
Dua bulan berlalu, tidak terasa bulan ini adalah masa HPL-ku. Detik-detik yang mendebarkan untukku. Bagaimana tidak? Dokter menyarankan untuk operasi SC, mengingat bayi yang akan dilahirkan ada dua orang, dan tekanan darahku selalu tinggi setiap diperiksa. Tapi aku bersikukuh untuk tetap bisa lahiran normal. Aku harus menstabilkan tekanan darahku.
Jam 2 dini hari, saat ini aku merasakan sakit perut. menurut HPL diperkirakan aku akan melahirkan dua hari lagi. Tapi perutku sudah sakit-sakitan, namun aku masih bisa menahannya. Aku bangun dan bersuci, karena semalam Mas Haris sudah menengok si kembar. Aku ambil wudhu' dan shalat tahajjut.
"Ya Allah, terima kasih atas segala nikmat yang Engkau berikan kepada hamba dan keluarga hamba. Hamba mohon berilah ketenangan kepada hati hamba,hilangkan segala kekhawatiran dalam diri hamba, karena sesungguhnya hidup dan matiku hanya untuk Engkau. Permudahkan hamba dalam melahirkan amanah yang Engkau berikan. Karena tiada kekuatan yang melebihi Engkau yang Maha segalanya. Amiiin...."
Setelah memanfaatkan do'a, perutku sakit lagi. Aku takut ini hanya kontraksi palsu, karena msih belum waktunya. Tapi sepertinya ada air yang merembes. Karena khawatir, akhirnya aku bangunkan Mas Haris.
"Mas, Mas!" Aku mengusap kening suamiku.
"Hem..."
"Mas, bangunlah!"
"Ada apa, Sayang?"
"Cepatlah bersuci! Setelah itu antarkan aku ke rumah sakit!
"K-kamu mau melahirkan?"
"Tidak tahu, pokoknya Mas mandi wajib dulu sana!"
"Oke oke, tunggu sebentar!"
Mas Haris segera berlari ke kamar mandi. Lima menit kemudian dua keluar dan segera memakai kaos oblong.
"Kuat jalannya, Sayang?"
"Insyaallah."
"Apa perlu aku telpon Ummi?"
"Jangan! Kita dengar apa kata dokter dulu nanti."
Di sepanjang perjalanan aku selalu membaca sholawat dan do'a agar mudah melahirkan.
Setelah menempuh perjalanan selama 10 menit, kami sampai di rumah sakit Dr. Hikmah. Karena masih pagi, jadi rumah sakit nampak sepi. Mas Haris langsung pergi ke resepsionis.
Setelah masuk ruang periksa, ada dokter yang menangani.
"Tekanan darahnya normal ya 120. Maaf ya Bu, saya periksa dulu."
Mas Haris terlihat sangat khawatir.
"Bu, ini sudah pembukaan 4."
"Apa saya bisa lahiran normal, Dokter? Saya takut sekali kalau harus SC."
"InsyaAllah bisa, dari hasil USG semuanya bagus. Tidak perlu ada yang dikhawatirkan. Sebentar lagi Dokter Hikmah datang, beliau yang akan menangani langsung. Anda bisa melakukan gerakan dulu, agar pembukaannya lancar. Nanti biar suster yang mengarahkan."
"Baik, Dok! Terima kasih."
"Sama-sama."
Aku melakukan gerakan yang sesuai dengan intruksi suster. Mas Haris membantuku.
"Mas kenapa kamu gugup?"
"Sayang, aku nggak akan sanggup lihat kamu melahirkan."
"Kamu nggak mau nemenin aku, Mas?"
"Mau, pasti mau! Cuma aku gugup."
"Mas kalau aku sudah masuk ke ruang penanganan nanti, tolong telpon Ummy!"
__ADS_1
"Baiklah, Sayang."
Jam 6 pagi, Pembukaan sudah sempurna. Saat ini aku berada di ruang penanganan ditemani Mas Haris.
"Laa haula walaa quwwata illa billahil 'aliyyil 'adhim." Aku pancatkan do'a-do'a kepada dzat Sang Pencipta, Pengusaha kehidupan dan Raja seluruh alam. Sungguh ini adalah sakit yang kuar biasa, namun aku yakin kepada kuasa Tuhan. Mas Haris terus memanjatkan do'a meniupkan di ubun-ubun ku, tangannya tak lepas menggenggam tanganku.
"Oek.. oek..." Terdengar suara tangisan bayi yang sangat kencang.
"Alhamdulillah, sudah keluar ini satu. MasyaAllah, bayinya perempuan." Ujar Dokter Hikmah.
"Alhamdulillah." Ucapku dan Mas Haris. Suamiku sangat terharu, hingga ia menangis dan mengecup keningku.
"Sus, tolong bayinya dibersihkan!"Ujar Dokter kepada salah satu susternya." Kita harus mengeluarkan yang satu lagi."
Mereka mengambil tindakan kembali.
"Terus, Bu! Ayo ngedan yang kuat ini sudah nampak kepalanya."
Dengan sekuat tenaga aku berusaha. Dan Akhirnya bayiku keluar juga.
"Oek... oek"
"Alhamdulillah ini sudah keluar bayi kedua, jenis jelasinnya laki-laki. Selamat ya, Pak, Bu! Kalian beruntung memiliki sepasang sekaligus."
"Terima kasih, dok!"
Tiba-tiba aku merasa lemas dan penglihatanku kabur. Rupanya aku mulai tidak sadarkan diri.
"Sayang! sayang bangun!" samar-samar aku mendengar suara Mas Haris tapi aku tidak mampu menjawabnya."
"Tenanglah, Pak! Bu Raisya tidak apa-apa. Dia hanya dehidrasi dan kelelahan, tolong anda olesi minyak angin. Sebentar lagi dia pasti bangun.
Satu jam kemudian, aku mulai bisa membuka mataku. Saat mataku terbuka, yang pertama kali aku lihat adalah wajah suamiku yang nampak gusar, penampilan sangat berantakan. Aku beralih melihat ke belakangnya. Ada Ummy, Abah, Ibu fan Ayah.Saat ini aku sudah di kamar rawat.
"Kamu kenapa kok sedih, Mas? Anak kita mana?"
"Sayang, aku takut kamu nggak bangun lagi! Aku nggak bisa bayangin itu! Anak kita ada, mereka sehat dua-duanya. Tadi aku sudah mengadzani. Sekarang mereka ada di luar digendong Sofi dan Nuri."
"Aku cuma pingsan, Mas! Tolong bawa mereka kemari aku ingin memberi ASI pertamaku kepada mereka."
Ummy dan Ibu menghampiriku, Aku mencium punggung tangan mereka. Mereka memberikan selamat kepadaku. Begitu pula Abah dan Ayah.
Mas Haris memanggil Sofi dan Nuri untuk masuk ke dalam. Gantian Abah dan Ayah yang keluar.
"Mbak kamu sudah sadar? Capek ya abis ngeluarin dua kepala?Hehe..."
"Bukan capek lagi, tapi lemes. Sini, aku ingin memberi ASI!"
"Ini yang Baby Girl, Mbak. Yang Boy di Mbak Nuri."
Aku menerima bayi perempuanku dari tangan Sofi.
"Masyaallah, anak Bunda! Cantik sekali. Nen dulu, ya?"
Aku belum tahu caranya, Ummy mengajariku.
"Nah iya begitu, Rai."
Pertama kali aku memperhatikan wajah anakku, saat dia menyedot nutrisi dari sumber Ibunya. Sungguh aku tidak menyangka bisa mendapatkan kado terindah seperti mereka berdua.
"Ini kenapa dua-duanya mirip Mas Haris?"
"Ya, kan aku Ayahnya, Sayang! Aku yang paling bekerja keras untuk membuat mereka jadi."
"Hus! Haris! Kamu itu, nggak ada malu-malunya sama mertuamu!" Ibu memukul lengan Mas Haris.
__ADS_1
"Hehe... Ummy sudah paham betul dengan Haris, Bu. Iya kan, Mi?"
"Biarkan saja, Bu. Meski begitu, dia sangat mencintai anakku."
"Ummy the best pokoknya." Mas Haris mengacungkan dua jempol kepada Ummy.
"Sayang, tapi mereka punya lesung pipi! Sama seperti Bundanya."
"Ah, iya! Tapi belum kelihatan."
"Kan masih umur sehari, nanti kalau sudah besar pasti seperti kamu."
"Mas, kamu belum kasih nama untuk mereka?"
"Tadi aku sudah minta pendapat Abah sama Ayah, aku sudah menyiapkan nama untuk mereka. Nggak jadi Upin Ipin ya, karena mereka sepasang, hehe..."
"Yang bener aja Bang!" Sofi menimpali.
"Yang perempuan Salwa Nanda Haris, yang Laki namanya Salman Nanda Haris, gimana Bund?"
"Bagus, Mas! Kayak nama artis India, hehe..."
"Berarti kamu setuju, Bund?"
"Iya setuju, Mas."
Aku masih malu-malu mau memanggil Ayah di depan banyak orang.
Sore harinya, karena tidak ada kendala dan semua sudah stabil, aku diijinkan untuk pulang oleh Dokter.
Saat ini di rumahku sangat ramai, ada Mbak Rindi dan anak-anaknya juga.
"Rai, kok bisa ya kamu bernasib sama denganku? Punya anak kembar sepasang."
"Iya, Mbak! Cuma bedanya Alfano lahir duluan ya, kalau aku Salwa dulu yang lahir."
"Kalau Rindi punya anak kembar ada keturunan dari suaminya, Rai. Kalau kamu tidak ada. Ini hadiah dari Allah, karena kamu bisa melewati ujian dari-Nya." Ujar Tnte Santi menimpali.
"Benar itu, Rai. Keluarga Abah dan Ummimu tidak ada yang kembar!" Kata Bibiku.
"Alhmdulillah, Allah memberi kepercayaan yang luar biasa kepadaku, dan terima kasih untuk semua keluarga yang sudah mendo'akan aku selama ini."
Mataku berair, aku terharu dengan keadaan ini.
"Mbak, jngan nangis dong! Sudah Ada duo S malah cengeng! Nanti maknya ikut nangisan!"
Aku menghapus air mataku.
"Assalamu'alaikum..." Mas Haris datang dari luar membeli makanan." Ayo semuanya kita makan, ini aku sudah membeli banyak makanan untuk kita makan bersama."
"Banyak banget bang!" Ujar Sofi
"Ya kan kita banyak nih! Ayo Mbak Jum, Bi Leha, tolong disiapkan ya!"
Kami-pun makan bersama, meski aku harus menjaga makanan yang boleh aku makan. Tentunya aku tidak boleh makan yang pedas, terlalu manis, dan tidak boleh minum es. Saat ini aku hanya makan nasi dan telur ceplok.
Bersambung.....
...****************...
Terima kasih kakak
Maaf cuma sedikit author sibuk banyak kondangan😁
See you again..
__ADS_1