Kehidupan Aneh Yang Kujalani

Kehidupan Aneh Yang Kujalani
Kembali Berlatih


__ADS_3

Zen mulai mengingat kejadian yang terjadi saat pertarungan dirinya melawan pria utusan dari organisasi sesat sebelumnya. Entah apa yang terjadi, sepertinya dia pingsan saat berdiri tepat dihadapan Alice sebelumnya dan tidak mengingat apapun setelah itu.


“Mari kita lihat statusku terlebih dahulu” gumam Zen, yang mulai membuka sebuah menu pada smartphone miliknya.


[Zen Gwilyn] [Edit]


[Umur: 17]


[Level: 26] [+]


[HP: 7800]


[MP: 7800]


[STR: S [348%]][MAG: S [340%]]


[VIT: S [350%]][AGI: S [324%]]


“Akhirnya, levelku meningkat tiga level.” Gumam Zen yang tanpa pikir panjang langsung meningkatkan levelnya.


Aura kekuatan mulai memasuki tubuhnya setelah dapat meningkatkan levelnya itu, dan membuatnya tersenyum. Zen lalu kembali membuka smartphonenya dan melihat status skillnya saat ini, dan melihat peningkatannya.


[Skill:]


[Light: Heal (A)] [Light: Regeneration (C)] [Light: Support Skill (B)] [Light: Sealing (G)] [Fire: Burn (B)] [Fire: Fire Bolt (C)] [Lightning: Lighning Spear (D)] [Ligthning: Speed (B)] [Earth: Earth Control (C)] [Wind: Wind Kick (B)] [Wind: Wind Slash (C)] [Water: Water Walk G] [Neutral: Preception (A)] [Demon Eye: Blink (J)]


[Mastering:]


[Light: E] [Fire: F] [Lightning: F] [Earth: G] [Wind: G] [Water: H] [Neutral: I ] [Darkness: J] [Swordman: E] [Mage: E] [Tanker: G] [Assasin: G] [Archer: J] [Support Mage: J] [Miner: J] [Blacksmith: J] [Alchemist: J]


“Hah... masih banyak yang harus aku pelajari” kata Zen yang melihat status skillnya dan peningkatan dari beberapa elemen dan jobnya.


Hanya dua skillnya saja yang menyentuh tingkat A dan bahkan beberapa skill masihlah tingkat J, atau bisa dikatakan belum dipelajari dirinya sama sekali oleh Zen.


“Hm... sepertinya aku harus meningkatkan beberapa skillku ketingkat S, dan juga aku harus mencari cara membuat konsumsi manaku tidak terlalu boros” kata Zen.


Dalam pertempuran terakhir, Zen menyadari bahwa kekuatannya tidak sebanding dengan mana yang dimilikinya, dan menyebabkan kerugian ada pada dirinya. Memang dibutuhkan level yang tinggi untuk meningkatkan kapasitas mananya, tetapi bagi Zen cara itu sangatlah susah.

__ADS_1


Butuh waktu lama bagi Zen menaikan levelnya, jadi dia ingin mencari cara untuk meningkatkan kapasitas mana yang dimilikinya. Untung saja, Zen mempunyai smartphone dan langsung mencari solusi permasalahan yang sedang dia alami itu.


Beberapa pilihan muncul, tetapi diantaranya dikhususkan untuk beberapa ras, hingga Zen menemukan sesuatu yang menurutnya akan cocok untuk membantunya menyelesaikan masalahnya.


[Neutral: Mana Absorb]


Begitulah nama dari skill yang dilihatnya itu. Zen perlahan membaca deskripsi dari skill itu dan sangat puas dengan skill ini, dan memutuskan untuk mempelajarinya.


Skill Mana Absorb akan berfokus memanipulasi keadaan tubuh untuk mengangkut mana dari udara bebas memasuki tubuh pengguna skill ini. Skill ini sangat susah dipelajari, bahkan pengguna skill ini sudah tidak bisa ditemukan lagi di dunia ini.


“Sentuhan ya...” gumam Zen, karena cara kerja skill Mana Absorb berfokus pada sentuhan untuk menyerap mana.


Memang regenerasi mana pada umumnya sangat sederhana, yaitu tubuh akan meregenerasi mana sesuai tingkatan dan kekuatan yang dimiliki oleh seseorang secara otomatis. Contohnya jika kapasitas mana pada tubuh seseorang meningkat, maka regenerasi mana juga akan meningkat.


Kapasitas mana biasanya akan tergantung dengan level, karena jika level semakin tinggi maka kapasitas mana akan ikut naik. Namun job Mage memiliki beberapa keuntungan, yang dimana penggunaan mana mereka lebih sedikit dari orang yang mempunyai job berbeda dengan mereka.


Pengurangannya sangat drastis, yaitu sebanyak 50%. Dan hal ini juga yang membuat Zen bisa menggunakan kekuatannya berkali – kali, walaupun skill yang dia gunakan cukup menguras banyak sekali mana.


“Baiklah, mari kita melatih skill ini” kata Zen yang langsung mendownload tata cara melatih skill yang ingin dia pelajari itu.


Sangat sederhana sebenarnya cara kerja dari skill Mana Absorb, yang dimana Zen harus membiasakan kulitnya untuk menyerap mana. Yang membuatnya sulit sebenarnya, karena dia harus membuka seluruh pori – pori khusus di seluruh tubuhnya untuk menyerap mana.


Tetapi dia sudah memutuskan untuk mempelajari skill itu, dibarengi dengan mempelajari beberapa skill yang berguna lainnya, seperti Heal dan Regeneration.


“Aku butuh bantuan seseorang yang mempunyai skill penghancur” kata Zen.


Memang untuk meningkatkan skill regeneration, Zen harus sesering mungkin meregenerasi tubuhnya secara terus menerus, hingga tubuhnya terbiasa dan membuat kecepatan penyembuhannya akan memakan waktu yang sangat cepat.


“Tapi siapa ya....” gumam Zen hingga dia mengingat Alice.


Sebenarnya, Zen ingin mempelajari skill ini bersama Alice sebelumnya, karena Zen tahu Alice mempunyai elemen tingkatan yaitu Es. Tetapi sebelum dia meminta tolong kepadanya, Zen malah mempelajari skill itu melalui pria yang menyiksanya sebelumnya.


Saat ini skill regenerationnya masih tingkat C. Walaupun regenerasi lukanya lumayan cepat, tetapi belum cukup cepat jika Zen berada dikeadaan genting, seperti saat pria yang dilawannya sebelumnya masuk kedalam mode monsternya.


“Baiklah, aku akan meminta tolong kepadanya” kata Zen.


.

__ADS_1


.


Hari sudah mulai siang, Alice saat ini sudah menyelesaikan tugas mengajarnya. Dia mulai kembali menuju kediamannya dengan perasaan yang bahagia, karena dia sangat senang mengajarkan sesuatu kepada anak - anak penduduk dari desa ini. Apalagi, Alice menemukan beberapa anak yang berbakat, yang bisa dia rekomendasikan kepihak kerajaan agar diperhatikan.


Sebagai guru magang, status Alice lumayan terkenal dikalangan penduduk desa, karena mereka tahu Alice bisa membuat beberapa anak - anak penduduk desa ini mendapatkan rekomendasi dari pihak kerajaan karena talenta mereka, sehingga kehidupan mereka akan sejahtera dimasa depan.


“Hm... Makanan apa yang akan aku beli untuk Yui sekarang ya..?” gumam Alice yang sudah melihat beberapa kedai makanan saat dia ingin berjalan pulang menuju kediamannya.


Akhirnya dia memutuskan untuk membeli beberapa potong daging panggang dari sebuah kedai, dan langsung berjalan santai kearah kediamannya.


Kediaman Alice merupakan sebuah rumah sederhana yang diberikan pihak desa untuknya untuk ditinggali. Walaupun tidak sebesar rumah keluarganya yang berada di Ibukota kerajaan Raven, tetapi dia cukup nyaman tinggal disana.


“Aku pulang!” teriak Alice, walaupun dia tidak mendengar jawaban apapun dari sapaannya itu.


Namun saat dirinya masuk semakin dalam kediamannya, dia bisa mencium bau harum makanan dari arah dapur kediamannya. Dia berjalan semakin mendekat kearah dapur dan bisa mendengar suara tawa dari seorang anak kecil.


“Yui?” gumam Alice yang mengenali suara tawa yang dia dengar itu.


Alice dengan cepat melangkahkan kakinya kearah dapur kediamannya, hingga dia menemukan sesosok pria berambut putih yang sebelumnya terbaring disalah satu kamar dikediamannya selama seminggu, saat ini sedang memasak.


“Bagaimana?” tanya pria itu kepada adiknya, setelah dia menyuapkan sesendok makanan yang dimasaknya untuk dicicipi oleh adiknya.


“Enak Kak...” balas anak kecil disebelahnya yang merupakan Yui dengan raut wajah yang sangat bahagia.


Keberadaan Alice sempat tidak dihiraukan oleh mereka, hingga pria itu yang merupakan Zen akhirnya menyadari keberadaannya yang saat ini menatap kedua kakak beradik itu sedang berinteraksi dengan hangat.


“Selamat datang” kata Zen.


Alice mulai tersadar karena memperhatikan mereka berdua sedari tadi, tetapi Alice masih saja membeku dengan pemandangan itu, karena menurut Lenneth saat memeriksa keadaan Zen lebih detail, dirinya mungkin akan sadar selama sebulan.


“Kamu membawa apa Alice?” tanya Zen karena Alice saat ini sedang membawa sebuah bungkusan pada tangannya.


“A-Aku membeli daging panggang tadi.” Jawab Alice sambil menunjukan belanjaannya.


“Benarkah... lalu biar aku menaruhnya dipiring” kata Zen yang membuat Alice langsung memberikan barang bawaannya kepada Zen.


“Yui, temanilah Alice kemeja makan oke, Kakak akan menyelesaikan masakan Kakak dan membawanya kesana” kata Zen dan dibalas anggukan oleh Yui.

__ADS_1


Yui yang sebelumnya berada disebelah Zen, langsung berjalan kearah Alice dan menarik tangannya, untuk membimbingnya menuju meja makan dari kediaman milik Alice.


“Ayo Kak...”


__ADS_2