
Liburan sekolah sudah usai, sudah satu minggu sekolah mulai aktif kembali.
Saat ini jam pertama, aku sedang mengajar di kelas 7A. Siswa baru tahun ini lbih sedikit daripada tahun lalu. jadi hanya dibagi menjadi empat kelas. Dengan semangat yang sama seoerti hari-hari sebelumnya aku memberikan penjelasan yang mudah dimengerti kepada siswa.
"Teng"
"Teng"
"Teng"
Suara bel istirahat pertama berbunyi. Siswa-siswi berebut keluar dari kelas. Mereka seperti kedatangan Dewi Fortuna saat mendengar bel istirahat. Aku-pun pergi kembali ke kantor. Di dalam kantor ada beberapa guru tang sudah duduk di kursinya masing-masing. Di mejaku, aku menemukan lagi coklat dan secarik kertas. Biasanya ditutup buku atau map, tapi kali ini dibiarkan begitu saja. Bu Lilik tiba-tiba datang di belakangku dan duduk di kursinya yang memang ada di samping kursiku.
"Apa itu, Bu?"
"Ah.. i-ini Bu, Coklat."
"Sepertinya dari orang ya, Bu? Kok ada ucapannya segala! Atau Bu Raisya yang mau ngasih orang?"
"Tidak juga, Bu. Saya menemukan di atas meja."
"Coba saya lihat, Bu!" Bu Lilik sontak mengambil secarik kertas itu.
"Oh.. ini buat, Bu Raisya lho!" Aku pura-pura tidak tahu. Meski sebenarnya ini yang ke sekian kalinya.
"Iya, Bu."
"Tapi nggak ada nama pengirimny, siapa ya?"
"Saya juga tidak tahu, Bu. Maaf, tolong jangan kasih tahu ke yang lain ya, Bu. Takutnya jadi gosip."
"Bu Raisya tenang saja, saya tidak ember. Tapi kira-kira siapa ini yang ngasih? Kayaknya Bu Raisya punya pengagum rahasia. Hehe...."
"Emm... mungkin Ibu tahu dengan tulisan ini, tulisannya siapa gitu?"
"Saya nggak ngeh kalau dengan tulisan orang, Bu. Mungkin nggak sih kalau yang naruh coklat guru yang jomblo di sini?"
"Maksud, Ibu?"
"Ya... siapa tahu gitu, Bu! Pak Han mungkin, atau Pak Gun. Atau guru baru, Pak Ilyas. hehe..."
"Entahlah, Bu. Saya tidak ingin menerka-nerka. Tapi nanti coba saya periksa tulisan anak-anak. Mungkin saja,salah satu dari mereka."
"Wah, Bu Raisya ini ternyata punya banyak penggemar."
"Bukan artis, Bu. Ini coklatnya buat Ibu, kasihkan ke putranya.
"Yang benar, Bu? Awas entar nyesel!"
"Iya, Bu saya serius."
Tidak lama kemudian bel masuk berbunyi. Rasanya begitu singkat kalau waktunya istirahat. Kalau waktunya masuk rasanya begitu lama. Mungkin itu juga yang dirasakan murid.
Aku naik ke kelas atas, kelas 9B. Jam ke dua aku mengajar di kelas ini, kelasnya Ridwan.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."Semua siswa menjawab.
"Siap belajar Matematika hari ini?"
"Siap buu..."
"Baiklah Ibu akan memulai materi hari ini."
Saat mereka mengerjakan soal contoh aku berjalan ke belakang, memantau pekerjaan mereka. Aku berkekiling ke tempat duduk mereka.
Tiba di bangku Ridwan, aku sengaja berhenti. Aku mengambil buku tulis Bahasa inggris yang ada di atas bangkunya.
"Bisa, Wan?"
"Bisa, Bu yang rumus ini. Yang nomor 2 masih bingung, Bu." Aku-pun menjelaskan kembali kepada Ridwan dan didengarkan juga oleh yang lain.
Aku membuka buku Bahasa,Inggris yang ada di tanganku. "Wan, Ibu pinjam bukunya sebentar ya?"
"Iya, Bu."
Aku kembali ke meja guru. Kuambil secarik kertas dari kantong seragamku.Aku mencocokkan tulisan yang ada di buku Ridwan dengan kertas itu. Dan ternyata sangat jauh berbeda. Berarti bukan Ridwan yang mengirim coklat.
Lalu dari siapa coklat itu? Apa mungkin ada benarnya yang dikatakan Bu Lilik tadi?
__ADS_1
Aku memanggil Ridwan san mengembalikan bukunya.
"Terima kasih ya, Wan!"
"Iya, Bu sama-sama. Maaf, Bu! Ibu cari apa di buku saya?"
"Cuma mau lihat tulisanmu, sudah rapi apa belum." Kataku, berbohong.
"Oh... Iya, saya kira Ibu cari tanggal jadian kita bu. Hehe...."
"Tengilnya nggak ilang-ilang ya! udah kelas sembilan masih saja sama! Jangan belajar ngegombal, Wan! Baca buku pelajaran, cari referensi! Awas kalau tidak lulus."
"Iya-iya, Bu. Jangan galak-galak dong, Bu. Ibu nggak pantas galak."
"Kembali kw bangkumu, Wan."
"Siap, Bu." Ridwan langsung berjalan cepat menjuju bangkunya.
"Sudah selesai semua, anak-anak?
"Masih ada yang belum, Bu."
"Ibu tunggu lima menit lagi ya. Karena jam istirahat kedua tinggal sepuluh menit lagi."
"Iya buuu..."
-
Kini waktunya pulang sekolah.
Aku sudah bersiap pulang, dan merapikan buku dan beberapa barang dari mejaku. Setelah itu aku menuju ke tempat parkiran. Kuperilsa ban motorku, karena takut kempes seperti waktu itu. Setelah dirasa aman, aku-pun menaikinya dan mulai berangkat pulang ke rumah.
...----------------...
Keesokan harinya, karena aku masih penasaran dengan orang yang mengirim coklat kepadaku, aku mencoba menyelidikinya. Saat akan jam istirahat, aku pura-pura keluar dari kelas.
"Jangan ramai, ya! Ibu mau keluar ke toilet sebentar."
"Baik, Ibu...."
Aku pergi ke arah kantor. Saat akan masuk ke dalam, aku melihat Pak Han ada di dalam kantor. Padahal dia ada jadwal mengajar di kelas 9. Aku mengurungkan niatku untuk masuk ke kantor, dan berjalan ke arah toilet guru yang berada di sisi kantor. Setelah dirasa cukup aku bersembunyi, aku keluar dan masuk ke dalam kantor. Yang ada saat ini adalah Bapak kepala sekolah.
" Selamat pagi, Bu Raisya. Tidak ada kelas, Bu?"
"Ada, Pak. Tapi saya harus mengambil sesuatu yang ketinggalan di meja saya."
"Oh iya, Bu. Silahkan diambil dulu."
Setelah pura-pura mengambil map di mejaku, aku keluar dari kantor dan masuk ke kelas lagi. Di dalam map yang aku pegang, ada coklat dan secarik kertas lagi. Aku hiraukan dulu, karena waktunya menjelaskan rumus kepada siswa.
Tadi ada Pak Han di kantor, apa mungkin dia yang ngasih coklat ini? Ayolah Rai! Nggak usah diambil pusing. Siapapun orangnya mungkin dia cuma iseng saja. Fokus Rai! Kasian muridmu. Batinku dalam hati.
Aku berdiri dan menjelaskan di papan tulis. Karena kurang fokus, bicaraku terbata-bata.
"Bu Raisya, Ibu kenapa?" Tanya salah satu siswi namanya Eka.
"Ibu tidak apa-apa, ayo siapa yang mau bertanya lagi?
Kegiatan belajar mengajar sudah selesai semua hari ini. Aku pulang ke rumah dan buru-buru membuka kertas tadi.
For Bu Raisya
...Sudah lama aku memperhatikanmu......
...Namun aku tidak punya keberanian untuk mendekatimu....
...Kau terlalu sempurna untuk kumiliki...
...Biarkan aku menjadi pengagummu....
...Karena melihat senyummu, sudah cukup untukku....
Aku masih memperhatikan tulisan di kertas
itu. Kali ini isinya lebih panjang.
Apa mungkin aku tanyakan langsung kepada Pak Han? Tapi kalau bukan dia, Bisa-bisa aku malu. Kalau-pun itu dia, lalu aoa yang harus aku katakan. Huft... penuh teka-teki.
"Raisya...." Suara Ummi menyadarkanku dari lamunan.
__ADS_1
"Iya Ummi.."
"Keluar-lah ini ada Rindi."
Aku segera memakai jilbabku dan keluar dari kamar.
"Rin tante tinggal dulu ya, mau mijitin Abinya Rai, pegel katanya."
"Iya, Tante."
"Hai Baby Alif.... Gantengnya keponakan Tante." Alif adalah adik si kembar yang saat ini sudah berusia satu tahun.
"Rai, kamu itu di rumah saja! Main gitu ke rumahku!"
"Males, Mbak! Entar ujung-ujungnya dikenalin sama temannya Mas Rendy."
"Dih, Pede banget!"
"Lha, emang iya! Emang aku nggak tahu akal-akal an ya kalian!"
"Hem... iya deh, kamu memang tidak bisa ditipu!
"Kita hanya ingin melihatmu bahagia, Rai! Kamu harus menemukan orang yang tepat." Mas Rendy menimpali.
"Iya, Rai paham. Kalian memang yang terbaik! Si kembar kok nggak dibawa Mbak?"
"Lagi les, jadi kami tinggal."
"Em... Rai, ini ada undangan." Mas Rendy berkata dengan ragu-ragu.
"Dari siapa, Mas?"
"Ical." Jawabnya singkat, sepertinya mereka sangat takut melihatku kecewa. Aku menerima undangan itu.
"Alhamdulillah, akhirnya Mas Ical ketemu jodohnya ya, Mas? Semoga berjodoh sampai akhirat."
"Ical tidak terlalu berharap kamu datang, Rai. Tapi dia tidak mau kamu mendengar berita ini dari orang lain. Makanya dia menitipkannya kepadaku. Dia juga titip salam sama kamu."
"Aku sih mungkin nggak bisa datang, Mas. Tapi aku akan menitipkan kado. Bukan karena aku belum bisa move on, tapi antisipasi saja. Aku takut ada hal yang tidak diinginkan terjadi."
"Iya Rai, kami mengerti."
"Oh iya aku punya coklat, sebentar aku ambil."
Setelah mengambilnya dari kamar, aku berikan coklat ke tangan Alif.
"Makasih, Tante.",Ucap Mbak Rindi menirukan suara anak kecil.
"Sama-sama sayang. Ngomong-ngomong cowoknya Mas Ical orang mana, Mas?
"Orang Jawa, Masih saudara jauh dengan Ibunya katanya."
"Dijodohkan, Mas?"
"Awalnya cuma dikenalin, dan ada kecocokan jadi berlanjut."
"Alhamdulillah, sampaikan salam balik dariku untuknya. Maaf aku memang memblokir nomornya, itu untuk kebaikan kita."
"Iya nanti kita sampaikan, Rai. Ayo Ma, kita pulang! Sebentar lagi si kembar selesai lesnya."
"Iya, Pa. Kita pulang dulu ya Rai. Ini aku bawakan kamu seblak."
"Makasih, Mbak udah repot-repot beliin seblak segala, Hehe..."
"Iya sama-sama. Ya sudah sampaikan ke Tante, aku pulang dulu. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
...****************...
Siapa kira-kira pengagum rahasianya Raisya?
Author juga bingung nih😁
Raisya ketemu jodohnya lama banget ya, Kak? Tenang kak, bentar lagi juga ketemu. Kayak kisahnya Author lho! Nikahnya usia 28, nah jadi curhat kan? Tapi Raisya akan bertemu jodohnya di usia 26 tahun, apa author singkat saja?
Ikutin saja cerita selanjutnya kakak.
See You again....
__ADS_1