Ketegaran Hati Raisya

Ketegaran Hati Raisya
Resepsi


__ADS_3

Saat ini aku dan Putri sudah tiba di gedung resepsi pernikahan Sofi. Setelah memarkirkan motor, kami langsung masuk melewati pintu samping gedung untuk menuju ruang ganti.


Aku berjalan dengan pelan, karena masih lemah.


"Rai, kok lelet amat sih jalannya! Kamu baik-baik saja kan?"


"Aku baik-baik saja Put! Hanya lambungku sedikit perih, dan masih lemes rasanya.


"Yakin kamu kuat Rai?" Ini acaranya berjam-jam lho!" Kami ngobrol sambil berjalan


"Iya enang saja! aku kuat." Aku meyakinkan Putri.


Kami berkesan dengan Abi yang baru keluar dari ruang ganti. "Akhirnya kamu sampai juga Rai! Abi sang khawatir, kamu sudah baikan Nak?"


"Alhamdulillah Bi, Rai sudah baikan. Maaf sudah membuat kalian khawatir."


"Kamu tidak perlu minta maaf, ini di luar kehendak kita. Yang penting kamu sehat, kami sangat senang Nak. Tadi Ummimu sampai nyuruh Abi pulang karena takut terjadi sesuatu denganmu." Abi menguasap kepalaku.


Ah rasanya aku sangat terharu, merasa masih menjadi Putri kecil Abi.


"Ya sudah, Cepat ganti bajumu! Sudah ditunggu di ruang make-up."


"Baik Abi!"


Setelah sampai di ruang ganti, kami segera memakai baju seragam bidesmaid. Warna baju yang kami pakai, warna silver dengan aksen bordil tempel hitam. Dipadu dengan jilbab warna abu-abu. Setelah itu kami menunggu antrian untuk di make-up. Kami memang mendapat giliran terakhir, karena kami baru sampai.


"Rai, Ummi ke depan dulu. Kalau sudah dipake-up, langsung menyusul ke depan ya!"


"Baik Ummi."


Kami pun sudah selesai di make-up oleh tim MUA. "Masyaallah Mbak, kamu cantik banget! manglingi lho, nggak prnah make-up ya mbk?" Tanyak orang yang menanganiku.


"Alhamdulillah, terima kasih atas pujiannya Mbak! Jangan berlebihan mbak, muka saya pas-pas an kok! Iya saya memang nggak suka dandan mbak, paling cuma pakai bedak dan lip balm, itu pun kalau tidak malas hehe..."

__ADS_1


"Tapi beneran lho mbak, saya saja perempuan suka lihat mbak! Nggak ngebosenin."


"Jangan dipuji mbak! Nanti telinganya mekar! Putri mencebik, dan berbisik kepadaku. "Tapi benar sih Rai, kamu manglingi, sumpah! Apalagi kalau senyum terus, Masyallah manisnya! Bisa klepek-klepek tuh para buaya! Tapi sayang mantanmu buta mata hatinya, mereka tidak melihat berlian yang berlian di depan mata.


"Sudah cukup memujinya Put, aku nggak punya uang receh, hehe...." Putri memutar bola matanya, malas." Oh iya mbak! terima kasih ya ,sudah bikin kami cantik hari ini."


"Sama-sama mbak." Balasnya ramah.


Aku segera merapikan jilbabku, membetuk model simple. Begitu pula jilbab Putri, aku yang memakaikannya dan membuat model yang sama dengan punyaku.


"Perfect Put! Ayo kita ke depan, sebentar lagi acaranya mulai." Aku menggandeng lengan Putri menuju ke depan gedung.


Gedung dihias dengan sedemikian rupa. Banyak spot foto yang dipasang bukan hanya di dalam gedung tapi juga di depan gedung. Catering pun dengan aneka menu yang disediakan. Ada lontong kikil, bakso, rendang daging sapi, lontong balap, dan aneka makanan tradisional lainnya. Tidak lupa makanan penutup dan juga minuman segar. Mulai dari es jeruk, es sirup, es kopyor, sampai es krim pun ada.


Kami sudah bersiap menyambut kedatangan kedua pengantin yang turun dari mobil pengantin. Keduanya nampak sangat serasi dengan Sofi yang memakai dmgaun putih menjuntai dengan aksen warna silver. Begitu pula Irfan yang nampak tampan dan gagah dengan setelan texudo warna silver.


"Sofi cantik banget ya Rai!"


"Iya Put, pangling aku jadinya."


"Iya Alhamdulillah, semoga Sofi dilimpahkan keberkahan dalam rumah tangganya."


"Aku kapan ya Rai jadi Raja dan Ratu sehari?"


"Sekarang juga bisa Put, mumpung pelaminan ada, tinggal cari yang laki."


"Kamu mah! aku serius ini Rai!"


"Oke oke! Put, jangan sia-siakan orang yang serius sama kamu."


Pembicaraan jami terputus karna acara sudah dimulai. Kami mengiring pengantin sampai masuk ke dalam gedung dan sampai di pelaminan. Selanjutnya kami melakukan foto bersama. Para orang tua mendampingi pengantin di sisi kanan dan kiri pengantin. Putra bridesmaid turun dari pelaminan dan melakukan tugas selanjutnya. Terima tamu sudah siap di tempatnya masing-masing.


Tamu pun mulai berdatangan. Aku menyambut mereka, dan membersihkan untuk menyanyi hidangan yang ada. Sesekali aku menghampiri tamu yang aku kenal. Kebanyakan tamu yang datang, tidak aku kenal. Karena undangan dari pihak Irfan 1500 orang, sedangkan dari kami 700 orang. Keluarga Irfan memang memiliki banyak rekan kerja, dan para karyawannya tentu mereka undang.

__ADS_1


Sudah jam 3, tamu masih datang silih berganti. Aku sudah mulai lelah, rasanya kakiku kesemutan karena terlalu lama berdiri. Belum lagi rasa perih yang tak kunjung hilang.


"Put, aku duduk dulu sebentar. Kakiku rasanya kesemutan."


"Iya Rai kamu duduk saja, jangan sampai pingsan! nggak ada pangeran berkuda putih di sini!" Aku hanya geleng-geleng kepala mendengar ucapan Putri. Meski dia dia suka ceplas-ceplos, tapi aku tidak pernah tersinggung dengan ucapannya. Karna aku tahu betul seperti ada dua sebenarnya.


Aku mencari kursi kosong untuk istirahat sejenak. Mataku tertuju ke arah pelaminan. Kulihat rona kebahagiaan dari wajah-wajah di atas sana. Aku bersyukur, setelah mengalami ujian yang bertubi-tubi, akhirnya ada kebahagiaan yang datang dalam keluargaku.


Nenek...ah kenapa bayangan nenek seakan lewat di depanku. Mungkin beliau memang hadir di tempat ini, menyaksikan kebahagiaan anak dan cucunya. Andai pernikahanku bahagia, mungkin saat ini aku sudah nenggendong anak. Andai Nenek masih hidup? Tidak Rai, tidak baik berandai-andai. Syukuri apa yang ada.


Aku dikagetkan dengan sentuhan tangan di pundakku. "Rai, Rai!"


"Ah iya, ada apa Put?"


"Kok ngelamun sih! Sudah mulai sepi tamunya, kayaknya udah mau selesai acaranya. Ke atas yuk! kita foto bareng!"


"Oh iya, ayo!" Kami naik ke pelaminan untuk melakukan foto bersama lagi.


"Selamat ya Fan, Sof, semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah, dan segera mendapatkan momongan." Ucap Putri memberi selamat.


"Amin." Kami meng-amini bersama.


"Terima kasih ya Mbak Put do'anya. Dan Terima kasih juga sudah mau direpotin di acaraku."


"Aku senang malah, Sof. Ya sudah aku turun dulu, Ada tamu baru datang lagi." Pamit Putri. Kami pun turun dan mengambil makanan. Karna sudah hampir jam 4 sore, tentu rasanya sudah lapar.


"Aku makan puding saja Put, perutku akan perih lagi kalau dikasih makan yang kasar."


"Iya Rai, aku mau ambil lontong kikil dulu." Setelah mengambil makanan, kami mengambil tempat duduk dan menyantapnya.


Sesekali kami berfoto dengan menggunakan HP. Sekitar jam 16.30 acara sudah selesai. Tinggal kami keluarga inti yang belum pulang. Outri sudah pulang terlebih dahulu. Aku segera menghapus make up dan mengganti bajuku. Setelah itu pergi ke mushalla gedung dan shalat ashar. Hari ini sangat melelahkan. Tapi lelahnya hilang saat melihat mereka bahagia.


🍀Sejatinya bersyukur itu lebih baik daripada berandai-andai🍀

__ADS_1


Ceritanya masih lanjut ya, jangan lupa mamour lagi. Terima kasih kakak😍🤗


__ADS_2