Ketegaran Hati Raisya

Ketegaran Hati Raisya
Pindahan


__ADS_3

Tiga bulan berlalu.


Tidak terasa hari ini adalah acara tasyakkuran 7 bulanan dan pindahan rumah. Sudah dua hari ini kami menempati rumah baru. Mas Haris mempekerjakan dua asisten rumah tangga untuk membantuku. Yang satu bertugas untuk masak dan belanja, dan yang satu bertugas membersihkan rumah. Kedua asisten kami masih ada hubungan saudara dengan Mbak Inah. Jadi Mas Haris sudah tidak meragukan lagi kinerja mereka. Karena Mbak Inah sudah bekerja selama 10 tahun di rumah Ayah, dan tentu Mbak Inah sudah memberi tahu pekerjaan mereka.


Dari kemarin keluargaku dan keluarga Mas Haris sudah ada yang menginap, seperti orang tuaku, Bibiku, dan orang tua Mas Haris.


Mereka sangat antusias membantu persiapan untuk acara hari ini. Mas Haris juga mengundang seluruh anak buahnya, dan orang-orang yang saat ini bekerja dengannya.


Jam 1 siang acara akan dimulai. Saat ini para undangan sudah mulai berdatangan. Hidangan dan souvenir sudah siap untuk dibagikan. Setelah acara do'a bersama, dilanjut dengan acara siraman. Aku sudah dipake up tipis oleh MUA. Dengan memakai hiasan melati di kepala dan bagian atas badan. Acara berjalan dengan lancar dan cukup sakral. Aku sangat bersyukur atas segala pencapaian kami saat ini. Apa lagi dengan diberikannya dua malaikat yang akan menjadi penerus kami nantinya. Aku memang sengaja tidak ingin tahu jenis kelamin calon bayiku. Yang penting pertumbuhan mereka bagus. Biarlah akan menjadi kejutan saat mereka lahir nanti.


"Sayang, kenapa kamu menangis? Ini hari bahagia." Mas Haris menghapus air mataku dengan sapu tangan miliknya.


"Aku menangis bahagia, Mas. Terima kasih selalu menemaniku sejauh ini. Semoga ke depannya kita menjadi orang yang lebih baik lagi."


"Amin... Kamu adalah Ibu dari anak-anakku. Aku berjanji akan selalu ada di sampingmu, sampai ajal memisahkan kita."


"Meskipun setelah lahiran nanti aku akan gendut, jelek, dan tidak mulus lagi?"


"Aku tidak peduli, dari awal aku mencintaimu bukan karena rupa, tapi hati."


"So sweet.... Kalian bikin iri deh!"


Sofi tiba-tiba bersuara menyaksikan kesyahduan kami berdua.


"Iya, kalian kayak anak ABG yang baru akan menikah, haha..." Nuri menimpali.


Kami sangat bahagia di hari ini. Untung saja Mas Firman dan Septi tidak bisa hadir ke acara kami, karena anaknya yang paling kecil masuk rumah sakit. Katanya sakit radang otak. Sebenarnya aku tidak ingin hal yang buruk terjadi kepada keluarganya, itu semua sudah takdir dari Allah. Mas Haris sudah mengundangnya untum menghargai, karena dia juga termasuk stafnya Mas Haris. Aku hanya tidak ingin terjadi keributan atau sesuatu yang tidak mengenakkan hati. Kalau Mas Firman mungkin masih bisa menjaga sikap, tapi kalau Septi? Dia selalu tidak ingin kalah, tidak pernah sadar akan perbuatannya.


Acara kami sudah selesai. Para undangan sudah pergi satu per-satu. Saat ini hanya tinggal keluarga inti kami di rumah.


"Rumah kamu asri ya, Mbak? Ada play ground, taman depan, taman belakang. Aku suka dengan konsepnya." Ujar Sofi


"Alhamdulillah, rencananya nanti mau dibikin kolam renang kecil-kecilan di belakang."


"Wah, asyik itu, Tante! Zie dan Syifa bisa main ke sini terus nemenin adik kembar." Ujar Zie menimpali.


"Lha iya, ide bagus itu Zie! Kalau gitu om akan secepatnya bikin kolam renangnya!"


"Hore..." Zie melompat kegirangan.


Malam ini semua keluarga inti Mas Haris dan semua keluarga untuk menginap di rumah. Kami barbeque-an di taman belakang.


"Bang, masih ada unit yang kosong tidak di kelas ekonomi?"


"Ada sisa dua, Fan! Kenapa, apa kamu mau beli perumahan di sini?"


"Ada teman yang lagi cari, mungkin saja cocok. Sini kasih brosurnya!"


"Ok, sebentar."

__ADS_1


Mas Haris masuk ke kamar mengambil brosur yang dimaksud.


"Ini Fan!" Mas Haris menyerahkan brosurnya kalau untuk yang VIP masih proses, tiap sudah ada yang pesan lima unit. Rencananya aku mau bangun mini market biar penghunivdi sini tidak perlu repot belanja keluar. Aku juga mau buka cabang butik untuk istriku di lahan sini juga. Kalau kamu mau, nantik aku akan bangun cafe sekalian. Biar kamu yang mengelolanya, bagaimana?"


"Serius ini, Bang?"


"Iya serius, nanti untuk konsepnya biar aku bicarakan dengan arsitekturnya. Aku ingin tema yang kekinian, agar memikat para pengunjung. Jadi cafenya bukan hanya untuk penghuni perumahan, tapi juga dari luar. Asalkan ketika masuk, tetap harus ada laporan di pos satpam. Untuk menjaga keamanan."


"Boleh juga, Bang! Saya ngikut apa kata ownernya saja!"


"Tapi kamu jangan kaget ya! Arsitekturnya itu mantan suami Raisya."


"Apa? Yang benar saja, Bang?"


"Iya, benar! Dia bekerja kepadaku, mana aku tahu kalau dia mantannya istriku. Kerjanya bagus kok, aku tidak mau mencampurkan urusan pribadi dengan pekerjaan. Raisya juga sangat mendukung itu."


"Mbak Raisya mah emang dasar hatinya bagai malaikat, beda sama adiknya. Kalau adiknya masih bisa jadi setan."


Obrolan Irfan didengar oleh Sofi, sontak Sofi langsung menimpali.


"E e e... ada yang ngomongin aku kayaknya? Apa tadi ko ada setan-setannya?"Sofi meliat kedua tangannya di bawah dada dan berdiri di depan Irfan.


"Hehe, bu-bukan begitu maksudku, Ma! Maksudku begini, kalau Mbak Raisya itu hatinya lembut nggak tegang dia! Selalu memikirkan perasaan orang lain dan mengabaikan perasaannya sendiri. Nah kalau adiknya ini!" Irfan mencubit kedua pipi Sofi. "Hatinya masih bisa marah dan tidak terima kalau ada orang yang menyakitinya. dia wanita kuat yang bisa berontak, beda dengan Mbak Raisya kuat menahan diri. Tapi meski begitu aku cinta mati dengan istriku yang bar-bar ini."


Semua yang mendengar obrolan mereka, tertawa terbahak-bahak.


Keesokan harinya mereka pamit untuk pulang ke rumah masing-masing. Rumah kami kembali sepi hanya tinggal aku, Mas Haris dan kedua asisten rumah tangga kami, Mbak Jum dan Bi Leha.


"Sayang, kita sudah sampai! Kok kamu ngelamun sih?"


"Ah iya, maaf tadi hanya kepikiran suamiku."


"Aku? kenapa denganku?"


"Em... aku masih tidak menyangka bisa berjodoh denganmu, Mas. Perkenalan yang begitu singkat menurutku, tapi kita bisa menjalani sejauh ini. Bahkan buah cinta kita sudah akan segera lahir."


"Tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah. Nama kita sudah tercatat di lauhul Mahfudz, Sayang. Ayo kita turun, jadi beli tanaman nggak nih?"


"Hehe... iya jadi."


Seperti biasanya, Mas Haris membuktikan pintu mobil untukku. Saat ini kami sedang memilih tanaman anggrek gantung, janda bolong dan beberapa tanaman hias lainnya. Setelah selesai memilih, Mas Haris membayarnya.


"Pak kirimnya ke alamat ini, ya!"


"Oke Bis, beres! Sekitar sorean kami kirim, karena mobilnya masih dipakai untuk ngirim ke custumer yang sudah pesan dari kemarin.


"Iya tidak apa-apa, baiklah kalau begitu saya permisi dulu."


Kami pergi dari toko florist dan mampir ke butikku yang berada di kawasan Mall. Aku meminta Mas Haris untuk mampir ke sana, karena bulan ini aku belum mengecek laporan.

__ADS_1


Saat ini kami sudah di dalam Mall. Kami akan naik eskalator menuju lantai 3. Karena butikku ada di sana. Tiba-tiba ada anak kecil yang menabrak kakiku, hinggaku terkenal ke belakang. Untung saja Mas Haris langsung menahan tubuhku yang sudah sangat berat ini.


"Anak siapa ini? kemana orang tuanya?" Ujar Mas Haris dengan menahan emosi."Sayang kamu tidak apa-apa?"


"Aku baik-baik saja, Mas! Hanya kakiku sepertinya terkilir."


"Bisa dibuat jalan?"


"Bisa, tapi tolong dipapah." Mas Haris memapahku di depan sebuah toko aksesoris


"Mbak, bisa pinjam kursinya? Istriku sedang terkilir."


"Oh iya, ini Pak!"


"Terima kasih." Mas Haris menyuruhku untuk duduk di kursi." Biar aku pijat, Sayang."


"Au, pelan Mas!"


"Iya, ini sudah pelan." Mas Haris malah senyum-senyum.


"Kamu kok seneng lihat aku kesakitan, Mas?"


"Aku tidak senang, aku khawatir, Sayang. Tapi aku jadi ingat di Tanah Lot waktu itu, Sayang! Kamu takut banget aku nyentuh kulitmu, kalau sekarang malah minta disentuh terus." Ujar Mas Haris tidak berhenti tersenyum.


Suamiku kumat tengilnya.


"Mas, malu didengerin orang!"


"Biarkan saja, aku tidak malu tuh! Gimana udah baikan, Sayang? Coba gerakin, dan berdiri! Kalau tetap sakit, biar aku gendong saja!"


Aku mencoba seperti yang suamiku katakan.


"Sudah, Mas.Ini sudah bisa ditapakkan dan dibuat jalan."


"Alhamdulillah,kalau dipikir-pikir kakimu ini ternyata pembawa keberuntungan, Sayang."


"Kok bisa gitu?"


"Iya, karena kalau orang kan cintanya dari mata turun ke hati, kalau aku bisanya dari kaki naik ke hati, haha...."


"Ada-ada saja kamu, Mas."


Mbak penjaga toko hanya tersenyum memperhatikan kami.


Bersambung


...****************...


Terima kasih masih setia di sini kakak readers.😍🤗😘

__ADS_1


Jangan lupa,selalu dukung aku ya.


See you again...


__ADS_2