
Sampai di butik, aku langsung duduk di kursi kasir. Di sini aku tidak punya ruangan pribadi. Karena tempatnya tidak terlalu luas. Aku mengecek laporan bulan ini. Alhamdulillah semuanya sesuai.
"Fatin, kalau kamu mau shalat dulu nggak pa-pa, biar saya yang jaga. Mungkin sebentar lagi Anggi juga sudah kembali ke sini."
"Baik, Bu."
Fatin adalah salah saru muridku dulu di SMP Tunas Bangsa, dia baru lulus SMA tahun kemarin. Aku merekrutnya atas saran dari Anggi yang lebih senior darinya.
Aku duduk santai di kursi kasir, Mas Haris pergi keliling Mall mencari makanan dan minuman untuk kami makan siang.
Ada pelanggan yang datang ke butik. Aku langsung berdiri dan menghampirinya.
"Selamat datang di butik kami, Kakak! Silahkan dipilih mungkin ada yang cocok."
Namun saat orang yang di depanku mendongak, dia mslah mencibirku.
"Oh selain jadi guru kamu juga jadi penjaga toko, ya?" Dia melihat ke arah perutku yang besar. "Kamu ditinggal lagi sama suamimu? Sampai harus bekerja keras, padahal sedang hamil tua!"
Ya Tuhan, kenapa aku harus bertemu dengan orang ini lagi?
"Mau cari apa, Mbak?" Aku masih bertanya dengan halus. TmDan tidak menghiraukan cibirannya.
Tak lama kemudian Andi muncul dengan menggandeng anak laki-lakinya yang berusia hampir sama dengan Zie. Dan yang aku kaget, ank itu yang menabrak tadi. Andi tercengang menatapku, kemudian beralih menatap perutku yang besar.
"Mas, denger nggak sih? Aku mau yang ini!" Ujar Laras mengambil salah satu gamis brand T terbaru yang harganya 1,6 juta."
"E-e iya... kamu yakin dengan ini? Andi bertanya setelah melihat bandrolnya.
"Iya yakin mau yang ini, uk M."
"Ma, ini kemahalan, beli yang di bawah 1 juta saja!" Andi mengatakan dengan lirih, namun telingaku masih mendengar.
"Aku pakai gajiku sendiri lho, Mas! Kamu tinggal bilang setuju saja susah amat sih!"
"Ya sudah, terserah kamu! Uhljar Andi dengan kesal.
"Mungkin mau dicoba dulu, Mbak?" Tawarku kepada Laras.
"Oke, aku mau coba!" Ujar Laras dengan judesnya. "Ayo Mas ikut aku ke ruang ganti, gendong dulu anakmu! Jangan sampai kamu reunian sama mantan!" Laras memberikan anak yang digendongnya kepada Andi.Andi mengikuti kaya istrinya. Dia menunggu di depan ruang ganti. Aku kembali duduk di kursi, karena kakiku rasanya pegal.
"Assalamu'alaikum, sudah dari tadi, Bu?"
Anggi datang dari Musholla Mall.
"Wa'alaikum salam.... lumayan, gi. Kamu layani saja orang itu. Biar saya yang jaga di sini."
"Baik, Bu."
Tidak lama kemudian Mas Haris datang membawa beberapa makanan dan minuman.
"Sayang, ini makanan dan minuman yang kamu pesan. Ayo kita makan! Aku juga membelikan untuk Fatin dan Anggi."
"Terima kasih, Mas. Kita makan lesehan di sini nggak papa ya?" Aku menunjuk di belakang kursi kasir yang memang tersisa ruang kecil beralas karpet, biasanya untuk melipat baju.
"Dimana saja, asal sama kamu."
"Gombal!"
"lha, beneran kok, Sayang!"
"Ya sudah ayo makan dulu."
Aku melihat Laras sudah keluar dari ruang ganti, Aku memperhatikan mereka dari jauh.
"Kemana karyawan yang tadi?"
"Maaf, apa yang dimaksud Ibu itu, Fatin?" Tanya Anggi, bingung.
__ADS_1
"Bukan, tapi Raisya!"
"Oh, maaf Bu Raisya sedang makan siang bersama suaminya di sana!" Anggi menunjuk ke arah tempat kami berada. Laras dan Andi menoleh.
"Sayang, bukannya anak kecil itu tadi yang menabrakmu?"
"He'em." Ujarku seraya mengangguk. Mas Haris berdiri dan menghampiri mereka.
Gawat, mau apa suamiku?
"Maaf Mas, Mbak, tolong lain kali anaknya dijaga! Istriku tadi hampir saja celaka karena ditabrak olehnya." Mas Haris menunjuk kepada anak kecil yang dimaksud. "Kalau saja tidak ada saya di belakangnya, mungkin istriku bisa jatuh, dan melahirkan sebelum waktunya."
Aku berdiri menghampiri suamiku.
"Mas, jangan diperpanjang! Maklum anak-anak!" Aku menguasai lengan suamiku.
Aras dan Andi hanya terperangah melihat kami."
"Ma-maaf, Pak! Maafkan anak kami, dia memang bandel. Tadi kami sempat kehilangan dia, tapi kami umumkan di pusat informasi." Ujar Andi sangat menyesal. Namun Laras nampaknya kesal sekali."Ayo Don, minta maaf kepada Bapak dan Ibu ini! Andi menggertak anaknya.
"Maafkan saya, Pak, Bu, saya janji tidak akan mengulanginya lagi." Ujar Anak itu ketakutan.
"Oke boy, kali ini saya maafkan!" Mas Haris mengusap kepala anak itu.
Suamiku ini meski kadang tengil hatinya sangat lembut, jadi makin cinta.
"Kamu kenal dengan saya?" Mas Haris bertanya kepada Andi.
"I-iya Pak, saya salah satu mandor baru yang direkrut oleh Pak Budiman."
"Oh, maaf saya memang tidak terlalu hafal dengan wajah baru, msklum saya bsnyak ketemu orang di lspangan.Lain kali lebih diawasi lagi anaknya, saya juga khawatir dia kejepit di eskalator atau loncat dari atas. Itu bahaya sekali."
"Baik, Pak. Terima kasih."
"Anda sedang belanja baju?"
"Anggi, tolong dibungkus! Dan kasih diskon 70%, nanti biar saya yang nanggung ke Bu Raisya. Nggak pa-pa kan, Sayang?" Mas Haris meminta persetujuanku.
"Iya, Mas."
Anggi melipat dan membungkus bajunya. Wajah jutek Laras berubah menjadi wajah khawatir. Itu terlihat jelas dari gelagatnya.
"Terima kasih banyak, Pak! Semoga lancar usahanya!"
"Terima kasih, ini usaha istri saya. Saya hanya modalin, hehe..."
Tidak perlu membalas cibiran orang lain dengan hal yang sama. Karena itu berarti tidak ada bedanya antara kita dan orang tersebut. Cukup diam dan buktikan, sampai akhirnya dia bungkam.
#Pov Laras
Kenapa aku harus bertemu dengan Raisya? Sudah kama aku tidak bertemu dengannya. Ternyata dia sudah menikah dan sedang hamil besar. Tadinya aku sangka dia sudah melarat dan ditinggal suaminya, sampai-sampai dia mau bekerja paruh waktu. Mulut jahatku tak enggan mencibirnya. Ternyata dia bos di butik ini. Dan yang lebih kaget lagi, suaminya adalah Bos besar suamiku. Aku mati kutu di depan Raisya. Kenapa wanita itu sangat beruntung? Suaminya tampan, kaya, dan kelihatan sekali sangat menyayangi Raisya. Berbeda dengan suamiku, muka nggak ganteng amat, kere pula, dan sepertinya dia belum bisa move on dari Raisya. Pelet apa yang Raisya pakai, Sehingga para lelaki terpikat padanya?
#Pov Andi
Aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu lagi, Rai. Ternyata kamu sudah menikah dan sedang hamil. Meski sedang hamil besar, aura kecantikanmu malah semakin bersinar. Beruntung sekali lelaki yang menikahimu. Beberapa saat kemudian aku terkejut melihat Raisya sedang duduk dengan Pak Haris, dia adalah owner perumahan Khayangan City. Proyek baru yang sedang aku jalani, dan Pak Haris adalah Bos besar kami. Baru dua kali ini aku menerima job menjadi mandor, setelah beberapa waktu lalu aku resign dari pekerjaanku yang lama. Ternyata Raisya adalah istri Pak Haris. Tuhan Maha adil, perempuan baik untuk laki-laki baik. Pak Haris menegurku karena perbuatan anakku. Raisya masih dengan sikap lemah lembutnya dia bisa menenangkan suaminya. Namun meski begitu, Pak Haris memberikan diskon besar kepadaku. Patutlah Raisya memilihnya, sepertinya dia sangat meratukan Raisya. Kamu berhak bahagia, Rai.
...----------------...
Kami sudah dalam perjalanan ke rumah. Tanaman hias yang kami beli juga sudah sampai di rumah.
Malam harinya aku dan Mas Haris makan bersama di ruang keluarga.
"Mbak Jum! Bi Leha!"
"Iya Bu! Ada apa?" Mereka berdua menghampiri kami.
Sebenarnya aku sudah melarang mereka untuk memanggil Ibu, tapi mereka tetap bersikukuh.
__ADS_1
"Sini gabung sama kami." Aku mengajak mereka makan bersama.
"Ti-tidak usah, Bu! Kamu makan nanti saja di belakang."
"Sudah, nggak pa-pa sekali-kali makan bareng kami. Turuti saja apa mau istriku! Jangan sampai dia nangis jungkir walik."
"Ba-baik Pak."
Aku hanya bisa geleng kepala memperhatikan suamiku.
Selesai makan malam kami langsung masuk ke kamar untuk beristirahat.
"Capek ya, Sayang?"
"Hem.. lumayan Mas."
"Sini Mas pijitin!"
"Beneran, Mas?"
"Kapan aku pernah bohong, hem?"
"Oke oke, sebentar aku mau ganti baju tidur dulu."
Aku mengganti baju tidur model kimono karena lebih enak dan gampang. Mas Haris mulai memijit kakiku.
"Yang tadi masih sakit, Sayang?"
"Sudah tidak lagi, Mas! Aku sudah mengolesinya pakai salep tadi pas baru nyampai rumah."
Mas Haris lanjut memijat ke bagian punggung dan pundak. Dia meraba-raba punggungku
"Sayang, kamu tidak pakai Bra?"
"Tidak, sesak kalau tidur pakai bra, Mas. Lagian nggak bagus juga kalau tidur pakai bra."
"Oh.. begitu?"
"He'em...."
Saat nenijat area leher, Mas Haris mslah meniupnya dan sengaja menghembus nafas di tengkukku. Dia sangat tahu kelemahanku, aku mulai meremang.
"Mas... cukup!"
"Belum sayang, lehermu masih kaku."
"Iya, tapi nggak gitu juga."
"Kenapa? Kamu sudah pingin ya?"
"Iya pingin tidur." Ujarku bohong.
"Jangan bohong, Sayang! Kamu tidak pintar berbohong. Kalau ingin, katakan! Aku akan memberinya dengan ikhlas, hehe..."
"Modus kamu, Mas...."
"Iya sayang, Kata dokter kalau sudah hamil tua begini bagus lho untuk jalan lahir. Ayo kita segera buka jalan lahir untuk mereka."
Suamiku ini selalu punya seribu cara untuk meminta haknya. Meski begitu, aku tidak pernah menolaknya. Kecuali sedang capek atau sakit, dan suamiku sangat memaklumi itu.
Malam ini kami mendayung di lautan cinta dan terbuai dalam ombak asmara.
Bersambung....
...****************...
Makasih sudah selalu support karyaku kakak
__ADS_1
See you again...😍😘🤗