Ketegaran Hati Raisya

Ketegaran Hati Raisya
Bertemu mantan mertua


__ADS_3

Acara sudah selesai, kami pun kembali pulang ke rumah. Pengantin baru juga akan pulang ke rumah kediaman kami. Kamar Sofi memang sudah dihias ala pengantin baru dengan nuansa gold putih.


Untuk sementara Sofi dan suaminya akan tinggal bersama kami, mungkin selama satu bulan. Itu sudah perjanjian kedua belah pihak sebelum pernikahan. Nantinya Sofi akan dibawa ke rumah Irfan pribadi yang sudah selesai dibangun di kota, dekat denga kampus kami. Irfan sengaja membeli tanah dekat dengan kampus, karena nantinya akan mudah untuk membuka bisnis lagi jika tempatnya stategis.


Malam ini kami sangat lelah. Setelah melakukan shalat isya, kami masuk ke kamar masing-masing untuk beristirahat. Bibi masih menginap, dan tidur bersamaku.Tante Mega dan anak-anaknya juga menginap di rumah dan tidur di kamar kosong. Rumah kami ada 4 kamar, 2 di lantai bawah dan 2 kamar di lantai atas. Kamar Sofi dan kamar kosong ada di lantai atas.


Keesokan harinya kami mulai merapikan rumah, membereskan perabotan dan lainnya. Tukang tenda juga sudah datang untuk menurunkan tenda. Kami menyiapkan hidangan untuk mereka. Kulihat pengantin baru keluar dari kamarnya. Irfan langsung menuju ke depan rumah untuk ikut membantu, dan Sofi membantu kami di dapur.


"Pengantin baru, seger nih!" Goda Tante Mega kepada Sofi."


"Ngantuk Tante."Ujar Didi dengan polosnya.


"Ya iyalah ngantuk! Sampai jam berapa semalam, hm?" Tante Mega menaik turunksn alisnya, masih gencar menggoda Sofi.


"Ih Tante, apaan sih Kan jadi malu!"


"Hahaha.." Ummi dan Tante Mega tertawa bersama.


"Sudah lah Dik, jangan kamu goda dia! Kayak nggak pernah jadi pengantin baru saja." Ummi menimpali. Dan aku tak sengaja melihat Ummi mengkode dengan mata untuk menghentikan ucapan Tante Mega. Sepertinya Ummi tidak enak denganku, mungkin takut menyinggung perasaanku.


"Ups!" Tante mega menutup mulutnya.


Aku hanya ikut tersenyum mendengarkan obrolan mereka.


Mungkin memang begitu pengantin baru yang sesungguhnya. Menikmati malam pertama dengan penuh cinta. Dan itu tidak pernah aku rasakan saat itu.


"Rai tolong bawa es ini ke depan!"


"Iya Ummi." Aku pun mengambil terbmos yang berisi es dan beberapa gelas untuk ditaruh ke depan.


"Abi, ini Esnya."


"Iya Rai taruh di situ! Ayo semuanya berhenti dulu, minum sepuasnya biar segar. Nah itu gorengan juga sudah keluar." Ummi datang membawa nampan yang berisi pisang goreng.


Setelah satu jam berlalu, semuanya sudah dibereskan. Kami para wanita mencuci perabotan yang sudah dipakai. Selesai semuanya kami berkumpul di ruang keluarga. Makan bersama dan bercengkrama.


"Nak Irfan, jangan sungkan. Anggap saja rumah sendiri. Kamu sudah menjadi bagian dari keluarga ini, jangan anggap kami mertua. Tapi anggaplah orang tuamu! Ya meskipun kalian hanya akan sebentar tinggal di sini, Abi harap Nak Irfan betah ya."


"Terima kasih Abi, keluarga di sini sudah menerima saya dengan baik. Saya senang, pasti saya akan betah."


Banyak hal lain yang kami bicarakan. Sampai akhirnya azan dzuhur berkumandang, kami pun menghentikan obrolan.


...****************...


Keesokan harinya, aku akan mengantar Bibi pulang ke rumah Nenek. Tadinya Ummi melarangku, tapi aku memaksa.


"Rai mau antar Bibi, sekalian Rai mau nginap di sana ya, Ummi? Rai kangen Fifi, pingin bernostalgia.

__ADS_1


"Tapi jangan lama-lama nginapnya ya! Bukankah kamu juga harus menyelesaikan skripsi Rai?"


"Iya Ummi, Rai bawa laptop kok. Biar nanti sambil dikerjakan di sana."


"Ya sudah, hati-hati."


Sebenarnya bukan karena ingin bertemu Fifi alasanku menginap di rumah Nennek. Tapi entah kenapa dua hari ini aku teringat Nenekku. Mungkin aku harus berkunjung ke makam Nenek. Kebetulan hari ini kamis, biasanya kalau kamis sore banyak orang berziaroh ke makam. Itu tradisi kebiasaan orng-orang di kampung Nenek.


Setelah berpamitan kepada orang rumah, aku dan Bibi berangkat. Aku membawa beberapa baju untuk beberapa hari tinggal di sana. Sebenarnya masih ada bajuku di rumah Nenek, tapi hanya baju rumahan. Aku antisipasi, takutnya harus ke kampus dadakan.


Seperti biasa, aku mengendarai motor dengan kecepatan sedang. Apalagi Bibi sangat takut kalau dibonceng, jadi aku lebih mengurangi kecepatan.


Sore hari di rumah Nenek


Rumah pribadi yang Nenek wariskan untukku, sengaja aku kontrakan agar tidak terbengkalai. Kebetulan ada sepasang suami istri yang merantau dari kota L ke sini. Mereka membutuhkan sebuah rumah untuk mereka tinggali bersama kedua anaknya. Jadi rumahku mereka sewa untuk ditempati selama 2 tahun. Jika masa kontrak habis, mereka boleh keluar atau menambah lagi.


"Rai Bibi mau pergi takziah dulu, ada tetangga jauh yang meninggal."


"Siapa bi?"


"Itu Mbok Yem yang jualan rujak dekat sekolah SD."


"Innalillahi wainna ilaihi rojiun'un. Rai antar ya Bi?"


"Nggak usah, Bibi jalan kaki saja. Rombongan sama yang lain."


"Oh iya deh. Rai akn pergi ke makan Nenek Bi."


Fifi sudah datang ke rumah, tadi aku sudah menghubunginya dan janjian akan pergi ke makan bersama. Setelah siap, aku memetik bunga melati yang cukup rimbun di depan rumah Nenek. Tak lupa aku membawa air dalam botol. Karna jarak dari rumah Nenek ke makam hanya 500 meter, kuputuskan untuk jalan kaki. Sekalian menikmati suasana sore hari. Sambil berjalan kami ngobrol panjang lebar.


"Rai, kenapa aku nggak diundang di acaranya Sofi?"


"Maaf Fi, aku tidak punya kuasa untuk itu. Tamu dari pihak kami dibatasi, karena dari pihak laki-laki lebih banyak yang diundang."


"Oh begitu, ya sudah nggak apa-apa, yang penting acaranya lancar. Aku juga do'ain semoga Sofi bahagia.


"Amin, terima kasih ya."


"Iya sama-sam. Em..Rai, istrinya Kak Fir sudah melahirkan."


"Alhamdulillah kalau begitu Fi."


"Hh... aku masih tak habis pikir Rai."


"Sudah jangan dipikir, nanti pusing hehe..."


"Rai, ada Bu Halimah." Fifi berbisik seraya menunjukkan ke arah yang dimaksud. Benar saja ada Ibunya Kak Firman yang baru keluar dari pemakaman.

__ADS_1


Aku menetralkan hati, mencoba bersikap biasa. Beliau menyapaku terlebih dahulu.


"Nak Raisya, kamu sedang di sini?" Sapanya dengan lembut.


Aki menghampirinya, dan mencium punggung tangannya. Hal itu memang biasa aku lakukan kepada orang yang lebih tua dan siapapun yang baru aku temui.


"Iya bu, baru tadi siang sampai."


"Gimana kabarmu, Nak?"


"Alhamdulillah baik bu, Ibu bagaimana?


"Alhamdulillah baik juga Nak, sudah lulus kuliahnya?


"Masih mengerjakan skripsi Bu, minta do'anya."


"Pasti Nak, Mampirlah ke rumah Ibu!"


"Terima kasih Bu, kapan-kapan saja. Maaf Bu, kami mau masuk dulu."


"Oh iya Nak, silahkan!"


"Mari Bi." Fifi mengikutiku.


Aku dan Fifi berpencar menuju makam yang akan kami kunjungi masing-masing. Aku membaca surat Yasin dan do'a di makam Nenek dan Kakek. Setelah selesai kutaburkan bunga di pusara mereka.


Pulang dari malam, Fifi mampir ke rumahku.


"Gimana perasaanmu Rai? Setelah ketemu Bi Halimah tadi!"


"Tadi agak syok, nggak tahu kenapa hatiku masih gelisah jika bertemu sesuatu yang berhubungan dengan masa lalu. Aku tidak menganggapnya mantan mertua Fi, bagaimanapun dia orang tua yang harus aku hormati. Hanya saja keadaannya sekarang berbeda."


"Hm.. wajar Rai. Apalagi masa lalumu tidak bagus untuk dikenang. Sebenarnya Bi Halimah orang yang baik, saya nggak tega lihatnya tadi. Kelihatan sekali dari matanya kalau dia itu seperti masih merasa bersalah."


"Iya Fi, makanya tadi aku buru-buru pamit. Masa iya aku disuruh mampir ke rumahnya!"


"Ya bisa saja Rai, Kak Firman kan nggak tinggal di sini. Tapi ikut istrinya!"


"Oh..." Aku hanya ber-oh ria.


"Aku pulang dulu ya, besok aku ke sini lagi. Kamu nginap berapa hari Rai?


"Insyaallah tiga hari, terima kasih ya Fi."


"Oke sama-sama, Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikum salam."

__ADS_1


...****************...


See you again kakak, terima kasih atas dukungannya. Semoga diberikan kesehatan dan kenikmatan yang luar biasa.


__ADS_2