
Aku masih tetap di posisi duduk sedang main HP. Tak lama kemudian ada yang mengucapkan salam.
"Assalamu'alaikum..."
"Wa'alaikum salam..." Aku menjawab serentak bersama si kembar. Alfano langsung berlari dan membuka pintu."Biar aku yang buka pintunya, Tante!"
"Om Icaaaal!" Pekik Alfano. Sontak aku menoleh ke arah pintu. Benar saja yang datang adalah Faisal. Dengan style santai memakai kaos oblong dan sarung motif kotak, tidak mengurangi ketampanannya. Dia tersenyum kepadaku, aku-pun membalas dengan sekilas senyuman dan menundukkan pandangan. Sarung adalah pakaian yang sangat lumrah di daerah kami.
"Masuklah Nak, tuan rumahnya masih shalat. Mungkin Nak... siapa tadi namanya?" Om Rudi bertanya.
"Om Ical kek, namanya!" Alfano menyahuti.
"Oh iya, Nak Faisal sudah shalat?"
"Alhamdulillah sudah Om, tadi mampir ke masjid dulu."
"Ayo duduk dulu, santai saja! Anggap saja rumah sendiri!" Om Rudi mempersilahkan duduk. "Rai tolong ambilkan minuman!"
"Iya Om." Aku beranjak pergi ke dapur untuk mengambil minuman. Mbak Rindi menyusulku ke dapur.
"Bikin banyak sekalian, Rai! Pingin yang seger-seger. Es batunya ada di kulkas!"
Aku tadi juga beli brownis dan camilan, jaga-jaga takut ada tamu lagi.
"Iya mbak, emm... itu tamunya memang diundang yang di depan?
"Siapa? Ical?"
"Iya, memang ada siapa lagi!"
"Mas Rendy sih yang undang, tadinya dia mau datang besok saja pas acara bareng yang lain! Nggk tahu juga kok munculnya sekarang! Mungkin ada ikatan batin sama kamu, hehe..."
"Dih! nggak jelas kamu Mbak! Bilang saja kalau emang kamu yang nyuruh!"
"Ish, sumpah nggak!" Mbak Rindi menunjukkan dua jarinya, untuk meyakinkan aku.
"Iya deh percaya! Kalau bohong-pun dosanya Mbak yang tanggung."
"Ya sudah nggak usah bawel, kalau sudah selesai cepat dibawa! Kasian Ical kehausan, habis lihat masa depannya!" Mbak Rindi langsung pergi sebelum aku membalas perkataanya. Aku hanya geleng-geleng kepala.
Setelah selesai membuat minuman jeruk, aku membawanya ke depan.
"Nah, ini minumannya sudah datang!" Ujar Mbak Rindi. "Ayo cal, diminum."
"Iya Rin!" Faisal melirik padaku. "Terima kasih ya Rai!"
"Iya sama-sama." balasku, aku memasang mood cool.
__ADS_1
"Lama nggak ketemu, gimana kabarmu, Rai?
"Alhamdulillah baik, Mas."
Om Rudi dan Tante Santi sedang keluar mencari makan malam. Ingin makan malam berdua katanya.
"Mas, Kamu yang pompa balonnya, nanti aku bantu tiup biar cepat selesai." Mbak Rindi memberikan pompa balon itu kepada Mas Rendy.
"Kamu yang rangkai Rai, coba cari di Youtube caranya! Ical bantuin Raisya!" perintah Mbak Rindi.
Si kembar sedang anteng dengan mainnya masing-masing. Aku mulai mencari tutorial membuat dekorasi balon di HP-ku. Aku mencari yang paling mudah. Karena memakai bahan seadanya, aku meminta benang yang tebal kepada Mbak Rindi.
"Ada Rai, untung waktu itu aku beli untuk layangannya Alfan. Ini kan?" Mbak Rindi menunjukkan benang itu kepadaku.
"Iya betul, sini Mbak! Aku memintanya.
Aku mulai menggabungkan balon satu dengan yang lainnya. Saat mulai banyak agak susah untuk mengembalikan balon.
"Sini biar aku bantu, Rai!" sepertinya dia sudah biasa menyebut namaku. Karena dia lebih tua dari aku, tak pantas aku sebut nama. Jadi aku tetap memanggilnya "Mas".
"Ah iya, tolong pegangin yang bagian sini Mas!" Aku mulai merangkai balon lagi satu persatu. "Tolong diikat yang bagian sini, Mas! dilitkan dulu!"
"Begini, Rai?" Dia salah arah memutar, aku membenarkan.
"Bukan mas, tapi dari atas ke bawah! Begini!"
Aku tidak sengaja menyentuh jarinya." Sontak dia melihatku. Pandangan kita bertemu.
"Nggak pa-pa, Rai. Cuma kena sentuh nggak akan lecet! Dicubit-pun aku rela." Godanya.
Hal itu tentu didengar oleh Mbak Rindi dan Mas Rendy. "Cie... yang lagi usaha!" Ujar Mbak Rindi menggoda Faisal. "Nggak usah modus! Dia udah kebal lho, Cal! Jadi nggak akan mempan!"
"Kamu Rin, bukannya mendukung malah bikin aku down!" Ujar Faisal sambil melirik ke arahku, aku pura-pura cuek.
"Ini Mas, tolong diikat lagi balonnya!"
"Ah, iya! Seperti ini kan?"
"Iya benar." Jawabku singkat.
Setelah beberapa menit kami merangkai balon dan sudah mendapatkan hasil yang diinginkan.
"Kamu yang pasang, Cal! Ini naik tangga lipat.
pegangin Rai, takut geser! Ini bannernya dulu yang dipasang! aku juga akan naik di sebelah sana pakai kursi, biar gak miring." Ujar Mas Rendi. "Ma, kamu lihatin ya, takut miring"! Perintah Mas Rendi kepada istrinya.
Banner sudah terpasang rapi, kemudian balon sudah tertata dengan sempurna. Hasilnya lumayan, karena masih amatiran.
__ADS_1
"Gimana sudah bagus, belum?"Tanya Faisal.
"Sudah, perfect! udah cepet turun! kasian Raisya yang pegangin dari tadi.
Saat akan turun dari tangga yang berbahan calvalum itu, kaki Faisal terbelit sarungnya. Dia kurang keseimbangan, sontak langsung berpegangan ke bahuku. Untung saja sarungnya tidak melorot. Aku yang kaget hanya bisa tutup mata dan menyebut nama Tuhan. "Ya Allah! Hati-hati, Mas!"
"Bikin jantungan kamu,Cal! Makanya fokus!" Ujar Mas Rendy.
"Grogi aku, Rend!" Ucapnya, lalu beralih menatapku. "Rai, maaf ya! Aku sudah bikin kaget, dan tadi nggak sengaja! Tanganku reflek. Atau kalau kamu mau balas, sentuh saja bahuku! Biar impas!" Sebenarnya Faisal orangnya asyik, ngomongnya antara menggoda dan serius.
"Yee... itu sih maumu!" Mas Rendy melempar bantal sofa ke arahnya."Awas saja kalau kamu modusin asik iparku!"
"Aku nggak modus Rend! Cuma belum sempat aja ngomong serius. Kira-kira mau nggak ya diajakin serius?" Jelas-jelas aku mendengarnya.Dia sengaja berkata keras agar aku menanggapinya. Tapi aku pura-pura tidak mengerti. Dan pergi menghampiri si kembar.
Tak lama kemudian, HP Mbak Rindi berdering. Rupanya telpon dari Robi. Robi tidak jadi datang, karena ada acara dadakan. Om Rudi dan Tante Santi akhirnya datang membawa makanan.
"Mama belikan makanan, dimakan ya! Kita mau istirahat dulu." Om Rudi dan Tante Santi masuk ke kamarnya.
Si kembar mulai mengantuk, Mbak Rindi menemani mereka tidur. Karena memang biasanya mereka minta didongengin sebelum tidur. Mas Rendy keluar membeli rokok. Aku sedang mengemas snack untuk dijadikan souvenir ulang tahun si kembar besok. Memasukkan ke dalam paper bag, Faisal membantuku. Aku fokus dengan pekerjaanku, tanpa bersuara.
"Ehm... Rai!" Dia memulai obrolan.
"Iya?" Aku menjawab tanpa mendongak.
"Boleh saya ngomong serius sama kamu?
Aku diam sejenak, masih menerka-nerka.
"Ngomong serius?" Aku mulai mendongak, melihatnya sekilas lalu menunduk lagi.
"Iya, apa kamu sudah punya teman dekat?"
"Ada, Putri." Jawabku dengan polos.Dia tersenyum mendengar jawabanku.
"Bukan cewek, maksud saya! Gini, apa kamu punya pacar gitu?"
"Tidak, saya tidak dekat dengan siapa-pun! Saya juga tidak berminat pacaran."Jawabku jujur.
"Alhamdulillah, aman! Kalau boleh aku ingin kenal lebih dekat denganmu. Itu-pun kalau kamu tidak keberatan."
"Kenal lebih dekat untuk apa, Mas? Tidak baik seorang laki-laki dan perempuan terlalu dekat kalau bukan muhrim."
"Aku tahu kita baru kenal, ketemu-pun hanya beberapa kali. Saya mau cari pasangan hidup Rai. Boleh kita melakukan taarruf? Ujarnya to the point.
Aku terkejut dengan ungkapannya, tapi aku mencoba bersikap santai. Aku sebenarnya curiga kalau semua ini ada campur tangan Mbak Rindi dan Mas Rendy.
"Maaf Mas, atas dasar apa Mas ingin taarruf dengan saya?"
__ADS_1
Bersambung....
Nantikan kelanjutannya Kakak, jangan lupa mampir lagi. Terima kasih atas dukungannya ya. Semoga Allah yang membalas kebaikan kakak reader's😇