Ketegaran Hati Raisya

Ketegaran Hati Raisya
Mimpi lagi


__ADS_3

Aku masih ingat mimpiku satu minggu yang lalu. Aku bingung mengartikannya, tidak tahu harus bercerita kepada siapa. Akhirnya aku pendam sendiri.


Setelah mimpiku satu minggu yang lalu, aku belum mimpi apapun lagi yang berkaitan dengan Mas Faisal. Hari ini aku sudah suci dari haid, rasanya lega sekali. Aku bisa menjalankan ibadah kembali. Malam ini aku akan melakukan shalat istikharah lagi. Karena rasanya aku belum bisa mendapatkan jawaban yang aku harapkan.


Waktu kami sisa satu minggu lagi. Jadi aku tidak ingin mengambil keputusan yang salah.


Malam Ini tepatnya jm 00.30 aku terbangun. tidak ingin tidur lagi, akhirnya aku bangun untuk melakukan shalat istikharah untuk yang ke dua kalinya.


Bismillah, semoga Allah memberikan petunjuknya kali ini


Seperti biasa, aku memanjatkan do'a kepada Tuhan. Memohon ampun dan meminta petunjuknya. Aku minta diberikan hati yang bersih agar tidak menyimpan dendam pada masa lalu. Mungkin hatiku masih belum ikhlas, sehingga aku masih mimpi masa laluku.


Selesai berdzikir, aku merasa mengantuk, dan tertidur di atas sajadahku.


-


Di pinggiran pantai.. aku berlari karena ada ular yang mengejarku. Ular itu panjangnya Mencapai empat meter. Aku lari sekuat tenaga karena takut ular tersebut menggigitku. Aku terjatuh karena kakiku terkilir. Namun saat ular itu mendekat, ia hanya diam mematung di depanku. Aku sudah sangat ketakutan, namun ular itu seakan hanya mengawasiku.


Tiba-tiba terdengar suara kuda berlari mendekat ke arahku. Bukan hanya kuda, tapi ada yang menunggangi kuda itu. Seorang laki- laki dengan memakai pakaian serba putih, dan surban putih yang dia lilitkan sehingga menutupi wajahnya. Dan hanya terlihat bagian matanya saja. Dia membawa busur panah dan anak panah di punggungnya.


Sepertinya kalau aku lihat dari postur tubuhnya, tidak asing bagiku. Kuda itu terus memberontak tidak mau mendekat padaku. Hingga akhirnya sang penungganng membidik anak panah ke arah ular, tapi tidak tepat sasaran. Dan ular itu-pun pergi ke arah laut.


"Tunggu! siapa anda?" Aku menghentikan pria tersebut, saat dia akan pergi bersama kudanya.


"Jodohmu! Aku akan pergi, suatu saat akan kembali." Pria itu pergi memacu kudanya dengan sangat cepat.


...----------------...


"Rai! Rai.... bangun!" Ada yang menyentuh dan menggoyayang tubuhku. Sayup-sayup kubuka mataku. Benar saja aku Ketiduran saat selesai shalat tadi.


"Ummi..." Aku mengucek mataku, untuk meyakinkan penglihatanku.


"Iya ini Ummi, kamu kira siapa? Ayo cepat bangun!"


"Iya, Ummi." Jawabku masih enggan berdiri.


"Sudah subuh, ayo bangun! Sana ambil wudhu'! Sebentar lagi Abi-mu selesai."


"Iya, Ummi." Aku melepas mukenah dan segera ke kamar mandi untuk mengambil wudhu'.

__ADS_1


Hari ini aku harus berangkat lebih pagi ke sekolah. Karena ada upacara bendera, dan kali ini aku ditunjuk menjadi pembina upacara.


Sampai di sekolah, aku mempersiapkan diri untuk menjadi pembina. Jam 7.15 kami sudah berkumpul di lapangan depan sekolah untuk segera memulai upacara. Selama kurang lebih 30 menit upacara dilaksanakan, dan berjalan dengan lancar. Tanpa ada drama pingsan dan lainnya.


Setelah selesai upacara, para guru masuk kelas untuk memberi mata pelajaran sesuai dengan jadwal masing-masing.


Pulang mengajar aku ketemuan sama Putri di warung bakso biasanya. Sudah lama kami tidak ketemu karena libur sekolah kemari Putri pulang ke rumah Neneknya. Saat ini Putri mengajar di SMP tempatnya sekolah dulu.


Jam 13.45 aku sudah sampai di warung bakso. Disusul Putri datang 5 menit kemudian.


Sambil makan bakso kami bercerita. Aku memang pernah menceritakan sosok Mas Mas Faisal kepada Putri saat kami telponan. Kali ini aku menceritakan mimpiku kepadanya.


"Mungkin nggak sih Rai, kalau yang naik kuda di mimpi kamu itu adalah Faisal?"


"Kalau aku lihat dari postur tubuhnya hampir sama. Tapi di dalam mimpi dia memakai baju yang berlapis, jadi aku kurang yakin. Suaranya juga karena dia menutup dengan surban, jadi kedengarannya sudah beda. Ngerti kan maksudku, Put?"


"Iya ngerti aku Rai! Di mimpi pertama kenapa harus ada si kutu kupret Firman ya, Rai? Kamu masih ada rasa sama orang itu, Rai?"


"Nggak, dih ngapain!"


"Tapi Rai, kata orang kalau mimpi seseorang itu, kalau bukan bunga tidur, kadang juga karena sebelum tidur kita mikirin orang tersebut.


"Mungkin karena hatiku masih belum bersih, Put! Mungkin alam bawah sadarku belum ikhlas dengan sakit hati yang pernah aku rasakan. Entahlah...."


"Orangnya baik, pekerja keras, humoris bisa bikin aku ketawa. Dan yang paling pasti dia ngajak serius."


"Nah, tunggu apa lagi? ganteng juga kan pastinya? Terus kurangnya apa?"


"Ya kurangnya ada di aku. Aku ini janda Put. Tidak semua orang bisa menerima statusku. Mungkin Mas Ical bisa meyakinkan orang tuanya. Oke katakanlah begitu, ya! Makanya Aku masih minta petunjuk kepada Allah karena aku tidak ingin salah lagi dalam mengambil keputusan. Dan aku juga tidak mau membuat orang lain kecewa.


"Ingat, Rai! Kamu janda kembang, belum tersentuh! Kalau mereka tahu keadaanmu yang sebenarnya, pasti banyak yang mau ngantri. Udah tahu janda saja banyak kok yang mau, apa lagi kalau tahu janda ting-ting." Putri mengecilkan suaranya sambil menoleh ke kanan dan ke kiri.


"Sembako kali Put, diantriin!"


"Hahaha..." kami berdua tertawa.


"Berarti setidaknya kamu punya perasaan suka ya sama Faisal?"


"Sepertinya begitu, aku tidak munafik ya. Hanya wanita bodoh yang tidak menyukainya. Kamu tahu sendiri kan? Orang tuaku sangat senang dengan orang yang mandiri dan pekerja keras. Mereka tidak akan memandang orng dari hartanya, tapi tanggung jawabnya. Aku rasa itu ada dalam diri Mas Ical."

__ADS_1


"Nah itu kamu tahu! Terus gimana keputusanmu sama Faisal?"


"Waktuku kurang satu minggu, mungkin nanti Allah akan membuka hatiku kalau memang ini yang terbaik untukku. Jadi dalam seminggu ini aku akan meyakinkan diri."


"Aku akan selalu mendukungmu, Rai! Sudah mau Ashar ayo kita pulang!"


"Untung tadi aku sudah shalat Dzuhur di sekolah, Put. Kalau asyik ngobrol gini, suka lupa waktu ya?"


"Iya maklum, cewek! Ya udah yuk! Siapa nih yang bayar?"


"Aku-lah! sok-sok an tanya gitu! Memang biasanya aku yang bayar!"


"Gaya dikit, Rai! haha..."


Setelah membayar makanan kami, aku dan Putri meninggalkan warung bakso dan pulang ke rumah masing-masing.


Sampai di rumah, Ummi dan Abi sudah ada di dalam rumah.


"Kok hampir sore pulangnya, Rai?" Tanya Ummi.


"Iya Ummi, maaf tadi lupa nggak ngasih kabar. Rai janjian sama Putri makan bakso."


"Oh.. Ummi kira, ada acara di sekolah. Ya sudah sana, kamu mandi dulu! sudah Ashar juga."


"Iya, Ummi." Aku langsung masuk ke dalam kamar, mandi dan shalat Ashar. Sore hari biasanya aku ngobrol dengan Ummi dan Abi jika tidak ada pekerjaan yang dibawa dari sekolah. Sore ini aku sedang nonton TV bersama Ummi. Abi sedang istirahat di kamarnya.


"Rai, tadi ada teman Abi datang ke toko. Pak Handoko namanya, dia nanyain kamu."


"Ada apa teman Abi tanya-tanya Rai, Ummi?


"Em... Dia cerit tadi, katanya dia punya anak laki-laki. Sudah menduda 1 tahun dan punya anak 1 masih TK, ditinggal istrinya meninggal. Kasian sekali, Rai. Sejak istrinya meninggal, anaknya kurang kasih sayang seorang Ibu." Ummi menjeda perkataannya. "Yaa... dia tanya soal kamu, mungkin mau jodohin sama anaknya. Tapi Ummi sudah bilang, kalau Ummi dan Abi tidak mau menjodohkan kamu dengan siapa-pun. Kalau memang mau kenalan nggak apa-apa kata Ummi, mungkin saja ada kecocokan."


"Ummi, Rai tidak mempermasalahkan status orang, selama dia bisa menjadi imam yang baik. Duda beranak sekalipun, kalau orangnya bertanggung jawab aku tidak masalah. Tapi untuk kali ini Rai minta maaf Ummi, karena tidak bisa berkenalan dulu dengan orang lain, karena Rai sedang meyakinkan hati. Do'akan Rai ya."


"Tentu, Rai! Ummi akan mendo'akan yang terbaik.


...****************...


Bersambung.....

__ADS_1


Maaf kalau ceritanya ngebosenin ya kak. Terima kasih sudah mampir lagi.


See you again....Tunggu kejutan berikutnya.


__ADS_2