
Si kembar sudah berusia 40 hari. Hari ini kami akan mengadakan aqiqah untuk keduanya. Saat ini di rumah kami banyak keluarga yang datang u tuk ikut membantu mempersiapkan semuanya. Acaranya akan digelar nanti malam setelah shalat Maghrib.
Aku dan Mas Haris sudah siap-siap. Kami memakai baju couple warna biru muda, begitu pula si kembar.
"Sayang, kamu nggak usah pake polesan bibir."
"Lho, kenapa? Biasanya juga aku pakai."
"Nggak, pokoknya kali ini tidak usah!"
"Alasannya apa dulu, Mas?"
Mas Haris menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Aku tidak mau kamu kelihatan cantik sekali di mata laki-laki lain, apa lagi nanti akan ada mantanmu yang datang."
Mas Haris memang mengundang semua pekerja dan stafnya, ada kemungkinan dua mantanku akan hadir. Meski Mas Haris tidak tahu soal Andi, tapi aku harus menjaga perasaannya.
"Oke, apapun yang Mas mau akan aku kabulkan. Selama itu tidak melanggar syari'at. Aku akan pakai lipstik kalau di depan Mas saja, apa sekalian aku pakai cadar saja?"
"Masyaallah, terima kasih sayang. Kamu memang istri yan sholeha, aku tidak perlu memaksa! Karena istriku ini selalu mengerti. Terima kasih ya, Bund." Mas Haris mengecup keningku.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka.
"Mbak, ups!!! Maaf nggak sengaja, habisnya pintunya memang terbuka dikit tadi." Ujar Sofi spontanitas.
Mas Haris memasang muka coolnya, aku hanya geleng kepala.
"Ada apa, dik?"
"Mana dotnya si kembar? pada rewel tuh di bawah! Bunda sama Ayahnya malah pacaran."
"Owalah, iya dik! Ini dotnya, aku juga mau turun. Ayo bareng!"
Saat ini kami sudah di ruang tamu. Kami sudah mendekorasi ruang tamu dan ruang keluarga. Di depan rumah juga dipasang tenda, karena undangan ada 150 orang.
Saat ini Salwa sedang digendong Ummi, dn Salman digendong Ibu. Mereka sedang menikmati susu dari dot. Aku memang memberi ASI kepada mereka berdua, tapi juga dibantu dengan susu formula. Aku takut keteteran saat nanti mereka aku tinggal mengajar.
Acara sedang di mulai, para tamu undangan laki-laki duduk di di bawah tenda dan yang perempuan di dalam rumah. Acara berjalan dengan hidmat. Si kembar tidur saat mereka ditimang dan dibawa keliling ke para undangan. Setelah dibawa keliling kepada tamu perempuan, kemudian dibawa keliling ke tmu laki-laki. Saat ini yang menggendong mereka Irfan dan Farid, suami Nuri.
Setelah acara timang bayi dan do'a bersama, saatnya acara sebutan dari shohibul hajat.
"Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokaatuh." Mas Haris mengawi dengan salam.
"Wa'alaikum salam warohmatullahi wabarokaatuh." Jawab kami serentak.
"Pertama-tama marilah kita panjatkan puja dan puji syukur kehadirat Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang telah memberikan rahmat serta hidayah-Nya kepada kita semua, sehingga kita dapat berkumpul di acara yang InsyaAlla penuh barokah ini. Kedua kalinya, sholawat serta salah tetap tercurahkan kepada junjungan Nabi besar Muhammad Shollallohu 'alaihi wasallam, yang telah menuntun kita dari kegelapan menuju alam yang terang benderang yakni addinul islam.
Terima kasih yang tak terhingga kepada Allah, sudah memberikan saya keluarga kecil yang bahagia. Istri yang sholiha, anak-anak yang lucu, usaha yang sedang berkembang. Semua itu hanya titipan, semoga saya bisa amanah dalam menjaganya. Terima kasih kepada semua tamu undangan yang sudah berkenan hadir di tasyakkuran aqiqah anak kami Salwa Nanda Haris dan Salman Nanda Haris. Semoga keduanya kelak bisa mengangkat derajat kami, dan bisa menolong kami di surganya Allah."
"Amiin.." Jawab kami serentak.
"Sekian dari saya, mohon maaf jika ada kekurangan dalam segi penyambutan ataupun hidangan kami, Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokaatuh."
"Wa'alaikum salam waraohmatullahi wabarokaatuh."
__ADS_1
Acara sudah selesai, para tamu satu persatu pamit undur diri.
Ternyata Mas Firman tidak hadir, mungkin dia malu jika harus bertemu dengan keluargaku lagi. Aku melihat Andi dari kejauhan, dia hadir bersama rekannya yang lain.
"Pak Bos, selamat atau kelahiran anknya, maaf kami belum sempat menengok mereka karena kendala waktu, tapi kami do'akan semoga merka menjadi anak yang sholeh dan sholiha." Ujar salah satu mandor yang menjabat tangan Mas Haris.
"Amin, terima kasih Pak Joko! Tidak perlu repot-repot, do'anya saja sudah cukup. Kalaupun mau main ke rumah dan nengok si kembar ya monggo, tidak usah bawa buah tangan, hehe..."
"Siap-siap Pak Bos! Kami pamit dulu, besok harus kerja pagi karena akan ngecor lagi."
"Iya Pak, istirahat yang cukup ya! Jangan sampai sakit."
Andi tidak angkat bicara, dia hanya menjabat tangan Mas Haris.
-
Saat ini kami sedang di kamar. Si kembar masih tidur bersama kami, selama aku masih cuti, aku tidak mau menggunakan baby sitter untuk merawat mereka, aku mau merawat mereka sendiri. Mbak Jum dan Bi Leha juga membantuku menjaga mereka.
Sebelum tidur aku menyu*ui si kembar, saat ini Salman sedang ada di pangkuanku, Salwa sudah tidur pulas. Kulihat Mas Haris memperhatikan kami.
"Kamu kenapa, Mas? Kok ngelihatin Salman gitu?"
"Salman menang banyak, Sayang!"
"Kenapa?"
"Dia merebut sumber kehidupanku. Lihatlah! Dia ntn dengan lahapnya, Kakaknya saja tidak begitu."
"Katanya kalau bayi laki-laki memang lebih doyan, Mas."
"Salman, ayo cepat tidur, Nak! Ayah mau isi vitamin dulu." Mas Haris seolah berinteraksi dengan si kecil.
"Apaan sih, Mas?"
"Ssttt... lihat tuh! Salman sudah merem, jangan digendong terus, letakkan di kasurnya sayang!"
Karena Salman sudah terlelap, akupun meletakkannya si kasur Baby yang ada di sebelah ranjang kami. Aku memang sengaja meletakkannya di dekatku, agar aku selalu terjaga saat mereka menangis.
"Ehm..." Mas Haris berdeham.
"Kenapa, Mas? Tenggorokannya kering? Mau aku ambilkan minum?"
"Kalau minum dari sumbernya, boleh?"
"Mass...."
"Sayang, aku pusing."
"Sini, aku pijitin!"
"Boleh... tapi yang pusing kepala bawah."
Aku masih mencerna perkataan suamiku.
Oh tidak... dia pasti sedang mupeng.
__ADS_1
"Sayang, aku tahu kamu sudah bersuci tadi, iya kan?"
"Hah? Kata siapa?"
"Tidak usah berbohong, kamu tidak pernah bakat menjadi pembohong. Dosa lho nolak!"
"Tapi aku belum beli obat kontrasepsi, Mas!"
"Sayangku, cintaku, kasihku, pujaanku, aku janji nggak akan keluar di dalam."
Sebelum aku menjawab perkataannya, satu tangan Mas Haris sudah berhasil menelusup ke dalam piamaku. Dia memainkan pucuk gunung yang menjadi sumber kehidupan si kembar. Dan satu tangannya lagi sudah bermain di bawah sana. Saat aku sudah terlena akan sentuhannya, Mas Haris sudah tegangan tinggi dan siap untuk menghujamku. Namun tiba-tiba....
"Oek oek oek..." Salman menangis.
Sontak aku mendorong tubuh Mas haris dari atasku, dan dia terjungkal ke belakang. Untung saja tidak sampai jatuh ke bawah. Aku langsung bangun tanpa memakai celana piamaku kembali, dan melihat ke kasur Salman.
"Cup cup, sayang. Owh kamu pup ya Nak?" Bunda ganti popoknya dulu ya?"
Kulihat Mas Haris sedang frustasi di atas tempat tidur. Setelah mengganti popok Salman, aku menepuk-nepuk bokongnya sampai akhirnya dia tertidur kembali. Mas Haris menelukku dari belakang.
"Sayang, aku tidak akan nembiarkanmu lepas malam ini! Sudah lebih dari satu bulan aku puasa, masa kamu tega?"Mas Haris menggendongku ke tempat tidur. Kemudian dia membuka kancing kemeja piamaku yang sudah compang camping.
"Lakukan apa yang ingin kamu lakukan, Mas. Aku juga sangat merindukanmu."
Mas Haris membaca do'a kemudian mulai menekan miliknya. Tapi begitu sulit, dia mengulanginya berkali-kali.
"Sayang, kamu minum apa? Kenapa ini sulit sekali?"
"Aku hanya minum jamu setelah mewujudkan, Mas."
"Oh tidak... ini sempit sekali. Tapi aku tidak akan menyerah, tahan ya sayang!"
"Au.." Sontak aku menjerit karena kaget. Separuh senjatanya sudah masuk, namun Salwa terbangun. "Salwa, Mas!"
Mas Haris segera mencabutnya, aku bangun dan hanya berbalut selimut.
"Oek..oek..oek.. "
"Kamu kaget ya, Sayang? Maaf ya Bunda ngagetin kamu. Cup-cup, Nen dulu ya!" Aku duduk di atas tempat tidurku dan menyu*uinya.
"Salwa, kamu bikin kepala Ayah semakin pusing, Nak!Tega sekali kamu, Nak! Ya Allah bagaimana nasibnya si *****."
Aku hanya menahan tawa mendengar keluhan Mas Haris.
Kasihan sekali kamu, Mas. Ujarku dalm hati.
Saat Salwa sudah terlelap kembali aku menaruhnya kembali ke kasurnya. Kulihat Mas Haris juga sudah tertidur.
Bersambung....
...****************...
Maaf kakak, saya baru sempat up karena Author sibuk bantuin Raisya nyiapin aqiqah si kembar. Maaf juga kalau isinya banyakan pidatonya🤣😂
Terima kasih sudah setia di sini.
__ADS_1
See you again.....😘🤗