
Pov Faisal:
Andai aku boleh memilih, aku masih ingin memilikimu Rai. Tapi saat ini pilihanku tidak penting, yang terpenting bagiku adalah tidak ada yang menyakitimu lagi.Tidak ada yang menghilang lagi. Kamu adalah wanita kuat, dan patut diperjuangkan. Aku bukan tidak ingin memperjuangkanmu, tapi aku tak pantas memperjuangkanmu. Bukankah cinta yang sesungguhnya itu melihat orang yang kita cintai bahagia, meski bukan dengan kita. Dan cinta itu bukan hanya soal rasa senang, tapi pengorbanan. Semoga kamu segera menemukan kebahagiaanmu.
...----------------...
Saat ini aku sudah di rumah. Ummi dan Abi sedang menungguku di ruang keluarga. Tiba-tiba saja aku merasa mataku berkunang-kunang. Aku terjatuh tepat di pintu kamar. Dan aku hilang kesadaran.
"Rai....!" Ummi dan Abi Panik. Mereka segera memapahku, membawa masuk ke dalam kamar. Dan membaringkan aku di tempat tidur. Ummi membuka jilbabku danmemberi minyak angin di bagian hidung dan leherku. Menggosok telapak kakiku yang terasa dingin. Aku mulai mendapatkan kesadaranku, dan membuka mata.
"Alhamdulillah.... " Ucap syukur Ummi dan Abi.
"Rai, kamu kenapa?"
"Nggak tahu Ummi, tadi rasanya pandanganku berkurang-kunang. Aku memang sedikit demam tadi."
"Kamu belum makan, Rai?"
"Belum makan siang, Ummi. Tadi Rai tidur."
"Ya sudah, Ummi ambilkan nasi dulu biar kamu makan."
Ummi mengambilkan nasi dan sayur bening untuk aku makan. Sebenarnya aku tidak bernafs* makan, tapi lagi-lagi aku tidak ingin membuat keduanya khawatir.
Malam Harinya, Sofi dan Irfan datang membawa serta Baby Zie. Tidak lama kemudian disusul Mbak Rindi dan Mas Rendy beserta si kembar.
Aku masih terbaring lemah di tempat tidur. Tadi sudah diperiksa oleh Bu dokter Fina yang datang ke rumah. Aku hanya kelelahan, dan sedikit tertekan. Ditambah lagi tidak rutin makan.
Aku sangat senang saat Baby Zie dan si kembar datang, Sedikit mengurangi beban pikiran dengan mendengarkan ocehan mereka. Tidak ada pembahasan apapun malam ini. Mereka datang hanya ingin melihatku dan memberiku semangat.
Keesokan harinya, jam 9 pagi ada notif pesan masuk dari Mas Faisal.
๐ Mas Faisal
Assalamu'alaikum...
Rai, aku dengar kamu sedang sakit. Semoga sakitnya bukan karena masalah kita. Aku akan sangat berdosa jika memang itu kenyataannya. Aku minta maaf Rai, tolong jangan pikirkan apapun. Kamu harus sehat, anak didikmu pasti merindukanmu. Aku do'akan kamu cepat sembuh.
-
-
Sesak rasanya dadaku. Mas Faisal adalah laki-laki baik. Aku tidak ingin dia merasa bersalah atas kejadian ini. Karena ini bukan salahnya.
Aku segera membalas pesannya.
๐Raisya
Wa'alaikum salam....
Aku hanya sakit biasa Mas, karena telat makan dan kelelahan. Insyaallah akan segera sembuh. Terima kasih do'anya Mas.
-
__ADS_1
-
Tolong jangan memberi perhatian kepadaku, Mas. Karena aku tidak ingin terlanjur nyaman. Batinku dalam hati.
Aku segera meletakkan HP-ku kembali. Hari ini aku sendirian di rumah, Ummi dan Abi ke toko. Tadinya Ummi tidak mau berangkat karena mengkhawatirkan aku. Tapi aku meyakinkannya, bahwa aku baik-baik saja.
Jam 3 sore Ummi dan Abi datang. Aku sudah bangun tidur. Saat ini sedang membalas pesan dari Bu Lilik yang menanyakan keadaanku.
"Rai, ini Ummi tadi beliin kamu Martabak."
"Terima kasih, Ummi."
"Rai, Ummi tahu perasaanmu saat ini. Ummi yakin kamu kuat."
"Ummi sudah tahu?"
"Iya, Ummi dan Abi sudah tahu. Tadi malam Rindi sudah cerita. Ummi tidak bisa bayangkan gimana perasaanmu, Rai. Ummi juga kasian kepada Faisal. Tapi kalian sudah mengambil keputusan yang benar."
FLASH BACK ON
Ummi, Abi, Sofi, Irfan, Rindi dan Rendy, mereka berkumpul di ruang tamu.Si kembar bermain di kamar Raisya.
"Rin, ceritakan apa yang terjadi! Kenapa pulang dari rumah orang tua Faisal, Rai tidak seperti biasanya?" Ujar Ummi.
"Maaf, Tante. Ini di kuar bayangan kami. Aku tidak menyangka kalau akan jadi begini. Tante tahu? Ternyata Septi adiknya Ical adalah istri dari Firman."
"Firman Mantan suami Mbak Rai?" Sofi menimpali. Dan Rindi mengangguk dengan yakin.
"Ya Allah... dunia ini begitu sempit. Aku tidak bisa membayangkan perasaan Raisya saat ini." Ujar Ummi.
Akhirnya Rindi menceritakan semua yang terjadi. Mulai dari acara di rumah orang tua Mas Faisal. Dan saat Faisal mrnyusulku ke rumah Rindi. Juga niat Faisal dan keluarga akan melamar Raisya.
"Aku kasian sama mereka berdua, Tante... Om. Mereka hanya korban dari masa lalu. Tapi inilah yang terjadi."
"Aku juga tidak akan setuju jika Faisal dan keluarganya tetap akan melamar Raisya. Meski aku tahu Faisal sangat menghargai Raisya." Ujar Abi tegas.
"Ini ujian, Om. Tapi aku mungkin tidak kuat kalau berada di posisi Raisya." Rindi menimpali lagi.
"Allah tahu yang terbaik untuk Raisya. Beruntung mereka belum bertunangan. Kalau tidak, aku tidak bisa membayangkannya." Ujar Ummi.
"Saat ini kita tidak usah banyak bertanya kepada Raisya. Cukup kita beri dia dukungan dan semangat." Kata Abi.
Pembicaraan mereka selesai. Baik Sofi, maupun Rindi pamit pulang karena sudah jam 10 malam.
FLASH BACK OFF
-
-
Dua hari berlalu, kini aku sudah sembuh Dan mulai masuk sekolah. Tiga hari aku ijin karena sakit, rasanya aku sangat merindukan anak didikku. Meskipun kadang mereka nyebelin, tapi mereka bisa membuat hidupku berwarna dan menjadi semangatku.
Saat ini aku sedang berada di Kelas 8B. Meski hatiku belum baik-baik saja, tapi aku harus tetap kuat. Tidak seharusnya aku menampakkan kesedihanku di depan anak didikku.
__ADS_1
"Bu... Ibu." Panggil salah satu siswa yang bernama Ridwan. Anaknya rajin meski agak sedikit tengil.
"Iya, ada apa, Wan?" Aku mendongak ke arah Ridwan.
"Ibu tahu nggak kenapa tadi malam bintang tidak nampak?"
"Ibu nggak tahu! Ibu nggak lihat langit." Ujarku jujur.
"Karena ada mendung di wajah Ibu."
"Huuu.... " sorak teman yang lain kepada Ridwan. Aku hanya tersenyum menanggapinya.
"Bu jangan tersenyum, Bu!" Ujar Ridwan kembali."
"Kenapa, Wan?" Tanyaku.
"Saya takut tenggelam, sumur di pipi Ibu terlalu dalam."
"Huuu...." Mereka kembali bersorak. Ya begitulah keseruan mereka di kelas.
"sssttt! sudah jangan berisik. Ayo kumpulkan bukunya! Kamu jangan ngegombal terus, Wan! Belajar yang benar."
Hari yang sangat melelahkan. Karena tiga hari ini aku hanya tiduran di rumah, dan baru hari ini masuk ke sekolah lagi. Sejak Mas Faisal mengirim pesan menanyakan tentang keadaanku, dia sudah tidak ada kabar lagi. Mungkin lebih baik begitu. Aku tidak ingin semakin menyiksa hati, dengan Mas Faisal masih memberikan perhatiannya kepadaku.
HP-ku berdering, ada nomor baru yang tidak aku kenal. Aku tidak ada keinginan untuk mengangkatnya. Namun karena berdering berkali-kali, aku terpaksa menerima panggilan itu.
"Hallo...!" Ucap orang di seberang sana. Suara perempuan, yang sepertinya aku pernah mendengarnya.
"Hallo, Assalamu'alaikum." Ucapku.
"Wa'alaikum salam! Ini aku, Ani! Septiyani!" Ucapanya lagi. Pantas saja aku tidak asing dengan suara ini. Aku hampir lupa kalau nomor ini dulu pernah menelponku.
"Iya, ada perlu apa menelponku?"
"Wah, merasa hebat ya kamu! Kak Faisal sudah bela-belain kamu di depan keluarga. Tapi kamu menolaknya! Bahkan dia rela tidak akan pulang ke sini demi bisa mempertahankan kamu! Dan dia juga memarahiku habis-habisan karena membelamu! Diablebih melihat perempuan yag baru dia kenal daripada keluarganya sendiri!"
"Maaf aku tidak pernah minta untuk dibela. Dan untuk keputusan kami, itu hak kami. Aku menolaknya itu demi kebaikan kita. Bukankah itu yang kamu inginkan!? Dan kamu tidak perlu khawatir, aku tidak akan pernah ada di sekitarmu lagi, apa lagi merebut suamimu!"
"Gara-gara kamu, Kak Faisal akan pergi keluar negeri!"
Aku terkejut mendengarnya. Tapi setenang mungkin aku menanggapinya.
"Jangan selalu menyalahkan orang lain!Intropeksi diri! Aku sudah mengalah sampai saat ini. Tolong jangan usik ketenanganku. Kamu seorang Ibu, dan sebentar lagi akan melahirkan lagi. Pikirkan dan ucapkan yang baik-baik! Karena karma tidak semanis kurma! Assalamu'alaikum..." Aku menutup panggilan telpon. Lega rasanya bisa mengeluarkan unek-unek dalam hati.
Aku-pun memblokir nomornya, karena aku sudah tidak ingin diusik lagi oleh Septi. Sudah cukup aku diam dan bersabar.
...*********...
-
-
See you again kakak...
__ADS_1
Jangan bosan untuk mampir ya.
Thank you๐ค๐