Ketegaran Hati Raisya

Ketegaran Hati Raisya
Perkenalan


__ADS_3

"Cantik sekali, seperti tantenya." Pria itu memuji Baby Zie. Namun pandangannya beralih padaku. Aku pura-pura cuek, dan tetap mengambil fotonya dengan Baby Zie.


"Sudah Mas! Ini HP anda!" Aku mengambil Baby Zie dari gendongannya.


"Terima kasih Mbk. Maaf kalau boleh tahu Mbak Namanya siapa?" Pria itu berbasa-basi.


Namun Baby Zie terbangun dan menangis. Tidak sempat menjawab pertanyaannya, aku segera pamit membawa Banyak Zie ke Mamanya.


"Dik! Baby Zie udah bangun nie, mungkin haus." Aku menyerahkan Baby Zie ke Mamanya. Sofi masuk ke kamarnya untuk memberi ASI. Memang Baby Zie dikasih ASI, tapi juga dibantu susu formula. Karena ASI-nya Sofi kurang lancar, dan nantinya Baby Zie akan sering ditinggal kuliah oleh Mamanya.


Semua tamu sudah pulang, tinggal beberapa keluarga yang pulang.


"Tante Rai! Alfan pingin beli es krim." Alfano datang merengek kepadaku.


"Mana Mamamu, Nak?"


"Di toilet, lagi nganter Fia pup."


"Ya sudah Ayo! Tante antar." Aku menggandeng tangan Alfano menuju mini market depan rumah Sofi. Di dalam mini market, kami bertemu dengan pria yang minta foto dengan Baby Zie tadi.


"Hai jagoan, mau beli apa?" Dia mendekat dan menyapa Alfano, kemudian melirik ke arahku.


"Om Ical, aku pingin es krim." Rupanya Alfano sudah tahu nama pria ini sekarang.


"Ayo pilih yang kamu suka, biar Om yang bayar. Ambil juga untuk kembaranmu! Tanteku juga suruh ambil!" Ucaonya, kembali melirik-ku.


"Maaf Mas, tidak perlu repot-repot! Saya bawa uang. Biar saya bayar sendiri."


"Tidak apa-apa, Mbak! saya ingin membelikannya."


Aku tidak ingin berdebat, aku iya-kan saja agar tidak terlalu lama. Alfan mengambil bebera es krim ke dalam keranjang. Dan kemudian kami ke kasir.


"Mbak, tambah rokok itu satu." Pria yang dipanggil Om Ical itu menunjuk satu rokok di belakang kasir.


"Sudah Pak?" Kasir memastikan.


Pria itu menoleh kepadaku, " apa kamu tidak ingin beli sesuatu?" Dia bertanya kepadaku.

__ADS_1


"Tidak, terima kasih." Jawabku.


" Totalnya seratus lima puluh dua ribu Pak."


" Ini Mbak." Dia memberikan dua lembar uang warna merah.


"Terima kasih Pak." Kasir memberikan uang kembaliannya.


Kami bertiga keluar dari mini market, dan menyebrang jalan raya untuk kembali ke rumah Sofi. Saat ini kami sedang bergandengan tangan bertiga, dengan Alfan yang berada di tengah, tangan kirinya menggadeng tanganku dan tangan kanannya menggandeng tangan pria itu. Kalau orang lihatvmungkin dikira kita adalah saru keluarga yang harmonis. Aku hendak melepas gandengan tanganku dari Alfan, tapi alfan mslah mempererat gandengannya. Alfan mengajak pria itu ngobrol, aku berjalan tanpa membuka suara.


Di rumah Sofi, Mbak Rindi dan Mas Rendy sedang duduk di taman depan menemani Fia melihat ikan hias. Dengan tatapan mengintimidasi, Mbak Rindi memperhatikan kami yang berjalan mendekat kepadanya.


"Anakmu nih , Mbak! Maksa beli es krim!" Tuturku pada Mbak Rindi.


"Ehm...anakku ya! Apa jangan-jangan cuma modus kalian? Bilang aja mau jalan bareng, tapi anakku dijadikan alasan!"


"Alfan yang minta tadi Ma." Dengan polosnya Alfan berkata, membuat Mamanya salah tingkah. Padahal niatnya hanya menggoda kami


"Rupanya kalian sudah saling kenal Rai?" Aku tidak menjawab pertanyaan Mbak Rindi.


Alfan sibuk memakan es krim-nya dan membagi dua es krim kepada kembarannya.


"Oh gitu, kenalan dulu gih! siapa tahu ada jalan menuju Rhoma!" Gurau Mbak Rindi.


"Perkenalkan, nama saya Faisal! tapi teman-teman biasa panggil Ical." Faisal hendak bersalaman kepadaku, namun ditepis oleh Mas Rendy.


"Bukan muhrim, Cal! Raisya nggak mungkin mau kamu salami." Faisal menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Maaf!" Ucapnya kembali dengan salah tingkah.


"Saya Raisya, Mas." Aku menangkupkan kedua tangan di dada. "Maaf tadi memang tidak sempat menjawab karena Baby Zie nangis."


"Saya kira, anda tidak mau kenalan sama saya." Ucapnya kembali. Saya hanya tersenyum dan menundukkan pandangan.


"Ehm ehm... kenalannya dilanjut kapan-kapan Cal! Kita sudah mau pulang. Itu sih kalau masih minat kenalan!" Mbak Rindi menimpali.


Aku hanya geleng-geleng kepala menanggapi ucapan Mbak Rindi. Sepupuku yang satu ini memang orangnya supel dan suka bercanda."Kamu harus berusaha keras!" Mbak rindi berbisik kepada Faisal.


Aku mendengarnya meski tidak terlalu jelas, kemudian aku pamit dan masuk ke dalam meninggalkan mereka.

__ADS_1


"Dari mana kamu Rai?"Ummi bertanya.


"Nganterin Alfan beli es krim di depan, Ummi."


"ya sudah ayo kita pulang Rai, Ummi sudah pamit sama Sofi dan orang tua Irfan."


Kami-pun pulang ke rumah. Rumah kami rasanya sepi, karena sekarang Sofi dan Baby Zie sudah kembali ke rumah mereka.Tidak akan ada suara tangis bayi yang akan aku dengar setiap hari. Ummi pasti akan sering mengunjungi cucunya. Beliau sangat menyayangi Baby Zie. Memang benar kata orang kasih sayang kepada anak akan berkurang ketika sudah ada cucu. Maka cucu yang menjadi prioritas mereka.


Akhir-akhir ini Ummi sangat antusias menyuruhku untuk segera menikah lagi. Ummi tidak mau aku merasa merasa kesepian, dan selalu menjadi omongan orang.


FLASH BACK ON


Saat Sofi baru saja meninggalkan rumah, dan membawa Baby Zie kembali ke rumahnya.


"Rai, apa kamu belum menemukan seseorang yang berarti dalam hidupmu, Nak?"


"Maksud Ummi?"


"Maksud Ummi, apa kamu tidak punya tambatan hati? Pacar gitu."


"Tidak! Ummi tahu sendiri, Rai jarang punya teman laki-laki. Dan Rai juga sedang tidak ingin pacaran. Rai bukan takut patah hati Ummi, tapi Rai takut Allah murka. Abi selalu berpesan, kalau memang ada yang serius dengan Rai, langsung saja menemui Abi!"


"Lalu bagaimana kamu bisa menemukan orang yang serius denganmu Rai? Sedangkan kamu tidak punya teman dekat.Kamu selalu sibuk mengajar! Ummi tidak mau melihatmu kesepian, Sofi sudah menemukan kebahagiaan. Sebagai orang tua, kami juga ingin melihat kamu berkeluarga. Mumpung kami masih sehat, Rai."


"Rai selalu berdoa'a, supaya Ummi dan Abi diberikan kesehatan dan panjang umur. Agar suatu hari nanti bisa melihat Rai bahagia."


"Tapi Ummi mohon, Rai! Jangan menutup diri jika ada yang mendekatimu. Tidak ada salahnya mengenal, siapa tahu itu jalan jodohmu.


"Insyaallah Ummi, do'akan saja."


"Ummi selalu mendo'akan kalian. Anak-anak Ummi, tidak ada yang Ummi bedakan. Kalian sama di hati Ummi."


"Terima kasih Ummi." Aku memeluk Ummi dari samping.


Sedih rasanya mendengar permintaan Ummi. Aku tidak bisa berbuat apa-apa, Ummi dan Abi juga tidak mungkin menjodohkan-ku lagi. Mereka sudah merasa menjadi orang tua yang egois di pernikahanku yang lalu. Padahal aku tidak pernah menyalahkan mereka, ini semua sudah Qodarullah.


FLASH BACK OFF

__ADS_1


...****************...


Masih lanjut kakak, jangan lupa mampir lagi. Terima kasih atas dukungannya. See you again reader's.


__ADS_2