Ketegaran Hati Raisya

Ketegaran Hati Raisya
Pendekatan


__ADS_3

Satu hari setelah ulang tahun si kembar. Ada notif di HP-ku, ternyata pesan dari Faisal. Kemarin kita memang sudah tukaran nomor HP.


๐Ÿ’Œ Faisal


Assalamu'aikum...


Hai manis...


Maaf mengganggu, saya hanya ingin kirim data diri, siapa tahu masuk nominasi kandidat calon Imam Idaman ๐Ÿ˜


Langsung saja ya!


Nama : Faisal Ali Hamdani


Usia : 26 tahun


Makanan favorit : Penyetan ikan


Minuman favorit: Kopi susu


Tapi kalau sudah menikah nanti, apapun yang dimasak dan dibuat istriku, itu akan menjadi favorit ๐Ÿ˜


Pekerjaan : Wiraswasta


Hobi : Olahraga


Tinggi : 165 cm


Berat badan : 65 kg


Pendidikan terakhir : Sarjana Ekonomi


Cita-cita : ingin jadi Imam-mu ๐Ÿ˜ƒ


Saya anak ke dua dari pasangan Bapak Suroto dan Ibu Setya Ningsih. Saya memiliki dua saudari. Kakak perempuan saya bernama Farida sudah menikah. Dan adik perempuan saya Septiyani juga sudah menikah. Saya sendiri masih bujang ting-ting dan belum pernah menikah. Kedua orang tua saya masih lengkap.


Jika ada yang ingin ditanyakan lagi, saya siap menjawab. Terima kasih atas waktunya.


Wassalamu'alaikum.


-


-


Aku merasa lucu dengan pesan yang dia kirim, tak terasa aku tertawa sendiri di dalam kamar. Memang dia type orang yang humoris.


Segera Aku membalas pesannya.

__ADS_1


๐Ÿ’ŒRaisya


Wa'alaikum salam...


Terima kasih sudah mengirim datanya Mas. Jika Allah berkehendak, tidak ada yang tidak mungkin. Saya juga akan mengirim data diri, agar adil ya!


Nama : Raisya Azkiya


Usia : 22 tahun


Pekerjaan : honorer di sekolah SMP


Makanan favorit : Bakso


Minuman favorit : Air putih


Tinggi: 150 cm


Berat badan: 42 kg


pendidikan terakhir: Sarjana Pendidikan


Cita-cita: Ingin masuk surga


Saya putri pertama dari Bapak Abdullah dan Ibu Maryam. Saya dua bersaudara, dan anda pasti sudah kenal dengan adik saya. Status juga sudah tidak usah diperjelas lagi, karena anda sudah tahu. Terima kasih, untuk saat ini tidak ada pertanyaan. Semoga Allah mengabulkan niat baik anda.


๐Ÿ’ŒFaisal


๐Ÿ’ŒRaisya


Insyaallah...


Mari kita minta petunjuk kepada Allah.


................


Dua minggu sudah berlalu, aku dan Mas Faisal masih sering bertukar pesan. Memang aku melarangnya untuk menelpon. Sebelum aku memberikan keputusanku.


Selama dua minggu ini, aku masih menikmati pendekatan kami. Mas Faisal selain humoris juga penyabar. aku tidak tahu itu sifat aslinya atau bukan. Tapi yang aku tangkap dari saat kita berkirim pesan, orangnya sabar dan terbuka.


Baru-baru ini saya tahu kalau Mas Faisal punya usaha konveksi miliknya sendiri. Karena tadinya saya mengira dia teman Mas Rendy di Bank. Tapi ternyata dia teman sekolah Mas Rendy waktu SMP. Kemudian waktu SMA Mas Faisal pindah ke kota B karena ikut orang tuanya yang sedang pindah tugas sebagai kepala sekolah. Saat lulus SMA Mas Faisal kembali ke kota ini. Karena di sini masih ada rumah yang ditinggalkan tuanya. Mas Faisal kuliah jurusan ekonomi, tapi dia lebih memilih membuka usaha konveksi karena dia sendiri suka menjahit. Saat ini dia sudah memperkerjakan sebanyak 20 orang di rumah konveksinya yang berada di kota ini juga, dan tidak jauh dari rumah lama yang dia tempati. Rumah itu adalah peninggalan Kakek dan Neneknya. Usahanya sudah berjalan hampir tiga tahun. Kakaknya sudah punya dua anak dan memiliki rumah sendiri di kota B. Sedangkan adiknya sudah punya satu anak dan masih tinggal bersama orang tuanya. Karena anak bungsu, orang tuanya tidak memperbolehkan adiknya keluar dari rumah. Itu sebagian cerita tentang keluarganya, yang pernah dia ceritakan melalui pesan yang dikirim.


Malam ini aku memutuskan untuk shalat istikharah. Karena bagaimanapun aku harus memberikan jawaban kepada Mas Faisal dua minggu lagi. Aku tidak bisa memutuskan hanya berdasarkan apa yang aku alami dsn rasakan. Tapi aku juga butuh petunjuk dari Tuhan.Untuk perasaan mungkin saat ini belum ada rasa cinta, tapi aku mulai menyukainya.


Jam 2 dini hari, aku bangun seperti biasanya. Setelah berwudhu' aku-pun melakukan shalat istikharah. Seumur hidup, baru kali ini aku melakukan shalat istikharah. Setelah sekesai shalat, aku berdo'a dan meminta petunjuknya.


"Ya Allah... Ampuni dosa hamba dan dosa kedua orang tua hamba. Hamba mohon kepada-Mu berilah petunjuk atas kebimbangan hamba. Karena hamba yakin, Engkaulah yang Maha Tahu atas segalanya. Dekatkan dia kepadaku kalau memang kami berjodoh. Karena sesungguhnya hidup dan mati hamba adalah kuasa-Mu. Amin..."

__ADS_1


Hari ini adalah hari terakhir libur sekolah. Sofi dan Irfan mengajakku nonton film terbaru. Sebenarnya aku malas keluar. Tapi karena mereka menjemputku ke rumah, dan sekalian menitipkan baby Zie kepada Ummi.


"Jangan malam-malam pulangnya ya!" Pesan Ummi kepada kami bertiga.


"Siap ummiku sayang." Sofi menjawab.


Segera kami berangkat me Mall terdekat yang ada di kota. Perjalanan dari rumah ke mall sekitar satu jam.Sampai di sana kami langsung menuju ke studio 21. Irfan membeli tiket untuk kami bertiga. Setelah dirasa sudah waktunya jam tayang kami masuk ke dalam. Karena Film memang baru pertama kali tayang di bioskop ini, jadi banyak sekali peminatnya. Jam 4 sore kami keluar dari studio. Karena lapar, kami pergi untuk makan di salah satu foodcord ternama yang ada di dalam mall.


Sudah bisa di tebak, kalau jalan dengan dua orang ini, pasti aku hanya jadi obat nyamuk. Karena hanya bisa melihat keromantisan mereka.


"Dik, ayo pulang! Nanti Ummi marah kalau kelamaan. Ingat, kamu sudah punya Zie! Anakmu sudah terlalu lama ditinggal."


"Iya, Mbak! Ini beli oleh-oleh dulu buat Ummi sama Abi." Kami membeli beberapa roti dari salah satu otlet roti yang sedang viral.


Setelah selesai kami buru-buru pulang ke rumah. Di mobil kami sempat ngobrol tentang Mas Faisal.


"Mbak, gimana Bang Ical?" Tanya Sofi.


"Gimana apanya dik?"


"Iya, gimana kelanjutannya. Katanya kalian sedang pendekatan?


"Iya masih berjalan dengan baik, kami masih berkirim pesan."


"Terus rencana ke depannya gimana, Mbak!"


Irfan hanya menjadi pendengar setia, tanpa menimpali pembicaraan kami.


"Mbak masih minta petunjuk dari Allah, dik. Bukannya Mbak terlalu memilih, hanya lebih berhati-hati. Kamu do'akan saja ya?"


"Semoga yang terbaik, Mbak. Semoga Bang Ical adalah jodoh yang dikirim Allah untuk Mbak."


"Amiiin..."


Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, kami-pun sampai di rumah. Tepatnya 10 menit setelah adzan maghrib kita sampai di rumah.


"Anak Mama! Nggak rewel kan sama Nenek?"


Sofi mengambil Baby Zie dari gendongan Ummi. Dia seolah-olah berbicara denganbayinya yang belum tahu bicara itu.


"Zie pinter, Sof! Nggak kayak kamu waktu kecil dulu. Dikit-dikit nangis, rewel banget. Apa lagi Raisya, kalau mau tidur harus keliling kampung dulu pakai motor." Ummi mengingatkan kami waktu bayi dulu.Kami hanya tersenyum mendengarkan ocehan Ummi.


"Ya sudah, ayo shalat dulu! Abi-mu sedang shalat. Tadinya mau gantian gendong Zie, ternyata kalian sudah datang.


Kami-pun shalat bersama dan Irfan yang menjadi Imam kami. Untuk sementara Zie digendong Abi. Malam ini Sofi akan menginap di sini, karena sudah capek jika harus pulang ke rumahnya.


...****************...

__ADS_1


See you again kakak...


Sabar ya kakak, konflik akan menyusul. Jadi tetap beri dukungan dan semangatnya buat author yang amatiran ini๐Ÿค—


__ADS_2