Ketegaran Hati Raisya

Ketegaran Hati Raisya
Ingin mantu


__ADS_3

Kasihan sekali suamiku, maaf Mas! Saat ini anak-anak kita prioritas nomer satu, kamu ngalah dulu ya. Lirihku dalam hati, sambil kuusap dan kukecup keningnya. Dia masih pulas dalam tidurnya. Aku-pun segera tidur juga.


Keesokan harinya,


Mas Haris akan pergi memantau pembangunan mini market. Aku sedang menjemur si kecil yang sedang tidur di trolinya di halaman rumah. Kami sengaja membeli troli gandeng untuk memudahkan membawa mereka.


"Sayang, aku berangkat dulu."Mas Haris pamit dengan muka masamnya.


"Kok mukanya cemberut, Ayah kenapa?"


"Ayah kurang vitamin C."


Mas Haris berjongkok mensejajarkan diri dengan si kembar.


"Kalian tersenyum? Senang ya, Ayah kalah, hem?" Mas Haris berbicara seolah anaknya menanggapi.


"Memangnya kamu main game, yah?"


"Main petak umpet."


"Jangan cemberut gitu, Ayah jelek kalau cemberut. Nanti Bunda kasih vitaminnya double, asal Ayah senyum dulu. Ayo mana senyumnya?" Aku merayu Mas Haris.


"Bunda sekarang sudah pintar merayu, ya? Awas nanti aku tagih janjinya, hehe..."


"Ya sudah sana kalau mau berangkat! Nanti siang aku minta antar ya, yah? Mau ke apotek beli pil kontrasepsi."


"Iya siap, kalau begitu aku berangkat dulu. Salwa, Salman jangan nakal ya? Jangan bikin Bundanya capek! Ayah pergi kerja dulu."


Mas Haris mencium kedua pipi si kembar, dan terakhir mencium keningku. Mas Haris pergi dengan sepeda ontelnya, sekalian olahraga katanya.


Malam harinya,


Kami baru saja selesai shalat isya' berjamaah di musholla rumah. Si kembar dijaga Mbak Jum dan Bi Leha. Setelah shalat kami makan malam bersama. Setelah itu kami naik ke atas kamar. Mas Haris menggendong Salwa, dan aku menggendong Salman.


"Cepat besar ya, Nak! Biar Ayah cepat punya mantu." Ular Mas Haris mencium pipi Salwa.


"Yah, kamu itu ada-ada saja. Anak masih bayi udah pingin mantu."


"Ya, kan waktu akan cepat berlalu, Bund!"


"Ya, gak secepat itu juga, aku masih ingin melihat tumbuh kembang mereka."


"Bund, jangan lupa janjimu tadi pagi."


"Janji yang mana?" Aku pura-pura lupa.


"Ya sudah kalau lupa nanti aku ingetin."


Aku hanya tersenyum menanggapinya. Saat ini aku menyukai*ui Salwa, Salman diberi dot sama Mas Haris. Setiap hari seperti ini, mereka mendapatkan giliran masing-masing. Akhirnya kini keduanya sudah terlelap.


Aku sudah minum pil kontrasepsi yang aku beli tadi siang. Bukan aku tidak ingin hamil lagi, tapi saat ini si kembar butuh kasih sayang kami. Terlalu dini untuk mereka mempunyai adik.Jadi untuk sementara kami mencegahnya. Aku sudah berkonsultasi dengan dokter kemarin melalui telpon.


Dua puluh hari lagi aku akan masuk mengajar, karena masa cutiku hanya dua bulan. Dan satu minggu lagi Babi sitter untuk si kembar akan mulai bekerja.


Mas Haris baru selesai mandi, aku pura-pura membaca buku dan bersandar di tempat tidur. Dia hanya memakai sarungnya dan bertelanjang dada.


"Ehm...ehm"


Aku pura-pura tidak mendengar. Mas Haris mendekati dan mengambil buku dari tanganku.


"Sejak kapan buku dibaca terbalik, hem?"


Mas Haris menegurku. Aku hanya menggigit jariku menahan malu.


"Kamu tidak bisa berakting, Sayang!"


"Ssstttt... jangan berisik! Nanti si kembar bangun, Mas!"


Aku membungkam mulut Mas Haris. Tapi tanganku dia pegang dan dia turunkan ke bawah. Saat ini tanganku diarahkan ke senjatanya yang sudah menegang. Dia menarik tali baju tidur kimonoku. Dan saat ini kedua aset milikku terpampang nyata di hadapan suamiku. Aku memang jarang memakai Bra saat mau tidur.


Dan malam ini terjadilah apa yang harus terjadi. Untung saja si kembar anteng malam ini. Mungkin mereka mengerti bahwa orng tuanya butuh untuk berdua.


...----------------...

__ADS_1


Waktu berjalan begitu cepat, saat ini si kembar sudah berusia satu tahun. Kemarin mereka baru saja berulang tahun. Kami merayaknnya di panti asuhan yang tidak jauh dari perumahan. Saat ini kami mempekerjakan dua baby sitter untuk si kembar. Sebenarnya aku ingin pensiun dini, karena aku ingin merawat sendiri si kembar. Tapi kecintaanku kepada pendidikan, membuatku dilema. Mas Haris mendukung apapun yang akan aku jalani, selama tidak mengganggu tugasku sebagai seorang Ibu dan istri. Ayah Rudi juga sangat mendukung aku untuk tetap mengajar.


Pagi ini entah kenapa aku merasa mual saat makan lauk telur rebus.


"huwek, huwek..." Aku lari ke kamar mandi.


Mas Haris panik, dia menghampiriku, "Sayang kamu kenapa? Masuk angin?"


"Nggak tahu, yah! Tiba-tiba mual."


Mas Haris meraba keningku." Tapi kamu tidak panas! Pusing nggak?"


"Nggak, cuma mual saja."


"Kalau kamu tidak enak badan, mending ijin dulu! Jangan masuk ke sekolah sayang!"


"Nggak kok, aku baik-baik saja! Mungkin cuma enek sama kuning telur rebus."


"Ya sudah, kalau begitu hari ini aku yang antar je sekolah! Tidak ada penolakan."


"Iya, aku setuju. Sebentar aku mau lihat si kembar di belakang.


Aku sudah dua hari telat datang bulan, tapi karena sudah biasa begitu, jadi aku tidak khawatir. Dan aku rajin mengkonsumsi pil kontrasepsi.


Tapi tunggu sebentar, aku pernah lupa tidak minum pil satu kali karena ketiduran. Masa iya aku hamil lagi? Tapi aku sudah biasa tekat, bulan kemarin juga begitu.


Aku mengabaikan kekhawatiranku, dan melangkah ke teras belakang.


Kulihat Aan dan Nina yang mengasuh si kembar sedang menyuapi si kembar di dekat kolam renang.


"Cus Aan, Cus Nina! Aku nitip si kembar ya! Kalau ada apa-apa, tolong kabari."


"Baik, Bu."


Aku diantar Mas Haris ke sekolah naik sepeda motor. Sudah lama kami tidak naik sepeda motor berdua seperti sekarang ini.


Dia mengantarku sampai di tempat parkir. Dan kami bertemu dengan Pak Anton.


"Apa kabar, Ris?" Pak Anton menjabat tangan Mas Haris.


"Alhamdulillah sama! Wah sepertinya makin makmur kamu, Ris! Bagi-bagi lah kalau ada kerjaan."


"Memangnya Pak Anton mau jadi kuli?Saya ini kan cuma ketua mandor, hehe...."


"Kamu itu, Ris! Selalu saja merendah. Salam sama Bapak ya! Lama tidak bertemu dengan beliau. Sehat semua kan, Bapak dan Ibu?"


"Iya Pak, sehat semua, Alhamdulillah."


"Ya sudah saya duluan, ya Ris! Mau masuk ke kantor, Mari Bu Raisya!"


"Iya, Pak! Silahkan!"


Setelah kepergian Pak Anton aku mencium punggung tangan Mas Haris.


"Jangan lupa telpon kalau mau pulang, Bund!"


"Iya, yah."


Aku melangkah ke kantor. Ternyata Bu Hesti sudah datang mendahuluiku.


"Tumben duluan aku, Bu?" Tanya Bu Hesti.


"Iya, Bu! Diantar Mas Haris, jalannya pelan kayak orang pacaran."


"Haha... enak dong, Bu? Pak Haris itu nggak pernah berubah ya, Bu? Meski punya anak dua, selalu perhatian."


"Semua suami juga pasti begitu kan, Bu?"


"Tidak semua menurutku, Bu! Contohnya suamiku."


"Kenapa dengan suaminya, Bu?"


"Nggak peka! Males ceritanya, Bu!"

__ADS_1


"Tidak usah diceritakan, Bu! Maaf Bu, lagian aib suami harus kita jaga. Jangan sampai orang kain tahu."


"Begitu ya, Bu?"


"Iya, Bu. Maaf bukan maksudku menggurui, tapi kita sebagai seorang istri harus menjaga harta dan martabat suami. Jika-pun suami kita kurang baik kepada kita, kita do'akan saja. Tidak ada manusia yang sempurna. Ingat Bu, Ridha suami adalah Ridha Allah. Maaf Bu, pagi-pagi sudah ceramah agama."


"Saya yang terima kasih, Bu. Mungkin memang aku yang kurang bersyukur ya, Bu? Hehe..."


Setelah pelajaran sekolah selesai aku menelpon Mas Haris. Sambil menunggunya datang, aku shalat Dhuhur di Musholla sekolah. Aku menunggu Mas Andi di bawah pohon mangga dekat parkiran. Saat melihat mangga bergelantungan di pohonnya, aku ngiler.


Sepertinya mangga muda itu seger kalau dirujak dengan gula jawa dan asem. Batinku, smbil memperhatikan buahnya.


tet... tet...


Aku tersentak saat mendengar bunyi klakson. Ternyata Mas Haris sudah ada di depanku.


"Kenapa kamu malam, Bund?"


"Mas, aku lihat mangga itu!" Aku menunjuk mangga di atas kepalaku.


"Itu masih muda, nanti rasanya kecut."


"Tapi aku ingin, dibikin rujak gula pasti enak."


"Lha terus aku harus ambil gitu, Bund?"


"Iyalah, masa,aku? Kan nggak nyampe'."


"Baiklah, demi istriku yang tersayang."


"Gombal!"


Kami tidak sadar ada seseorang yang memperhatikan kami dari jauh. Ternyata ada Pak Anton yang dari tadi berduri di samping motornya. Mas Haris melompat-lompat tinggi untuk menggapai mangga yang bergelantungan.


"Yes! Dapat satu! Cukup ya, Bund?"


"satu lagi!"


"Nanti dimarahin yang punya lho!"


"Itu milik sekolah, Ris! Jadi warga sekolah bebas mau ambil berapa-pun!" Ok Anton menyahuti karena mendengar perdebatan kami.


"Eh Pak Anton, Iya nih Pak! Bundanya si kembar yang pingin."


Mas Haris melompat sekali lagi dan langsung dapat.


"Nah sudah cukup dua, jangan banyak-banyak nanti sakit perut.


"Bu Raisya lagi ngidam, nih?"


"Ah tidak, Pak! Cuma ingin saja! Senang lihatnya, soalnya lebat buahnya. Jadi saya penasaran dengan rasanya."


"Kirain si kembar mau punya adik, haha..."


Mas Haris menoleh kepadaku. Sepertinya dia mengkode sesuatu, tapi aku tidak begitu paham.


Akhirnya kami pulang ke rumah.


"Salwa.. Salman... Bunda rindu..." Ucapku membentangkan tangan melihat kedua buah hatiku sedang belajar berjalan.


"Ayo sini Nak, jalan ke bunda ya"


Dengan langkah tertatih-tatih, akhirnya mereka sampai ke dekapanku.


"Yeay.. kalian luar biasa, Bunda sayang sana kalian."Aku mencium pipi keduanya.


"Wah, udah pinter nih jagoan dan princes Ayah. Kalau sudah bisa jalan nanti ayah kasih hadiah."


"Yah yah...oye.." Salman ngoceh. Salwa memang lebih pendiam dari pada adiknya, dia hanya mengatakan kedua tangannya. Itu tandanya dia juga senang.


...****************...


Maaf up malam lagi kakak, Karena aku sibuk banget nget nget🙏🏻🙏🏻🙏🏻

__ADS_1


Terima kasih atas supportnya ya kak, sehat selalu untuk kita semua.


See you again...


__ADS_2