Ketegaran Hati Raisya

Ketegaran Hati Raisya
Wisuda


__ADS_3

Waktu berjalan begitu cepat.Hari ini adalah hari yang aku tunggu selama 4 tahun kuliah. Setelah seminggu yang lalu aku yudisium, hari ini aku akan diwisuda.


Pagi-pagi aku dan Putri sudah berada di salon untuk dimake-up. Aku berangkat dengan Putri menggunakan motorku. Keluarga kami nanti akan langsung menyusul ke gedung tempat kami wisuda.


Salon cukup ramai, karena sudah diboking beberapa orang yang akan diwisuda hari ini. Memang di sini adalah salah satu salon terbaik di kota kami. Selain bisa melayani perawatan juga melayani make over.


Kami datang jam 6 pagi, karena tidak ingin terlambat sampai di tempat wisuda. Biasanya salon ini bukanya jam 8 pagi. Tapi karena sudah diboking, maka jam 5 pagi mereka sudah buka. Tiba giliranku dan Putri untuk di make-up. Kami sudah memakai baju kebaya dari rumah. Untuk jilbab ada orang yang memang khusus menangani hijab style.


Setelah selesai dimake-up, kami segera berangkatnya gedung. Acara akan dimulai 20 menit lagi. Kami sudah mulai berbaris sesuai dengan gladi bersih kemarin.


Acara demi acara sudah kami lewati. Pengumuman para wisudawan dan wisudawati sudah dilaksanakan. Ada sebanyak 700 orang yang diwisuda hari ini.


Alhamdulillah aku mendapatkan nilai yang sangat memuaskan. Hari ini aku lulus S1 dan menyandang Sarjana Pendidikan.


Setelah acara ditutup, kami mulai berhamburan keluar, mencari keluarga masing-masing. Abi, Ummi, Bibi, Sofi dan suaminya sudah menungguku di luar.


"Selamat ya Nak, semoga ilmunya bermanfaat." Ucap Abi mencium keningku. Aku mencium punggung tangan Abi." Amin, terima kasih Abi."


"Selamat sayang, akhirnya kamu lulus." Ummi mencium pipi kanan dan pipi kiriku. Aku mencium punggung tang Ummi."Terima kasih Ummi."


"Selamat ya Mbak." Sofi mencium punggung tanganku dan memelukku." Tapi ada yang mengganjal diantara kami. Perut Sofi, perutnya sudah mulai membuncit. Karena usia kandungannya sudah memasuki empat bulan."Terima kasih dik."


"Selamat ya Mbak, semoga sukses ke depannya." Ucap Irfan. Meski usia kami sama, tapi karena aku Kakak iparnya, Irfan memanggilku mbak, sama seperti Sofi."Terima kasih Fan."


"Bibi...!" Aku memeluk Bibiku. "Terima kasih ya bi, udah hadir."


"Mana mungkin bibi tidak hadir Rai! Ini yang bibi tunggu-tunggu. Semoga kamu menjadi manusia yang beruntung Rai."


"Amiin, terima kasih Bibi."


Kami berfoto bersama di background yang sudah disediakan panitia dan lengkap dengan masing-masing fotografernya.Kami mengambil beberapa pose di background yang berbeda-beda.


"Mbak, ayo kita makan bersama di cafenya Mas Irfan, gratis katanya! kita rayakan kelulusan Mbak. Nggak pa-pa ya kecil-kecilan, yang penting ngumpul."


"Kok jadi ngerepotin gini dik!"


"Apaan sih Mbak, Mas Irfan banyak duit sekali-kali makan gratis nggak akan bikin dia bangkrut." Candaan Sofi, membuat kami semua tertawa.


"Tapi mbak bawa motor. Tadi kan berangkatnya sama Putri!"


"Ya sudah kami berangkat duluan, Mbak bareng Mbak Putri aja. Ajak sekalian Mbak Putrinya. Keluarga Mbak Putri sekalian juga nggak pa-pa."


"Nanti aku bilang Putri dulu, kalian pergi saja dulu ya. Tunggu Rai di Cafe."


"Mbak cafenya yang di dekat alun-alun ya, bukan yang di dekat pasar."

__ADS_1


"Iya dik." Keluargaku pergi meninggalkan gedung.


Aku mencari keberadaan Putri. Aku telpon tidak ada jawaban, mungkin masih disilent.


"Rai! Kamu cari siapa?" Taufik menyapaku.


"Ini Fik, cari Putri!


"Ayo bro! kita foto bersama di sebelah sana. Andi sudah menunggu." Ucap seorang laki-laki kepada Taufik. Dia adalah Fajar.


"Putri? tadi aku lihat sedang mengantar Ibunya ke toilet, Rai."


"Kamu Raisya?" Sapa Fajar kepadaku.


"Iya jar, ini aku. Sudah lupa?"


"MasyaAllah, maaf bukan lupa Rai! Tapi pangling, cantik baget! Aku nggak ngenalin tadi." Aku hanya tersenyum dan menunduk mendengar pujian Fajar.


"Terima kasih atas pujiannya. Ini karena di make-up jadi kayak ondel-ondel."


"Ish! Kok ondel-ondel, sumpah cantik! Ngomong-ngomong selamat ya Rai, sudah sarjana." Imbuhnya lagi.Belum sempat aku menjawabnya, ada yang datang.


"Kalian di sini, aku udah nunggu lama dengan istriku. Ayo kita foto bersama Fik! Kasian istriku daritadi capek berdiri." Ucap seorang pria yang datang menggadeng seorang wanita yang sedang buncit perutnya. Kalau diperkirakan lebih besar dari perut Sofi, mungkin usianya enam bulan.


Taufik dan Fajar membisu, begitu pula aku. Aku menundukkan wajahku, agar tidak dilihat oleh orang yang baru datang.


"Kok pada diam sih! Ayo fik, jar!" Ajaknya kembali.


"Rai, kami ke sana dulu ya!" Pamit Taufik. Spontan aku melihat ke arah Taufik.


"Iya Fik."


"Tunggu dulu!" Mas Andi mencegah. "Kamu Raisya?" Andi bertanya sepertinya penasaran.


"Iya bro, sudah ayo kita pergi ke sana!" Ajak Taufik menarik lengan Mas Andi. Tapi Mas Andi masih mematung di tempat.


"Mas ayo! Aku sudah capek!" Ajak sang istri dengan wajah cemberut.


"Maaf saya duluan!" aku pamit undur diri dengan menangkupkan tangan di depan mereka. Karena aku tidak ingin lama-lama di depan mereka. Kemudian pergi ke arah toilet untuk mencari Putri.


Aku tahu, tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Bahkan jatuhnya daun dari pohon, itu sudah Engkau tulis di lauhul mahfudz.


Seperti pertemuan kami hari ini. Mungkin Tuhan punya rencana untuk kami. Tetap berprasangka baik, karena ada hikmah di balik setiap peristiwa.


"Rai! aku cari-cari, kamu kemana saja?"

__ADS_1


"Yang ada itu aku yang cari-cari kamu, Put!"


"Berarti kita sehati dong saling mencari, hehe."


"Ibumu mana Put?"


"Sudah pulang dengan keluarga yang lain, Rai."


"Yah.. telat! Tadinya mau aku ajak juga makan-makan di cafe Irfan."


"Ibu pingin cepat sampai rumah Rai, lagi diare."


"Kamu juga buru-buru Put?"


"Kalau santai Rai, ayo kalau mau ke Cafe! lumayan makan gratis."


"Put..put.. jujur amat jadi orang. Ayo deh! Kamu yang bawa motor ya."


"Siap, let's goo!" Kami-pun berangkat ke Cafe.


Sampai di sana, aku langsung menuju ke meja tempat keluargaku berada.Kami memesan beberapa menu andalan di Cafe ini. Selain menyediakan makanan ringan, di Cafe ini juga ada ada mie level, aneka dim sum, dan juga ayam geprek. Saat kami sedang asyik menyantap hidangan, aku dikejutkan dengan pemandangan dari arah pintu masuk Cafe. Aku melihat Taufik,Lina, Fajar, Mas Andi dan istrinya menuju ke dalam Cafe.


"Rai, kamu lihat itu."Putri berbisik.


"Iya lihat, sudah! Anggap saja tidak lihat, makan lagi dim sum-nya Put."


"Keliatan banget kalau istrinya Andi itu lebih tua dari Andi. Mukanya juga judes!"


"Ssstt! Jangan menambah dosa Put!"


"Ah iya, lupa kalau bareng Bu Ustadzah."


Taufik melihat ke arah kami, aku hanya memberi isyarat dengan senyuman. Dan tidak sengaja pandanganku berbenturan dengan pandangan Mas Andi. Aku segera menundukkan pandangan, itu bukan kesengajaan.


"Rai mantanmu ngeliatin ke sini terus! Sepertinya dia sedang mengagumimu. Kapok tuh orang! Nyesel kan buang permata!"


Astagfirullah, aku ingin segera menghapus mak-up ini. Agar tidak ada mata jahat yang mendamba.


...****************...


-


-


See you again kakak, terima kasih atas dukungannya. Membua Saya semakin semangat untuk berkarya.

__ADS_1


__ADS_2