Ketegaran Hati Raisya

Ketegaran Hati Raisya
Buka puasa


__ADS_3

Satu minggu berlalu. Hari-hariku berjalan dengan semestinya. Aku dan Mas Haris sementara memang masih tinggal di rumah Abah. Karena kami belum memiliki rumah sendiri. Aku tidak mungkin tinggal di rumah yang Nenek wariskan. Karena selain jauh dari sekolah tempatku mengajar, aku tidak ingin mengulang kembali kenangan buruk bersama mantan suamiku. Biarlah rumah itu akan menjadi hunian anak-anakku kelak.


Malam ini ada acara pengajian di rumah Mas Haris. Rencananya kami akan menginap di sana. Setelah shalat Dhuhur, aku memasukkan baju ganti dan mukenah ke dalam tas. Aku memang baru saja bersuci dari haid. Mas Haris tidak tahu, karena belum pulang shalat jum'atan dari Masjid. Segera aku berpakaian rapi, berdandan tipis dan siap-siap menyambut kedatangan suamiku.


Lima menit kemudian Mas Haris dayang bersama Abah. Dibukanya pintu kamar, dan kusambut dengan senyum tulus.


"Assalamu'alaikum, Sayang! Aku pulang."


"Wa'alaikum salam, Mas." Aku mencium punggung tangannya, danmencium telapak tangannya. Mas Haris mengecup keningku.


"Masyaallah cantik banget istriku. Senyumnya ini lho! Bikin aku betah memandangmu."


"Ish, gombal!"


"Kok gombal sih! Aku serius, sayang."


"Iya iya, aku percaya. Mas, jadi berangkat ke rumah Ibu? Aku udah siap ini."


"Jadi dong, tapi kita makan siang di sini dulu, ya? Kasian Ummi sudah masak."


"Iya Mas."


Akhirnya kami makan siang bersama Ummi dan Abah. Ummi membuatkan brownis kukus untuk dibawa ke rumah Ibu.


"Ummi kok repot-repot bikin kue, nanti ummi capek." Ujar Mas Haris.


"Nggak apa Nak, Ummi memang sering bikin kok. Ini nanti biar bisa untuk suguhan acara pengajian. Sampaikan salam kami kepada orang tuamu, Nak." Ujar Ummi.


"Baik, Ummi."


"Rai, Ris, kalau mau bawa mobil, bawa saja mobil Abah!"


"Nggak usah, Bah. Ini nanti rencana Haris mau ambil mobil Haris di rumah teman. Sudah satu minggu dipinjam untuk pulang kampung. Nanti biar motornya Haris taruh di rumah Ayah.


"Oh, ya sudah kalau begitu. kalian hati-hati di jalan."


"Baik, Bah. Kami berangkat dulu. Assalamu'alaikum."


Akhirnya kami sampai di rumah Ayah. Di sana sudah ada Mbak Hana dan Nuri, juga anak-anak mereka. Juga ada tetangga dekat yang ikut membantu. Acara pengajian ini rutinan tiap minggu Ibu-ibu komplek. Kebetulan minggu ini di rumah Ibu mertua.


"Ini dari Ummi, Bu." Ujarku menyerahkan dua kotak brownis.


"Apa ini, Nak? Kok repot-repot segala?"


"Brownis, tadi Ummi bikin sendiri. Ummi dan Abah nitip salam buat Keluarga di sini, Bu."


"Oh iya, salam balik untuk keluarga di sana. Sampaikan terima kasih dari kami."


"Iya, Bu."


Aku membantu Ibu dan saudara iparku memasak di dapur. Kami masak soto ayam dan lontong.


"Sini, Bu. Biar saya yang ngulek." pintaku, saat Ibu mau mengulek sambal untuk soto.


"Kamu bisa, Nak? Soalnya Hana dan Nuri nggak kuat kalau ngulek sambal, matanya berair."


"Iya bisa, Bu."


"Baiklah, ini!"


Aku mulai mengulek sambal. Mbak Inah memasak lontong. Mbak Hana dan Nuri istirahat untuk shalat Dhuhur. Para tetangga juga pulang karena belum shalat Dhuhur. Mas Haris sedang di kamar, melanjutkan pekerjaannya.


Sudah jam 4 sore. Karena semua pekerjaan selesai, aku masuk ke kamar. Aku melihat Mas Haris sedang tidur. Aku masuk ke kamar mandi, untuk membersihkan diri dan wudhu'. Kemudian shalat Ashar di dalam kamar. Setelah shalat, aku membereskan kembali mukenah ke ke dalam tas.


Saat adzan maghrib sudah berkumandang, Mas Haris hendak pergi shalat ke masjid. Aku shalat sendiri di dalam kamar.


Jam 6 sore, Ibu-ibu pengajian mulai berdatangan. Ada sekitar 30 orang yang hadir.


"Bu Rida, Ustadzah Luluk dan adiknya tidak bisa hadir. beliau titip salam kepada saya. Katanya beliau sedang ada telpon mendadak. Ada saudaranya yang meninggal dunia."


"Innalillahi wannainnailahi roji'un. Terus nanti siapa yang akan memipin membaca tahlil dan Yaasin ini, Bu?


"Oh iya, terus gimana ini?"


Aku melihat mertuaku dan Ibu RT kebingungan

__ADS_1


"Maaf, kenapa Bu?" Tanyaku kepada Ibu mertua.


"Ini, yang mimpin nggak ada, Nak. Kita jadi bingung. Biasanya Ustadzah luluk atau adiknya. Sekarang dua-duanya nggak ada. Mendadak ditelpon, ada saudaranya yang meninggal."


"Ibu-ibu yang lain tidak bisa menggantikan, Bu?" tanyaku.


"Masa iya saya sebagai tuan rumah memimpin sendiri?" Ujar mertuaku.


Aku dilema, mau menawarkan diri tapi takut dikira sok, karena di sini aku terbilang paling muda dan sebagai pendatang. Mau aku biarkan kasian, acara akan malam mulainya.


"Oh iya, Bu. Kenapa tidak Dek Raisya aaja yang mimpi do'anya. Dia kan lulusan pesantren. Pasti bisa! Suara Mbak Hana memecah kebingungan kami.


"Iya juga ya? Gimana, Nak? Bisa kan?" Tanya Ibu mertua.


"Kalau Mbak Hana saja, gimana?"


"Tidak-tidak... Aku sedang datang bulan, tidak afdol kalau mimpin do'a." Mbak Hana beralasan.


" Ya sudah kalau memang tidak ada lagi ya saya yang akan maju. Insyaallah bisa, Bu." Jawabku tanpa membantah.


"Alhamdulillah... Ayo Nak, kita duduk. Segera mulai acaranya. Biar tidak kemalaman."


Ibu memperkenalkan aku kepada Ibu-ibu komplek. Kemudian kami memulai membaca do'a bersama, dan aku yang pemimpin.


Setelah selesai acara do'a bersama. Kami mengeluarkan hidangan. Aku pamit kepada Ibu-ibu untuk pergi ke belakang, membantu mengangkat hidangan.


"Sudah, Nak! Biar yang lain yang angkat-angkat. Kamu duduk saja. Pasti capek habis mimpi do'a." Ujar Ibu melarangku.


"Tidak, Bu. Saya tidak capek, kok! Biar saya bantu."


Soto ayam sudah dihidangkan beserta lontongnya. Tiap orang mendapat jatah sepiring. Jajan suguhan juga sudah dikeluarkan. Ada brownis, pisang goreng dan risol sosis mayo. Minumannya air mineral dan es jeruk.


"Bu Rida, Istri Haris itu sebenarnya guru ngaji atau guru SMP? Pinter banget ngajinya, Masyaallah..." Bu RT penasaran.


"Dia seorang guru Matematika di SMP , Bu RT. Kalau masalah pintar ngaji, dia kan lulusan pesantren. Alhamdulillah, Haris memilih istri yang kental agamanya."


"Benar sekali, Bu. Sudah cantik orangnya, sopan juga."


"Lha iya, begitu ketemu sama Raisya beberapa hari, Haris sudah jatuh cinta. Dia bersikeras meyakinkan kami. Minta kami segera melamar Raisya. Takut diambil orang katanya, hehe..."


JM 8 malam acara sudah usai. Aku membantu Mbak Inah mencuci piring.


"Sudah Non, ini pekerjaanku. Non Raisya Ke depan saja kumpul dengan yang lain.


"Nggak pa-pa, Mbak Inah. Saya sudah biasa nyuci piring. Biar Mbak Inah bisa cepat selesai, ini lumayan banyak lho!"


"Ya sudah, kalau Non maksa, saya bisa apa? hehe... tapi kalau Mas-nya marah karen istrinya kecapean, jangan salahin saya lho!"


Akhirnya kami selesai mencuci piring. Aku kumpul ke depan. Ibu-ibu sudah pulang, tinggal keluarga Mas Haris.


"Sayang, kamu dari mana?


"Dari belakang, tadi bantuin Mbak Inah."


"Kamu jangan capek-capek!"


"Cuma cuci piring kok, Mas."


"Istrimu itu nggak mau diam, Ris. Orangnya cekatan. Beda sama Adikmu." Ibu melirik Nuri.


"Hehe... Aku lagi yang kena." Sudah ah aku mau pulang dulu. Ini su bocil udh ngantuk. Aku minta sitonya ya, Bu? Suamiku belum makan malam."


"Iya, ambil saja! Masih banyak di dapur. Bawa rantang, Nur!"


"Iya, Bu." Jawab Nuri.


"Mas, kamu mau makan?"


"Sudah barusan, bareng sama Ayah."


"Ya sudah, aku mau masuk ke kamar dulu."


"Iya sayang."


Aku pergi menuju kamar. Sudah jam 9 malam, aku-pun shalat Isya'. Saat tengah berdo'a, Mas Harian masuk ke dalam kamar. Lalu berjalan nendekatiku. Dia duduk di belakangku dan mengaminkan do'aku.

__ADS_1


"Sayang, kamu sudah bisa shalat?"


"Iya."Jawabku singkat dan tersenyum menunjukkan gigiku.


"Sejak kapan?"


"Sejak tadi siang."


"Kok aku nggak tahu?"


"Iya karena memang aku nggak ngasih tahu."Jawabku santai.


"Curang..."


"Emangnya kita lagi main game, Mas?"


"Bukan, tapi main bola sodok." Mas Haris mencubit kedua pipiku.


"Ihh...sakit Mas!"


"Maaf- maaf!" Mas Haris mengelus pipiku. "Abis gemesin! Yes-yes! Aku mau ke kamar mandi dulu." Mas Haris berlari kecil masuk ke kamar mandi. Aku hanya tersenyum melihat tingkahnya.


Aku melipat mukenah dan sajadahku. Saat ini aku sedang mencoba memakai lingerie berwarna merah, kado dari Mbak Rindi.


Dasar Mbak Rindi, Otaknya ngeres banget! Ini baju apa jaring ikan? Apa seperti ini yang disenangi laki-laki? Ini juga segitiga hanya bertali. Ya Tuhan... kenapa ada desainer yang bikin baju seperti ini? Tapi kalau ini membuat suami senang, aku akan mencobanya. Itung-itung tambah pahala. Batinku dalam hati.


Aku naik ke atas ranjang, menutup tubuhku dengan selimut.


krrek...


Suara pintu kamar mandi terbuka. Mas Haris keluar dari kamar mandi. Saat ini dia sedang bertelanjang dada, dengan hanya memakai sarung di bawahnya.


"Sudah ngantuk, sayang?"


Aku hanya mengangguk.


"Oh...tidak bisa! Aku sudah berpuasa selama satu minggu!" Ujarnya, kemudian merangkak ke atas kasur dan mendekatiku.


"Sayang, buka selimutnya!Kamu nggak gerah?"


Aku hanya mwnggeleng kepala.


Dengan kekuatnnya dia berhasil membuka selimut yang membungkus tubuhku.


"Masyaallah..." Mas Haris tertegun melihatku.


Aku menyilangkan kedua tanganku di bagian atas tubuhku. Mas haris membuka kedua tanganku. Tentu saja tenagaku kalah.


"Sayang, ini sungguh indah, kamu seksi sekali! Kamu sengaja ya, hem?"


"Ti-tidak, bukan maksudku...."


"Ssstt.. !Apapun maksudnya, yang penting si ***** sudah bereaksi, kamu harus bertanggung jawab, sayang." Dia langsung menindihku. Kemudahan mencumbuku tanpa ampun. Memberi tanda merah di sekitar keher dan dadaku. Aku menerima setiap sentuhannya.


"Ini sempit sekali, sayang! Kenapa masih sempit begini? Kamu luar biasa sayang!"Mas haris nyerocos tidak karuan. Aku hanya bisa menggigit bibir bawahku, menahan rasa perih.


Mas haris terus menghujam milikku dengan senjatanya. Sampai akhirnya dia merubah posisi miring saat miliknya melesat dengan sempurna.Dia terus memompa milikku sampai kami mengerang mengeluarkan cairan kenikma*an. Dan Beberapa saat kemudian dia ambruk di atasku.


"Terima kasih sayang, hidangan pembukanya mantap. Kamu bikin nagih! Kapan-kapan akan aku belikan baju model begini, selusin."


"Mas... jangan gila!"


"Nggak pa-pa aku memang tergila-gila padamu, Sayang."Mas Haris mencumbuku sekali lagi, dan terjadi lagi pertarungan hangat malam ini. Sampai akhirnya kami ngantuk dan tertidur bersama.


Bersambung.....


...***************...


Ayo siapa yang bacanya sambil senyum-senyum ingat suami? 😁😁


Maafkan jika kehaluan author tidak sama dengan bayangan kakak readers


Terima kasih udah selalu ada.


See you again...

__ADS_1


__ADS_2