
"Maaf sebelumnya, Rai! Saya memang berniat mencari pasangan hidup, lalu saya bercerita kepada Rendy. Mungkin Rendy punya kenalan yang sekiranya cocok dengan saya. Saat bertemu kamu pertama kali di rumah Irfan, saya langsung bertanya kepada Rendy. Rendy hanya bilang kalau kamu saudara istrinya, dan kamu masih single. Karena saya merasa ada ktertarikan denganmu, makanya saya ingin kenalan.
"Mas Rendy bilang apa lagi, Mas?"
"Rendy hanya bilang, kalau ingin kenal lebih dekat, mending langsung dekatin orangnya dan tanya langsung kepada orangnya! Itu-pun kalau orangnya mau." Jawabnya dengan jujur.
Aku bingung harus menjawab apa. Tapi sebelum aku sempat memberikan jawaban, Mas Rendy sudah datang.
Mas Rendy langsung duduk bergabung dengan kami."Cal, kamu nggak mau pulang?" Tanya Mas Rendi.
"Ish, ngusir nih! Jahat banget kamu Rend! Tahu gitu nggak aku bantuin."
"Hmm...gitu ya? Awas saja dekatin iparku!"
"Kamu sih, yang mulai!
"Hehe... ya maaf! Kan aku cuma bercanda Cal! Kalau kamu pulang entar nggak ada yang ngabisin makanan."
Mbak Rindi keluar dari kamar si kembar. Si kembar memang masih tidur di kamar yang sama, dengan dua kasur singer yang dipisah dengan nakas.
"Ayo kita makan dulu! ini tadi Mama beli penyetan ikan lele sama ayam kampung. Udah nggak anget sih! tapi masih enak kok!" Ujar Mbak Rindi.
Mbak Rindi membawa kresek yang berisi makanan di atas meja makan ke bawah. Kami makan lesehan di depan TV. Dan kami-pun makan bersama. Setelah makan, aku dan Mbak Rindi membereskan bungkus makanan dan sampah lainnya.
"Rai, kamu tidur bareng Mbak ya? Mas Rendy biar tidur di sini." Kamar di rumah Mbak Rindi memang hanya ada tiga.
"Kok gitu Mbak? Kasian Mas Rendy dong! aku tidur di kamar si kembar saja deh!"
"Jangan Rai! bisa kena tendang kamu! Nggak pa-pa, Mas Rendy kok yang minta. Iya kan Mas?
"Iya Rai, aku nggak pa-pa tidur di depan TV."
Karena sudah jam 10 malam, aku dan Mbak Rindi masuk ke dalam kamar untuk beristirahat. Kami meninggalkan Mas Rendy dan Faisal yang masih betah mengobrol.
......................
Keesokan harinya...
Setelah selesai sarapan bersama, kami mulai menata meja untuk kue ultah dan lainnya. Sofi dan Irfa sudah datang bersama Baby Zie. Aku langsung mengambil alih baby Zie dari gendongan Sofi.
"Cantik sekali sih kamu, Nak! Pingin tante culik. Uluh uluh, pipinya kayak bakpau. Ini pakai jepit rambut kriwil, dapat dari mana?" Aku berinterksi dengan baby Zie, seakan dia bisa mengerti.
Tamu mulai berdatangan. aku tidak ikut menyambut, karena sedang ingin bermain dengan baby Zie. Karena ulang tahun balita, jadi orang tuanya pun pasti ikut. Suasana semakin ramai.
Mbak Rindi datang menghampiriku
"Rai, MC nya nggak ada! tadinya mau minta tolong temannya Nas Rendy, tapi nggak bisa datang. Mbak minta tolong ya kamu jadi MC-nya!"
__ADS_1
"Kok aku sih, Mbak! Nggak mau, malu!"
"Tolong Mbak, Rai! Kamu pasti bisa."
"Bisa sih iya bisa, cuma malu aja!"
"Mbak dampingi, Pliiss!" Dengan tangan memohon Mbak Rindi merayuku.
"Huft... iya iya, baiklah!" Akhirnya aku mengembalikan Baby Zie kepada mamanya.
Aku mulai memimpin acara, dengan didampingi Mbak Rindi di sampingku. Mulai dari pembukaan, kemudian sambutan yang dilakukan oleh Mas Rendi, nyanyi bersama, potong kue, dan sampai pembacaan do'a sebagai penutup acara.
Akhirnya acara sudah selesai, dan tamu mulai berpamitan pulang. Om Rudi dan Tante Santi juga pulang karena ada acara pernikahan tetangganya siang ini. Saat ini tinggal aku, Irfan dan Sofi yang belum pulang. Kami masih berkumpul bersama.
Sepertinya tadi aku tidak melihat Faisal hadir. Atau mungkin karena aku sedang fokus jadi pembawa acara.
Kenapa harus cari orang itu, Astagfirullah! Jaga hatimu Rai.
"Ayo kita rujakan, mumpung si bocil pada tidur. Aku pingin banget rujakan mangga muda." Ujar Mbak Rindi.
"Kamu ngidam, Mbak?" Tanya Sofi.
"Ah iya, aku kok baru ingat kalau bulan ini telat, Sof! " Jangan-jangan positif ini."
"Wah, kabar bahagia ini, si kembar mau punya dedek." Aku menimpali.
"Ayo deh kita rujakan! Bapak-bapak mau ikut gabung nggak?" Tanya Sofi kepada Irfan dan Mas Rendy.
"Boleh deh!" Jawab Mas Rendy, "Kamu mau kan Fan?" Dia bertanya kepada Irfan
"Iya mau! Tapi Jangan terlalu pedas, cowok nggak kuat pedas! Beda sma kalian!" Jawab Irfan. "Iya nggak, Bang?"
"Betul tu!" Jawab Mas Rendy.
"Ya sudah bumbunya biar pisah saja! Sof kamu yang ngupas buahnya! Mbak yang ngulek petisnya. Biarkan Raisya bagian nyuci buah, kasian dia udah kerja dari tadi malam."
Setelah selesai dikupas dan diiris buahnya dicampur ke petis yang sudah diulek.
"Ini untuk Bapak-bapak pakai cabainya cuma tiga saja." Ucap Mbak Rindi seraya memberikan cobek yang sudah berisi rujak.
"Yuk Ibu-ibu kita makan! Awas bibirnya konter! Ini cabai lima belas." Kami-pun menyantap rujak buah dengan petis yang super mantap.
Di sela-sela makan rujak, kami ngobrol.
"Mbak, sekolah kan libur? Kamu nggak ada rencana liburan gitu?"Tanya Sofi.
"Nggak ada rencana, dik! Di rumah saja!"
__ADS_1
"Nggak asyik kamu, Mbak! Keluar kemana gitu, jangan di rumah saja! Sekali-kali cuci mata Mbak. Siapa tahu ketemu jodoh!
"Iya benar tuh Rai!" Mbak Rindi menimpali. "Eh, tapi jodohnya sudah on the way kok kayaknya! haha...." Ujar Mbak Rindi dengan nada bercanda.
Terdengar suara mobil di depan. Dan tak lama kemudian suara orang mengucap salam.
"Assalamu'alaikum." Suara yang tidak asing kusengar. Sepertinya baru tadi malam suara ini aku dengar.
"Wa'alaikum salam."Jawab kami serentak.
Benar dugaanku, dia yang datang. Gumamku dalam hati.
"Panjang umur kamu,Cal!" Mbak Rindi keceplosan.
"Memangnya kenapa? ada yang ngomongin aku, Rin?"
"Nggak juga sih, jangan GR kamu! Kenapa kok baru datang, Cal?" Mbak Rindi melirik ke arahku. Aku tidak mengerti maksudnya.
"Iya maaf ,tadi masih ada tamu jadinya telat. Udah bubar ya acaranya! Tapi ngak pa-pa aku nggak kebagian kuenya yang penting kebagian yang lain." Faisal melirik ke arahku, saat sku tak sengaja melihat ke arahnya. Mana si kembar? aku mau ngasih kado." Ucapnya kembali.
"kecapean, pada tidur! Kamu niat mau ke ulang tahun, apa ngapel sih Cal?"Ujar Mas Rendy.
"Jangan ember bro! Ujar Faisal memberi kode kepada Mas Rendy, lalu beralih ke Irfan. "Fan, mana anakmu?"
"Tidur juga bang." Jawab Irfan
"Ehm ehm... kayaknya ada sesuatu nih!" Sofi menimpali, sekilas melirik ke arahku dan Faisal.
Terdengar suara tangis Baby Zie dari dalam kamar Mbak Rindi. Sofi segera pergi menghampirinya. Tak lama kemudian Sofi keluar menggendong Baby Zie.
"Mas, pulang yuk! Aku lupa kalau ada tugas kuliah. Besok harus diumpulkan."
"Ya sudah ayo pulang!" Irfan bangun dari duduknya.
"Kok pulang sih dik! Mbak masih kangen sama babi Zie." Aku menghampirinya, mencium pipi gembulnya.
"Makanya Mbak cepetan nikah, biar punya mainan kayak Zie! Biar Zie ada teman nanti."
Deg!
Aku memang sudah terbiasa mendengar omongan yang seperti itu dari orang lain, tapi kali ini aku mendengarnya dari adikku sendiri. Aku tidak marah, hanya saja merasa terkejut. Ucapannya tidak salah, hanya perasaanku yang sedang sensitif. Dan aku tahu Sofi tidak ada maksud lain, dia berkata begitu hanya ingin aku tidak berputus asa.
Aku mengantar Sofi ke depan.
"Ya sudah hati-hati dik! da-dah, sayangnya Tante! Emmuah..." Aku memberi cium jauh untuk Baby Zie.
...----------------...
__ADS_1
See you again Kakak, kasih aku semangat dong.