
Lima bulan berlalu dari acara tedak siten Baby Zie. Sekarang Baby Zie sudah berusia satu tahun. Baru kemarin dia merayakan hari ulang tahunnya. Di ulang tahunnya yang pertama, Sofi hanya mengundang beberapa kerabat dekat dan tetangga. Sofi juga nengundang beberapa anak yatim dari yayasan yatim piatu di yang dekat dengan rumahnya. Baby Zie sudah mulai belajar melangkah walaupun masih tertatih, senang rasanya melihatnya.
Hari ini ada acara reuni di kampus, semua angkatan diundang. Taufik menjadi salah satu panitia penyelenggara perwakilan angkatan kami. Ya tentu aku masih berhubungan baik dengan Taufik, kami masih sering bertukar kabar.
Jam 8 pagi aku sudah siap berangkat menjemput Putri. Kami akan hadir ke acara reuni yang diadakan di aula kampus.
"Assalamu'alaikum..."
"Wa'alaikum salam.... masuk, Rai! Putri sedang dandan. Tahu sendiri, kan? Kalau dandan sampai setahun gak kelar." Ujar Mama Putri.
"Apaan, Mama rumpi deh! Ini aku udah siap. Ayo Rai! Let's go!"
"Kami berangkat dulu, Tante!"
"Iya kalian hati-hati." Kami-pun berangkat setelah berpamitan.
Kali ini Putri yang pegang kendali. Di sepanjang jalan kami bercerita seperti biasanya. Aku mendengarkan Putri yang sedang curhat tentang kedua pacarnya. Ternyata dia ketahuan selingkuh.
"Makanya, Put. Tobat deh! Kamu nggak bosen apa main kucing-Kucingan gitu?
"Hehe... aku kan cuma manfaatin Baim. Lagian dia juga udah tahu kalau aku pacaran sama Mas Nuki. Tapi dia malah bilang nggak pa-pa aku jadi yang kedua, gitu! Ya sudah apa boleh buat."
"Terus sekarang gimana itu si Nuki udah tahu kalau kamu duain?"
"Ntar aku minta maaf deh, aku janji udahan sama Baim. Aku kan cintanya sama Mas Nuki. Suatu saat kalau sudah menikah, aku akan tetap dengan satu hati.Kemarin-kemarin aku cuma mencoba tantangan, Rai."
"Iya-iya terserah, dirimu. Itu di depan lampu merah jangan ngoceh terus. Nantik kebablasan kena tilang!"
"Iya iya, aku juga nggak mau mati Rai."
Tidak lama kemudian kami-pun sampai di kampus. Rupanya tempat parkiran sudah lumayan penuh. Acara akan dimulai jam 9, berarti sekitar 10 menit lagi. Jami bertemu dengan beberapa teman satu angkatan kami. Rata-rata dari mereka datang bersama pasangannya, bahkan anaknya.
Kami masuk ke aula, di pintu kami sudah disambut panitia terima tamu dengan sambutan pemberian snack box. Dan tidak lupa kami didata dan bayar uang iuran Reuni.
"Rai... Putri...!" Seseorang memanggil kami.
"Taufik!" Kami memanggil bersamaan.
"Akhirnya, kalian hadir juga, terima kasih ya?"
"Iya sama-sama." Jawab kami
"Eh Fik, katanya kamu mau nikah sama Lina, kapan?" Tanya Putri.
"Bulan depan! Entar undangannya aku anterin ke rumah kalian. Awas nggak datang!"
"Insyaallah.." Jawabku.
"Ya sudah kalian cari tempat duduk dulu sana! sebentar lagi acara dimulai.
Tidak lama kemudian acara-pun dimulai. Ada beberapa sambutan dari salah satu dosen dan perwakilan alumni. Sampai acara terakhir makan bersama.
Selesai acara kami masih temu kangen dengan teman-teman kelas yang baru kami jumpai saat acara sudah selesai.
__ADS_1
"Rai, Put! Jangan pulang dulu!" Ujar Taufik.
"Ada apa, Fik?"
"Nggak ada apa-apa. Cuma masih kangen saja. hehe..."
"Nggak usah genit, Fik! Ketahuan Lina kapok lho!" Ujar Putri
"Yang genit siapa, Put? Kangen sama teman wajar toh?"
"Sudah jangan ribut! Maaf kita mau langsung pulang, Fik. Karena aku sudah ada janji. Nanti kalau kamu mau anterin undangan kita bisa ketemu lagi. Kabari ya kalau mau ke rumah."
"Ya sudah, kalian hati-hati. Aku akan selesaikan laporan acara dulu dengan yang lain."
Kami turun dari aula, dan segera menuju ke parkiran. Belum genap setahun kami meninggalkan kampus ini, tapi sudah ada beberapa perubahan yang terjadi. Ada bangunan tambahan, dan kantin baru.
Tiba-tiba aku dikejutkan oleh sapaan seseorang yang sepertinya aku kenal.
"Raisya!" Spontan aku menoleh ke arah suara yang memanggilku.
"M-Mas Andi!" Ternyata orang tersebut adalah Mas Andi, yang kini sedang menggendong seorang balita perempuan. Dan jangan lupakan istrinya yang super judes di sampingnya saat ini.
Oh Tuhan... kenapa harus bertemu dengan orang ini lagi.
Baru saja aku tahu, rupanya istri Mas Andi adalah alumni kampusku juga. Dan dia angkatan empat tahun di atasku.
"Lama tidak bertemu, kamu gimana kabarnya, Rai?"
"Udah, Mas! Nggak usah reunian sama mantan! Entar gede rasa dia! Ayo kita pergi dari sini!" Ucapa Laras istri Andi.
"Hai, Buk! Kita juga nggak mau lama-lama di sini. Yuk Rai! Ntar kamu alergi!" Putri sudah menarik pergelangan tanganku untuk segera pergi dari hadapan mereka.
"Nggak punya sopan santun! Tidak mencerminkan seorang pendidik! Maklum saja masih honorer! Tidak level denganku!" Ucap Laras dengan angkuhnya.
"Maa..." Mas Andi hendak menghentikan ucapan istrinya.
Putri berbalik arah mendekati Laras.
"Hai, Bu guru yang terhormat! Kami juga punya sopan santun! Tapi harus anda tahu, etika kami dipakai kepada orang yang punya adab! Bukan kepada orang yang gila hormat seperti anda! Dan tidak usah bawa-bawa profesi. Saya tahu anda PNS, tidak usah menyombongkan diri!" Ujar Putri dengan emosi, dan menunjuk wajah Laras dengan telunjuknya.
"Sudah, Put! Tidak usah diperpanjang! Ayo kita pergi! Ajakku kepada Putri, agar adu mulut tidak berlanjut.
"Pantas saja sama-sama tidak laku! Rupanya kalian arogan!" Ujar Laras kembali..
"Ma! Sudah cukup! Ayo pulang, malu kalau sampai ada lihat!" Andi segera menyeret tangan istrinya untuk pergi ke tempat sepeda motornya diparkir.
Amu menahan tangan Putri yang hendak mengejar Laras.
"Ah, kamu Rai! Ngapain coba mencegahku! Mau aku cakar ruh muka! Biar gak sombong lagi! Lagian ya aku heran deh, Rai! Hidupmu itu kenapa selalu dikelilingi orang edan! padahal kamu baik!"
"Termasuk kamu yang edan, Put?" Godaku seraya tersenyum.
"Tuh, kan! Oarng lagi emosi, kamunya senyum-senyum"
__ADS_1
"Sudah, nggak usah dihiraukan! Entar capek sendiri. Daripada buang-buang tenaga mending kita pulang istirahat di rumah, yuk!"
Akhirnya kami keluar dari gerbang kampus. Aku mengantarkan Putri sampai ke rumahnya. Sampai di sana. Aku tmampir sebentar dan langsung masuk ke kamar Putri. Putri mengambil beberapa camilan dan minuman ringan.
Saat tengah bercerita, kami dikagetkan suara dering HP-ku. Ternyata telpon dari Taufik.
"Hallo.... Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
"Rai, kamu sudah sampai rumah?"
"Masih di rumah Putri, Fik. Memangnya kenapa?"
"Rai, tadi kamu waktu pulang nggak barengan dengan kecelakaan di lampu merah dekat kampus?"
"Nggak tuh, ada kecelakaan ya?"
"Iya Rai, tadi Laras dan Andi kecelakaan di sana."
"Hah? Innalillahi wainna ilaihi roji'un... gimana kejadiannya, Fik? Padahal tadi kami ketemu mereka di tempat parkiran."
"Posisi motor Andi itu mau berhenti di lampu merah. Namun kena hantam truk yang kencang hendak belok ke kiri kangsung."
"Terus, keadaan mereka gimana?"
"Sekarang ada di rumah sakit, Andi terpental dan patah tulang tangannya, Laras agar otak ringan dan luka parah si bagian wajahnya. Untung saja anaknya hanya luka lecet. Ini aku mau menyusul ke rumah sakit"
"Semoga mereka diberikan kesembuhan."
"Iya amiin. Ya sudah, Rai! Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
Setelah telpon berakhir, Putri langsung bertanya karena penasaran. Lalu aku menceritakan kronologinya kepada Putri.
"Allah itu tidak tidur, Rai. Aku belum mendo'akan, dia sudah kena teguran."
"Huss! Nggak boleh begitu, Put. Semua sudah qodarullah. Kita tidak tahu akan seperti apa hidup kita ke depannya. Intinya kita harus selalu berbuat baik."
"Iya iya, Bu Ustadzah."
Akhirnya kami tidur siang sebentar. Setelah shalat Ashar, aku berpamitan pulang dari rumah Putri.
...****************...
Maaf Kakak segini dulu, author masih sibuk dengan kelulusan anakku yang TK tadi.
Terima kasih selalu mampir di karyaku.
Besok Insyaallah akan part yang lebih menarik.
SEE YOU AGAIN KAKAK
__ADS_1