Kehidupan Aneh Yang Kujalani

Kehidupan Aneh Yang Kujalani
Berlanjut


__ADS_3

Suara pertempuran bisa terdengar pada sebuah goa, pada wilayah yang merupakan tempat yang sebenarnya tidak boleh dimasuki oleh siapapun. Area itu merupakan area terlarang, dimana tempat itu merupakan area yang sangat berbahaya.


Area tersebut merupakan tempat berkumpulnya para monster liar dan merupakan tempat pelatihan untuk mengembangkan kekuatan seseorang, sebelum Gread Dungeon muncul.


Karena tempat itu sudah sangat jarang dijamah oleh para petualang untuk meningkatkan kekuatan mereka, monster – monster didalamnya juga akhirnya berkembang dengan bebas, sehingga tempat ini menjadi sangat berbahaya jika dimasuki.


“Baiklah cukup!” terdengar sebuah suara dari seseorang, dan membuat suara pertempuran ditempat itu terhenti.


Ternyata suara itu berasal dari seseorang yang saat ini tubuhnya sudah dipenuhi oleh keringat, karena melawan ratusan undead yang dilawannya, pada sebuah Hidden Dungeon yang berada diwilayah area terlarang tersebut.


“Ini, minumlah Kak” kata seorang anak perempuan yang menghampiri pria yang berteriak tadi dan membawa secangkir air.


“Terima kasih Yui” balas pria itu, setelah menaruh pedang yang dia gunakan untuk melawan para undead dan mengambil gelas yang berisi air yang diberikan oleh adiknya itu.


“Kakak terus saja bertambah kuat” puji anak kecil yang dipanggil Yui, setelah melihat kekuatan Kakaknya terus meningkat hari demi hari.


“Ya... berkat para undead buatan ibumu ini” kata pria itu yang merupakan Zen setelah meneguk habis isi cangkir yang diberikan oleh Yui.


Zen pada awalnya berniat membebaskan para Undead ciptaan Ibu Yui dari kutukan yang mereka terima, dengan cara membunuh mereka secara langsung. Tetapi ternyata, para Undead itu sangat patuh dan mendengarkan perkataan dari Yui.


Jadi Zen menggunakan kesempatan ini, untuk berlatih tanding bersama mereka, dan menjanjikan mereka kematian dengan berlatih tanding bersamanya ditempat ini. Sudah sebulan dia melakukan ini, dan berhasil membunuh sekitar 400 Undead milik Ibu dari Yui.


Sekarang Zen sudah berlevel 14 dan beberapa penguasaan elemen dan beberapa tehnik pertarungan sudah bisa dia kuasai semakin baik. Bahkan beberapa skillnya, sudah mencangkup tingkat menengah saat ini.


“Akhirnya aku bisa meningkatkan levelku lagi” gumam Zen setelah melihat semua statusnya mencapai S.


Melihat Kakaknya yang tersenyum seperti itu, Yui juga merasa senang. Walaupun dia seperti terkurung ditempat ini, tetapi dia merasa nyaman karena seseorang menemaninya. Terlebih lagi, Kakaknya berjanji membawanya keluar dari tempat ini, setelah semua Undead milik Ibunya berhasil Kakaknya kalahkan.


Zen sebenarnya juga merasa bersalah kepada Yui, karena terus menahannya ditempat ini. Tetapi, dia harus memastikan bahwa dirinya kuat, agar dapat melindunginya saat mereka memutuskan meninggalkan tempat ini.


“Apakah Yui sudah lapar?” tanya Zen kepada adiknya itu, karena sekarang hari sudah mulai siang.


“Mm-Mm” angguknya bersemangat.


Melihat itu, Zen hanya tersenyum saja mendengar jawaban dari adiknya dan mulai mengeluarkan beberapa daging dan memulai memanggangnya untuk dirinya dan Yui untuk makan siang mereka.

__ADS_1


.


.


Hari terus berlalu, latihan Zen terus berlanjut, dimana semakin hari kekuatannya bisa terlihat meningkat pesat. Yui sendiri dengan sabar menunggu Kakaknya dalam latihannya, dan kadang – kadang bermain dengan para undead milik ibunya.


Rambut, kumis, jambang dan jenggot dari Zen semakin panjang dan lebat, menandakan dirinya sudah berada disini cukup lama. Dengan penampilannya itu, saat ini dia sedang bertarung dengan serius menghadapi musuhnya. Suara tebasan yang halus, bisa terdengar saat dirinya mulai membantai beberapa lawan yang dia hadapi.


“Dan akhirnya, kamu yang terakhir” kata Zen yang bersiap melawan musuh yang tersisa seorang diri didepannya.


Zen lalu menggambungkan elemen petir dan cahayanya, untuk mempercepat gerakan yang dimilikinya dan mengarahkan serangan terakhirnya itu, dan dengan tepat menusuk dada dari musuh yang dilawannya.


“Terima kasih Tuan”


Dan begitulah kata terakhir dari Undead yang sudah dia lawan, setelah berhasil membunuhnya. Dengan ini, seribu lebih Undead sudah berhasil dia kalahkan dalam waktu 2 bulan lamanya. Hasil ini juga membuat dirinya semakin kuat, karena saat ini dia sudah berlevel 21.


“Selamat Kak” kata Yui bersemangat setelah Kakaknya akhirnya mengalahkan Undead ciptaan Ibunya yang terakhir.


“Ya... akhirnya berakhir” kata Zen sambil tersenyum puas dengan hasil latihannya ditempat ini.


Yui tampaknya sangat senang. Karena dengan hasil ini, dia dipastikan akan meninggalkan tempat ini dan berpetualang bersama Kakaknya. Yui tidak sabar untuk melihat dunia luar, dan terlebih lagi dia ingin kembali melihat cahaya matahari dan menghirup udara segar.


“Dan juga, Kakak sepertinya harus mandi karena sudah lama Kakak tidak melakukannya” kata Zen yang melihat dirinya yang terlihat sangat kotor dan berantakan.


Memang, Zen hanya membawa air yang digunakan untuk kebutuhan minum, jadi untuk membersihkan dirinya, dia hanya membasahi sebuah kain dan membersihkan tubuhnya dengan itu.


“Jadi kapankah kita keluar dari sini Kak?” tanya Yui.


“Setelah Kakak bersitirahat sebentar” kata Zen yang mencari tempat untuk duduk, karena kelelahan setelah membantai para Undead tadi.


.


.


Yui perlahan mulai melihat cahaya yang menerobos masuk kedalam goa, tempat dirinya berada saat ini. Dengan tangan kecilnya yang digenggam oleh Kakaknya, mereka berdua mulai berjalan keluar dari tempat yang mengurung dirinya selama ini.

__ADS_1


Mata dari Yui mulai menyipit, karena mencoba menyesuaikan matanya dari sinar matahari yang menimpanya, saat dirinya akhirnya menginjak dataran area luar tempat dirinya terkurung sebelumnya.


Pemandangan Hijau, biru, cokelat dan lainnya, bisa dia lihat setelah menyesuaikan penglihatannya. Dengan merasa bahagia, akhirnya dia bisa melihat kembali pepohonan dan langit yang luas.


“Kita saat ini berada di area terlarang, jadi tetap waspada oke” kata Zen yang memperingati Yui tentang bahaya dari wilayah ini.


“Baiklah Kak” balasnya.


Zen saat ini membiarkan saja adiknya menikmati pemandangan itu sejenak. Yui sebenarnya ingin berlarian disekitar tempat itu, tetapi dia takut tindakannya ini membuat Kakaknya marah, karena sebelumnya Zen menyuruhnya untuk berhati – hati karena tempat ini berbahaya.


Namun dia tidak menyangka, bahwa Kakaknya mulai melepaskan genggamannya dan seakan menjadi lampu hijau baginya, untuk melakukan apa yang dia inginkan tadi.


“Tetaplah berhati – hati oke?” kata Zen yang melihat Yui membalasnya dengan mengangguk dan mulai berlarian ditempat itu dengan bahagia.


Cukup lama Yui melakukan itu, hingga dirinya saat ini sudah cukup puas dan mulai kembali kearah Kakaknya yang sedang duduk dan mengawasinya.


“Kita akan kemana sekarang Kak?” tanya Yui setelah berada dihadapan Zen.


Zen tidak menjawab, namun mulai mengeluarkan smartphone miliknya dan membuka sesuatu. Yui juga mulai memutari Zen dan ikut melihat apa yang sedang dilakukan oleh Kakaknya itu.


“Kita sekarang berada disini” tunjuk Zen kepada Yui saat membuka Mapnya pada smartphone miliknya.


“Bagaimana kalau kita pergi menuju kerajaan Raven?” kata Zen.


Memang, area terlarang berada diantara empat kerajaan, yaitu kerajaan Illyan yang wilayahnya sebagian besar menjadi area terlarang, dan sebagian kecil wilayah area terlarang lainnya terdapat pada Kerajaan Enex, Raven dan Vilan. Jadi Zen memutuskan untuk pergi kekerajaan Raven, karena menurut map yang tertera pada smartphone miliknya, ada desa kecil saat dia berhasil keluar dari area terlarang ini, jika dia menuju kerajaan Raven.


“Aku akan mengikuti Kakak kemanapun” kata Yui bersemangat, setelah Kakaknya sudah memutuskan tujuan perjalanan mereka.


Dan akhirnya, mereka mulai beranjak dari sana dan memulai perjalanan mereka keluar dari tempat ini, dan menuju kesebuah peradaban.


.


.


Ditempat lain, diwilayah yang tidak jauh dari sebuah desa bernama desa Pina, pada kerajaan Raven. Seseorang saat ini sedang berlutut dengan berpenampilan bertelanjang dada dengan tangan membentang dan mata tertutup.

__ADS_1


Diseluruh tubuhnya terdapat berbagai tulisan, yang digambar menggunakan kapur oleh seseorang berwajah sangat tirus, seakan dagingnya menghilang dari tubuhnya dan menyisakan kulit beserta tulangnya saja.


“Apakah kamu siap menerima berkah Dewa Jia Shin?”


__ADS_2