Ketegaran Hati Raisya

Ketegaran Hati Raisya
Berbohong


__ADS_3

Sementara aku harus mengkondisikan diri. Setiap pulang kuliah aku mengulur waktu untuk pulang ke rumah. Aku belum siap dipertanyakan panjang lebar oleh ummi dan abi. Tapi mau sampai kapan pun semua ini akan mereka ketahui.


Seperti malam ini setelah sholat isyak orang tuaku mengajakku nonton TV bersama, tentu aku tidak menolak. Karna sebelum menikah sudah kebiasaan kami selalu kumpul di ruang keluarga.


"Raisya, suamimu gk pulang ke sini nak, dari kemarin ummi gak lihat?" ummi bertanya.


" emm... kak Firman sedang keluar kota mengantar sepupunya mencari pekerjaan dari kemarin ummi." kataku berbohong.


"Oh iya, kalian baik baik saja kan?"


" Baik ummi, kami baik- baik saja."


Abi memang cenderung diam, karna bagi Abi anak perempuan yang sudah dewasa pasti akan lebih nyaman dekat dengan Ibunya. Jadi abi selalu menyerahkan masalah anaknya kepada ummi. Abi yang akan mengambil keputusan. begitu kira-kira.


"Syukurlah kalau kalian baik-baik saja Rai, karna mungkin tidak mudah bagimu menjalani rumah tangga sambil kuliah, dan juga kalian menikah karna dijodohkan. Ummi harap kalian bisa hidup bahagia. Seperti kami ini meski dulu kami dijodohkan tapi Alhamdulillah sampai saat ini kami bisa bersama."


"Iya ummi Raisya berusaha jadi istri yang baik, do'akan kami."


" Tentu nak, orang tua pasti ingin yang terbaik bagi anaknya." abi menimpali.


Aku tahu orang tuaku bukan pemaksa. Mereka menyetujui perjodohan ini karna perjanjian antara Orang tua mereka, mungkin mereka tidak ingin mengecewakan orang tua mereka. Begitu juga aku yang tak ingin orang tua dan nenekku kecewa.


Meski sedang nonton sinetron tapi pikiranku tidak ada di sini. Anganku berkelana memikirkan gimana masio rumah tanggaku nanti.


" Ya Allah maafkan hamba sudah berbohong kepada orang tuaku, hamba tidak mau membuat mereka khawatir." batinku dalam hati.

__ADS_1


Tiga hari berlalu, belum ada tanda-tanda suamiku menghubungiku ataupun pulang. Ibu Kak Firman juga belum mengabariku. Aku tidak tahu apa yang harus aku perbuat. Kupasrahkan saja kepada Tuhan.


Tiga hari ini, kulalui dengan hati gelisah. Meski begitu aku harus tetap tegar di hadapan semua orang. Aku harus pura-pura bahagia di mata mereka. Aku harus siap dengan segala situasi yang akan aku hadapi. Aku harus kuat, ini sudah takdir. Tuhan tidak akan menguji hambaNya di luar batas kemampuan hambaNya.


...****************...


Setelah empat hari aku selalu gagal menghubungi nomer suamiku. Kali ini aku tetap mencoba. Dan usahaku tidak sia-sia, nomernya aktif meski tidak langsung diangkat.


Setelah mencoba berkali-kali akhirnya diangkat juga.


"Assalamu'alaikum kak."


"Wa'alaikum salam."


"Kakak lagi dimana sekarang?"


"Aku sangat kuatir, kakak sama sekali tidak ada kabar."


"Iya aku baik-baik saja, kamu jangan pikirkan aku."


"Kenapa kakak menghilang, aku nunggu di kampus karna kakak janji mau jemput."


" Maaf, maafkan aku sudah menjadi suami yang tidak becus."


"Tidak apa kak, aku bisa mengeri. Lalu kapan Kakak mau pulang?"

__ADS_1


"Mungkin lusa."


Aku tidak mau terlalu banyak bertanya biarlah dia pulang terlebih dahulu agar kami bisa berbicara dengan baik-baik. Tidak etis rasanya jika harus menyelesaikan maslah di telpon. Karna takut akan ada kesalahpahaman.


" Jaga kesehatan kak jangan lupa makan dan sholatnya."


" hem... dik ." Dia menjeda ucapannya.


" iya kak...."


" Banyak laki-laki yang baik, seribu laki-laki baik yang jauh lebih baik dari aku. Dan satu diantara mereka bisa membahagiakanmu. tidak sepertiku yang mengabaikanmu."


"kmKakak ngomong apa sih? Kakak adalah suamiku, imamku kenapa harus ngomong ngelantur kayak gini? Kakak pulang dulu kita bicara baik-baik, aku tunggu lusa."


" Baiklah lusa aku pulang, Assalamu'alaikum."


"wa'alaikum salam."


Setelah menutup telpon tanpa terasa cairan bening menetes dari mataku. Bingung, marah, kesal, sakit, rindu campur jadi satu. Sebagai seorang wanita sekuat apapun aku, pasti butuh tempat bersandar. Dan seharusnya suamiku tempat yang paling nyaman untukku saat ini.


Tidak bisa dibohongi, meski belum ada rasa cinta diantara kami, tapi aku sudah menyayanginya. Meski dia selalu berubah tak tentu dengan sikapnya. Aku menyayangi dan menghormatinya sebagai seorang suami. Mungkin orang akan mengatakan bahwa aku ini bodoh. Tapi tentang perasaan tidak ada yang bisa memaksa atau merekayasa.


Saat ini hanya do'a dan do'a yang selalu aku andalkan kepada Tuhanku.


"Ya Allah hamba tau ini adalah ujian dariMu. Kuatkan hamba dalam menghadapi semua ini. Bukakanlah hati suami hamba agar dia mau menerima hamba jika memang kami ditakdirkan masih berjodoh amin."

__ADS_1


🍀tak perlu sebuah alasan untuk mencintai, karna cinta tak butuh alasan🍀


Terima kasih sudah mau mampir di karya aku yang pertama kakak readers, maaf jika belum menemukan kepuasan di dalam karyaku ini.


__ADS_2