut.
Dengan kejadian yang tiba – tiba ini, Zen tidak tahu harus melakukan apa. Tetapi sebisa mungkin dia mulai tenang dan mengeluarkan smartphonenya dan mengarahkan tepat kearah Alice, yang saat ini sedang menggeliat kesakitan.
“Sabarlah, aku akan melakukan sesuatu” kata Zen, yang mulai memeriksa sesuatu dari dalam Smartphonenya.
Zen akhirnya bisa melihat beberapa informasi yang tertera pada smartphonenya dan langsung mencari cara mengatasi kejadian yang sedang dialami oleh orang – orang yang berada disekitarnya.
Disisi lain, Alice saat ini merasakan rasa sakit yang amat sangat, karena merasa seakan ada yang tersedot keluar dari dalam tubuhnya. Dengan darah yang mulai keluar dari mulutnya, dia berusaha untuk melawan kejadian yang dialaminya, tetapi usahanya tetap gagal.
Apa yang sedang terjadi saat ini, diakibatkan oleh lingkaran sihir yang tiba – tiba saja muncul saat dirinya sedang beristirahat dan mengobrol dengan Zen. Entah apa yang terjadi, tetapi saat lingkaran sihir itu muncul, mereka langsung menjadi sangat kesakitan seperti sekarang ini.
Dengan sisa – sisa kekuatannya, Alice mencoba bertahan hingga tiba – tiba saja sihir yang mengikatnya itu langsung menghilang dan membuatnya terlepas dari kesengsaraan itu.
“Hahh... Hahh... Hahh...” perasaan lega akhirnya bisa dirasakan Alice, setelah akhirnya sihir yang mengikatnya tadi sepenuhnya terlepas dari dirinya.
“Kamu tidak apa – apa?” tanya seorang pria yang merupakan Zen dan langsung memeriksa keadaan Alice saat ini.
“Z-Zen?” kata Alice yang melihat seseorang menghampirinya.
Melihat ada darah yang keluar dari mulut Alice, Zen langsung mengeluarkan Healing Potion dan memberikannya kepada Alice. Tentu Zen membantu Alice untuk meminumnya, karena tubuh Alice sangatlah lemah.
Selesai merawat Alice, Zen langsung menuju kearah party petualang yang juga terkena dampak dari sihir yang sedang terjadi dan mulai memberikan mereka healing potion satu persatu untuk menyembuhkan mereka.
“Apa yang kamu lakukan untuk melepaskan jeratan sihir ini Zen?” tanya Bennard.
“Aku membuat barrier dari elemen cahaya, untuk menolak semua status negatif yang menyerang kita” kata Zen.
Keunggulan barier yang dibuat oleh Zen menggunakan elemen cahayanya, ternyata dapat menghalau semua serangan termasuk energi negatif yang menyerangnya.
“Tunggu jika sihir ini masih berlangsung, bukankah para penduduk desa yang lainnya akan mengalami hal yang sama” kata Alice yang saat ini sudah pulih sepenuhnya.
“Apakah kamu bisa memperbesar bariermu ini Zen?” tanya Bennard.
“Aku tidak bisa, tetapi aku bisa menggunakan sarana barier yang mengurung desa ini dan mengubahnya menjadi barier cahaya milikku” kata Zen.
__ADS_1
“Baiklah, kalau begitu kita langsung menuju kearah barier yang mengurung desa ini” kata Alice, dan dibalas anggukan oleh Bennard, Sif, Ari, Lexi dan Zen.
Mereka berenam mulai beranjak dari tempat itu, dan mulai melaju kearah pinggiran desa dimana mereka ingin menuju kearah barier yang mengurung desa ini.
“Tetaplah saling berdekatan, aku tidak bisa membuat barierku lebih besar” kata Zen, karena mereka berlari dengan barier dari Zen yang masih melindungi mereka dari sihir yang sedang berlangsung pada Desa ini.
Disisi lain, orang yang melakukan semua ini sedang fokus memulai ritualnya diatas sebuah altar, pada sebuah rumah yang terletak tepat ditengah Desa Pina ini. Dia bisa merasakan semua daya hidup penduduk desa ini mulai terhisap sedikit demi sedikit dan terkumpul didalam sebuah orb didepannya.
Tetapi saat masih fokus melakukan ritualnya, anak buahnya yang berada ditempat itu merasakan sesuatu, karena dia merasakan barier yang dia buat untuk mengisolasi desa ini, seakan – akan mulai melemah.
“Apa yang terjadi?” tanya pria yang melakukan ritual itu, setelah mendapati anak buahnya merasa gelisah saat ini.
“Aku merasa ada yang ingin mengambil alih barierku” kata bawahannya tersebut.
“Batalkanlah skill bariermu itu, lagipula para penduduk tidak bisa melarikan diri lagi” kata pria yang masih duduk diatas altar sambil memperhatikan ritual yang sedang dia lakukan.
“Baiklah tuan utusan” balasnya.
Tetapi saat dia akan membatalkan sihirnya, dia mulai merasakan bahwa sihirnya itu tidak bisa dibatalkan, karena seseorang sedang mencoba mengambil alih skillnya menggunakan sihir yang aneh.
“Pertahankan bariermu agar tidak diambil alih sepenuhnya, dan kalian sisanya cepat pergi membunuh para kecoa yang mengganggu itu” teriaknya kepada bawahannya yang lain.
Tiga orang tersisa dan kepala desa yang berkhianat kepada desanya, akhirnya mulai beranjak dari sana setelah mendapatkan sebuah perintah dan meninggalkan pria yang dipanggil utusan itu, beserta bawahannya yang membuat barier didesa ini diarea ritual tersebut.
.
.
“Sial... pembuat barier ini menyadari aku mulai mengambil alih barier miliknya” kata Zen yang masih dengan konsentrasi penuh ingin mengambil alih barier gelap yang berada didepannya.
Zen bisa merasakan pertahanan yang intens dari pemilik barier yang sedang mengurung desa ini, dan mencoba melawan skillnya yang akan mencoba mengambil alih barier miliknya.
Bisa terlihat barier yang hitam itu perlahan berubah menjadi transparan, karena Zen mencoba untuk mengubah barier itu menjadi miliknya dengan perlahan, walaupun pertahanan dari pemilik barier ini sangatlah kuat.
“Berikan aku mana potion lagi!” teriak Zen.
Alice yang mendengar itu, langsung meminumkan sebotol mana potion langsung kemulut Zen, karena tangan Zen fokus untuk menyentuh barier hitam didepannya.
__ADS_1
Hasil yang dilakukan Zen sudah mulai terlihat, Sekitar 30% barier didepannya sudah menjadi miliknya, dan membuat beberapa penduduk desa ini mulai merasakan bahwa sihir yang menjerat mereka mulai mengurang intensitasnya. Tetapi perjuangan Zen belum berakhir, karena empat buah serangan besar mengarah tepat kearahnya.
“KABOOM”
Suara ledakan besar terdengar ditempat itu, namun saat asapnya menghilang, seorang pria pengguna tameng menghalangi serangan yang datang kearah Zen dan melindunginya.
“Kalian berdua fokuslah mengambil alih barier ini, biar kami berempat yang menahan para sampah yang datang ketempat ini” kata Bennard.
Ari, Sif, Lexi dan Bennard sudah berdiri didepan Zen dan Alice untuk melindungi mereka dari serangan keempat orang yang baru saja tiba ditempat ini, yang berniat untuk membatalkan apa yang sedang mereka lakukan.
“Menyerahlah, apa yang kalian lakukan sia - sia” teriak pria yang merupakan kepala desa dari desa ini, kepada para party petualang yang sedang melindungi Zen dan Alice.
“Hm... sudah kuduga ternyata Kepala Desa sudah bersekongkol dengan para penganut ajaran sesat itu” kata Bennard.
“Mereka menawariku keabadian dan kekuatan, jadi mengapa aku harus menolaknya” kata kepala desa yang merasa tidak bersalah atas perbuatannya.
“Benarkah, tetapi apakah kamu ingin penampilanmu seperti pria yang seakan menjadi mayat hidup itu?” kata Bennard kemudian.
“Mengapa harus ta-”
“Cukup!” teriak salah satu pria yang berada disebelah kepala desa yang masih berdebat dengan Bennard, dan menghentikan ocehannya.
“Apakah kamu tahu, mereka mencoba mengulur waktu” kata pria itu kembali.
“Cih... siasatku ternyata gagal” gumam Bennard.
“Bersiap untuk bertempur” kata Bennard kemudian kepada rekan – rekan partynya.
Empat petualang melawan empat penganut ajaran sesat, akhirnya akan dimulai. Bennard dan rekan rekannya saat ini berusaha sebisa mungkin bertahan saja dari serangan mereka, karena mereka ingin mengulur waktu untuk membuat Zen bisa menyelesaikan tugasnya.
“Fokus untuk bertahan, dan tetap waspada terhadap keadaan sekitar” kata Bennard kepada rekan – rekannya.
Serangan pertama datang dari salah satu pria berjubah kearah mereka berempat, dan membuat Bennard langsung maju dan menahan serangan itu. Tiga orang lainnya akhirnya juga mulai menyerang, tetapi Lexi, Ari dan Sif juga ikut menghalau serangan yang datang.
Dengan melihat pertarungan yang terjadi dibelakangnya, Zen dengan fokus yang sangat tinggi mulai mempercepat skillnya, dan masih dibantu oleh Alice untuk memberikannya mana potion dan juga menahan musuh jika mereka mendekat kearahnya.
“Sedikit lagi....”
__ADS_1