
Di dalam mobil, Mas Harus mengintograsi aku.
"Bund, Pak Han itu teman ngajar kamu?"
"Iya, waktu di sekolah yang lama, yah!"
"Teman doang, kan?"
"Iya, memang kenapa?"
"Tatapannya berbeda, sepertinya dia mengagumimu. Aku tidak suka!"
"Yang penting aku tidak punya perasaan apapun sama dia, Yah!"
"Jadi benar ya, dia suka sama Bunda?'
Aku hanya mengangguk, mending aku jujur daripada dia tahu dari orang lain.
"Iya dia memang pernah menyukaiku secara diam-diam. Tapi aku tidak membalas perasaannya, karena memang aku tidak ada perasaan sama sekali sama dia."
"Sudah aku duga, untung saja dia sudah beristri."
"Emang kalau belum kenapa, Yah? Ayah mau cariin istri, gitu?"
"Ya nggak-lah! Kalau belum, aku harus lebih ketat lagi menjagamu, takut ada yang nikung!"
"Astaghfirullah... amit-amit! Kalaupun dia mau nikung, tapi aku nggak mau, ya nggak bakal kejadian, Yah! Kamu itu ada-ada saja."
"Ya, ya... aku tahu itu! Tapi tadi kamu ramah banget sama dia, dia juga kayaknya senang banget ketemu kamu! Aku nggak suka!"
"Lha, terus aku harus gimana, Yah? Cemberut, gitu?"
"Kurangin senyum ke laki-laki lain, titik!"
"Oke, sekalian aku pakai cadar saja, gimana?"
Mas Haris tidak menjawabku, karena kami sudah sampai di depan rumah. Dia turun dari mobil dan langsing membuka pintu belakang mobil. Kemudian menurunkan barang-barang.
Suamiku sepertinya sedang PMS, apa mungkin memang aku yang terlalu ramah ya?
Sampai di rumah, keempat anak kami menunggu kedatangan kami di ruang tengah.
"Ndaa.. dede akal (Bunda dede nakal)!" Salwa mengadu.
"Dede apain Mbak Salwa?" Aku menggendong Salwa yang sudah merentangkan tangannya minta digendong.
"Dede ucul pala atu (Dede pukul kepalaku)!" Salwa memperagakan tindakan Salman."
"Dedenya mungkin nggak sengaja, Nak. Iya kan De?"
"No no...!"Jawab Salman dengan mengedipkan matanya.
Mirip sekali dengan Ayahnya, sepertinya kamu akan lebih tengil dari Ayahmu, Nak. Batinku dalam hati.
Mas Haris membawa barang-barang ke dalam kamar. Kali ini dia tidak banyak bicara.
"Mas, tolong jagain Raka! Aku mau kasih ASI Riky dulu."
__ADS_1
"Hem.." Jawabnya singkat.
"Riky, kamu lahap sekali, Nak! Haus ya, iya? Pelan-pelan Rik! Tidak ada yang ingin merebutnya."
Biasanya Mas Harus akan nimbrung saat aku ngomong sendiri begini, tapi saat ini dia acuh. Menggendong Raka keluar kamar.
Sebenarnya kamu kesambet dimana sih, Mas?
Malam harinya, setelah selesai makan malam. Riky dan Raka aku tiduran di karpet bawah di ruang tengah depan Televisi. Salwa dan Salman sedang asyik menoel adiknya.
"De.. de... ayo ndong kak."
"Nanti kalau kakak sudah besar, baru adeknya digendong. Kalau sekarang Kakak nggak kuat."
Kulihat Mas Haris sedang fokus dengan Laptopnya, mungkin dia menghancurkan sesuatu. Salwa dan Salman mulai menguap, sepertinya mereka sudah mengantuk.
"Cus, bawa anak-anak ke kamarnya! Sepertinya mereka sudah mengantuk."
"Baik, Bu."
"Kalian tidur dulu ya, ini sudah malam! Besok main lagi sama adeknya."
"Ciap nda!" Mereka menirukan gaya Ayahnya. Aku mencium kedua pipi mereka.
"Selamat tidur, Sayang! Mimpi indah!"
Aku melirik ke arah Mas Haris yang masih berkutat dengan Laptopnya. Kedua tanganku sedang memegangi dot Raka dan Riky. Sampai beberapa menit kemudian, akhirnya mereka teridur. Aku memindahkan mereka satu persatu ke kamar.
"Yah, aku akan ke kamar! Anak-anak sudah pada tidur."
Aku tidak mau ambil pusing, karena aku tidak perasaannya salah apapun kepada Mas Haris. Lebih baik aku pergi ke kamar dulu untuk istirahat. Sudah capek tenaga dan pikiran, aku tidak mau capek hati. Biarlah besok aku tanyakan kepadanya.
kreeekk... Suara pintu terbuka. Mas Haris masuk ke dalam kamar, aku pura-pura tidur.
Mas Haris membuka kaos oblongnya dan hanya menggunakan sarung. Dia berjalan mendekati boks bayi, dan mencium pipi kedua anaknya. Aku masih dalam posisi miring dan pura-pura tidur.
Mas Haris naik ke tempat tidur dan membaringkan diri menghadap kepadaku.
"Maafkan aku, sayang. Aku cemburu, tidak seharusnya aku diamin kamu. Kamu tidak salah apa-apa! Aku yang terlalu posesif, padahal kamu sudah bersikap wajar." Mas Haris berkata lirih. Aku mendengarnya, karena memang aku belum tidur."Kamu sudah capek ngurus anak-anak dan ngurus aku, tapi aku malah diamin kamu hanya karena masalah kecil. Siapa sih yang tidak terpesona kepadamu. Semakin hari kamu semakin cantik. Kecantikanmu bukan hanya dari wajahmu, tapi dari hatimu. Tidak dapat aku pungkiri itu, karena itulah yang membuatku jatuh cinta berkali-kali padamu." Mas Haris mendekapku. Aku tak bisa membendung air mataku. Akhirnya aku terisak.
"Hiks..."
"Lho, Bund! Kamu kok nangis?Mimpi apa, Hem?"
"Mimpi dipeluk kambing." Ujarku bohong.
"Kok dipeluk kambing sih, yang ada dipeluk pangeran tampan nih!"
"Maaf Yah, aku mendengar ucapanmu! Daritadi aku belu tidur."
"Wah..wah... jadi kamu cuma pura-pura?"
"Habisnya kamu ngeselin! Aku udah Capek-capek malah dicuekin. Aku nggak bisa kalau dicuekin, mending dimarahin sekalian."
"Ssstt... sudah-sudah jangan nangis lagi, malu sama duo R! Maafkan aku, kamu sudah mendengar semuanya, kan? Jadi aku tidak akan mengulanginya lagi. Maafkan Aya ya, Bund? Ayah cemburu, boleh kan aku cemburu?"
"Boleh! Justru kalau Ayah tidak cemburu, itu yang bahaya. Tapi lain kali jangan diulangi lagi ya? Kalau-pun Ayah tidak suka, katakan saja!"
__ADS_1
"Ya, tadi kan aku udah bilang, nggak suka!"
"Sudah-sudah jangan diperpanjang lagi! Sebaiknya kita tidur, mumpung duo R masih pulas bobonya."
"Tidak bisa, aku mau kita bercinta dulu. Kamu sudah minum pilnya kan, Sayang?"
"Eh eh..."
Belum aku menjawab pertanyaannya, Mas Haris sudah membuka kancing piamaku. Dia mulai mencumbuku dengan lembut dan penuh hasrat. Aku selalu terlena dengan sentuhannya. Akupun pasrah malam ini. Percintaan kami berlanjut sampai akhirnya suara Riky membuyarkan percintaan kami.
"Oek....oek...."
"Stop, Yah! Anakmu nangis!"
Aku langsung melihatnya, ternyata mungkin Riky hanya bermimpi. Dia tidur kembali setelah aku tepuk-tepuk bo*ognya.
"Huft..untung saja tadi sudah tuntas satu kali!" Mas Haris menghela nafas panjang.
"Ya sudah, aku mau ke kamar mandi dulu, Yah!"
Keluar dari kamar mandi, kulihat Mas Haris sudah terlelap. Aku-pun ikut menyusulnya ke alam mimpi.
"Selamat tidur, mimpi indah yah!" Aku mengecup keningnya.
...----------------...
Hari demi hari kami lewati, tidak terasa Rakadan Riky saat ini sudah berusia 7 bulan. Salwa dan Salman sudah berusia 2,5 tahun. Hari-hariku, aku habiskan di rumah bersama mereka. Sesekali aku pergi ke butik untuk mengecek keadaan butik. Mas Haris sudah mampu membeli tanah lagi seluas 1 hektar. Rencananya nanti akan dia bangun lagi menjadi perumahan bersubsidi. Kami selalu bersyukur dengan semua titipan Allah kepada kami. Semoga ke depannya kami menjadi orang yang lebih baik lagi.
"Sayang, Tolong siapkan bajuku dan bajumu! Bawa gamis warna hitam dan putih, yang lainnya boleh bawa warna apa saja! Tapi jangan terlalu banyak! Cukup 5 potong saja. Baju Salwa dan Salman juga!"
"Kita mau ke mana, Yah? Kok mendadak gini?"
"Kita akan pergi umroh Lusa. Hari ini kita harus ikut manasik. Salwa dan Salman akan kita bawa. Raka dan Riky kita titipkan kepada Encus. Buar nanti Ummi atau Ibu yang menginap di sini, selama kita umroh."
"Mas, kamu mau berangkat umroh kayak mau ke Baki, gitu! Ini serius, kan?"
"Serius-lah! Seharusnya kita berangkat dari tahun kemarin. Tapi kamu melahirkan, jadi aku pending. Minta tolong ke Mbak Jum untuk membantumu beres-beres baju besok. Nanti jam 10 kita berangkat untuk manasik. Besok kita adakan tasyakkuran kecil-kecilan."
"Kamu kalau bertindak kayak tahu bulat digoreng dadakan, Yah!"
"Haha... kamu bisa saja, Bund! Ini tidak dadakan, aku sudah bikang kepada orang tua kita kok. Oh iya, kita juga akan berangkat bareng Sofi dan Irfan. Tapi anak-anak mereka tidak dibawa, dititipkan di Mama Irfan."
"Alhamdulillah, jadi aku dan Sofi bisa berangkat umroh bareng kalau begitu? Terima kasih, Mas! Kamu yang terbaik!" Aku mencium kedua pipi suamiku.
"Apapun untukmu, dan keluarga kita! Ayo siap-siap, kita pergi manasik! Ingat, tidak usah pakai lipstik!"
"Ya-ya... aku ingat."
Setelah mempersiapkan diri, aku mempersiapkan Salwa dan Salman. Kamu menitipkan duo R kepada Cus Nina dan Cus Aan. Kemudian kami berangkat ke tempat manasik.
Bersambung.....
...****************...
Terima kasih masih setia di sini kak. Maaf kalau ceritaku garing😂 author lagi galon eh galau. Novel ini akan segera tamat, author mau bikin cerita lain.
See you again.
__ADS_1