
Dua tahun berlalu. Bulan ini usiaku genap 26 tahun. Aku bersyukur dengan bertambahnya usia, aku menjadi orang yang lebih dewasa dalam berpikir. Enam tahun berlalu dari sejak aku menikah dan bercerai. Empat tahun berlalu dari sejak aku kenal dan berakhir dengan Mas Andi. Tiga tahun berlalu dari sejak aku dan Mas Faisal berpisah. Mereka sudah bahagia dengan hidupnya masing-masing. Mas Firman dengan istri dan kedua buah hatinya. Septi sudah yang sembuh total, kini tengah mengandung anak ketiga. Mas Andi dan Laras yang sebentar lagi akan memiliki anak kedua. Mas Faisal yang sedang menunggu kelahiran anak pertamanya.
Sofi yang masih keukeh mencegah kehamilan karena menurutnya Zie masih kecil untuk punya Adik. Kini Zie sudah berusia hampir empat tahun. Sudah mulai masuk sekolah PAUD.
Aku yang masih betah sendiri, dengan kesibukanku mengajar. Setahun yang lalu, aku diterima menjadi Pegawai Negeri satu tahun yang lalu, setelah mengikuti tes CPNS. Aku sudah tidak mengajar di sekolah yang lama. Karena setelah SK keluar, aku dipindah tugas di SMPN Negeri 2.
Aku baru mengetahui saat akan pindah tugas, kalau orang yang sering mengirimiku coklat adalah Pak Handrik. Saat itu Oak Handrik kepergok waktu pagi hari di kantor
FLASH BACK ON
Aku datang terlalu pagi ke sekolah, karena akan mengurus berkas-berkasku dari sekolah lama ke Dinas Pendidikan. Sekolah masih sepi hanya ada tukang kebun dan Oak satpam. Saat akan masuk ke kantor, aku dikejutkan dengan sosok laki-laki yang selama ini aku curigai. Pak Han, yang saat ini tengah duduk di kursiku. Tidak ingin menunda kesempatan, akhirnya aku beranikan diri untuk menghampirinya.
"Maaf ,Pak Han! Bapak sedang mencari apa di meja saya?" Karena terkejut, Pak Han langsung berdiri dari kursiku.
"Ma-maaf, Bu. Saya me-mencari steples. Saya kira Bu Raisya punya."
"Itu Coklat milik Bapak?" Aku langsung to the point. Dan mengambil coklat yang ada di atas meja beserta secarik kertas itu.
Pak Han menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "E..eh...sa-saya."
"Tidak usah mencari alasan, Pak! Maaf, Saya tanya dengan baik-baik. Apa Bapak yang sering ngasih coklat ini diam-diam?" Tanyaku dengan menyembunyikan rasa grogi.
"Iya Bu, benar! Saya yang ngasih. Maaf kalau Bu Raisya merasa terganggu."
"Maaf Pak, sebenarnya saya senang dikasih coklat. Tapi saya bingung dengan maksud Bapak. Kalau mau ngasih langsung saja, Pak. Tidak usah sembunyi-sembunyi. Akan saya terima dengan senang hati, tapi maaf Pak! Tidak dengan maksud tertentu."
"Bu... sudah lama saya suka sama Ibu. Tapi saya tidak punya keberanian. Karena saya yang minim agama ini minder kalau dekat dengan Ibu. Bu Raisya salah satu wanita yang saya idamkan, dan masuk kriteria calon istri yang sholeha." Ucapnya to the point.
"Maaf Pak, mungkin Bapak akan berubah pikiran saat tahu status saya yang sebenarnya."
"Maksud Bu Raisya?" Dia bertanya dengan rasa penasaran.
"Maaf Pak, saya ini seorang janda. Sudah pernah menikah lima tahun yang lalu." Pak Han mematung mendengar pernyataanku. Biarkan nantinya mereka tahu yang sebenarnya. "Bapak kaget, kan? Mungkin setelah mengetahui ini Bapak akan berpikir sepuluh kali untuk tetap mendambakan saya."
"Bu Raisya sedang bercanda? Tidak ada yang tahu soal ini!"
"Saya suka bercanda kalau sedang bercanda, Pak. Tapi kali ini saya sedang serius. Maaf Pak saya ke sini untuk mengumpulkan beberapa file, jadi boleh saya duduk di kursi saya?" Pak Han menggeser tubuhnya dan pindah dari tempatnya berdiri.
"Oh iya, terima kasih coklatnya Pak. Dan ini coklat Bapak kali ini saya kembalikan ya. Karen la yang kemarin masih ada." Aku memberikan coklat itu kepadanya. Pak Han menerimanya.
__ADS_1
"I-iya sama-sama, Bu." Pak Han berjalan mungkin kursinya dengan lunglai. Tidak lama kemudian beberapa guru berdatangan.
Sulit menemukan seseorang yang tidak peduli dengan masa lalu kita. Sulit menemukan seseorang yang tidak akan memandang status kita. Kadang ada yang bisa menerima masa lalu kita, tapi tidak dengan keluarganya. Kadang ada yg bisa menerima status kita, tapi masih mengungkitnya.
Akankah ada seseorang ya tulus dan bisa menerima semua masa laluku?
FLASH BACK OFF
-
...----------------...
Kali ini aku mengembangkan kemampuan di bidang usaha. Baru beberapa bulan yang lalu aku membuka butik di toko kosong milik Abi. Letaknya tidak jauh dari toko sembako Ummi. Aku menjual pakaian muslim dan hijab. Tak lupa aku lengkapi dengan beberapa aksesoris seperti bros, anting hijab, dan headpiece.Aku yang sangat suka seni dan kerajinan tangan, merangkai sendiri beberapa aksesoris yang ada di tokoku. Semua itu aku lakukan di tengah kesenggangan waktu saat hari libur sekolah. Aku mempekerjakan dua karyawan di butik.
Aku mengabaikan cibiran orang yang bilang "Percuma sukses kalau belum punya pasangan. Percuma sukses kalau masih belum dapat jodoh. Percuma sukses kalau gagal berumah tangga." Dan banyak lagi yang mereka bicarakan di belakangku.
-
Kali ini statusku di sekolah sudah diketahui oleh semua pihak sekolah. Mereka sudah tahu kalau identitasku sudah kawin. Karena data diri dan KTP-ku sudah diperbarui untuk kepentingan validasi ke Diknas. Banyak yang mengira aku masih berkeluarga, namun ada sebagian sudah tahu kalau aku sudah cerai. Aku tidak pedulikan itu. Yang terpenting, tugasku terlaksana dengan baik, dan mereka bisa menerimaku dengan baik di lingkungan mereka.
Hari ini aku akan berangkat rekreasi bersama guru-guru dan siswa kelas 9 yang dinyatakan lulus tahun ini. Selain perpisahan dengan siswa kelas 9, ini juga akan menjadi perpisahan dengan Pak Rudi. Karena beliau akan purna tugas atau pensiun. Tujuan kami kali ini ke Bali. Ini tahun pertama aku ikut rekreasi di sekolah. Guru-guru dijatah untuk membawa satu orang keluarga, jika ingin menambah harus bayar sendiri. Kali ini aku tidak mengajak siapa-pun. Aku janjian dengan Bu Hesti untuk tidak membawa siapa-pun karena kami masih sama-sama single. Bu Hesti adalah salah satu guru Bahasa Indonesia yang baru saja masuk satu tahun yang lalu di sekolah ini. Beliau berusia 23 tahun, dia sudah memiliki pacar dan akan bertunangan. Pihak sekolah tidak memperbolehkan membawa orang selain keluarga
Jam 7 setelah shalat Isya' kami harus berkumpul di sekolah. Kepala sekolah sengaja menjadwalkan berangkat malam, agar besok pagi kami bisa sampai di sana. Tiga Bus pariwisata sudah sudah siap di depan gerbang sekolah. Anak-anak sudah mulai masuk dan duduk di kursinya masing- masing. Total ada 180 penumpang yang ikut, baik siswa dan guru serta kepala sekolah.
Setelah semuanya siap, akhirnya bus diberangkatkan.
Pak Anton maju ke depan dan mengambil mic untuk memberikan pengumuman.
"Anak-anak jangan lupa baca do'a ya! Nanti kalau sudah sampai di di kapal, kalian boleh turun. Tapi harus lapor kepada guru! Mengerti?"
"Iya Pak, mengerti!" Jawab mereka serentak.
Di sepanjang perjalanan, aku dan Bu Hesti bercerita. Aku dan Bu Hesti cukup akrab seperti layaknya aku dengan Sofi. Aku menganggapnya seperti adikku sendiri. Kami ngobrol sambil makan camilan popcorn yang kami bawa. Ada beberapa makanan dan minuman ringan yang kami bawa untuk bekal.
"Bu, katanya Pak Rudi bawa istrinya dan putranya juga Lho."
"Oh ya? Aku kok tidak dengar, Bu?"
"Bu Raisya tidak update sih!"
__ADS_1
"Iya, Bu. Aku kudet, hehe...."
"Bu, Putranya Pak Rudi Hansome katanya! Katanya sih, aku juga nggak tahu."
"Lha, trus kenapa Bu?"
"Masih single juga."
"Nah, hubungannya dengan aku apa, Bu?"
"Kali aja, Ibu kecantol. Haha..."
"Kayak jemuran ya, Bu. Ibu ini ada-ada saja." Jawabku.
"Bu sudah tidak berisik, sepertinya udah pada tidur. Ayo Bu! kita tidur juga." Kata Bu Hesti.
"Iya, Bu. Ayo coba merem. Siapa tahu bisa nyenyak!"
Kami-pun mencoba untuk memejamkan mata, berharap bisa tidur nyenyak.
Saat ini Bus kami sudah berada di dalam kapal. Aku melihat Bu Hesti sudah terlelap. Aku ingin turun karena ingin ke toilet. Sebenarnya di dalam bus ada, tapi aku tidak terbiasa. Akhirnya aku turun tanpa membangunkan Bu Hesti.
Aku berjalan sesuai arahan, ternyata toilet ada di lantai 2. Di dalam kapal banyak sekali penumpang. Karena buru-buru ingin ke kamar mandi aku tidak fokus melihat tulisan. Hampir saja aku keliru masuk toilet pria. Saat akan memegang hadle pintu aku dikagetkan dengan pintu yang terbuka, dan yang keluar adalah seorang pria yang sekilas aku lihat sangat tampan. Aku langsung menundukkan pandangan dan mundur satu langkah.
"Anda, sedang mencari seseorang?" Tanya pria itu
"deg"
Suara ini.... sepertinya pernah aku dengar, tapi di mana?
"E-e maaf, saya salah pintu."
Dengan menahan malu, aku langsung berlari kecil masuk ke toilet wanita yang ada di sebelah.
Bersambung.......
......................
Kepoin part selanjutnya kakak.
__ADS_1
Terima ksih selalu support ya
See you again