Ketegaran Hati Raisya

Ketegaran Hati Raisya
Posesifnya Haris


__ADS_3

Seminggu berlalu, hari ini kami mengadakan aqiqah untuk Raka dan Riky. Kali ini kami hanya mengundang 100 anak yatim piatu yang diambil dari sua panti asuhan. Jami juga mengundang warga perumahahan dan beberapa keluarga dekat saja. Acara diadakan sore hari, karena mengingat banyaknya anak yatim piatu masih balita. Selain memberi makanan, kami juga memberi santunan berupa uang. Acara berjalan dengan lancar.


Makam harinya, kami masih berkumpul di ruang keluarga. Ada Orang tuaku dan orang tua Mas Haris.


"Abah, Ummi, Ayah, dan Ibu, Raisya mau menyampaikan sesuatu."


"Ada apa, Rai? Sepertinya serius sekali?" Ummi bertanya. Aku menoleh ke arah Mas Haris, dia mengkode agar aku melanjutkan apa yang akan aku sampaikan


"Em... begini! Aku sudah shalat istikharah dan meminta petunjuk kepada Allah untuk karirku. Karena tidak mungkin bagiku meninggalkan anak-anakku lagi, sudah cukup Salman dan Salwa yang aku titipkan pada pengasuhnya. Untuk selanjutnya aku akan merawat Raka dan Riky sendiri. Untuk Salman dan Salwa akan tetap dibantu baby sitter untuk membantuku. Namun nanti kalau mereka sudah sekolah SD, aku rasa mereka sudah tidak perlu baby sitter lagi. Jadi hasil yang aku dapatkan adalah... sebaiknya aku pensiun dini saja." Aku menghentikan ucapanku, dan melanjutkan kembali." Aku sayang dengan dunia pendidikan, tapi aku tidak mungkin mengecewakan anak-anakku Aku ingin melihat tumbuh kembang mereka. Aku tidak ingin mereka akan lebih sayang kepada orang lain daripada Ibunya sendiri. Jadi kepada Abah dan Ummi Rai mohon keikhlasannya, aku tahu seperti apa perjuangan Abah dan Ummi untuk menjadikan Rai sampai sesukses sekarang. Tapi Rai punya kewajiban lain, tolong dukung keputusanku!" Mataku sudah mulai berkaca-kaca.


"Rai, Abah tidak masalah kalau kamu mau pensiun dini. Kalau itu sudah keputusan yang terbaik bagimu, Kami sebagai orang tua akan mendukung dan tetap mendo'akanmu."Ujar Abah.


"Itu benar, Rai! Ummi juga setuju dengan keputusanmu! Banyak tanggung jawab lain yang harus kamu pikul. Anak-anakmu lebih membutuhkanmu, jadi lebih baik kamu resign."


"Alhamdulillah, terima kasih ya Abah dan Ummi sudah mengerti keadaanku. Ayah, Ibu, Rai minta maaf karena tidak bisa meneruskan perjuangan di dunia pendidikan seperti yang Ayah lakukan sampai batas usia. Aku sebenarnya ingin seperti Ayah, tapi keadaan tidak memungkinkan."


"Kamu pasti sudah memikirkannya secara matang, dan kamu juga sudah mendapat petunjuk yang baik dari Allah. Kalau jalannya sudah begini, kami bisa apa? Cucu-cucuku pasti senang kalau Ibunya lebih banyak waktu untuk mereka.Kamu tenang saja, nanti biar Ayah yang membantu untuk mengurus surat-suratmu."


"Kalau Ibu, ya sama! Kami akan selalu ada untuk kalian."


Lega rasanya sudah mengeluarkan isi hati. Dan secepatnya aku akan mengurus surat ke kantor DIKNAS. Ayah pasti lebih tahu dalam hal ini. Karena beliau sudah puluhan tahun berkecimpung di lingkungan DIKNAS.


Hari ini aku ke sekolah untuk berpamitan kepada kepala sekolah dan warga sekolah. Sekalian aku akan membereskan barang-barangku yang masih tertinggal di sana.Aku ke sekolah diantar Mas Haris. Raka dan Riky kami titipkan ke Mbak Jum dan Bi Leha.


Saat ini kami sudah berada di dalam kantor. Karena waktunya istirahat, banyak guru-guru yang sedang nyantai.


"Maaf Bu, kedatangan saya ke sekolah untuk pamit, saya mau pensiun dini." Ujarku kepada kepala sekolah. Ada beberapa guru yang ikut mendengarkan.


"Sayang sekali Bu Raisya, padahal Ibu masih belum lima tahun menjalani sebagai guru PNS? Apa keputusan ini sudah dipikirkan dengan matang, Bu? Di luar sana banyak yang ingin seperti Bu Raisya."


"Iya sudah, Bu. Mungkin posisi sya nantinya bisa digantikan dengan orang lain. Saya juga sudah membuat surat untuk diajukan ke DIKNAS, dibantu Ayah Rudi."


Mas Haris hanya menyimak, tidak ikut menimpsli pembicaraan kami.


"Kalau Pak Rudi sudah turun tangan, berarti dia sangat mendukung anda. Kalau boleh tahu apa alasan anda, Bu?"


"Saya ingin fokus dengan rumah saja, Bu. Mengurus anak-anak dan bisa memberi perhatian 1x24 jam untuk mereka. Memiliki kembar empat ini rasanya saya tidak bisa menyerahkan seluruhnya kepada pengasuh, Bu. Karena mereka adalah tanggung jawabku."


"Baiknya, Bu Raisya. Saya sangat mengerti dengan alasan anda ini. Kalau begitu saya harus segera mencari guru pengganti anda. Atau kalau anda punya teman untuk direkomendasikan di sini tidak apa-apa sementara berstatus honorer."


"Nanti saya akan coba cari tahu ke teman-teman saya, Bu. Sebenarnya berat bagi saya meninggalkan dunia pendidikan. Tapi pendidikan anak saya lebih penting, karena saya adalah madrasah pertama bagi mereka. Saya mohon maaf jika selama mengajar di sini banyak sekali kesalahan dan kekurangan."


"Iya, Bu. Saya juga minta maaf kalau selama menjadi kepala sekolah ini, saya punya salah kepada anda. Semoga keputusan yang anda ambil menjadi keputusan yang terbaik."


"Amin, terima kasih Bu. Kalau begitu saya mau pamit dan mohon ijin mau pamit kepada yang lain juga."


"Iya monggo silahkan!"


Aku berpamitan kepada semua guru yang ada di kantor. Bu Hesti orang yang paling dekat denganku, dia nampak sangat sedih dibanding dengan yang lainnya. Setelah selesai membereskan mejaku, Mas Haris membedakan barangku ke dalam mobil. Aku tidak pamit kepada muridku, karena aku tidak mau melihat mereka sedih.

__ADS_1


"Huft... lega rasanya!"


"Kamu nggak nyesel kan, Bund?"


"Tidak! Meski masih berat sih, Yah! Tapi aku yakin akan ada hikmah di balik semua ini."


"Istriku memang the best." Mas Haris mengusap kepalaku.


"Mas, mampir dulu di Baby Shop yang di pinggirnya Mall. Aku mau membeli bajunya anak-anak."


"Siap, sayang!"


Sampai di Baby Shop, Mas Haris memarkirkan mobil dan masuk bersamaku. Aku memilih beberapa baju untuk duo S, karena ukuran mereka sudah naik. Untuk duo R, saya tidak terlalu bnyak membeli, karena ada sisa Salman yang masih bagus dan dipakai beberapa kali saja. Baju Salwa juga madih aku simoan, siapa tahu nantinya aku akan punya anak perempuan lahi. Bukannya aku pelit, tapi baju anak memang dipakainya sebentar, jadi sayang kalau harus beli terus. Baru kalau nanti mereka sudah besar, baju-bajunya akan saya jadikan kepada orang lain.


Saat akan membayar di kasir, ada seseorang yang menyapaku.


"Bu Raisya?"


"Lho, Pak Han!"


"Apa kabar, Bu?"


"Alhamdulillah baik, Bu. Ibu sendiri gimana kabarnya?"


"Alhamdulillah seperti yang Pak Han lihat."


"Ehm..." Mas Haris berdeham.


"Perkenalkan saya Haris, suami Raisya." Ujar suamiku dengan tingkat kepedeannya yang meningkatkan berlipat-lipat.


"Saya Handrik!" Mereka berjabat tangan.


"Oh iya, saya memang mendengar Bu Raisya sudah menikah. Kenapa tidak undang kami Bu?"


"Acaranya sederhana, Pak! Jadi tidak banya undangan. Pak Han sendiri atau sama istrinya?"


"Sendiri, Bu. Istri saya baru saja melahirkan anak pertama kami, belum 40 hari."


"Oh..iya selamat Pak! Anaknya laki-laki apa perempuan, Pak?"


"Perempuan, Bu."


"Oh iya, sebentar saya mau nitip kado untuk anak Pak Han." Aku kembali mencari baju bayi perempuan.


"Tidak usah, Bu!"


"Tidak apa, Pak! Biarkan istri saya memberi kado kepada putri anda, jangan menolaknya!"Mas Haris menimpali, dan mengambil alih keranjang baju yang aku bawa.


"Saya akan membayar belanjaan dulu, Pak Han!"

__ADS_1


"Iya silahkan, Bu! Saya menyusul."


Mas Haris menggandeng tanganku positif, seakan mau menyebrang jalan.


"Kak, yang ini tolong dipisah dan dibungkus


kertas kado." Aku memilih tiga potong baju anak perempuan yang lengkap dengan bandana dan sepatunya.


"Totalnya tiga juta seratus empat puluh tujuh, Pak!"


Mas Haris membayar dengan kartu ATMnya.


"Terima kasih, Pak, Bu."


"Iya, sama-sama kak." Ucapku kepada kasir.


"Pak Han, ini saya titip untuk putrinya, maaf belum bisa menjenguk langsung."


"Tidak perlu repot-repot, Bu. Terima kasih banyak." Pak Han menerima jadi dariku."Ngomong-ngomong belanjaan anda banyak sekali, Bu?"


"Iya Pak, ini untuk keempat anak kami." Kali ini Mas Haris yang menjawab."


"Hah, empat? Kalian sudah punya anak empat?"


"Iya, Pak! Anak pertama kembar dua, yang kedua juga begitu. Jadi sudah empat, hehe... tokcer kan?" Ujar Mas Haris dengan Pedenya.


"Wah, tokcer sekali itu Pak! Jadi Bu Raisya juga baru melahirkan?"


"Sudah 41 hari, Pak."


"Wah saya jadi tidak enak! Ini Bu Raisya ngasih kado ke putri saya, tapi saya tidak ngasih kado ke Bu Raisya."


"Tidak usah begitu, Pak! Istriku ini memang selalu suka memberi. Kami pamit dulu, anak-anak kami tinggal di rumah soalnya."


"Baik, Pak, Bu, silahkan! Sekali lagi terima kasih."


"Sama-sama, Pak." Ujarku dan Mas Haris bersamaan.


"Biar saya yang bawa, Bund! Kamu tidak boleh angkat yang berat-berat!" Mas Haris membawa dua kantong belanjaanku ke mobil. Dan seperti biasanya, membukakan pintu mobil untukku.


Pov Han


Gila! Makin cantik saja Bu Raisya! udah tiga tahun baru bertemu Bu Raisya lagi. Ternyata dia sudah memilki empat anak. Tapi yang aku lihat dia tidak berubah sama sekali. Mungkin karena dia perawatan, yang saya lihat suaminya bukan orang biasa. Huft, baru saya tahu setahun yang lalu dari Bu Lilik, ternyata Bu Raisya itu janda ting-ting. Beruntung sekali suaminya, dia kelihatan sangat posesif kepada Bu Raisya. Bu Raisya masih sama seperti dulu, orangnya baik dan lemah lembut. Ish, apa yang kamu pikirkan Han? Dia sudah jadi istri orang, dan kamu suami orang.


Bersambung....


...****************...


Jangan lupa tetap support aku kakak. Barengan dengan pengunduran diri Raisya, author juga lagi keluar dari kerjaan😭. Ini bukan kisah nyata yang jadi cerita, tapi cerita yang jadi kisah nyata. Alasannya pengurangan tenaga kerja. Semoga ada hikmah di balik semua ini. Do'akan author dapat kerjaan lagi ya kakak🤗 terima kasih.

__ADS_1


See you again....


__ADS_2