
Sejak pertemuan antara aku dan Faisal di rumah Sofi, kami belum pernah bertemu lagi. Saat ini aku disibukkan dengan ujian kenaikan kelas. Sebagai wali kelas 8B, aku mulai mendata nilai-nilai yang harus aku input.
Saat ini aku sedang berada di kantor, karena waktunya jam istirahat.
"Bu Raisya!" Bu Lilik memanggilku. Beliau adalah salah satu Guru Bahasa Inggris di sekolah kami. Usianya sudah 30 tahun dan sudah PNS.
"Iya Bu, ada apa ya?"
"Em..Bu Raisya saya mau tanya sesuatu, tapi tolong jangan tersinggung." Bu Lilik menggeser kursinya dan mendekat padaku.
"Insyaallah Bu, tanya apa ya?"
"Maaf Bu, apa benar Bu Raisya sudah pernah menikah?" Bu Lilik bertanya dengan hati-hati. Memang di sekolah tidak ada yang tahu kalu aku adalah seorang janda. Karena di KTP-ku masih tertera belum kawin. Pada waktu saya menikah dulu, tidak sempat membuat Kartu Keluarga baru. Jadi data-ku masih menyatu dengan Kartu Keluarga Abi.
"Iya bu, dulu saya memng pernah menikah. Sekitar dua tahun lalu. Kenapa Ibu tiba-tiba bertanya masalah itu?" Aku tidak pernah berniat menyembunyikan statusku. Aku akan menjawab apa adanya.
"Ibu kenal sama Laras? Suaminya namanya Andi kerja di shorum dia."
"Saya tidak kenal dengan Laras, tapi saya kenal dengan Andi, Ada apa Bu?
"Laras tanya tentang Bu Raisya kepada saya. Karena memang saya kenal dengan Bu Raisya, yaa.. Saya jawab seadanya. Lalu dia menceritakan kalau suaminya punya mantan yang tidak disetujui oleh Ibunya dikarenakan mantannya itu janda. Dan Andi dipaksa untuk meninggalkan mantannya, lalu menikah dengan Laras. Laras sepertinya masih tidak terima kalau mantan dari suaminya itu adalah Bu Raisya. Makanya dia masih cari-cari tahu tentang Bu Raisya. Dan kebetulan Bu Raisya ngajar di tempat yang sama dengan saya."
"Aneh bu, ngapain dia tidak terima, Andi sudah menjadi suaminya! Bahkan mereka sudah memiliki anak pastinya. Karena setahu saya waktu bertemu terakhir kali, dia sedang hamil. Dan meskipun saya seorang janda, saya tidak pernah mengganggu rumah tangga orang lain. Tidak ada untungnya bagi saya, dan saya paling malas berhubungan dengan masa lalu Bu. Jadi dia tidak perlu khawatir kalau saya akan mengambil suaminya."
"Iya Bu Raisya, saya juga sebenarnya tidak terlalu respect dengan Laras, orangnya memang agak sombong. Saya kira Laras hanya mengada-ngada tentang Bu Laras! Betul kata Ibu, meskipun janda kalau tidak bertingkah, tidak akan dipandang sebelah mata! Ya sudah cuma itu yang ingin saya tanyakan Bu. Maaf sudah lancang Bu.
"Iya bu Bu, tidak apa-apa! Tidak masalah bagi saya."
Akhirnya bel masuk berbunyi, kami masuk ke kelas untuk menjaga ujian. Setelah selesai mengerjakan ujian, anak-anak diperbolehkan pulang. Seperti biasa sebelum pulang, aku ke kantor dulu. Dan jam 1 siang kami pulang dari sekolah. Aku membawa Lembar jawaban Mapel Matematika yang dikerjakan tadi oleh Siswa-siswi, untuk dikoreksi di rumah.
...----------------...
Setelah selesai ujian, seperti biasa sekolah akan libur. Libur kenaikan sekolah kali ini dua minggu. Waktu dua minggu ini, mungkin hanya akan aku isi di rumah saja. Atau mungkin aku akan mengunjungi Baby Zie. Kangen banget dengan pipi gembulnya.
Pagi ini aku sendiri di rumah, Ummi dan Abi pergi ke toko. Mumpung libur, aku menyempatkan duri untuk bersih-bersih rumah. Terdengar suara HP-ku berdering di dalam kamar. Aku segera mengambilnya, rupanya ada panggilan dari Mbak Rindi.
"Hallo, Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam, Mbak.Tumben nih telpon aku! ada apa?"
"Rai, besok si kembar ulang tahun. Ini kan acaranya dadakan Rai! Jadi mbak belum bilang tukang dekor. Rencananya sih mau kecil-kecilan! Tapi ternyata Mas Rendi ngundang teman kantornya."
__ADS_1
"Terus...hubungannya denganku apa Mbak?"
"Adikku yang manis, Mbak mau minta tolong!"
"Wah.. bau-bau modus nih!"
"Hehe.. Mbak minta tolong bikin dekorasi dari balon! Kamu kan orangnya kreatif Rai! Mbak yakin kamu bisa. Yang simpel aja, yang penting ada. Plisss!!!!
"Tuh kan, nggak salah dugaanku! Pasti ada maunya."
"Tapi kamu mau kan, Rai? Ya, ya? Kamu nginap di rumah Mbak nanti malam ya. Kita bikin dekorasi sama-sama. Kan di Youtube juga sudah ada caranya."
"Emang kalau aku mau, imbalannya apa?" Tanyaku, hanya bercanda.
"Kok gitu sih Rai! Demi keponakanmu! Gini aja deh, nanti Mbak kasih kamu jodoh."
"Ishh..!! Emang Mbak Tuhan? Ya sudah, Iya aku mau. Nanti sore aku ke sana, mau pamit dulu sama Abi."
"Alhamdulillah, kamu memang baik deh! Emmuah...!!
"Dih, apaan sih Mbak! Ganjen banget! Sofi sudah dikasih tahu Mbak?
"Iya sudah, Mbak sudah undang. Biar Baby Zie bawa kado yang besar buat Kakaknya."
"Hahaha..." Kami tertawa bersama.
Aku melanjutkan pekerjaanku. Setelah cuci baju aku menyetrika baju. Dilanjut dengan masak, agar nanti pulang dari toko Ummi dan Abi langsung bisa makan siang.
Sore hari, aku sudah siap-siap akan berangkat ke rumah Mbak Rindi. Rumahnya terletak di perumahan Pondok Halim Perdana Kusuma. Mas Rendy sengaja membeli rumah di pinggiran kota yang dekat dengan kantornya.
Aku berpamitan kepada Ummi dan Abi.
"Sampaikan salam kami kepada mereka, kadonya menyusul gitu, Rai."
"Baik Ummi, Rai berangkat dulu. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam." Jawab Ummi dan Abi serentak.
Aku-pun pergi dengan si putih menuju rumah Mbak Rindi. Di sana sudah ada Om Rudi dan Tante Santi, orang tuanya Mbak Rindi. Om Rudi adalah saudara Ummi yang tertua. Beliau seorang pensiunan PNS DISPENDUK.
"Sendirian Rai? Ummi dan Abimu nggak ikut?
__ADS_1
Aku menghampiri mereka, dan mencium punggung tangan mereka.
"Nggak Om, lagi sibuk banget. Mereka nitip salam untuk kalian." Aku beralih bertanya kepada Tante Santi. "Yang lain pada kemana Tante, kok sepi?"
"Masih belanja balon, buat ngedekor katanya. Si kembar ikut, Om-mu sama Tante pusing kalau suruh nungguin mereka."
"haha... iya Tante, mereka itu aktif banget."
Sudah hampir malam, dan waktunya shalat maghrib tiba. Kami shalat berjamaah, Om Rudi yang menjadi imam kami. Mbak Rindi baru datang setelah kami selesai shalat.
"Daritadi kamu, Rai?"
"Dari kemarin, Mbak! Lama banget kalau pergi shoping!" Kami memang suka bercanda. Aku mencium punggung tangan Mbak Rindi. Hal itu memang biasa aku lakukan.
"Ah kamu bisa saja! Shoping apaan? Tuh keponakanmu! Ada saja maunya. Mbak lagi belanja balon, yang satu minta beli tenda mini sama robot. Yang satu minta rumah barbie. Pusing kepalaku!"
"Ya begitulah hasil karyamu dan Mas Rendy, Mbak!"
"Hahaha." Kami tertawa bersama.
"Kalau ngomong suka benar kamu ,Rai! Ya sudah, Mbak mau shalat dulu. Habis itu kita eksekusi ya! Nanti Robi katanya mau ke sini sama pacarnya, mau bantuin juga."
Robi adalah Adiknya Mbak Rindi, usianya hampir sama dengan Sofi. Hanya beda dua bulan lebih muda dari Sofi.
Aku dengar ada suara mobil yang datang. Mobil Om Rudi ada di sini, Robi tidak mungkin bawa mobil. Karna Om Rudi cuma punya satu mobil, dan Robi biasanya pakai motor kesayangannya.
Mobil siapa yang datang? Apa mungkin Om Riudi beli mobil lagi? atau ada tamu lain?
...----------------...
Ayo tebak siapa yang datang nih?
reader pinginnya siapa yang datang?
-Sofi dan Irfan
-Robi dan pacarnya
-Abi dan Ummi
- atau ???
__ADS_1
Lanjut di part berikutnya ya. Tetap stay tune Kakak. See you again