
Keesokan harinya,
karena weekend, kami akan mengajak si kembar main ke rumah Ummi dan Abah. Sudah satu bulan kami tidak ke rumah mereka. Aan dan Nina sengaja tidak kami bawa, agar mereka bisa beristirahat sejenak. Kami memakai sepeda motor, karena Salman sangat suka kalau naik sepeda motor. Kalau naik mobil, dia suka rewel. Salman duduk di depan Ayahnya, dan Salwa di tengah.
Beberapa saat kemudian, kami sampai di rumah Abah. Untungnya mereka belum berangkat ke toko.
"Assalamu'alaikum."
"ituuuum...." Salman berteriak.
Kami langsung masuk ke dalam rumah, lewat garasi, karena pintunya memang terbuka.
"Wa'alaikum salam.... eh ada cucu Nenek, ayo sini-sini! Bah.. Abah... ini ada Raisya!" Ummi kelihatan begitu senang."
"Belum berangkat ke toko, mi?"
"Nnti jam 8, tapi karena ada kalian mungkin nggak jadi. Ummi kan kangen sama si kembar.
"Mereka sudah bisa jalan, Ummi." Ujar Mas Haris.
"Oh ya? Masyaallah, Alhmdulillah... tumbubuk kembang mereka berarti bagus. Pas dengan usianya."
Abah baru selesai shalat Dhuha dan menghampiri kami.
"Eh ada cucu Kakek, ayo salim dulu!" Salman langsung mencium tangan Abah. Salwa nampak masih malu-malu.
"Ayo Mbak Salwa, salim kakek dulu." Ujarku.
Dengan malu-malu akhirnya Salwa mau mencium tangan Abah.
Kami bercengkrama di ruang keluarga. Salwa dan Salman asyik dengan mainannya masing-masing.
"Gimana usahanya, Nak Haris? Lancar?"
"Alhamdulillah, Bah. Berkat do'a para orang tua. Terima kasih selalu mendo'akan kami."
"Itu sudah kewajiban kami, Nak."
"Bah Haris ada hadiah untuk Abah dan Ummi. Haris tahu kalau Abah pasti sangat mampu, tapi ini hadiah dari Haris. Jadi Abah dan Ummi harus menerimanya!"
Mas Haris menyerahkan sebuah amplop. Aku juga tidak tahu aoa isinya, karena Mas Harus tidak memberitahuku.
Abah menerima amplopnya dan menyimpan di sakunya.
"Dibuka dulu, Bah. Rai penasaran apa isinya?"
"Jadi kamu nggak tahu ,Rai?" Tanya Ummi.
Aku hanya menggeleng kepala.
Abah mulai membukanya. Ummi penasaran, dan mendekat ke Abah.
"Masyaallah, Alhamdulillah! Paket Umroh, Ummi."
"Hah? Yang benar, Bah?"
"Iya, kita akan ke tanah suci lagi. Nak Haris kamu yakin memberikan ini kepada kami?"
"Bukan hanya untuk Abah dan Ummi, tapi juga Untuk Ayah dan Ibuku. Jadi nanti kalian akan berangkat bersama. Tidak apa kan, bah?"
"Alhamdulillah, kamu sangat bijaksana, Nak." Abah menepuk pundak Mas Haris. Ummi sudah berkaca-kaca. Aku-pun ikut terharu.
__ADS_1
Kamu selalu penuh dengan kejutan, Mas. Jadi makin cinta.
"Aku tahu Ummi dan Abah pasti sangat mampu untuk membayar biaya umroh, tapi harus ingin keempat orang tua kami berangkat bersama. Sebenarnya Ayah dan Ibu sudah daftar haji, tapi masih kama berangkatnya, Bah. Karena aku ada rejeki, jadi aku umrohkan dulu."
"Lalu kalian bagaimana? kenapa tidak ikut juga?"
"Aku sudah ada rencana juga, Bah. Tapi nanti tunggu si kembar agak besar, aku juga ingin mengajak mereka."
"Kamu punya pemikiran yang bagus, terima kasih sudah sangat menghargai kami sebagai orang tua. Semoga kalian bisa menjadi suri tauladan untuk anak-anak kalian nanti.
"Amiiin.."
Tiba-tiba aku sakit perut lagi. Tadi di rumah sudah dua kali aku buang air besar.
"Ayah, aku ke kamar mandi dulu! Sakit perut lagi."
Beberapa saat kemudian aku keluar dari kamar mandi.
"Kamu makan pedas, Rai?"
"Iya Ummi, kemarin pingin rujak mangga sama gula Jawa. Enak banget, Ummi!"
"Enak apaan, kecut gitu! Makanya kamu sakit perut, Bund!" Mas Haris menimpali.
"Sebentar, kamu makan Mangga? tumben sekali? Kamu kan paling nggak suka sama mangga, katanya kalau habis makan mangga terus minum air rasanya pahit!"
"Ah iya, sejak kapan ya Rai suka mangga?" Aku mengingat-ingat sendiri.
"Kamu ngidam, Rai?"
"Rai nggak hamil, Ummi."
"Kamu yakin?"
"Yah yah.. cucu." Salman minta dotnya. Mas Haris memberikannya.
"Mereka,sudah lepas ASI, Rai?"
"Dari seminggu lalu mereka tidak mau dengan ASI, Ummi. Jadi aku sapih saja sekalian. Sekarang cuma minum susu formula. Tapi makannya doyan, Ummi."
"Nanti pulang dari sini kamu beli tespeck, Ummi curiga kamu ini lagi isi."
"Kemarin dia mual pas makan telur rebus, Ummi." Mas Haris mengadu lagi.
"Ya sudah! Pokoknya beli tespeck nanti, jngan lupa!"
"Ummi, gimana kalau hasilnya positif? Rai kan sudah minum pil?"
"Ya, mana Ummi tahu? Apa yang tidak mungkin bagi manusia, sangat mungkin bagi Allah. Ingat Rai! Kamu paham ilmu agama. Jangan kufur nikmat!"
"Iya iya, Rai paham."
Sore hari kami pulang dari rumah Abah. Mas Haris mengajakku mampir di apotek untuk beli tespeck. Saat ini aku sedang harap-harap cemas. 20 menit kemudian kami sudah sampai ke rumah. Si kembar sudah tertidur.
Aan dan Nina segera menghampiri kami ke depan dan mengambil ank asuhnya masing-masing. Mereka tidur dengan Baby sitter masing-masing, namun sesekali mereka tidur dengan kami.
Saat mandi sore, aku merasa mula karena mencium bau sabun yang baru Mas Haris buka dan pakai mandi sebelum aku.
"Huwek... huwek... huwek..."
Apa iya aku beneran hamil? Dulu waktu hamil si kembar aku tidak mual seperti ini.
__ADS_1
Saat waktu subuh aku terbangun, dan masuk ke kamar mandi. Aku ingat kalau pagi ini ingin mengetes. Setelah melakukannya aku memejamkan mata. Hatiku dag dig dug rasanya. Apapun hasilnya, semua adalah kehendak Allah.
Saat membuka mata dan melihat hasilnya, ternyata dua garis merah terpampang nyata di depan mata. Warnanya begitu cerah, itu tandanya aku positif hamil. Buru-buru aku mandi dan berwudhu', lalu membangunkan Mas Haris.
Setelah shalat Shubuh, aku mengaji sebentar.
Selesai mengaji, aku merapikan mukenah.
"Bund, kamu sudah pakai tespecknya?"
Aku hanya mengangguk.
"Lalu?"
"Hiks hiks... aku positif, ini gara-gara aku lupa minum pilnya waktu itu! Padahal cuma sekali aku lupa!" Aku menangis seperti anak kecil yang minta permen.
"Lho, kok nangis? Kamu nggak senang hamil lagi, Bund? Itu artinya punyaku tokcer!" Ujar suamiku dengan Pedenya.
"Aku senang, yah! Tapi nggak tahu ini kenapa pingin nangis saja! Hiks.. hiks..."
"Cup-cup sayang!" Mas Haris mencium keningku lalu kedua pipiku." Kamu tidak usah khawatir, si kembar tidak akan kekurangan kasih sayang kita. Aku yakin sekali, istriku ini I u yang bijak. Ini adalah titipin Allah, kita harus menjaganya." Mas Haris mengelus perutku yang masih rata, kalu menciumnya." Hai nak-anak Ayah, sehat-sehat di dalam sana ya? Jangan nyusahin Bundanya, kasihan! Bunda masih harus merawat kakak."
"Mengapa kamu bilang anak-anak, Mas? Memangnya aku hamil kembar? Nggak deh kayaknya!"
"Ya... siapa tahu, kan? Aku hanya menjaga kemungkinan, siapa tahu dapat kembar lagi?
"Sepertinya aku harus pensiun dini kalau sampai itu terjadi, hiks hiks...." Aku menangis lagi.
"Lha, kok nangis lagi? Malu sama si kembar, nggak pa-pa kalau memang harus pensiun dini, mungkin ini sudah jalan dari Allah. Saat ini kita jalani saja dulu. Semoga kamu dan bayi kita selalu dalam lindungan Allah." Mas Haris menghapus air mataku, lalu memelukku erat.
"Amin."
"Nda... nda!" Salwa memanggilku.
"Iya sayang, ada apa Nak, hem?
Kasihan sekali kalian, masih kecil sudah mau punya adik. Maafkan Bunda ya, Nak! Pantas saja kalian tidak mau minum ASI, mungkin kalian sudah mengerti ada adik yang lebih membutuhkan gizi di dalam sini."
"Dong nda." Dia minta digendong.
"Gimana kalau gendong Ayah saja ya? Bunda lagi pegel-pegel kasian."
"Yah yah." Salwa mengangguk.
Salman yang sedang asyik bermain robot-robotan, tiba-tiba bangun dan melangkah ke arah kami.
"Yah yah, dong!" Dia juga minta gendong.
"Oh jagoan Ayah tidak mau kalah rupanya? Baiklah aku akan menggendong keduanya." Salwa ada di sisi kanan dan Salman di sisi kiri."Ayo, kita kasih makan ikan di aquarium dulu, let's go!"
"Goo!!" Ujar si kembar dengan mengangkat satu tangan mereka.
Aku hanya tersenyum melihat pemandangan Ayah dan anak di depanku.
Terima kasih ya Alkah, sekali lagi Engkau telah memberikan amanah kepada kami. Lirihku dalam hati, kemudian mengelus perutku sendiri.
Bersambung.....
...****************...
Terima kasih atas waktunya kakak, jngn lupa selaku support karya saya.
__ADS_1
See you again...