
Kami memutuskan untuk menginap di sini malam ini. Mungkin ada benarnya kata Mas Haris.Kita butuh suasana baru untuk menciptakan sesuatu yang baru. Aku sudah menghubungi Ummi, kalau kami malam ini tidak pulang. Besok setelah shalat Subuh kami akan pulang. Karena aku harus masuk mengajar.
Malam ini kami makan malan di cafe yang ada di penginapan. Suasana persawahan dengan pemandangan langit penuh bintang. Ada beberapa lampion yang berbentuk bunga dan hati. Hanya ada beberapa orang yang menginap di sini. Karena kamar yang disediakan hanya ada 20 kamar. Kami sangat menikmati makan malam dengan menu ala pedesaan.
"Sayang, maaf ya! Kita hanya bisa bulan madu yang dekat saja, dadakan pula. Kamu tahu sendiri, aku paling tidak bisa menunda apa yang terbesit dalam pikiranku. Kamu bilang saja apa yang kamu mau lagi? Semoga Allah segera menitipkan benih cinta kita di rahimmu."
"Aku sudah senang meski hanya diajak ke sini, Mas. Aku tidak mau meminta lebih darimu. Cukup tetap menjadi lelakiku yang apa adanya. dan setia hingga akhir hayat nanti."
Mas Haris menggenggam tanganku lalu mrngecupnya.
"Sayang, seharian ini kamu so sweet sekali. Aku merasa menjadi anak ABG yang baru jatuh cinta."
"Ish, Mas! Kamu itu ada-ada saja."
"Apa kamu mau keluar untuk beli sesuatu, sayang? Martabak manis atau apa gitu?"
"Em.. tidak, Mas. Aku sudah kenyang."
"Ya sudah, kalau begitu ayo kita kembali ke kamar."
Akhirnya kami kembali ke kamar. Karena belum mengantuk kami nonton TV. Aku meminta Mas Haris untuk menyetel film India. Karena aku suka sekali film India. Mas Haris mengikuti kemauanku.
"Sayang, kenapa kamu suka film India?"
"Ya, suka aja Mas! Bisa menghayal kalau nonton Film India. Nggak paham dengan artinya, tapi lagunya enak didengar, pingin goyang gitu."
"Ah masa sih? Coba digoyang!"
"Maass..."
"Iya, Sayang... Ayo dicoba, haha...."
Malam ini dingin sekali, aku tidak lepas dadi dekapan Mas Haris. Setelah dua kali dia menanam benih di rahimku, akhirnya kami tertidur sampai menjelang waktu Subuh.
"Mas, bangun... ini sudah mau Subuh! Katanya kita akan cek out pagi-pagi?"
"Hem... dingin sayang." Mas Harus malah menarik tubuhku hingga terjatuh di atas tubuhnya. "Biarkan begini dulu, sayang."
"Tapi..." Sebelum aku melanjutkan perkataanku. Bibirku sudah dibungkam dengan bibirnya. Dia me*umat dengan rakusnya. Sampai aku kehabisan nafas.
Aku memukul bahunya untuk melepaskan pagutan kita.
"Hehe... maaf, Sayang. Bibirmu manis sekali."
"Ayo bangun! Ini sudah mau Subuh, Mas."
"Minta sekali lagi ya, Sayang. Pliss..." Dengan raut wajah memelas, Mas Haris memohon.Tentu aku tidak bisa menolak keinginannya.
"Baiklah." Jawabku singkat.
Mas Haris mencumbuuku satu kali lagi, hingga aku ter*ngsang dan terbuai. Aku tidak sadar jika miliknya sudah menusuk masuk ke dalam. Sampai akhirnya kami menuntaskan percintaan di pagi ini. Kami mandi bersama dan shalat berjama'ah. Setelah itu kami siap-siap untuk cek out.Jam 5 pagi kami sudah pulang menuju rumah. Dan ham 6 pagi kami sampai di rumah Abah.
Jam 7 pagi, aku sudah siap untuk berangkat ke sekolah. Kali ini aku diantar dengan mobil.
__ADS_1
...----------------...
Satu bulan kemudian.
Kali ini aku sedang berada si depan lemari es. Akhir-akhir ini aku suka menggerogoti es batu. Sampai Ummi memarahiku, karena aku punya alergi dingin. Tapi entah kenapa, aku tidak merasakan alergi seperti biasanya.
Malam ini Mas Haris datang terlambat. Karena tukang yang membangun rumah kami lembur. Jadi mau tidak mau Mas Haris ikut memantau, takut ada sesuatu yang diperlukan.
"Mas, baru pulang?"
"Iya, Sayang. Maaf ya! Tadi tukangnya maksa, mau lembur katanya biar cepat selesai ngecornya. Aku mandi dulu, ya."
"No no... Jangan Mandi!"
"Lho, kenapa? Aku gerah, Dek! Nggak kuat ini bau asem banget. Dari tadi siang aku nggak mandi lagi."
"Coba sini, aku cium keteknya! Asem banget ya?"
"Eh eh.. jangan! Nanti kamu pingsan."
"Lebay kamu, Mas. Sini nggak!" Aku mendorong Mas Haris sampai terduduk di tepi kasur. Lalu membuka kerja lengan pendek yang dipakainya.
"Dek, kamu mau ngapain? Mau memper*osaku?"
"Dih, pede banget!" Aku mendorong tubuh Mas Haris, sampai terjungkal dan terlentang di kasur. Aku buka sebelah keteknya. Lalu menindihnya dan menghirup keteknya.,
"Sayang, kamu ngapain? Jangan!"
"Diam, Mas! Pelit banget! Aku cuma ingin cium keteknya. Mas diam saja!"
"Nggak usah! Kalau mandi nanti beda baunya nggak sesedap ini."
Akhirnya Mas Haris pasrah menerima perlakuanku. Setelah dirasa cukup, aku menyuruhnya untuk mandi.
"Terima kasih ya, Mas! Sekarang kamu boleh mandi." Suamiku heran melihatku. Buru-buru dia lari ke kamar mandi.
Pov Haris
Aku shock saat pulang ke rumah. Istriku melarangku untuk mandi. Kenapa dia aneh sekali? Padahal gerah sekali rasanya.Dia malah menahanku di kasur, dan mencium ketekku. Aku tidak bisa menghindarinya, dia menindiku. Ada apa dengan istriku ini? Masa iya dia kesambet? Nggak mungkin, deh!
Mas Haris keluar dari kamar mandi dan shalat Isya. Entah kenapa aku melihat aura ketampanan suamiku berlipat ganda saat dia mengenakan baju koko putih. Aku tersenyum memandangnya.
"Sayang, kamu kenapa kok senyum-senyum sendiri? Aku jadi merinding!"
"Emngnya aku hantu, Mas?" Aku pura-pura merajuk an cemberut.
"Ti-tidak, bukan itu maksudku sayang!"
"Terus apa? Mas mau bilang kalau aku aneh?"
"Bu-bukan begitu! Istriku malah makin cantik sekarang, pipinya semakin chabi, dan gunungnya semakin montok." Mas Haris menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ayo makan, Mas! Aku juga belum makan malam karena nungguin Mas pulang."
__ADS_1
"Ayo, sayang."
Kami keluar ke dapur dan makan di meja makan berdua. Ummi dan Abah sudah makan malam setelah shalat Isya. Sekarang sudah jam 9 malam, mereka sudah masuk ke kamar.
"Sayang kenapa kamu minum air dingin? Biasanya kamu nggak mau."
"Pingin, Mas."
Mas Haris tidak proses lagi.
Setelah selesai makan bersama kami kembali ke kamar. Dan siap-siap untuk tidur. Biasanya Mas Haris tidur tanoa menggunakan baju. Dia hanya akan pakai sarung saja. Suamiku sudah berbaring terlentang di kasur.
"Kamu capek, Mas?"
"Iya, sayang. Capek banget! Ngantuk pula."
"Mau aku pijit?"
"Boleh, dengan senang hati."
"Kamu tengkurap ya, Mas. Aku mau ganti baju dulu."
Mas Haris melakukan seperti yang aku suruh. Kemudian aku memijat Mas Haris di bagian belakang mulai dari bawah sampai atas.
"Gimana, Mas? Enak?"
"Hem... enak banget, tangan kamu empuk." Ujarnya dengan mata terpejam.
"Berbalik, Mas!"
Mas Haris merubah posisinya menjadi terlentang. Rupanya dia masih memejamkan matanya. Aku memijat dari bawah, memutar mutar bagian telapak kakinya. Aku naik ke atas ke bagian perutnya. Dan bergerilya di bawah perut. Meremas senjata miliknya. Aku tidak tahu kenapa malam ini aku sangat menginginkannya. Aku seperti wanita penggoda, yang sedang menggoda suamiku sendiri.
"Au... Sayang!" Suamiku tersentak dan membuka mata. Dia terpaku melihatku sedang mengenakan lingerie hitam dengan belahan dada yang cukup menonjol dan belahan paha yang cukup tinggi. Mas Haris mrngucek matanya.
"Sayang... kamu."
"Kamu capek dan ngantuk ya, Mas? Ya sudah selamat tidur, mimpi indah." Aku pura-pura berbaring dan tidur membelakanginya.
"Sayang, aku nggak capek kok!" Mas Haris membujukku dan mendekapku dari belakang. Aku hanya menahan tawa menunggu reaksinya. "Senjataku sudah siap tempur, sayang. Sentuhanmu membangunkannya. Ayo kita lanjutkan."
"Katanya tadi capek?"
"Capeknya sudah hilang, karena kamu sudah memijatnya."
"Baiklah, dengan senang hati." Aku berbalik dan tersenyum kepadanya. Malam ini kami bercinta lagi.
Aku merasakan ada yang berbeda pada Pay*daraku. Rasanya lebih berkembang dan ujungnya sedikit ngilu.
Bersambung.....
...****************...
Ayo siapa di sini kakak readers yang suka ciumin ketek suami?😂
__ADS_1
Terima kasih sudah selalu support karyaku. Semoga tidak bosan dengan kehaluan author.
See you again kakak....