
Keesokan harinya.
Saat kami selesai sarapan pagi. Aku langsung ke dapur dan mengambil es batu yang sudah aku buat memakai cetakan kotak-kotak kecil. Aku grogoti es batu itu, tanpa rasa dingin.
"Rai, kamu itu ngapain? kamu makan es batu lagi?"
Mendengar keramaian di dapur, Mas Haris menghampiri kami.
"Ada apa, Ummi?"
"Lihat istrimu, Ris! Ummi heran, dari kemarin dia makan es batu. Biasanya dia kan alergi dingin. Kalau es jeruk mah enak, Lha ini es batu!"
Aku tidak menghiraukan perkataan Ummi. Aku masih tetap dengan kesenanganku.
"Sayang, kamu ngapai makan es batu? Aku ngilu lihatnya!"
"Enak, Mas!" Jawabku singkat.
Ummi hanya geleng-geleng kepala melihatku.
"Apanya tang enak, Sayang? Daripada makan es batu mending makan es krim, mau?"
"Nggak ah, maunya es batu saja."
Mas Haris menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Setelah menghabiskan es batu aku kembali ke kamat. Kebetulan hari ini hari minggu. Aku akan bersantai di rumah. Entah kenapa rasanya aku malas ngapa-ngapain.
"Sayang stok pemba*utmu masih banyak, tidak terpakai bulan ini, kamu telat berapa hari?"
Aku terkejut mendengar perkataan Mas Haris. Aku mulai menghitung tanggal terakhir aku Haid. Ternyata aku tekat 30 hari. Ini tidak biasanya.
"Satu bulan, Mas. Aku sudah telah satu bulan."
"Kamu belum test lagi, Sayang?"
"Belum, aku takut kecewa. Sudah setiap bulan test tapi hasilnya negatif terus, Mas. Sudah banyak tespeck yang aku buang." Ujarku, dengan raut kesedihan.
"Kamu jangan putus asa, siapa tahu ini kabar baik.
"Tapi aku tidak mual, Mas."
"Tidak semua orang hamil merasakan mual, Sayang. Contohnya Ibuku, waktu hamil aku katanya sama sekali tidak mual, tapi bawaannya ngantuk terus, dan malas ngapa-ngapain."
"Gitu, ya? Kalau begitu tolong belikan aku tespeck, Mas!"
"Sekarang, Sayang?"
"Mas mau keluar, Nggak?"
"Keluar tapi nanti sore, mau ke rumah Ayah. Kamu mau ikut?"
"Iya deh, boleh!"
Sore hari setelah shalat Ashar, Kami keluar berdua. Di jalan kami mampir ke apotek untuk membeli tespeck.
Sampai di rumah Ayah, ternyata cuma ada Ibu dan Mbak Inah. Ayah sedang pergi reunian bersama teman kuliahnya. Ibu tidak ikut, karena sedang tidak enak badan.
"Ibu sakit apa?" Tanyaku saat Ibu berbaring di kasur dalam kamarnya.
"Fertigo Ibu kumat, Nak."
"Sudah ke dokter, Bu?"
"Sudah, Ibu cuma disuruh banyak istirahat."
"Ya sudah, Ibu tidur saja. Ini Rai bawakan roti tawar dan buah pear.
"Iya Nak, terima kasih. Ibu perhatikan sepertinya kamu semakin berisi, apa ada kabar baik untuk kami?
"Masa sih, Bu?"
"Iya, apa kamu hamil?"
"Belum tahu, Bu. Do'akan saja."
"Ibu selalu mendo'akan anak-anak Ibu. Tetaplah bertawakkal kepada Allah, kamu tentunya lebih paham daripada Ibu."
"Insyaallah, Bu.
Setelah shalat Maghrib kami pulang dari rumah Ayah.
Keesokan paginya saat akan shalat tahajjut aku memberikan diri untuk memakai tespeck lagi. Sebenarnya aku sudah kapok, karena takut kecewa lagi. Tapi aku memupuk kembali rasa percaya diri. Tuhan akan memberikannya di waktu yang tepat. Untuk apa resah, jika semua yang kita miliki hanya titipan. Jika Tuhan belum menitipkan anak kepada kita, itu berarti bukan karena Tuhan tidak sayang kepada kita, tapi Tuhan rindu sujud kita, ia ingin kita mendekat Kepadanya dan merayuNya.
__ADS_1
Aku menampung air ken*ingku di wadah kecil berbahan mika. Kalu aku coba mencelupkan tespeck yang kemarin sudah kami beli. Di dalam hati aku berdoa'a. Semoga kali ini aku garis dua. Satu menit kemudian aku cek tespeck.
Dua garis? Tapi yang satu masih samar. Apa ini berarti aku positif?
Aku melanjutkan mandi dan berwudhu' kemudian shalat tahajjud dan berdoa'a. Meminta kepada Tuhanku.
"Ya Allah jika saat ini aku sedang mengandung, hamba mohon lindungilah janin yang ada di rahim hamba. Tumbuhkan menjadi sempurna tanpa cacat dan cela. Semoga apa yang aku harapkan menjadi kenyataan atas RidhaMu."
Setelah shalat tahajjud aku membangunkan Mas Haris untuk shalat Subuh. Dan kami shalat berjamaah'ah bersama.
Setelah selesai shalat.
"Sayang, kamu sudah pakai tespecknya?"
Aku hanya ngangguk.
"Terus hasilnya gimana?"
Aku mengambil tespeck tadi dan memberikannya kepada Mas Haris.
"Apa ini maksudnya! Aku nggak ngerti."
"Ini ada dua garis, Mas. Tapi yang satu masih buram."
"Kalau ada dua, utu artinya positif, kan?"
"Seharusnya begitu, tapi yang satu buram."
"Mungkin anak kita masih malu-malu kucing, sayang. Dia belum mau menunjukkan keberadaannya."Ujar Mas Haris, masih dengan gaya tengilnya.
"Mas... aku lagi serius."
"Iya aku juga serius, sayang. Begini saja nanti coba kita periksa ke Bidan langganan Ummi yang dekat sini itu, ya?"
"Baiklah, tapi nanti pulang ngajar saja ya?"
"Siap, dan ngajarnya harus aku antar pakai mobil. Tidak boleh ada penolakan!"
"Baiklah, tapi ada syaratnya!"
"Apa? Tumben kamu pakai minta syarat segala, Sayang?"
"Em... aku mau cium keteknya, Mas." Ujarku dengan ekspresi sok imut."
" Nggak, mau! Maunya sekarang! Titik! Nggak pakai koma!"
"Ya ya.. oke klau begitu, silahkan kamu cium sepuasnya." Ujarnya pasrah.
Mas Haris tidur terlentang dan membuka keteknya lebar-lebar. Aku mengendus dan menciumnya. Entah kenapa bau ketek suamiku membuat aku terlena.
Saat ini aku si sekolah. Waktu istirahat aku molor di mejaku. Dengan posisi duduk dan tangan menjadi tumpuhan di atas meja. Sampai akhirnya bek masuk berbunyi aku terbangun dan cepat-cepat pergi ke toilet kantor untuk cuci muka. Setelah itu aku masuk ke kelas 8A.
Sebelum pulang, aku sudah menelpon Mas Haris untuk menjemput. Saat ini kami sedang dalam perjalanan pulang. Seperti rencana tadi pagi, kami mampir di rumah Bidan Hani. Aku membawa hasil tespeck tadi pagi.
"Keluhannya apa, Rai?" Tanya Bidan Hani, beliau sudah sangat nengenaliku.
"Saya telat datang bulan udah satu bulan, Bu Bidan. Sebenarnya saya sudah biasa telat, tapi tidak selama ini. Dan tadi pagi saya sudah coba test, hasilnya seperti ini."
Aju menunjukkan hasil tespeck kepada Bidan Hani. Mas Haris hanya menyimak.
"Ini positif, Rai."
"Tapi itu garisnya yang satu buram, Bu."
"Iya memang kadang terjadi seperti ini. Ya sudah ini saya ada tespeck merk lain, coba kamu pakai. Masuklah ke kamar mandi, ini untuk kampung air kencingmu. Kalau memang positif meski tidak pagi hari pasti hasilnya kelihatan."
"Baik, Bu." Aku mengambil tespeck dn wadah kecil yang diberikan Bu Hani.
Setelah menampung dan mencelupkan tespeck, aku menunggu hasilnya satu menit. Kali ini tetap hasilnya dua, dan yang satu tetap butram.
"Berbaringlah, Rai. Aku akan coba memeriksanya."
Bidan Hani memeriksa perutku dengan meraba kemudian memakai stetoskop.
"Ini ada janinnya, Rai. Kamu beneran hamil, dan diperkirakan usianya sudah 8 minggu."
"Alhamdulillah..." Ucapku dan Mas Haris bersamaan.
"Tapi kalau kamu kurang yakin dan mau memastikan, silahkan USG saja di rumah sakit Dr. Hikmah. Di sana memang khusus menangani orang hamil dan melahirkan. Dokter Hikmah sendiri yang menangani, jadi kamu tidak perlu khawatir akan ditangani Dokter laki-laki."
"Baiklah, Bu. Terima kasih."
"Iya sama-sma. Sehat-sehat ya, dijaga kandungannya."
__ADS_1
"Iya Bu, sekali lagi terima kasih."
Kami-pun meninggalkan tempat praktek Bidan Hani.
Mas Haris mengajakku langsung ke rumah sakit yang ditunjukkan Bidan Hani, tapi aku menolak karena belum shalat Dhuhur. Jadi kami pending nanti sore.
Saat ini sudah jam 4 sore, aku dan Mas Haris berangkat ke rumah sakit Dokter Hikmah. Sampai di sana kami dapat nomor antrian 5. Jadi kami harus menunggu kira-kira 30 menit.
Sampai akhirnya namaku dipanggil. Aku dan Mas Haris masuk ke ruang periksa.
"Nyonya Raisya. Usia 26 tahun, Mau USG kan ya?"
"Iya dokter."
"Mari silahkan berbaring"
"Sus, tolong oleskan jelly."
Aku deg-deg-an saat alat itu menyentuh perutku.
"Ibu bisa lihat itu di layar."
Aku melihat ke layar yang jelas ada di depanku.
"Masyaallah, ada dua titik di sana. Anda hamil kembar."
Mas Haris sangat antusias melihatnya.
"Yes! Alhamdulillah, Sayang kita dapat kembar!"
Mataku berkaca-kaca menatap layar.
"Memang masih samar ya titiknya, usianya 8 minggu. Ibu harus lebih banyak mengkonsumsi nutrisi, agar pertumbuhan janjinya bagus. Nanti saya akan kasih resep vitamin yang bagus." Dokter memperhatikan tasbih digital di jariku. "Dan jangan lupa perbanyak baca sholawat." Ujar Dokter Hikmah dengan senyum ramah.
"Terima kasih dokter."
Aku bangun dari brankar.
"Pelan-pelan, sayang!"
"Mas aku ini hamil, bukan sakit struk."
Dokter dan suster hanya tersenyum melihat kami.
"Dok, istri saya ini seorang guru, dia mengajar 5 hari dalam seminggu. Apa itu bisa mengganggu kehamilannya?"
"Selama tidak ada keluhan, saya rasa aman-aman saja. Asal anda jangan terlalu sering nyetir motor sendiri. Apa anda merasa mual?
"Tidak sama sekali Dok, saya hanya merasa lelah dan malas melakukan sesuatu."
"Memang gejala pada Ibu hamil itu berbeda-beda. Anda beruntung tidak merasakan mual. Ini resep dari saya, silahkan ditebus di apotek depan. Tidak dijual di apotek lain, karena ini racikan saya sendiri."
"Baik, Dok. Terima kasih banyak."
"Sebentar Dok, saya mau tanya satu pertanyaan saja. Kalau untuk berhubungan apa boleh Dok?"
"Mas.."
"Tidak apa, Bu. Sudah biasa para suami menanyakan itu saat istrinya hamil anak pertama. Begini, Pak! Ada baiknya dihindari sampai tri smester ke dua nanti atau saat usianya sudah 16 minggu. Tapi kalau anda tidak bisa menahannya, lakukan saja satu minggu sekali, itu-pun harus pelan dan jangan keluarga di dalam. Anda mengerti, Pak?"
"Mengerti, Dok! Terima kasih."
"Iya sama-sama."
Kami segera keluar, karena sudah banyak yang mengantri setelah kami. Mas Haris menebus obat di apotek. Aku menunggu di dalam mobil. Aku memperhatikan wajah Mas Haris yang begitu nampak bahagia.
Saat masuk ke dalam mobil, dia langsung mengelus perutku dengan sayang.
"Nak, ini Ayah. Kalian baik-baik di rahim Bunda ya. Jangan nakal!"
"Ayah yang nakal!" Jawabku."
Kami-pun tertawa bersama.
Bersambung.....
...****************...
Maaf kalau masih ada typo
Terima kasih atas dukungannya kakak
See you again kakak😁
__ADS_1